Stevano Erlangga
Kaki Sintia ditarik sangat kuat, tentu dia melawan. Orang dengan luka bakar di sekujur tubuh tertawa bergelak. Dia mengatakan sesuatu yang membuat Sintia seketika bergidik ngeri, membuat sekujur tubuhnya dilanda kedinginan sempurna, serta bulu kuduk yang serentak berdiri massal. Karena tak ada cara lain, dia pun menendang kepala si makhluk gosong menyerupai pantat panci bobrok itu. Namun, cengkeramannya sangat kuat. Si makhluk kembali tertawa sekeras yang ia bisa lakukan sebelum takdir meracuninya hingga mampus.
"Ikutlah ke neraka bersamaku!"
Sebenarnya dia sudah sekarat, tak dapat menahan rasa sakit dan panas di sekujur tubuh. Rambutnya habis terbakar, pakaiannya tak sehelai benang pun tersisa. Yang disisakan hanya luka dan darah mengalir di mana-mana. Juga rasa sakit yang harus dia tahan dengan seluruh penderitaan.
"Lepaskan! Lepaskan aku!" teriak Sintia.
Sintia masih belum bisa melepaskan kaki sehingga tak punya cara lain. Saat berhasil menendang makhluk gosong itu, dia segera menjauh. Terlalu buru-buru mengubah posisi kaki hingga dia tak melihat batu sebesar kepala di sisi sungai yang mengalir deras. Sintia terpelanting dengan posisi berdiri tak stabil. Dia bergelimpangan di sungai dan hanyut tanpa bisa melawan arus. Tak kenal kata menyerah, tak kenal kata lelah, dia memekik meminta pertolongan meskipun sadar tak akan ada yang datang menyelamatkan.
"Tolong!"
Meski sungai itu kecil, tapi kedalamannya melebihi tinggi tubuh Sintia. Ditambah lagi, dia payah dalam berenang, jadi dia hanya tinggal pasrah menunggu waktu sampai sungai membawanya atau mungkin ajal yang akan membawanya ke neraka, sebagaimana makhluk gosong itu berkata.
-II-
Stevano Erlangga tengah bersandar di sofa empuk ruang tamu istananya yang megah. Segala hal dapat dia beli, bahkan perempuan-perempuan yang berada di sekitarnya saat ini merupakan sewaan. Dia selalu melakukannya; membeli kesenangan dengan uang, membeli sesuatu yang dapat melegakan nafsu berahinya yang buncah. Akan tetapi, sesungguhnya dia merasa kosong. Dia hampa sampai-sampai matanya tak memancarkan seberkas pun cahaya. Tidak diragukan lagi, dia sangat tampan. Saat wanita menatap mata Stevano, tiada yang tahan akannya. Mereka dengan sekejap jatuh ke dalam pelukan, lalu mengajaknya bersenang-senang menghabiskan waktu dengan berahi.
Semua orang tahu Stevano jarang bicara, pun jarang bepergian dan bertemu siapa pun. Dia laki-laki tampan kesepian. Walau punya uang banyak, semua itu tak pernah berarti sama sekali. Setidaknya itu bagi dirinya yang sudah lama hidup dalam kenyataan semu di tengah-tengah para orang melarat yang berharap bertukar nasib dengannya. Tak hanya gadis perawan berkulit segar yang dapat menaruh hati, tetapi ibu-ibu yang setiap pagi dan sore selalu membawa kabar baru tentang kehidupan buruk orang lain juga tak dimungkiri selalu berfantasi begitu sempurna. Dan semua itu karena ketampanan biadab yang dimiliki Stevano. Tiada belas kasihan untuk semua orang. Demi apa pun, jangan pernah jatuh cinta pada laki-laki tampan.
Inilah buktinya; para perempuan yang dia sewa, tak jarang jatuh hati sungguh-sungguh demi apa pun. Bahkan kadang bagi mereka, mendapatkan Stevano, berada di sisinya, serta mendapatkan senyumannya jauh lebih penting ketimbang menerima banyak uang.
