Bab 2. TEROR DIMULAI
Liviana menjatuhkan bungkusan itu dan memandangnya dengan shock.
Kalina dan Liviana ternganga ketika mawar-mawar hitam yang sudah kering itu berjatuhan ke lantai.
"Iihh ... ngeri," jerit Kalina, tangannya menekan pipinya.
"Hii ... bunga yang sudah layu," erang Liviana. "Sinting."
Liviana lalu melihat amplop kecil putih yang terselip di karet gelang pengikat tangkai mawar itu. Dia membungkuk dan menariknya. Dengan tangan bergetar, Liviana mengeluarkan surat yang diketik rapi, lalu membacanya.
Dear Liviana,
Selamat!
Nikmatilah sambutan penonton yang terakhir kali.
Kamu akan segera meninggalkan panggung untuk tinggal bersamaku. Selamanya.
Seketika Liviana berdiri kaku, memandangi buket mawar hitam itu. Kekecewaannya dengan cepat berubah menjadi kemarahan. "Sinting!" umpat Liviana.
Kalina memencet hidungnya agar tidak mencium bau busuk yang keluar dari buket itu. "Siapa orang gila yang tega melakukan ini ya?"
Liviana memeriksa surat itu lagi. "Lihat." Dia menunjuk ke bagian bawah kertas. Tak ada tanda tangan, hanya stiker oranye menyala yang berbentuk seperti matahari. Liviana mengelupasnya dengan kuku jarinya.
"Apa ya artinya?" tanya Kalina.
Liviana mengangkat bahunya. "Hanya stiker biasa. Yang biasa dikoleksi anak-anak."
"Tapi kenapa ditempelkan di situ?" desak Kalina.
"Mana aku tahu?" sergah Liviana. "Apa peduliku?" Sambil menahan nafas, dia mengambil buket jelek itu, lalu melemparkannya ke keranjang sampah di sudut ruangan. "Ini cuma lelucon konyol!"
"Lelucon?" tukas Kalina. "Kamu gila ya? Orang macam apa yang menganggap bunga layu itu lucu?"
"Orang yang selera humornya tinggi," sahut Liviana. "Orang seperti ... Jordan!"
"Hah? Jordan?"
"Sejak kecil dia selalu menggodaku."
"Hm, mungkin juga ya." Kalina sependapat dengan Liviana. "Tapi cara meledek bukan seperti ini. Lagipula, kurasa Jordan sedang tidak ingin bercanda."
"Kenapa?" tanya Liviana.
"Kamu tidak tahu ya?" Kalina balik bertanya lalu lanjut berkata, "Akhir-akhir ini Jordan aneh sekali! Malam ini dia langsung meledak hanya karena aku minta tolong untuk mengambilkan peralatan panggung."
"Ya, dia memang terlihat capek." Liviana mengakui. "Aku ingin tahu dia kenapa."
Liviana terus memikirkan Jordan sambil mengikuti Kalina ke tempat parkir. Mobil Kalina diparkir di bawah pohon ek yang tinggi.
"Aku masih menganggap Jordan -lah yang mengirim buket itu," ujar Liviana setiba keduanya berada di parkiran yang gelap. "Nanti aku akan bertanya kepadanya."
Liviana menggigil sewaktu menunggu Kalina membukakan pintu mobil. Malam itu udara sedang dingin sekali, langit mendung dan dahan-dahan pohon seperti menari-nari ditiup angin.
"Aku harap itu tadi benar-benar ulah Jordan," ujar Kalina sembari mengambil kunci mobil dari saku jaketnya. "Tapi isi surat itu rasanya seperti ditulis oleh orang sinting."
Keduanya pun masuk ke mobil lalu Kalina menyalakan mesin mobil dan mulai melajukan mobilnya. Ketika mobil Kalina keluar dari tempat parkir, pikiran Liviana sudah penuh dengan drama musim semi. Dia bisa membayangkan bagaimana dia akan memulai audisinya, adegan apa yang ingin dipelajarinya.
"Bumi kepada Liviana." Suara Kalina membuyarkan lamunan Liviana. "Halo! Apakah kamu masih bersama kami?"
"Hah?" Liviana mengerjapkan matanya kepada temannya itu.
Kalina terbahak-bahak. "Kamu lagi berada di planet lain, ya?" serunya. "Kamu tidak bisa ganti pakaian untuk ke pesta kalau kamu tidak turun dari mobil."
"Sori," gumam Liviana. Dia terkejut ketika melihat kalau dia dan Kalina sudah berada di depan rumahnya. "Aku tadi sedang memikirkan drama Romeo dan Juliet."
Kalina melotot. "Wow, kita baru saja selesai pentas loh! Pikirkan saja yang lain deh!"
"Yah, kadang-kadang aku juga memikirkan pemuda tampan," canda Liviana sembari membuka pintu, lalu turun dari mobil, begitu pun dengan Kalina.
Liviana berjalan mendahului Kalina yang juga tengah berjalan di trotoar yang rusak. Liviana membuka pintu rumahnya, lalu menyalakan lampu.
"Seandainya saja bulan ini Mom tidak pulang malam, aku ingin sekali dia menonton drama tadi," kata Liviana.
"Dia kan bisa menontonmu dalam drama musim semi nanti," ujar Kalina.
"Kalau aku dapat peran." Liviana menginginkan temannya itu. Dia merapikan taplak meja di koridor, lalu menaiki tangga yang berderit-derit.
"Semua yang ada di sekitarku tampak semakin bobrok," batin Liviana. Dia tidak suka tinggal di rumah kumuh, tapi cuma rumah seperti yang mereka tinggali saat inilah yang mampu ibunya sewa. Sejak ayah Liviana meninggal, uang ibunya selalu pas-pasan.
"Tidak ada orang lain yang cocok jadi Juliet." Kalina menegaskan. Dia mengikuti Liviana ke kamarnya. "Aline memang bagus, tapi tak sebagus kamu. Dia sendiri yang bilang begitu."
"Aline cuma basa-basi itu," kata Liviana. Dia melemparkan tas ranselnya ke atas tempat tidur yang berseprei warna pink dan putih.
"Aku akan membantumu menghafalkan skrip untuk seleksi peran nanti." Kalina menawarkan bantuan.
"Mmm, hmm," jawab Liviana ogah-ogahan, tapi dia sudah tahu kalau dia tidak ingin dibantu, dia lebih suka mempelajari skrip sendirian.
"Bagaimana kalau kamu ikut seleksi?" usul Liviana pada Kalina. "Kamu tidak harus menjadi petugas panggung terus, kan?"
Kalian mendengus. "Peran apa? Aku ... aku terlalu gendut untuk dapat peran yang tak memalukan," ujar Kalina. Dia sangat menyadari berat badannya yang kelebihan 10 kilogram.
"Jangan rendah diri begitu." Livina berusaha supaya suaranya tidak terdengar kesal. "Banyak peran kok di drama itu. Mungkin kamu bisa jadi pembantu Juliet."
Kalina hanya diam saja kala Liviana berucap.
Liviana mengoleskan krim pembersih di wajahnya untuk menghapus make up-nya, lalu mengelapnya dengan tisu.
"Liv?" kata Kalina beberapa saat kemudian. "Waktu kecil dulu, apakah kamu pernah berpikir kalau sudah besar akan terkenal seperti sekarang?"
"Tidak pernah," jawab Liviana cepat. "Kukira aku akan jadi gemuk dan tidak populer."
"Seperti aku," gumam Kalina.
Liviana mengabaikan ucapan Kalina. "Tapi begitu tertarik pada drama, aku tak pernah lagi memikirkan soal jadi terkenal. Aku cuma ingin menjadi aktris yang baik."
"Kejadiannya sangat cepat," kata Kalina. "Maksudku, kamu ikut pelajaran drama sekali dan itulah awal dari segalanya. Kamu jadi kurus, kamu kencan dengan Daniel ... dan kamu jadi pemain terbaik dalam drama pertamamu."
"Sedang beruntung saja." Liviana mengingatnya. "Gadis yang harusnya jadi pemeran utamanya harus meninggalkan sekolah."
"Betul." Kali ini Kalina sependapat dengan Liviana. "Tapi semua orang tahu kalau kamu aktris terbaik di sekolah kita. Kamu bahkan mungkin punya kesempatan untuk jadi aktris profesional."
Kalina bersandar pada tumpukan bantal yang ada di ranjang Liviana. Dia mendesah. "Aku berharap kamu tidak akan pernah jadi begitu populer sehingga akan tetap berteman denganku."
"Hei ... tidak akan!" protes Liviana. "Waktu memenangkan Academy Award nanti, aku akan berdiri di atas panggung dan berteriak, 'aku ingin mengucapkan terima kasih pada sahabatku Kalina, yang dengan kesediaannya bersusah payah menata panggung hingga membuatku bisa sukses begini'."
Keduanya tertawa.
Liviana selesai membersihkan wajahnya, lalu membuka lemari pakaiannya. Dia mengeluarkan celana jeans dan sweater hijaunya.
"Jeansmu baru, ya?" tanya Kalina. "Berapa ukurannya? Dua puluh enam?"
"Dua puluh delapan," jawab Liviana sembari tertawa. "Aku tak sekurus itu."
"Bila dibandingkan dulu, kamu sekarang kurus sekali," kata Kalina. "Dibandingkan aku, kamu sangat kurus."
"Kamu juga bisa kurus," kata Liviana. "Aku bukan ahli diet kok."
"Tentu," ejek Kalina.
"Serius," kata Liviana. "Berat badanku turun karena aku ingin main drama. Aku tahu pasti tidak akan mendapatkan peran utama kalau aku tak mengurangi makan."
"Itulah bedanya kamu dan aku," desah Kalina. "Aku tak pernah peduli pada apapun seperti kamu yang memperdulikan drama."
Liviana memandang temannya itu dengan kesal. "Yah, kalau begitu carilah sesuatu yang bisa membuatmu peduli," cebik Liviana sambil mengikat rambutnya dengan pita hijau setelah dia mengganti pakaiannya.
"Bagaimana penampilanku?" tanya Liviana pada Kalina.
"Cantik," ucap Kalina setelah itu dia melihat arloji yang ada di tangannya. "Lebih baik kita berangkat sekarang."
"Kita jangan datang terlalu cepat," kata Liviana. "Kita ...."
Liviana mendadak berhenti berbicara ketika mendengar suara ketukan di jendela kamarnya.
Ketukannya lembut, lalu semakin keras kemudian berubah menjadi gedoran.
Dia berpaling. Matanya tampak ketakutan.
"Kalina ...," kata Liviana dengan suara tercekik. "Ada orang di jendela! Dia mengawasi kita!"
