Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Memberi dan Menerima

Sintia telah kehilangan segala hal dalam hidup, termasuk kesucian yang dia siapkan demi masa depan kelak bersama lelaki yang hatinya kehendaki untuk dicintai. Kendati demikian, Sintia berharap tak kehilangan keyakinan pada Tuhan.

Untuk itu, dia mencoba menerima kesadaran diri sebagai elemen penunjang yang harus mampu membuatnya melihat dimensi secara lebih luas. Dia memusatkan pikiran, menyerahkan segala hal, melebur segala ego dan keras hati. Jika ingin punya cinta di dalam hati, maka memberi adalah sebuah solusi. Dia menyadari hal itu, maka dia makin yakin bila memberi seluruh hidup pada kekuatan terbesar di seluruh alam semesta, dia bisa menerima lebih banyak sesuatu. Walaupun pada akhirnya, kenyataan yang akan dia terima tidak sesuai harapan.

Dalam lamunan yang panjang itu, dia menumbuhkan sebuah gagasan dalam diri sendiri bahwa ada dirinya yang lain, dan selalu menginginkan untuk menjadi dekat dengan kekuatan semesta. Sebagaimana dia sadar bahwa sekarang hidupnya telah berada di ambang kehancuran, berada di dunia yang pekat menghitam, bahkan hampir kehilangan cahaya untuk melihat sesuatu dari bentuk yang sebenar-benarnya semu.

Di tengah-tengah lamunan itu, Sintia kembali diganyang habis, dikoyak kenyataan yang telah berkali-kali menikam tanpa ampun. Kali ini, pakaiannya dibuat compang-camping dan dia lebih mirip gelandangan yang tak lagi punya harga diri maupun materi. Yang tersisa dari gaun itu hanya di bagian dada dan selangkangan. Dia menatap kosong ke langit-langit yang dipenuhi sarang laba-laba dan serangga-serangga lain. Sejenak, dia kehilangan ingatan, lalu muncul lagi dan hilang lagi. Tak ada yang bisa dilihat di sana. Hanya kehampaan, dan di situlah dia melihat dirinya menangis tersedu-sedan seorang diri tanpa memiliki siapa pun. Seolah kini dia menjadi penonton, duduk di depan layar raksasa. Kehidupannya adalah drama ironis nan menyedihkan.

Sementara wanita berpakaian putih menangis menyaksikan Sintia tak dapat melakukan apa pun. Itu adalah luka paling besar bagi seorang perempuan. Mereka sama-sama menyedihkan.

Tak cukup sampai di situ kepuasan yang diraih Stevano. Bagai luka disiram air garam dengan biadab tanpa ampun. Wanita itu tak bisa berbuat apa pun selain menjadi penonton dan mengumpat sekeras-kerasnya.

Malam keparat itu hanya memberikan luka bagi mereka yang lemah tak berdaya. Setiap usaha tak mengubah kenyataan. Stevano Erlangga tak peduli apa pun. Apalah arti pekik jerit jika tak ada yang mampu mendengar di hutan luas nan gelap. Mau tak mau, Sintia harus pasrah dan menerima kenyataan yang mengobrak-abrik kedalaman jiwa. Senyuman yang sering kali mekar seperti kuncup bunga di pagi hari, mengering, sebab tanah sucinya telah tiada ampun diganyang hama tanpa belas kasihan.

"Mati kamu, Perempuan Jalang!"

Stevano Erlangga bangkit setelah kebiadabannya tersalurkan dengan lancar tanpa hambatan. Nafsu berahi yang memuncak bercampur dendam yang menghitamkan hati, habis dilahap selangkangan kemenderitaan Sintia. Kini, senyuman merekah terpasang rapi di wajahnya; berseri, tetapi masih dengan sorot setajam elang yang mematikan. Dia meludah tepat di wajah Sintia, lalu pergi meninggalkan dalam bisu yang hening dan membeku. Sepertinya Stevano tak takut wanita itu melarikan diri. Karena itu, kali ini dia tak membelenggunya. Rantai tergeletak di samping Sintia; tak terpasang.

Suara pintu yang menutup terdengar cukup keras, artinya lelaki itu telah pergi meninggalkan gubuk reyot. Sintia Rahmawati tidak lahir dari keluarga kurang mampu. Justru sebaliknya: ayahnya pengusaha kaya raya yang saat ini menjabat sebagai anggota dewan. Masa remaja Sintia berawal indah dan normal; seperti kebanyakan remaja lainnya yang tak kurang satu apa pun. Sempurna. Dia bahkan selalu mendapat peringkat satu di sekolah karena rajin dan pintar. Setiap mata pelajaran ia telan mentah-mentah dan dia juga selalu memenangkan kompetisi kejuaraan yang diadakan antar-sekolah di kota tempatnya tinggal.