Tak sebagaimana biasanya, lelaki tersebut kali ini terlihat tak bersemangat. Para perempuan dengan bermacam-macam penampilan mengelilingi dirinya, memberikan sentuhan lembut, memancing nafsu berahi, serta bertekad memuaskannya. Sayang, semua itu tak berhasil sama sekali. Sebab entah apa yang telah terjadi atau entah apa yang Stevano tengah pikirkan. Bentuk matanya yang sempurna dengan pupil berwarna kuning itu terlihat jauh lebih murung. Alisnya tipis dengan kedua ujung yang mencuat terlihat lebih kalem dan tunduk pada suasana hati, tak sebagaimana mestinya. Garis-garis wajahnya tampak mati. Lengkung bibirnya mengangkat.
Mungkin semua itu karena akhir-akhir ini banyak berita di televisi yang menyiarkan orang-orang hilang. Dari beberapa berita itu, ada yang dinyatakan hilang telah lebih dari setahun. Ada yang berbulan-bulan, pun ada yang baru beberapa hari. Stevano mengambil remote televisi yang tergeletak di sebelahnya, lalu menekan tombol merah. Dia merasa muak menyaksikan berita-berita kehilangan tersebut meski bukan hanya itu alasannya. Tampak sangat jelas bahwa dia tersinggung dengan berita-berita itu. Dia seolah-olah menyaksikan sebuah berita yang melaporkan tentang dirinya, tetapi tak satu pun orang tahu mengenai hal yang dia sembunyikan. Kehidupannya selama ini begitu normal, tidak ada yang salah. Bahkan, tak seorang pun tahu bahwa dia sebenarnya lelaki tak punya hati. Dia punya rahasia yang sangat besar di masa lalu yang menjadikannya iblis keparat seperti itu. Walau demikian, dia lelaki cerdas sebab sampai detik ini, tak satu pun ada yang menemukan dirinya sebagai antagonis di panggung sandiwara dunia ini.
Semenjak dua orang tuanya memutuskan berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing tanpa bergantung satu sama lain, Stevano mengambil langkah seorang diri setelah memupuk keyakinan di dalam hati. Dia tak tahu harus ke mana dan meminta pertolongan pada siapa. Hidupnya telantar sebagai manusia pengumpul plastik-plastik bekas; pemulung. Dalam seminggu, kiranya dia bisa makan tiga kali saja sudah sangat bersyukur, apalagi mendapatkan bonus minum air putih. Namun, dari sebuah keterpurukan, dia bangkit dan bertekad melawan takdir yang selalu menertawai kesengsaraannya.
Suatu malam yang sunyi di sebuah rumah megah, Stevano dari luar menatap bangunan menjulang tinggi dengan halaman luas serta lampu-lampu yang terpasang di setiap sudut. Bukan tatapan kagum yang memancar dari matanya, melainkan sebuah kebencian yang begitu dalam. Tampak seperti api yang menyala-nyala membalut seluruh tubuh, dan semua itu adalah dendam yang dia pikul dalam waktu lama.
Saat pria paruh baya dengan rambut pirang hidup enak sendirian bergelimang harta, ada seorang perempuan dan anak muda yang hidup telantar, bekerja susah payah dari pagi hingga dini hari hanya untuk mengisi perut yang menjerit. Sesungguhnya Stevano Erlangga sangat benci pada orang pemilik rumah itu yang adalah ayah kandungnya sendiri.
Dia membuka pintu gerbang besar yang terbuat dari besi stainless bercat hitam itu, lalu berjalan masuk dengan sangat pelan dan kehati-hatian yang intensional. Karena sandal pun tak punya, itu cukup bagus baginya. Derap langkahnya semakin sunyi, dan tak seorang pun bisa menyadari kehadirannya.
