Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Psikopat Sinting

Wanita berbola mata cokelat itu tak bisa ke mana-mana. Setidak-tidaknya dia harus bisa membebaskan Fira terlebih dahulu. Bagaimana mungkin dia hanya menyelamatkan diri sendiri di saat seseorang menderita di sebelahnya? Oleh karena itu, Sintia berpikir beberapa waktu sambil menjelajahi ruangan lain di gubuk tersebut. Dia mungkin bisa menemukan sesuatu yang dapat digunakan membuka belenggu yang mengunci rantai besi di kaki dan tangan Fira. Dia harus menemukan sesuatu, setidaknya benda tajam pun akan sangat berguna di saat-saat seperti ini.

Di ruangan lain, Sintia melihat tulang belulang di sudut dinding. Apakah itu milik manusia atau bukan, dia tidak mengetahui secara pasti. Ketika dia mendekat ke benda-benda itu, dia justru melihat sesuatu yang menyembul dari dalam tanah. Ibarat melihat sebongkah berlian yang terkubur selama ribuan tahun. Maka dengan tak sabar dia langsung menggali dengan kedua tangan, mengais-ngais seperti anjing yang buru-buru ingin buang tahi.

Keringat kembali membasahi leher dan wajah Sintia. Dia sangat berharap sesuatu berwarna putih lusuh di tanah itu adalah sebuah alat berguna. Sayang sungguh sayang, ketika dia mengangkat benda itu dari dalam tanah sekuat tenaga sampai-sampai tubuhnya terjungkal ke belakang akibat gaya tarik terlalu besar, dia membelalak. Dia mendapat tengkorak manusia yang telah dijadikan rumah oleh cacing dan serangga-serangga kecil.

Sintia menjerit, lalu membuang tengkorak tersebut hingga menggelinding kembali ke lubang yang telah dibuatnya. Napas menderu hebat sebab amat takut dan terkejut. Bisa dikatakan itu hanya sikap refleks yang dia lakukan ketika merasa terancam dan panik. Sebagaimana dirinya yang tidak pernah berharap berada di situasi keparat seperti saat ini, dia ingin sekali mengumpat dan menjerit mengeluarkan semua keluhan. Untungnya, dia langsung sadar kalau gagasan yang datang sekilas itu bukan ide yang bagus. Itu tidak akan mengubah apa pun.

"Ya Tuhan," ucap Sintia sambil mengelus dada berkali-kali. Napas yang tersengal-sengal itu menandakan dia amat lelah. Jika tak mempertahankan kesadaran, dia bisa kehilangan ingatan atau justru kewarasan yang bakal lenyap seketika.

Sintia berpikir, lalu melontarkan pertanyaan dalam hati: "Apa aku benar-benar menginginkan kehidupan di dunia ini? Kenapa orang tidak bisa memilih hidup atau mati setelah dilahirkan? Ada orang-orang yang memilih mati daripada hidup sengsara, melakukan bunuh diri misalnya."

Sintia begitu senang ketika menyadari bahwa dirinya tidak pernah berpikir mengakhiri hidup menggunakan jalan pintas seperti bunuh diri. Dunia ini sangat indah sehingga membuat terlena. Namun, dia juga lupa bahwa dunia tidak hanya dikuasai manusia. Bagaimanapun, dia memang sudah begitu lelah dengan semua kesengsaraan yang tak kunjung usai. Dia terus-menerus berlari, menghindari bahaya dan maut, tetapi selalu gagal menghindarkan diri sendiri dari pemerkosaan keparat Stevano Erlangga.

Sintia menelan saliva. Karena rasa penasaran semakin menggebu, dia berjalan pelan mendekati tengkorak itu. Matanya berganti menatap lubang yang dia buat dengan kedua tangannya sendiri. Ketika itu, dia berniat melanjutkan penggalian. Dia penasaran, kenapa bisa ada tengkorak di gubuk reyot nan kumuh? Jika ada tengkorak, pasti ada penyebab kematian manusia di ruangan itu—entah pada tahun berapa. Jika sudah bertahun-tahun, maka tidak diragukan lagi bahwa Stevano Erlangga adalah psikopat sinting. Bagaimanapun, jika itu adalah diri Stevano yang sejati, sebisa mungkin Sintia harus menghindarinya. Dari awal dia telah berusaha menghindar, tetapi mungkin dia akan berpikir jauh lebih keras. Setidaknya mencari gagasan cemerlang yang jauh lebih efektif.

Tangan Sintia mengais semakin cepat. Dia berhasil menemukan bagian tulang yang lain: tulang rusuk, tangan, kaki, semuanya lengkap tak kurang satu apa pun. Dia mengeluarkan semua itu satu per satu meskipun sudah terpisah-pisah. Dia mengaturnya seolah puzzle hingga menjadi utuh kembali.

"Kenapa ada lubang di tengkoraknya?" tanya Sintia pada diri sendiri.

Saat itu, Sintia melihat tengkorak dalam keadaan yang tidak utuh. Banyak kemungkinan yang bisa terjadi, tetapi kemungkinan paling Sintia yakini adalah bahwa pemilik tengkorak itu dibunuh melalui kepalanya. Entah, mungkin dipukul hingga tengkoraknya lebur atau ditembak. Yang jauh lebih penting, dia harus mengingat baik-baik bahwa Stevano Erlangga benar-benar lelaki berbahaya. Dia tidak waras. Hatinya mungkin telah diganti hati iblis paling keji, yang naik dari neraka paling dalam ke permukaan tanah.

Sintia tahu lelaki itu adalah pebisnis yang sekaligus menjadi pemilik dari Marina Cafe & Bar. Telah berkali-kali dia bertemu Stevano, tetapi sekadar saling menatap satu sama lain, tak lebih dari itu dan tak ada yang lain. Mungkin selama ini Stevano telah mengawasi Sintia secara diam-diam.

Sintia kembali ke ruangan tempat Fira sedang berbaring. Dia memang tak berhasil menemukan benda apa pun sebagai senjata maupun alat untuk membuka gembok. Namun, dia punya ide lain, yaitu terus menyusuri hutan dan mencari jawaban tentang siapa Stevano sebenarnya, dan apa tujuannya melakukan kejahatan semacam mengurung, menyiksa, ditambah lagi memperkosa. Yang penting, dia hanya bisa berspekulasi saat ini tanpa kejelasan.

Karena melihat Fira tidur lelap, Sintia tak enak membangunkan hanya untuk meminta izin keluar dari gubuk. Dia pergi tanpa sepengetahuan wanita itu. Sintia melewati hutan yang gelap. Dia tak tahu ke arah mana harus melangkahkan kaki, tetapi dia berusaha mengikuti kata hati yang selama ini sering kali dia ingkari. Ke mana pun langkah membawa, dia yakin akan tiba di sebuah tempat yang tepat. Keyakinan itu berasal dari entah. Mungkin Tuhan yang memberikannya.

"Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu jahat sekali memperlakukanku seperti tidak memiliki harga? Kamu mengambil kesucianku, menghancurkan hidupku juga. Dan sekarang, aku tidak punya apa pun lagi. Kamu seperti iblis yang keluar dari neraka, lalu datang mencariku, dan menarikku juga ke neraka jahanam itu."

Sintia berhenti sambil berpegangan di batang pohon menjulang tinggi. Dia kembali mengingat perbuatan Stevano yang tak berbelas kasihan. Sintia menahan perutnya yang tiba-tiba merasa perih lagi mual. Dia membungkuk sambil berusaha memuntahkan sesuatu.

"Aku kenapa? Ya Tuhan."

Sintia menjongkok, lalu memuntahkan isi perut. Terakhir kali dia makan saat Stevano memberinya nasi goreng dan minuman jus. Setelah itu, dia tak makan apa pun. Hanya rasa sakit yang dia telan mentah-mentah demi meredam dendam membakar perasaan. Walau demikian, dia juga tidak bisa pasrah. Dia melawan dengan cara halus, bukan dengan kekerasan. Mungkin kekeraskepalaannya itu sudah terbentuk sejak lahir.

Setelah isi perut habis dimuntahkan, Sintia merasa pusing. Hingga saat berusaha bersandar di batang pohon, dia lunglai tak berdaya. Dia tak punya cukup banyak tenaga.

"Aku harus segera pergi dari sini. Kenapa tiba-tiba aku jadi lemas? Aku harus pergi dan mencari sesuatu, terus membebaskan Fira dan kami akan keluar bersama-sama dari hutan ini."

Sintia menangis tersedu-sedan. Dia tak lagi dapat bangkit karena lututnya merasa keropos tak punya tenaga sedikit pun untuk menunjang tubuh agar tetap berdiri. Berkali-kali dia berusaha bangkit, tapi tetap tak bisa. Matanya yang berkantung itu pun merasa berat sehingga akhirnya memejam, tak sadarkan diri.

-II-

Seorang perempuan dengan rambut sebahu terengah-engah sambil berlari. Sesekali dia menoleh ke belakang, memastikan lelaki bertopeng yang mengejarnya sambil membawa kapak sudah jauh hingga tak dapat menyusul. Dia memang tidak melihatnya lagi di belakang sehingga merasa cukup lega. Merasa letih, dia berhenti sambil menumpu tangan di lutut. Dia mengatur napas agar lebih stabil.

"Siapa orang itu? Kenapa dia ngejar-ngejar gue?" tanyanya pada diri sendiri. "Dan ... kenapa bisa gue ada di hutan ini? Gimana bisa, sih?! Ya ampun. Padahal tadi lagi di bar." Napasnya tersengal-sengal, sedangkan bintik-bintik keringat memenuhi dahi dan leher. Dia berkali-kali mengusap wajah, menarik napas dalam seraya menoleh ke segala penjuru demi memastikan dirinya telah aman.

Kenyataan memang tak dapat dielak. Jika sudah berkata A, maka A. Tak akan ada yang lain. Sebagaimana nasib yang sudah digariskan sejak lahir. Dan kali ini, yang dia lihat bukan lagi gedung-gedung pencakar langit seperti yang biasa dia lihat di waktu-waktu seperti ini. Biasanya, dia masih ada di kelab dengan musik bising dan beberapa botol minuman. Perempuan berambut sebahu itu bahkan lupa bagaimana dia berakhir di hutan itu. Saat membuka mata, tahu-tahu orang bertopeng mengacungkan kapak di depan wajahnya. Sungguh gila! Jika saja dia tak cepat sadar dan lari, maka pasti sudah menjadi bangkai yang hanya menyisakan nama.

Yang jauh lebih mengkhawatirkan, dia belum bertobat. Dosa-dosanya masih sangat banyak. Jika mati, satu-satunya yang dia pikirkan adalah ke mana dia akan pergi setelah kematian? Surga atau neraka? Namun untungnya, dia benar-benar lega sekarang. Setelah napas kembali normal, dia berjalan mencari jalan keluar. Jika mengambil arah sebaliknya, dia pasti akan bertemu lagi dengan lelaki itu. Tanpa banyak pertimbangan, dia melanjutkan perjalanan; siapa tahu dia menemukan jalan setapak menuju jalan utama beraspal, lalu bisa pulang dan beristirahat. Bagaimanapun, yang dia pikirkan saat itu adalah rumah, kamar luas, bantal empuk, demikian dengan kasur empuk pula.

Entah berapa lama dia berjalan, tetapi tak juga menemukan jalan keluar. Dia hampir menyerah, nyaris putus asa, dan hampir saja menanggalkan semua harapan. Demi meredakan lelah yang ke sekian kali dirasakan, dia bersandar di batang pohon sambil mengeluarkan sebungkus rokok beserta korek api dari saku celana jinnya. Asap rokok mengepul, membubung tinggi.

"Ke mana aku harus mencari jalan keluar? Mana di sini gelap, lagi. Handphone gue ada di tas dan entah hilang di mana," gerutunya, kesal.

"Boleh saya pinjam korek?" tanya seseorang. Perempuan itu terperangah bukan main. Dia mendongak sebab menyadari sesosok lelaki bertubuh tinggi berjubah hitam; mengenakan topeng.

Saat mengambil ancang-ancang demi melarikan diri, tubuhnya telah lebih dulu disiram bensin. Lelaki itu menjauh. Si perempuan berusaha mematikan rokok yang masih menyala. Ketika dia berniat membuangnya, api menyebar sangat cepat, terpantik zat bensin hingga membakar seluruh tubuhnya.

"Biadab! Anjing! Babi!"

Pekik jerit menggema. Burung-burung malam menyampaikan kabar atas menderitanya seorang perempuan, terbang melayang, tampak girang. Orang bertopeng keparat tertawa renyah, lalu pergi dengan perasaan bahagia.

-II-

Sintia bangun karena mimpi buruk menyangkut hidupnya. Tidak hanya itu, tiba-tiba saja dia kepikiran sang adik yang dia tinggalkan sendirian di kampung. Dia tak bisa menghubunginya melalui sambungan apa pun. Bahkan alat komunikasinya pun tak ada. Besar kemungkinan adiknya akan datang ke rumah Sintia di kota.

Sintia kini sudah bisa berjalan setelah tidur entah berapa lama. Langit masih diselimuti kegelapan. Rembulan juga masih tak menampakkan diri, bintang pun ikut-ikutan tak bercahaya. Dia kembali menelusuri hutan dalam kesunyian dan ketakutan. Tak lama kemudian, dia tiba di sebuah sungai kecil. Kebetulan dia sangat ingin membersihkan segala kotoran yang menempel di wajah.

Begitu menjongkok, Sintia merasa sesuatu menggenggam erat kaki kanannya. Dia terkejut setengah mati. Sintia menolah ke belakang demi memastikan. Penglihatannya belum cukup jelas menangkap sosok yang tengkurap sambil memegang kakinya dengan erat itu. Tak berselang lama, yang dia lihat adalah manusia dipenuhi luka bakar. Gosong! Dia terlihat seperti setan yang baru keluar dari neraka dan dicelupkan di lahar panas tanpa ampun. Tangan yang mencengkeram kakinya itu pun terasa hangat.

Bagaimanapun, yang menjadi pertanyaan paling besar di benak Sintia setelah mengabaikan setiap rasa takut yang datang: siapa orang dengan tubuh terbakar itu?

"Siapa ... kamu?"

-II-

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel