Mana pengaman mu!
Paginya Elmira terbangun, membuka matanya yang masih terasa begitu berat, terpaan cahaya matahari langsung tepat mengenai kulit wajahnya yang putih mulus. Dia menoleh kesamping tepat disisi sebelah kanan nya seorang pria tampan masih tertidur pulas.
Elmira perlahan mencoba untuk bangkit, menyingkirkan perlahan tangan pria yang masih melingkar indah dipinggang nya.
“Ternyata pria bayaran ini sangat tampan?” Gumamnya.
Pandangan Elmira seakan tidak bisa lepas, rahang yang kokoh dan terlihat jantan. Kedua alis tebal nya seakan menambah pesona dan sangat pas jika dia menjadi pria bayaran atau gigolo dengan postur tubuhnya yang sangat mendukung. sehingga wanita akan tergila-gila melihatnya.
“Sangat tampan, tapi sayang sekali kamu hanya laki-laki sewaan.” Gumam Elmira mengenakan pakaian nya kembali.
Rasa penasaran, membuat Elmira sengaja meraba punya Nick, namun dia tiba-tiba berteriak histeris. sehingga Nick yang tidur disebelahnya ikut terbangun.
"Ada apa? suaramu membangun kan mimpi indah ku." bentak Nick pada Elmira, karena dia yakin Elmira tidak mungkin meminta pertanggungjawaban padanya, karena sebelum kehotel mereka sudah membuat kesepakatan untuk tidak saling menuntut.
"Apa semalam kamu mengunakan kondom?"
"Ya," jawab Nick singkat.
"Mana?" teriak Elmira meminta pembuktian.
Nick menyibak selimut nya, namun seketika wajah nya berubah panik, dan mulai mencari-cari sesuatu dibawah bantal, selimut bahkan kolong tempat tidur mereka semalam. namun kosong.
"Jangan-jangan.... tidaaaakkk.... teriak Elmira panik begitu menyadari jika diperut bagian bawahnya, tertinggal kondom yang digunakan Nick semalam. kedua pasangan ini langsung panik.
"Ini gila.... dan benar-benar gila, hey tuan kenapa anda begitu ceroboh sekali." bentak Elmira kesal.
Elmira melompat turun dari ranjang, namun tiba-tiba dia langsung meraba area bagian pribadi yang masih begitu perih saat dia bergerak cepat.
"Aduuuuh sial, ini semua gara-gara ide gila Rose dan Caca."
Elmira mengumpat dan marah-marah tidak jelas, sementara Nick memilih diam. dia juga masih syok dan bingung mengingat kejadian aneh dan langka yang baru kali ini dia alami, pengaman nya tertinggal saat bercinta dengan seorang wanita, karena dia dan Kasandra sudah sering berhubungan dan tidak pernah mengalami kejadian seperti ini. Elmira merupakan wanita kedua yang dia sentuh setelah kekasihnya Kasandra.
Dengan gerakan cepat, Elmira mengenakan jaket kulit kembali, sambil menyeret langkah kaki menuju pintu, namun sebelum nya, dia mengambil dompet dan mengeluarkan uang tiga ratus ribu rupiah.
"Karena pelayanan mu sangat buruk dan mengecewakan, jadi uang ini sudah cukup sebagai bayaran mu." melemparkan uang tiga ratus ribu lalu pergi begitu saja meninggalkan Nick yang masih syok.
Elmira merogoh ponsel nya, menggeser tombol hijau, untuk menghubungi kedua sahabatnya agar segera menjemput dirinya menuju lobby hotel.
"Hey, tunggu. aku bukan laki-laki bayaran!" teriak Nick tidak terima tuduhan gadis itu, namun Elmira sama sekali tidak menghiraukan teriakan Nick.
Elmira sangat panik, dia tidak memperdulikan penampilan dan rambutnya yang masih acak-acakan, mengabaikan tatapan aneh orang-orang yang berpapasan lewat dengan nya.
"Bagaimana Elmira?"
Kedua sahabatnya langsung menyerbu dengan pertanyaan.
"Sesuai janji dan kesepakatan kita semalam, aku sudah sukses memenangkan taruhan ini, dan gigolo
yang kalian katakan termahal dan sangat tampan itu sudah berhasil aku gaet. tinggal janji kalian yang akan menjadi pelayan ku." Ucap Elmira sambil memaksakan diri untuk tersenyum puas melihat wajah masam kedua sahabatnya.
"Baiklah kami setuju, tapi kamu terlihat aneh banget deh Elmira...emang segitu sakit ya berhubungan dengan cowok tampan itu?" Tanya Caca penasaran.
"Pasti dia sangat memuaskan mu, ya kan? Meskipun pada awal-awalnya sedikit sakit."
"Bukan sakit lagi karena ini yang pertama, tapi..juga?" Ucap Elmira agak ragu untuk meneruskan ucapannya.
"Tapi kenapa?" Rose dan Caca saling pandang bingung.
"Kayaknya kita harus segera kedokter, aku mersa pengaman yang digunakannya semalam masih tertinggal disini." menunjuk perut bagian bawahnya dengan panik.
"Apa?"