Pukul 12.00 tengah malam, pintu menuju ruang tamu rumah itu belum menutup. Pemiliknya masih sibuk mengetik-ngetik sesuatu di papan tik; laptop. Dia menuju sebuah ruangan yang bertuliskan gudang, tepat di sebelah garasi yang menampung setidak-tidaknya lima mobil berbeda-beda model sekaligus berbeda warna. Dia tidak berniat mencuri apa pun sebab bukan itu yang dia incar, melainkan sesuatu yang jauh lebih berharga dari apa pun di dunia ini.
Akhirnya, setelah menemukan alat pengendali arus listrik yang terpasang di dinding gudang, Stevano menarik tuasnya ke bawah, maka semua lampu tanpa kecuali di rumah megah itu langsung padam seketika. Suasana menjadi gelap gulita sebab rumah itu berjarak sangat jauh dari rumah-rumah tetangga lain.
Dia tersenyum lebar dengan alis kiri mengangkat, dan sekaligus sudut kanan bibirnya demikian. Usahanya sukses mematikan aliran listrik rumah itu. Kini dia semakin yakin telah menjadi tak terlihat. Stevano berjalan masuk ke ruang tamu dengan cara mengendap-endap. Dia mendengar pria pemilik rumah berteriak memanggil pembantu dan meminta mereka memeriksa aliran listrik di gudang.
"Udin! Di mana kamu? Cepat periksa aliran listriknya!" tegas pria yang mengenakan pakaian tidur berwarna abu-abu itu dengan aksen kebarat-baratan.
"Baik, Tuan." Lelaki dengan kopiah hitam segera melaksanakan yang dipinta sang majikan. Terlebih dahulu dia mencari senter, lalu keluar menuju gudang.
Pria berambut pirang hanya disinari cahaya layar laptop dan ponsel di hadapannya. Meski begitu, dia tetap melanjutkan pekerjaan seperti biasa. Stevano semakin mudah menyelinap tanpa diketahui siapa pun. Berjalan sangat pelan dengan meraba-raba dinding. Dan ketika akhirnya tiba di belakang pria paruh baya berpupil kuning itu, Stevano menahan napas selama mungkin agar kehadirannya tak disadari pria itu ataupun setan laknat yang bisa muncul kapan saja.
Pria itu mengedarkan pandangan ke sekitar ruangan. Dia tiba-tiba merasakan sebuah kehadiran. Tak menemukan apa pun, dia melanjutkan aktivitas.
Stevano mengeluarkan benda tajam yang telah dia siapkan saat merencanakan kudeta paling nekat itu. Dihunusnya dari pinggang. Dia menggerakkan tangan perlahan secara horizontal, lalu mencengkeram leher pria itu sambil mengacungkan pisau dengan keyakinan penuh bahwa korbannya tak akan melawan sedikit pun.
"Siapa kamu?!" tanya pria itu sambil berusaha menoleh. Stevano menekan keras mata pisau hingga pria itu tak dapat melakukan apa-apa. Dia tentu tidak akan melakukan hal segila itu hingga mengorbankan lehernya disirat pisau tajam.
"Saya adalah seseorang yang telah kamu telantarkan. Saya adalah seseorang yang telah kamu serahkan pada takdir. Saya adalah seorang iblis dan setan yang dilahirkan untuk membunuh iblis keparat sepertimu," jawab Stevano dengan nada emosional.
Napas tersengal sementara dadanya kembang-kempis, sekaligus hidungnya yang lancip demikian sebagaimana dadanya. Berbicara tentang Stevano jika menilik masa lalu, dia tak pernah melakukan ancaman yang begitu nyata seperti saat ini dan itu pengalaman baru untuknya. Dia punya gagasan untuk mengirim pria itu ke neraka, lalu bertemu setan-setan lain yang punya dosa sama sepertinya.
"Stevano?"
"Selamat tinggal, Ayah Iblis!"
Pisau bergerak horizontal menyirat leher gemuk itu tanpa perlawanan dari si pria pirang. Darah bergelimang di lantai, muncrat begitu keras seperti air mengalir melalui keran. Stevano tak langsung memutus saraf vital ayahnya. Dia melakukannya agar pria itu mati secara perlahan dan sengsara. Dia ingin membuatnya merasakan hal yang sama seperti yang dia rasakan. Jika mati terlalu cepat dengan satu goresan saja, dia menganggapnya terlalu baik.
"Saya sudah cukup lelah jadi orang baik. Saya adalah malaikat jatuh yang diusir Tuhan dari surga," katanya. Maka, dia membuat ayahnya mati secara perlahan, merasakan sakit yang tiada tara menggerogoti leher, menjalar ke seluruh tubuh. Pria itu merasakan dingin yang membekukan seluruh fungsi saraf motorik.
Pria itu tidak bisa bicara secara total meskipun berusaha menekan sekuat tenaga, mencoba menghentikan darah yang mengalir. Dia bergelimpangan tak tentu arah, terempas di sofa, lalu terkulai di lantai. Stevano melihat proses sekarat yang dialami ayahnya itu. Namun, dia tak merasa sedih sedikit pun. Justru sebaliknya, dia tersenyum senang sambil menatap kedua tangannya dan pisau yang berlumuran darah.
Ada rasa puas dan ketenangan yang dia rasakan. Kebahagiaan merasuk ke kedalaman hati. Yang jauh lebih penting daripada melihat kematian ayahnya, dia berpikir begitu cepat dan seketika itu hatinya menjadi jauh lebih gembira. Dia ternyata dapat menikmati harta ayahnya, hidup enak, mengurus perusahaan, menjadi pebisnis, lalu merawat ibunya yang telah menjadi gila atas dendam yang dia pikir dapat mengubah masa lalu. Semua itu dimulai sejak malam penuh dosa itu dan tak seorang pun tahu bahwa Stevano adalah tersangka dari pembunuhan tersebut.
-II-
Sintia terbangun karena cahaya mentari menerobos dedaunan kering, memasuki netranya dan menyilaukan. Sebelum mulai bangkit dari posisi berbaring di sebuah batu besar, dia mengedarkan pandangan ke sekitar. Sintia terperangah. Dia ternyata tidak jadi pergi ke neraka sebagaimana mimpi buruk semalam. Dia diselamatkan Tuhan. Setidaknya itu yang dia pikirkan.
Sintia semringah, lalu bangkit sambil menatap bagian dari dirinya yang dipantulkan air sungai jernih lagi segar. Dia menghirup udara pagi sebagai usaha menjadikan dirinya tenang kembali. Lama sekali rasanya ia tak merasakan udara sejuk pagi hari.
"Aku ... selamat. Ya Tuhan, terima kasih. Terima kasih."
Sintia baru pertama kali merasakan haru yang sangat menusuk. Setelah dia memastikan dirinya tak kurang satu apa pun, dia kembali berjalan entah ke mana. Dia tampak sangat cantik setelah beberapa waktu lalu sangat kotor dan kusam sebagaimana gelandangan yang dari pagi hingga malam berkeliling di kota terik penuh polusi. Kulitnya yang putih langsat kembali bercahaya. Kini lelaki mana pun yang melihatnya pasti akan terbuai lamunan dalam keindahan atau juga mungkin mimpi buruk.
Berjalan sekitar 30 menit, Sintia menemukan sebuah rumah yang sangat besar, tetapi tampak tak terurus. Penampakan dari luar, bangunan dengan beberapa pilar itu terlihat seperti kastil-kastil hantu di dalam film-film. Dinding-dindingnya kusam, penuh lumut dan tumbuhan-tumbuhan benalu lainnya. Gerbangnya berkarat, halaman kering.
Seolah secercah cahaya yang dia lihat di kegelapan telah mulai membesar. Dia yakin bisa menemukan manusia waras di rumah besar itu. Harapan yang sedikit lagi tanggal itu kembali menempel rekat di dinding-dinding harap.
"Akhirnya, aku bisa selamat. Aku harus segera ke sana," kata Sintia, tampak tak sabar.
Sintia memokuskan sorot matanya, lalu mencoba masuk ke rumah itu. Di salah satu jendela rumah tersebut, seseorang mengawasi gerak-geriknya.
-II-
