Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Seratus Sembilan Perempuan

Menyerah dari bertahan hidup bukan sebuah sikap bijak. Bahkan sesulit apa pun keadaan, orang harus berusaha mempertahankan nyawa yang telah Tuhan pinjamkan kepada manusia. Setidaknya itulah prinsip yang selama ini Sintia pegang erat di hidupnya. Dia sendirian bertahan hidup di tengah badai ujian Tuhan yang bisa saja menerbangkannya hingga porak-poranda dan terluka ribuan kali. Dia sering kali menjadi korban pelecehan karena memiliki paras cantik, ditambah gemulai tubuh yang aduhai. Terlepas dari pekerjaan utamanya sebagai seorang model, dia sering kali mendapat pujian, terlebih tawaran dari pejabat-pejabat tinggi. Untuk apa? Tentu saja, untuk berskandal dengannya. Dan itu bukan hal aneh karena para pejabat itu sudah lama menginginkan kemolekan tubuhnya untuk mereka ganyang habis dengan nafsu berahi.

Sintia tak habis pikir tentang apa yang sebenarnya para laki-laki lakukan selama hidup. Apakah mereka hidup hanya untuk ngaceng, lalu memikirkan hal-hal tak sononoh, bergumul dalam fantasi liar.

Kendati demikian, Sintia menyadari betapa dia tidak menghargai hidupnya, tetapi lebih pada usaha mempertahankan kesejahteraan hidup sang adik. Dia harus membiayai semua kebutuhan hingga adiknya berkuliah dan mampu mencari pundi-pundi uang sendiri. Dulu, ketika dirinya baru saja meninggalkan rumah karena kekecewaan terhadap ayahnya, Sintia berjuang mati-matian agar bisa makan dan mendapatkan tempat layak untuk ditinggali bersama adiknya. Meskipun sangat kaya, tetapi dia sama sekali tak membawa uang atau bekal apa pun. Dia tidak ingin menjilat sedikit pun harta sang ayah. Dia telah benci pada pria paruh baya itu serta tak ingin lagi berurusan dengannya.

"Kak, kita mau ke mana?" tanya adik Sintia saat mereka tengah berjalan di sebuah perkampungan yang tampak cukup sepi di hari Selasa itu. Walau tak banyak, tetapi beberapa orang masih berlalu-lalang ke warung satu-satunya di kampung itu, tempat para penduduk biasanya berbelanja. Dan tak jarang ada yang berhutang.

Sebelum mulai menjawab, Sintia menengadah, menatap langit mendung. Awan hitam sangat pucat sebagaimana kondisi perasaannya saat ini. Perkiraannya dalam beberapa menit lagi, hujan akan mengguyur bumi. Sementara itu, dia belum menemukan tempat berteduh, bahkan rasa lapar kerap kali menghampiri. Tak apa-apa jika dia tak bisa makan, tetapi adiknya tidak boleh lapar. Seperti itulah gagasan Sintia yang bahkan rela mengorbankan diri demi sang adik. Sesekali, dia menoleh ke warung kecil dengan satu tempat duduk yang terbuat dari rotan itu. Tentu, dengan tatapan penuh harap, tetapi tak dapat mewujudkan harapan itu. Harapan tak membuat mereka kenyang. Sintia kalut dalam pikiran, sampai-sampai lupa menjawab pertanyaan adiknya.

"Kak? Kok Kakak diam? Kita mau ke mana, Kak? Kenapa kita ninggalin rumah?"

Dengan berat hati, Sintia harus mengatakan kepada adiknya bahwa rumah mereka sebelumnya sudah tidak layak huni. Tidak ada tempat untuk mereka. Yang ayah mereka pikirkan hanya selangkangan baru, uang, takhta, dan pekerjaan. Semenjak ibu mereka meninggal, di saat yang bersamaan Sintia merasa telah kehilangan sosok ayah yang dulu sangat perhatian. Semua memang dia rasakan baik-baik saja, tetapi sebetulnya, semua yang ia lihat dan dengar hanya kenyataan semu. Berusaha tak berprasangka buruk, tetapi hati menggigil oleh dinginnya hati yang kesepian.

"Kita akan hidup berdua. Kita tidak boleh lagi menginjak rumah itu. Sedikit pun tidak boleh. Kita harus hidup mandiri mulai sekarang." Sintia dengan sorot tajam menatap lurus ke depan. Dalam hati berjanji, bahwa dia akan melupakan semua kenangan indah maupun buruk yang telah tercipta di dalam rumah besar itu.

