Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3. PENGUNTIT

Liviana melihat wajah Kalina yang ketakutan saat mereka berdua menoleh ke arah jendela.

Gedebuk!

Terdengar suara sesuatu yang terjatuh dan bergemeresak.

"Kamu benar, Liv!" seru Kalina. "Ada orang di luar!"

Tidak peduli pada jantungnya yang sedang berdegup kencang, Liviana cepat-cepat ke jendela untuk memeriksa. Dia mengintip ke luar yang gelap gulita.

"Apa itu? Siapa itu?" tanya Kalina dengan suara yang nyaris berbisik.

"Tidak ada siapa-siapa," balas Liviana sambil pandangannya masih mengedar ke arah perkarangan sempit di sisi rumahnya. "Aku ... aku rasa aku cuma panik tadi. Maksudku, kita berada di lantai dua, 'kan? Jadi mana mungkin ada orang ...."

"Tapi itu tadi bunyi apa?" desak Kalina sambil bersedekap. Dia tidak berani beranjak dari tengah kamar.

"Di luar angin bertiup sangat kencang. Mungkin angin meniup sesuatu sampai jatuh," kata Liviana.

Liviana bergidik. Ngeri memikirkan ada orang yang mengintip dari jendela saat dia sedang berganti pakaian, tetapi pasti bukan karena itu.

"Orang tidak akan bisa mengintip ke sini," Liviana mencoba menenangkan Kalina. "Kamar ini terlalu tinggi untuk diintip."

"Aku rasa juga begitu," gumam Kalina. Matanya masih tertuju ke arah jendela.

"Ayo sekarang kita berangkat." Liviana meraih tasnya dan melangkah keluar dari kamar lalu menuruni tangga kayu rumahnya, sedangkan Kalina mengekor di belakang Liviana.

Liviana membuka pintu depan. Angin menerpanya. Meniup rambut panjangnya yang berombak saat dia menutup dan mengunci pintu.

"Itu tadi pasti angin," seru Kalina. "Lihat!"

Liviana mengalihkan pandangannya ke arah tempat yang ditunjuk oleh sahabatnya itu. Di halaman samping, mereka mendapati ada sebuah tangga besi panjang yang tergeletak di bawah jendela kamar Liviana.

"Pasti roboh karena tertiup angin," ujar Kalina.

"Tapi kenapa ada tangga di situ?" tanya Liviana heran.

"Ya, tepat di bawah jendelamu lagi," bisik Kalina.

Liviana memandang tangga besi itu dengan tatapan tidak percaya. "Mungkinkah benar-benar ada orang yang mengintipnya sewaktu berganti pakaian?" tanya Liviana dalam hati. Dia memandang jendela kamarnya dan rasa takut mengaliri punggungnya.

"Menyeramkan," bisik Kalina. "Mula-mula ada orang yang mengirim buket bunga mawar layu dan surat yang isinya menakutkan itu. Lalu ...." Kalina menjeda ucapannya karena harus menelan ludah. "Mungkinkah ada orang yang membuntutimu? Mengintaimu?"

"Mengintaiku? Kau jangan gila ah," hardik Liviana.

Dia memandang ke tangga yang tergeletak di tanah. Malam itu angin bertiup kencang dan tidak ada orang atau mobil di jalan. Kalau tadi ada yang mengintip di jendela kamarnya, orang itu pasti terjatuh bersama tangga dan itu pasti karena dia mendengar bunyi mobil yang datang lalu dia kabur dengan tergesa-gesa.

"Pasti ada penjelasan lain yang masuk akal," kata Liviana. "Mungkin tadi Mom memperbaiki rumah dan lupa mengembalikan tangga ke tempat semula."

"Mungkin saja," ujar Kalina. "Tapi aku meragukannya."

"Bantu aku memasukkan tangga itu ke dalam garasi," ajak Liviana. Dia membungkukkan badannya dan mengangkat ujung tangga sedangkan Kalina mengangkat ujung tangga yang satu lagi. Namun, tiba-tiba Kalina menghentikan gerakannya.

"Oh!" pekik Kalina.

"Ada apa?"

Kalina menunjuk ke arah tangga. "Lihat anak tangga yang paling bawah!"

Liviana memicingkan mata untuk melihatnya. Ada sebuah lingkaran kecil berwarna oranye di anak tangga yang paling bawah. Sebuah stiker matahari.

***

Kini Liviana dan Kalina berada di mobil setelah memasukkan tangga besi ke dalam garasi.

"Kejadian-kejadian yang terjadi hari ini aku masih menganggapnya semacam lelucon, Lin," ujar Liviana pada Kalina yang tengah mengemudikan mobilnya menuju rumah sang pemimpin drama.

Kalina mendengus. "Kalau begitu itu lelucon gila namanya. Bunga layu? Memanjat tangga untuk mengintipmu?"

"Kita belum tahu pasti apakah benar-benar ada yang naik tangga itu." Liviana mengingatkan temannya.

"Hmm, lalu stiker matahari itu?" kata Kalina berkeras. "Lelucon gila macam apa itu?"

Liviana tidak lagi menyahut. Dia mengalihkan pandangannya ke luar jendela, melihat pohon-pohon hitam tinggi di sepanjang jalan.

Dia ingin segera tiba di rumah Mr. Richie. Di pesta itu dia pasti bisa melupakan stiker, bunga dan tangga. Dia bisa bersenang-senang.

Namun, Kalina menolak untuk mengganti topik pembicaraan. Dia tampak sangat ketakutan. "Barangkali ada psikopat yang melihatmu main drama. Mungkin kau benar-benar diintai!"

Liviana tidak menyahut. Dia terus memandang ke luar jendela.

"Aku pernah membaca sebuah artikel tentang orang sinting yang membuntuti aktor dan penyanyi rock," lanjut Kalina sambil memutar setir mobil untuk berbelok. "Dia membuntuti kemana saja, mengawasi apa pun yang mereka lakukan ...."

Seketika Liviana tertawa. "Teori yang hebat, Kalina. Tapi apa kamu lupa kalau aku ini tidak terkenal."

"Kau terkenal di kota ini, Liv!" tukas Kalina. "Kau aktris yang terkenal di sekolah kita."

Liviana mengangkat bahunya. "Tetap saja tak masuk akal. Mana ada orang yang mau membuntuti seorang murid Sekolah Menengah Atas."

"Mungkin salah satu teman kita," ucap Kalina bersungguh-sungguh. "Seseorang yang menyukaimu atau membencimu atau yang punya alasan lain."

Liviana kembali mengangkat bahunya.

"Orang yang suka membuntuti orang lain itu tidak normal," lanjut Kalina. "Mereka bisa menjadi sangat berbahaya. Terkadang mereka bisa membunuh orang yang dibuntutinya."

"Orang ini cuma memberiku stiker, Lin," seru Liviana. "Lagi pula, jika dia teman kita, aku pasti mengenalnya. Mungkin dia orang yang ... aku tahu!"

"Siapa?" tanya Kalina.

"Daniel," jawab Liviana.

"Daniel?" ejek Kalina. "Buat apa dia membuntutimu?"

"Dia tidak membuntutiku," ujar Liviana seraya membelalakkan matanya ke arah Kalina. "Dia cuma menginginkan aku kembali padanya."

"Astaga! Yang benar saja," seru Kalina. "Kalian sudah setahun lebih putus, 'kan."

"Betul," jawab Liviana. "Tapi dia masih selalu menggangguku. Sepertinya dia tidak mau percaya kalau aku tidak ingin kembali padanya. Semoga saja dia segera melupakanku."

"Yah, aku akan membuatnya berhenti mengganggumu kalau aku bisa membuatnya berpaling padaku!" ujar Kalina bercanda.

Liviana mengerutkan keningnya. "Kenapa sih kamu selalu merendahkan diri?"

"Kamu tahu kalau kata-kataku tadi benar," sahut Kalina. "Sampai kapanpun dia tidak akan pernah tertarik pada gadis gendut seperti aku. Dia lebih suka pada gadis kurus tapi seksi. Seperti dirimu."

Liviana melihat jam yang ada di tangannya sekilas sambil mengangkat bahunya. "Pestanya pasti sudah ramai waktu kita sampai di sana," kata Liviana.

"Yeah," sahut Kalina dengan nada ogah-ogahan. "Aku dengar ...." Tiba-tiba Kalina berhenti bicara.

"Kau dengar apa?" tanya Liviana.

Kalina tidak menjawab. Sedangkan Liviana melihat Kalina sedang memperhatikan kaca spion. Tanpa di duga, Kalina menikung tajam ke kanan.

"Kalina?!" jerit Liviana di antara bunyi decit ban. "Ada apa? Rumah Mr. Richie ke arah sana, 'kan!"

"Aku tahu!" sahut Kalina. "Tapi ada yang mengikuti kita sejak tadi."

"Hah?" Liviana menoleh ke belakang dan melihat lampu mobil yang bersinar terang di kaca belakang mobil yang mereka kendarai.

Kalina menikung lagi ke kanan. Lampu yang terang benderang itu lenyap sesaat, lalu tampak lagi di kaca belakang.

"Dia ... dia tepat di belakang kita!" pekik Kalina. "Dia pasti orang yang membuntutimu, Liv! Dia berusaha melemparkan kita dari jalan!"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel