Bab 1. PENAMPILAN CEMERLANG
"Dia tidak akan menyakitimu lagi. Aku janji. Dia tidak akan menyakitimu lagi." Sambil memejamkan mata kata-kata itu Liviana ucapkan perlahan untuk menguatkan dirinya.
Penonton bertepuk tangan. Tirai pun turun perlahan menutup panggung. Kemudian tirai itu naik lagi.
Liviana membuka matanya yang tadi terpejam sesaat lalu melangkah ke depan panggung sembari tersenyum dan memandang penonton. Menerima sorak-sorai dan tepuk tangan para penonton.
Liviana membungkuk dalam-dalam. Rambut panjangnya yang sedikit berombak terjuntai melalui bahunya. Lalu kembali tegak dan berpaling kepada aktor-aktor lain pendukung drama itu. Dia bergandengan tangan dengan Aline dan Jordan, lalu deretan aktor—semua yang bermain dalam drama itu—membungkuk bersama-sama. Penonton pun bangkit berdiri, bersorak-sorai riuh.
"Orang-orang itu ke sini untuk menontonku," pikir Liviana. "Tempatku di panggung. Akhirnya kutemukan tempat yang cocok untukku."
Tirai menutup untuk yang terakhir kali. Liviana berpaling kepada kedua temannya. "Kalian hebat," katanya.
"Terima kasih, Liv," bisik Aline. Aline wanita yang cantik, bola matanya berwarna zambrud, rambutnya panjang, hitam dan lurus. Dia tersenyum kepada Liviana. "Tapi aku tidak akan bisa sebagus kau. Kau benar-benar mengagumkan."
"Hei ... aktingmu tidak jelek, Moon." Tambah Jordan, menepuk bahu Liviana. Cuma Jordan yang memanggil Liviana dengan panggilan masa kecilnya itu. Dia suka sekali meledek gadis itu dan tahu kalau panggilan itu membuat Liviana sebaliknya. Sedangkan orang lain bahkan banyak yang tidak tahu bahwa "Liviana" berarti "bulan".
"Kamu juga lumayan. Paling tidak kali ini kamu tidak bikin malu," balas Liviana, membelalakkan matanya. "Kamu akan pergi ke pesta untuk para pendukung drama ini?"
Jordan mengangkat bahunya. "Entahlah," jawabnya. "Aku tidak terlalu suka pesta."
Meskipun wajah Jordan tertutup make up panggung, Liviana bisa melihat lingkaran hitam di bawah matanya. Ketika ingin menanyakannya, pemimpin klub drama mereka lewat.
"Selamat, Liviana!" serunya. "Penampilanmu malam ini luar biasa. Aku suka akting saputanganmu di akhir pertunjukan tadi. Kamu membuatku terkejut!"
"Terima kasih, Mr. Richie," jawab Liviana, tersenyum.
Guru yang masih terlihat tampan meski rambutnya sudah beruban itu naik ke atas bangku dan berseru minta bantuan. "Halo semua! Sampai jumpa di pesta di rumahku nanti!" serunya diantara riuh ricuhnya suara-suara lain. "Sebelum berpisah, saya ingatkan bahwa minggu depan akan ada seleksi peran untuk drama musim semi. Kalian pasti akan senang mendengar kita akan memainkan drama klasik Romeo dan Juliet."
Dan benar saja, kabar itu di sambut erangan dan sorak-sorai.
"Romeo dan Juliet!" pikir Liviana gembira. "Aku akan mempunyai kesempatan memainkan karya Shakespeare di panggung!"
***
Liviana bergegas ke loker, menyeruak kerumunan pemain yang sedang bergembira dan ribut berbicara di belakang panggung.
"Liviana!" panggil Daniel. "Aktingmu bagus sekali! Kau hebat!"
"Thanks!" jawab Liviana ketus. Dia berusaha melewati seniornya yang gempal dan berambut pirang itu. Dia merasa agak bersalah ketika melihat kekecewaan di wajahnya yang cokelat.
"Mungkin aku harus bersikap lebih ramah lagi kepada Daniel," pikirnya. "Bagaimanapun kami pernah saling punya arti ... dulu. Dulu sekali."
Belakangan ini, Liviana bingung kenapa cewek-cewek di West End sangat mengagumi Daniel.
Dia sendiri masih tidak percaya dulu pernah lama menjalin kasih dengannya. Rasanya mustahil dia bisa bertahan selama 6 bulan penuh bersama Daniel yang suka pamer dan egois itu.
"Ikut seleksi drama musim semi?" tanya Daniel, menghalangi langkah Liviana yang hendak pergi.
"Ya." Liviana menghela nafas. Dia mencoba mengitari pemuda itu, tapi Daniel tidak mau menepi. "Daniel, aku terburu-buru ...."
"Kamu ingin jadi Juliet?" desis Daniel yang tidak memperdulikan usaha Liviana untuk melewatinya. "Tebak peran apa yang ingin kumainkan."
"Tikus kastil!" ejek Liviana.
"Liviana!"
Liviana menoleh ke sumber suara ketika mendengar namanya di panggil seseorang. Ya, yang memanggilnya adalah Kalina, sahabatnya.
Kalina yang masih mengenakan seragam petugas panggung yang berupa celana terusan berwarna hitam, bergegas menghampirinya.
"Sampai nanti," kata Liviana pada Daniel sewaktu Kalina mendekat.
"Kamu hebat!" seru Kalina. "Bahkan lebih bagus daripada kemarin." Kalina merangkul Liviana sekilas.
"Setiap orang tampil gemilang malam ini," kata Liviana. "Rasanya semuanya menyatu. Dan semua urusan belakang panggung juga berjalan lancar."
Kalina mengelap dahinya dengan punggung tangannya. Rambutnya yang hitam dan lurus itu dipotong amat pendek. Keringat di wajahnya yang bulat dan pucat berkilauan tertimpa cahaya lampu.
"Tidak semua lancar. Ada masalah dengan lampu panggung," katanya. "Apa kamu tahu?"
"Tidak."
"Salah satu lampu sorot tidak terfokus," jelas Kalina. "Begitu melihatnya aku langsung naik ke sana." Dia menunjuk ke suatu bidang di atas panggung.
Liviana menengadahkan kepala lalu bergidik. "Astaga, kok ada ya orang yang berani naik ke sana?" pikirnya memandang tangga besi sempit yang dipasang di dinding itu saja sudah membuatnya pusing.
Tapi Kalina sepertinya tidak takut pada ketinggian. Ketika mereka masih kecil dulu, Kalina yang suka sekali memanjat pohon, sementara Liviana gemetaran menunggunya di bawah.
"Kurasa itulah sebabnya Kalina lebih senang menjadi petugas panggung," lamun Liviana.
Dia membuka pintu ruangan loker yang luas. Ruangan itu dipenuhi teman-teman dramanya. Saat pementasan berlangsung, ruangan itu juga dipakai untuk kamar ganti anak perempuan.
"Aku tidak tahu kenapa kita repot-repot pakai loker," ujar Kalina. "Padahal tak ada satupun yang bisa dikunci."
Liviana mengangkat bahunya.
"Jadi kamu sudah siap untuk peran berikutnya?" tanya Kalina.
"Apa maksudmu?" desak Liviana ketika dia membalas senyum Aline yang juga tengah berusaha menyeruak kerumunan.
"Ayolah." Kalina tertawa. "Kamu pasti jadi Juliet."
"Memang begitu kata orang-orang," sahut Liviana. "Tapi itu bukan jaminan aku pasti mendapatkan peran itu."
Kalina mendengus. "Huh, tak ada yang menjamin matahari akan terbit besok, tapi semua orang tahu kamu lah yang paling tepat untuk jadi Juliet. Apalagi ini drama akhir tahun. Tak akan ada yang mau menonton kalau bukan kamu pemainnya."
"Dasar, bisa saja kamu!" Liviana membelalakkan matanya.
"Kenapa Kalina selalu berlebihan," pikir Liviana.
"Bagaimanapun juga semuanya tergantung pada Mr. Richie," lanjut Liviana.
"Apa yang tergantung padaku?" Tiba-tiba terdengar suara bariton menyela percakapan Liviana dan Kalina. Terlihat Mr. Richie berjalan menghampiri kedua gadis itu.
"Kami sedang membicarakan mengenai seleksi pemeran drama musim semi," Liviana menjelaskan.
Mr. Richie mengangguk. "Seleksi itu mempunyai arti yang penting loh," katanya.
"Kenapa?" tanya Kalina.
"Yah, sebenarnya ini adalah rahasia, tapi ... aku baru saja menerima kabar bahwa pelatih drama dari University of the Art London akan hadir," bisik Mr. Richie.
"Anda bercanda?!" sergah Liviana. University of the Art London mempunyai salah satu fakultas drama terbaik di dunia.
"Aku serius," tegas Mr. Richie. "Tiap tahun dia akan berkunjung ke sekolah-sekolah di London untuk mencari bakat. Nah, tahun ini dia memilih sekolah kita."
"Wow!" jerit Liviana. "Saya ingin sekolah di University of the Art London, tapi tidak akan mampu jika tanpa beasiswa."
"Kalau begitu ini kesempatan yang bagus untukmu," ujar Mr. Richie sambil mengerlingkan sebelah matanya. Dia berbalik dan melangkah ke pintu panggung. "Sampai jumpa di pesta."
"Kamu tak pernah cerita ingin kuliah di University of the Art London," kata Kalina.
"Tentu saja aku ingin sekolah di sana," sahut Liviana. "Tapi ini cuma mimpi. Maksudku, Mommy bahkan tak mampu menyekolahkan aku ke Diploma setelah lulus sekolah menengah ini."
"Kalau pelatih drama itu melihatmu berperan sebagai Juliet, dia pasti akan memberikanmu beasiswa," tebak Kalina.
"Pasti akan sangat menyenangkan," komentar Liviana. "Tapi aku baru mau percaya setelah benar-benar mendapatkannya."
Kebanyakan murid-murid sudah meninggalkan ruangan. Liviana menarik pintu lokernya, terlihat tas ranselnya masih tergantung seperti terakhir kali dia tinggalkan tadi. Namun, dia pun melihat ada yang tersandar pada ranselnya.
Serangkaian buket bunga besar, dibungkus dengan kertas biru bergaris-garis.
"Apa itu?" tanya Kalina sembari mengintip melalui bahu Liviana.
"Asyik!" seru Liviana. "Ada yang mengirimiku bunga, tapi siapa ya?"
"Bukalah!" desak Kalina.
Liviana membuka kertas pembungkusnya dengan hati-hati. Dia merobek bagian atas pembungkus itu dan mengintip ke dalamnya.
Liviana terkesiap dan melotot ngeri.