Bocah laki-laki bernama Farhan itu tidak cukup mengerti mengenai gagasan kakaknya. Yang dia tahu, ibunya meninggal dan ayahnya kesepian. Dan karena ayahnya kesepian, dia mencari selangkangan baru untuk diganyang dengan nafsu berahi yang berbulan-bulan lamanya terpendam dalam fantasi. Namun, dia juga sangat benci ketika ada wanita lain yang mencoba menggantikan posisi almarhumah ibunya. Seolah tidak masuk dalam logika bahwa seorang manusia punya dua cinta. Pemikiran bocah SD seperti dirinya memang belum bisa menjangkau pemikiran orang dewasa. Meski berusaha terus memikirkan, dia tetap tidak sampai pada sebuah jawaban. Semuanya berujung pada keheningan yang menyedihkan.

Tak berselang lama, hujan mengguyur jagat raya. Sintia menarik lengan adiknya, lalu berteduh di depan bangunan pertokoan. Untung saja tidak jauh dari tempat mereka berdiri barusan. Ditatapnya rintik-rintik berkecepatan tinggi jatuh ke bumi itu dengan hampa, hampir tak ada apa pun di kepalanya saat ini. Sintia belum mendapatkan ide sebab tak punya persiapan untuk tidak bergantung pada ayahnya. Namun, dia harus melakukan segala hal seorang diri jika ingin hidup tanpa luka. Dia perlahan mengalihkan pandangan ke kanan, melihat adiknya yang menggigil karena dingin menikam tanpa ampun. Walau begitu, dia tak bisa melakukan banyak hal untuk membantu meringankan dingin yang Farhan rasakan.

"Sabar ya, Dik. Nanti Kakak akan belikan kamu jaket biar tidak kedinginan. Sekarang sudah musim hujan."

Sintia tersenyum lebar, tetapi begitu pasrah. Belum mendapatkan tempat tinggal atau uang untuk makan, dia sudah menjanjikan sesuatu pada adiknya. Sang adik pun mengangguk sambil membalas senyuman Sintia penuh ketulusan.

-II-

Pintu gerbang rumah besar itu tak dikunci. Sintia mendorongnya, lalu masuk perlahan sambil tetap awas pada apa pun kemungkinan yang bisa dia temukan. Sempat terlintas pikiran bahwa rumah itu mungkin milik Stevano yang tak dia ketahui. Kendati demikian, dia harus mencari sesuatu yang bisa memberikan petunjuk tentang sosok Stevano. Dia mungkin bisa tak peduli pada kenyataan mengenai laki-laki itu. Namun, Sintia sudah lebih dulu digerogoti penasaran yang buncah, menggebu, dan dia harus menemukan sesuatu yang menarik. Rasa penasaran itu tumbuh makin mekar dalam dirinya seiring waktu terus berjalan. Tak peduli bisa makan atau tidak, bisa buang tahi atau tidak di tempat antah-berantah itu.

Setelah melewati halaman yang cukup luas tanpa satu pun rumput tumbuh di tanah itu, Sintia berhasil tiba di depan pintu utama yang cukup lebar dan tinggi. Pintu memiliki corak yang unik dan abstrak seolah-olah dipahat seniman paling bersejarah di muka bumi. Sungguh, tetap saja rumah itu terlihat menyeramkan. Ditatapnya pintu tersebut, lalu merabanya beberapa saat. Catnya sudah terkelupas, dia mencabuti bekas cat itu dan menatapnya sejenak.

Kontan dia memutar badan karena mendengar derap langkah seolah menggesek tanah. Mengedarkan bola mata ke sekeliling, tetapi sama sekali tak mendapati siapa pun. Padahal terdengar sangat jelas. Dia menduga suara itu berasal dari dalam rumah setelah memeriksa tak ada apa pun di luar dan di sekitar.

"Ya Tuhan, lindungi aku dari bahaya apa pun yang sudah menungguku di depan sana." Sintia mengembuskan napas dalam, setelah itu mengusap-usap wajah bagai menyiapkan diri menghadapi Malaikat Pencabut Nyawa yang siap dengan senjata sabit panjang mengilap.

Kini, dia sepenuhnya siap untuk masuk ke rumah itu. Namun, tiba-tiba saja dia merasa seolah hati tidak mengizinkan. Meskipun sangat ingin memutar kenop pintu yang telah berkarat tersebut, ada hal yang meragukan dan datangnya dari hati. Dia mendengar bisikan yang melarang masuk ke rumah itu. Dia dilema memutuskan. Jika dia tidak masuk, dia tidak akan pernah tahu siapa Stevano. Atau setidaknya jika ada orang baik di salam sana, Sintia bisa selamat.

Keberanian untuk mengambil sebuah risiko. Sintia percaya tak ada yang akan dia dapatkan tanpa mengorbankan sesuatu. Bahkan meski nyawa taruhannya, dia pasti melakukan. Sebab manusia bukan makhluk super atau Tuhan yang bisa mengetahui kejadian di masa depan. Sintia menyadari bahwa Tuhan memberikan pemikiran untuk memperhitungkan segala kemungkinan.

Dia memutar kenop pintu. Terlihat cahaya remang-remang setelah dia mengangkat pandangan. Matanya membelalak dengan apa yang terlihat. Langkahnya berhenti seketika. Dia berdiri di antara mulut pintu. Atau mungkin telah tak dapat berbalik arah.

-II-

Wanita yang telah menjadi teman Sintia di gubuk reyot membuka mata setelah beberapa jam hanyut dalam dunia mimpi. Meski bangun pun, dia tak dapat melakukan apa-apa selain duduk dan berbaring. Dia tidak bisa ke mana-mana karena belenggu paten di kedua kaki dan tangan. Setelah beberapa saat sadar, dia menatap ke sekeliling. Dia sama sekali tak menemukan sosok perempuan bermata sipit yang sebelumnya dia anggap sebagai malaikat penolong.

"Sintia!" teriaknya, sebab berpikir bahwa perempuan itu mungkin berada di luar ruangan. Dia tahu Sintia bebas ke mana pun ingin melangkah karena tak dibelenggu seperti dirinya.

Wanita itu pasrah. Sebuah gagasan menyeramkan singgah di kepala. Bayangan bahwa Sintia telah mati dengan kapak menancap di kepala membuat Fira membeku.

-II-

Laporan ke seratus sembilan telah diterima seorang polisi di kantor. Benar-benar sebuah misteri yang sulit dipecahkan. Bahkan ketika dia menerima laporan ketiga tentang hilangnya anak perempuan dari pengusaha kaya raya di kota itu, dia bersama anggotanya segera melakukan penyelidikan yang cukup menguras tenaga dan pikiran. Dia menggali informasi sebanyak-banyaknya, tetapi tak pernah mendapat jawaban mengapa akhir-akhir ini banyak laporan tentang orang hilang. Yang lebih membingungkan lagi, semua korban adalah perempuan yang belum menikah.

Bukan waktunya berpikir konyol, tetapi Mahendra—polisi setempat—telah dirasuki pemikiran bahwa tragedi hilangnya seratus sembilan perempuan itu dilakukan seseorang yang tidak mengenal cinta.

"Ah, ada-ada saja pemikiranku ini. Aku pun tidak mengerti cinta itu apa," katanya dengan senyuman bodoh sambil bersandar di punggung kursi. Kedua tangannya bersidekap.

Saat memejam, dia menyadari bahwa pelapor rata-rata memberikan informasi tempat terakhir yang dikunjungi korban. Marina Cafe & Bar. Lelaki dengan hidung lancip itu semringah dengan pikirannya. Pintu yang membuka tiba-tiba membuyarkan pikiran Mahendra.

"Ada apa melamun begitu? Mikir soal kasus kehilangan itu lagi?" Rozak berjalan ke sofa, lalu mengempaskan pantat sambil menatap rekannya tersebut. "Sudahlah. Itu kasus ditutup saja. Kita tidak punya informasi yang banyak."

"Enak saja mau ditutup. Setelah ratusan orang menghilang, kita sebagai pihak yang berwajib membantu menangani kasus ini justru harus lebih berusaha."

"Memangnya kamu punya informasi apa soal kasus itu?"

"Bukannya ini aneh? Para pelapor rata-rata mengatakan tempat terakhir yang dikunjungi korban adalah Marina Cafe & Bar. Aku curiga sama tempat—"

"Mahendra! Sudahlah. Kita jangan berurusan sama tempat itu. Kamu tahu sendiri kalau pemiliknya itu—"

Mahendra menggebrak meja kerja dan seketika membuat Rozak terhenyak.

"Apa pun yang terjadi, kita harus bisa menyelesaikan masalah ini. Kalau tidak, akan lebih banyak lagi perempuan hilang."

Rozak seketika tertawa renyah. "Jadi, kamu takut masa jomlomu bertahan lebih lama karena tersangka penculikan itu menghabiskan semua perempuan di muka bumi ini? Jangan konyol. Bagaimanapun juga, jumlah perempuan di dunia ini masih jauh lebih banyak daripada laki-laki."

Mahendra hanya bisa mendengkus kesal mendengar candaan rekannya yang terkesan menyepelekan kasus tersebut.

"Aku harap keluargamu baik-baik saja, Zak. Aku harap hal yang sama tidak terjadi pada mereka."

Mahendra keluar dari ruangan. Sementara itu, Rozak menggeming. Perkataan Mahendra membuatnya jadi khawatir dengan keluarga sendiri. Dia sebelumnya tak pernah berpikir bahwa kasus itu bisa saja dia alami. Akan tetapi, tak ada yang tak mungkin.

"Aamiin."

-II-

Sintia menelan ludah kasar. Dada berdegup jauh lebih cepat dari sebelumnya. Napas menderu saat dia melihat sepasang tangan, sepasang kaki, satu kepala, dan tubuh yang terbelah menjadi dua bagian; tercerai-berai.

"Ya ... Tuhan. Apa yang terjadi?" Air mata merebak seketika.

-II-

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel