BAB 12 BAWEL
Ayu terbelalak dan gugup merasa tidak enak hati dengan Stefany karena dia yang memberikan seragam tersebut. Ayu menatap wajah sang nyonya rumah. Tetapi dilihatnya Stefany hanya tersenyum simpul dan menganggukkan kepala.
"Tapi Tuan baju ini nyonya yang memberikan,” jawab Ayu.
"Jangan panggil aku, Tuan. Panggil saja namaku Diego seperti yang lainnya."
Saat Ayu terlihat membuka mulut ingin menyanggahnya dia menambahkan lagi.
"Dengar baik-baik Ayu tidak semua laki-laki memberikan sesuatu dengan pamrih, mengerti? Dan aku tidak terima penolakan," ucapnya tegas.
Ayu menunduk dan menjawab patuh, "Baik Tuan."
Ayu tak kuasa menolak walaupun sebenarnya ia merasa tak enak hati karena selama ini dirinya cukup mandiri untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri.
Kian yang melihat interaksi antara Diego dan Ayu penasaran dengan apa yang akan di belikan oleh Diego nantinya.
"Memangnya pakaian seperti apa yang akan kamu belikan untuknya," tanya Kian kepada Diego, dengan menunjuk Ayu menggunakan dagunya.
"Ya, seperti pekerja kita yang lainnya tentu saja. Kemeja, jeans, sepatu boots, dia kan tidak melulu hanya di rumah dia harus tahu tentang perkebunan dan lain-lain,” ucap Diego meyakinkan.
"Lalu kau akan mengajaknya ke mana?" tanya Kian penasaran sampai kedua alisnya menarung.
"Ke San Antonio tentu saja."
"Aku juga ikut," ucap Tommy sambil mengerling ke arah Ayu.
Kian mendengus. "Apakah Paman Budi memberikan ijin Ayu ikut dengan kalian?"
"Tentu saja, aku sudah meminta ijin padanya kemarin malam," ucap Diego sembari mengangkat bahunya tak acuh.
Kian menatap ke arah Budi. "Benar begitu paman, kau ijinkan kedua adikku membawa Ayu ke San Antonio?"
"Tentu saja tidak masalah, saya percaya dengan mereka,” jawab Budi santai.
Akhirnya Aslye angkat bicara. “Kamu kenapa sih Kak? Sepertinya enggan sekali melepaskan Ayu pergi bersama Diego dan Tommy?" tanyanya sembari tersenyum geli. Pasalnya ia sudah lama sekali tak melihat tingkah kakaknya yang posesif seperti ini selain dengan anggota keluarganya tentu saja.
"Tentu saja tidak, sesuka dia sajalah," ucap Kian ketus. Sebenarnya ia tak ada maksud untuk menaikkan nada bicaranya seperti itu tetapi ego dan gengsi mengalahkan segalanya, apa juga peduliku gadis ini pergi dengan siapa, ya kan?
Kian melirik kearah Ayu yang wajahnya sudah merah merona dan memalingkan wajahnya menatap Dion. Kemudian Ayu bangkit berdiri, berpamitan untuk bersiap-siap mengikuti Diego ke San Antonio. Sementara itu yang lainnya kembali ke kegiatan mereka masing-masing. Kian, Dion dan Fransesco kembali menuju ruang keluarga.
Ayu duduk di sebelah Tommy, gadis itu sengaja untuk menjaga jarak dengan Kian yang duduk di sisi meja yang lain. Dirinya merasa canggung dan malu karena kejadian sewaktu Kian mencumbunya di ruang pantry tadi. Entah mengapa ia merasa lemah terhadap Kian. Lelaki itu seolah-olah memiliki magnet untuk menarik tubuhnya mendekat sekaligus waspada, jelas Ayu merasa sedikit terusik karena hal tersebut.
Sudah menjadi kebiasaan di keluarga Dario, jika tidak sedang menjamu tamu dari luar. Mereka mengajak para pelayan di rumah utama untuk makan bersama, sembari berbagi cerita.
Kian dengan terang-terangan menatap tajam ke arah Ayu, sekalian memberikan peringatan kepada adik-adiknya bahwa Ayu sudah di tandai olehnya. Seperti serigala yang sudah memberikan tanda pada kurban buruannya. Sikap Kian kali ini sungguh sangat kekanak-kanakan, akankah tembok es yang ia bangun sudah semakin menipis. Fransesco melirik tatapan putranya terhadap Ayu, sedangkan gadis muda itu tampak takut-takut membalas tatapan Kian.
"Jika tatapan matamu itu mengandung sinar laser seperti Superman, tubuh seseorang bisa jadi sudah berubah menjadi abu saat ini, Nak," gurauan itu jelas terlontar dari bibir Fransesco untuk anak sulungnya.
Kian menoleh ke arah ayahnya sebentar seraya mengerjapkan matanya. ia sungguh tidak menyadari jika apa yang dilakukannya disadari oleh kedua orangtuanya. Terbukti sang bunda juga mengulum senyum dan mengusap punggung Ayu dengan sayang,
Diego dan Tommy melirik kakak pertama mereka dan kemudian saling berpandangan seraya tersenyum simpul, mereka sangat paham arti tatapan kakak mereka tersebut. Sepertinya dengan sedikit memberikan percikan, api asmara segera berlabuh di hati kakaknya.
Diego menatap ke arah Ayu, "Ayu setelah sarapan kamu kembali ke rumah ganti bajumu ya? Aku ingin mengajakmu ke kota. Karena aku dengar kemarin ada yang protes dengan seragam pelayan yang kamu kenakan," ajak Diego.
Ayu terbelalak dan gugup merasa tidak enak hati dengan Stefany karena ia yang memberikan seragam tersebut. Ayu menatap wajah sang nyonya rumah. Tetapi untung saja Stefany hanya tersenyum simpul dan menganggukkan kepala. Walaupun begitu Ayu tetap saja merasa tidak enak hati karenanya.
"Tapi Tuan, baju ini Nyonya yang memberikan," protes Ayu.
"Jangan panggil aku Tuan, panggil saja namaku Diego seperti yang lainnya."
Saat Ayu terlihat membuka mulut ingin menyanggahnya Diego menambahkan lagi, "Dengar baik-baik Ayu, tidak semua laki-laki memberikan sesuatu dengan pamrih, mengerti ? Dan aku tidak terima penolakan,"
Ayu menunduk tak berani bersitatap dengan Diego lebih lama karena tatapan Kian tak juga beralih dari wajahnya. Sebenarnya Ayu juga tidak harus merasa dimiliki hanya karena terenggutnya ciuman pertamanya oleh Kian.
"Baik Tuan." Pada akhirnya ia hanya mampu mengiyakan. Ayu tak kuasa menolak walaupun sebenarnya ia merasa tak enak hati karena selama ini ia cukup mandiri untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri.
Kian yang melihat interaksi antara Diego dan Ayu penasaran dengan apa yang akan dibelikan oleh Diego nantinya. "Memangnya pakaian seperti apa yang akan kamu belikan untuknya?" tanya Kian kepada Diego, dengan menunjuk Ayu menggunakan dagunya. Kian mendengus dalam hati, sepenasaran itu dirinya. Entah mengapa dirinya menjadi orang yang 'bawel' dan mulai suka ikut campur dengan urusan hidup orang lain, sungguh bukan gayanya sebetulnya.
"Ya, seperti pekerja kita yang lainnya tentu saja. Kemeja, jeans, sepatu boots, dia 'kan tidak melulu hanya di rumah. Sedikit demi sedikit dia harus tahu tentang perkebunan dan lain-lain," kata Diego meyakinkan.
"Lalu kau akan mengajaknya ke,mana?" tanya Kian lagi, semakin penasaran sampai kedua alisnya menarung.
"Ke San Antonio tentu saja."
"Aku juga ikut," ucap Tommy dengan semangat, sambil mengerling ke arah Ayu. ia tidak mungkin melewatkan reaksi kakak sulungnya nanti. Tommy berani bertaruh Kian pasti akan mengikuti ke mana mereka pergi nantinya.
Kian mendengus tidak puas dengan jawaban sang adik dan kembali bertanya, "Apakah paman Budi memberikan ijin Ayu ikut dengan kalian?"
"Tentu saja, aku sudah meminta ijin padanya kemarin malam," jawab Diego sembari mengangkat bahunya, ia sungguh tak habis pikir dengan perubahan kakaknya yang menjadi pribadi yang cerewet. Apakah Kian hanya cerewet terhadap Ayu atau dengan para wanitanya juga? Entahlah sungguh Diego tidak pernah tahu.
Kian berpaling ke arah Budi, "Benar begitu paman, kau ijinkan kedua adikku membawa Ayu ke San Antonio?"
"Tentu saja tidak masalah, saya percaya dengan mereka," jawab Budi santai.
Akhirnya Aslye angkat bicara, "Kamu kenapa sih kak? Sepertinya enggan sekali melepaskan Ayu pergi bersama Diego dan Tommy?" tanyanya sembari tersenyum geli. Pasalnya ia sudah lama sekali tak melihat tingkah kakaknya yang posesif seperti ini selain dengan anggota keluarganya tentu saja.
"Tentu saja tidak, sesuka dia sajalah," jawab Kian ketus. Sebenarnya ia tak ada maksud untuk menaikkan nada bicaranya seperti itu tetapi ego dan gengsi mengalahkan segalanya, apa juga peduliku gadis ini pergi dengan siapa, ya 'kan?
Kian melirik ke arah Ayu yang wajahnya sudah merah merona dan memalingkan wajahnya menatap Dion. Kemudian Ayu bangkit berdiri, berpamitan untuk bersiap-siap mengikuti Diego ke San Antonio. Sedangkan yang lainnya kembali ke kegiatan mereka masing-masing.