"Ayah, lulus SMA nanti, Sintia mau masuk sekolah modis. Ayah 'kan, tahu Sintia sangat suka menggambar model pakaian," kata Sintia di waktu sarapan sebelum berangkat ke sekolah.

Pagi indah dan hangat, sebagaimana biasa ia jalani dalam hari-hari yang menyenangkan bersama senyuman ayahnya dan juga satu porsi roti bakar berselai stroberi. Dan juga bersama adiknya yang bahkan tak pernah berkomentar apa pun dalam perbincangan hangat mereka setiap pagi. Dia menjalani semuanya dengan normal dan seolah-olah merasa paling bahagia mendapatkan ayah, juga keluarga yang tenggelam dalam indah kebersamaan. Tak seperti keluarga-keluarga lain, atau keluarga di televisi dan novel yang selalu tak waras dan ia mengetahuinya.

Namun kenyataan, itu tak seperti hari-hari sebelumnya. Pria dengan kumis tebal—ayah Sintia—mengernyit.

"Sepertinya itu tidak cocok untuk Sintia. Sintia harus sekolah tinggi dan menjadi orang penting, bukan pegiat seni, Sayang," balas ayahnya sambil menyunggingkan senyuman yang dibuat-buat hanya demi menenangkan Sintia.

Wajah berseri Sintia sirna seketika. Dia melepas sendok dan garpu di piring tanpa menghabiskan sarapan yang ia duga sebelumnya akan terasa jauh lebih nikmat. Tanpa berpamitan pun, dia langsung berangkat ke sekolah. Hari ini dia bersekolah dengan suasana hati yang tak stabil. Mimpi yang ingin diraihnya seolah ternodai oleh jawaban yang diberikan pria itu. Sintia tak pernah menyangka akan mendapat penolakan secara halus, tetapi sangat menusuk dan mampu memporak-poranda keyakinannya akan mimpi itu. Padahal, ayahnya sering melihat dia saat menggambar, bahkan memberikan komentar bagus atas hasilnya. Tidak ada masalah ketika itu. Namun, Sintia tak menyadari bahwa hobi yang dia lakukan sebenarnya tak pernah mendapat apresiasi dari ayahnya sendiri. Dan semua itu pada akhirnya hanya sebuah angan-angan yang tak punya kepastian. Sebuah harapan yang pilihannya hanya ada satu: menanggalkannya.

Sintia kalang kabut. Saat jam pelajaran berlangsung pun dia jadi tak fokus sebab memikirkan bahwa mimpinya terancam oleh ayah sendiri. Itu adalah keadaan darurat bagi dirinya. Namun, sehari melewati suasana hati buruk itu, dia melupakannya begitu saja dan kembali menjalani kehidupan dengan keluarganya yang begitu harmonis.

"Sintia! Kamu dapat ranking paling tinggi lagi!" seru Acha yang merupakan teman sekelas Sintia saat berada di mading melihat lembar nilai ulangan harian yang ditempel di sana. Dia berdesakan, sebagaimana anak-anak lain buru-buru melihat nilai hasil ujian mereka.

Sintia langsung mencari namanya untuk memastikan; ternyata benar ada di urutan paling atas. "Yes!"

Kiranya prestasi itu akan menjadi hal yang membuat ayahnya senang. Maka, sepulang dari sekolah, dia buru-buru mencari pria berkumis tebal itu di ruang kerja. Sebagaimana yang biasa ia lakukan ketika kegembiraan sedang berpihak padanya.

"Ayah! Ayah!"

Saat membuka pintu, dia mendapati ayahnya tengah melakukan perbuatan tidak senonoh dengan wanita lain. Sintia tak begitu mengerti yang sebenarnya pria paruh baya itu pikirkan di saat ibunya baru-baru ini meninggalkan tanpa batas waktu. Namun, di usianya yang sudah belia itu, Sintia telah memahami bagaimana seorang lelaki membutuhkan selangkangan perempuan. Yang bahkan lelaki tak bisa hidup tanpanya. Sintia menelan ludah sendiri dengan kening perlahan-lahan mengerut. Dia menggenggam tangan dengan sangat kuat seolah-olah bara api di dadanya menyala dari energi entah. Emosi memuncak seolah membuat kepala sesaat lagi meledak karena panas. Pria dan wanita itu menatap Sintia dengan membelalak. Sang pria mengenakan pakaian secepat kilat, lalu mendekati Sintia.

"Sintia. Kamu sudah pulang—"

"Sintia benci sama Ayah!"

Tak menunggu lama, perempuan itu naik ke atas. Dia masuk ke kamar, dan mendapati adiknya tengah duduk sambil merengkuh diri. Dia sama terkejutnya seperti Sintia. Mereka kini terlihat seperti kehilangan ingatan. Dan beberapa pikiran buruk menggerogoti kepala kakak-beradik itu.

Sintia menatap adiknya heran. Laki-laki yang baru menduduki bangku SD kelas empat itu mungkin telah melihat apa yang dilakukan ayahnya sebagaimana Sintia. Dan kini, dia sedang frustrasi memikirkan hal tersebut. Ayahnya begitu mudah melupakan sang ibu yang belum lama ini terbang ke surga menemui bidadara-bidadara yang siap menggantikan kebahagiaan dunia, lalu hidup bersama malaikat dan orang-orang mati yang menjadi korban pengkhianatan lainnya.

"Dik," lirih Sintia, lalu meraih tubuh sang adik; memeluknya dengan amat erat. Dia menangis tersedu-sedan. Sungguh-sungguh tak akan ada yang bisa menghibur mereka. Bahwa mereka pun sebenarnya tak pernah mengharapkan hiburan semu. Bagaimanapun, hidup mereka telah hancur dikoyak kenyataan keparat.

-II-

"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Tuhan, apa Kau menghukumku? Lalu, apa yang bisa aku lakukan agar Engkau kembali mengasihiku? Aku tahu aku sudah banyak salah dan dosa. Tapi Engkau sungguh memberikan aku ujian dan cobaan yang sangat berat. Kenapa? Kenapa Engkau menghukumku dengan mengirim lelaki yang merampas kesucianku? Aku hina. Aku menjijikkan seperti seonggok tahi dan akan dijauhi semua orang."

Sintia merengkuh diri; memberikan kasih sayang kepada diri sendiri. Adalah benar selama bertahun-tahun, dia telah lupa bagaimana memberikan perhatian dan kepedulian pada diri sendiri. Sebagaimana ingatan masih melekat pada diri, dia telah lama tak menghargai hidupnya. Dia selalu bergadang, menghabiskan waktu di kelab malam, mabuk-mabukan, berfoya-foya, memamerkan keindahan tubuh, serta terkadang melakukan perjudian dengan para sahabatnya. Jangankan memamerkan tubuh, sekadar memamerkan wajahnya yang begitu sempurna pun para lelaki langsung mabuk kepayang.

Bayang-bayang masa lalu terus mengalir, terunduh memori, lalu menguras habis air mata yang padahal tak semalam pun berhenti menciptakan sungai-sungai kecil di wajahnya.

"Tuhan itu Maha Pengampun. Sebesar apa pun dosa yang telah kamu perbuat, Tuhan pasti akan mengampuninya. Asalkan kamu kembali pada-Nya. Hanya itu syaratnya."

Wanita berpakaian putih merasa bahwa Sintia punya sisi lain yang jauh lebih baik dari yang dia pikirkan sebelumnya. Sintia menatap wanita itu setelah berkata cukup bijak dengan ketenangan intensional.

"Namaku Fira. Aku memang bukan perempuan yang alim. Setidaknya aku pernah mendengar seorang penceramah berbicara begitu. Katanya Tuhan Maha Baik. Mengampuni kesalahan hamba-Nya adalah hal yang kecil, asalkan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama," jelas perempuan itu sambil bersandar di dinding setelah beberapa waktu berdiri.

"Aku menyadari ada sebuah kebaikan di dalam diri kamu. Namamu siapa?" tanyanya sambil merekahkan senyuman.

Sintia terdiam sejenak. Dia menghapus tetesan air mata, menghela napas sedalam mungkin agar jauh lebih tenang. "Sintia ...," jawabnya dengan suara parau.

"Sintia. Aku mungkin jauh lebih berdosa sama Tuhan daripada kamu. Aku adalah seorang pelacur yang berkedok sebagai tukang pijat dan melayani para lelaki melalui panggilan." Fira terkekeh konyol sesekali ketika menceritakan perjuangannya dalam menghadapi hidup yang serba sulit.

"Sialnya, aku mendapat panggilan dari pria yang salah. Pria kejam berhati iblis itu. Dia menjebakku untuk datang ke pohon beringin di sebuah kampung. Bodohnya, aku menurut saja tanpa mencari tahu. Bahkan aku tidak berpikir dua kali karena sedang sangat membutuhkan uang. Uang membutakanku, Sintia. Tapi, jika tanpa uang, aku bisa apa? Kebutuhanku sangat banyak. Ibuku sakit keras dan harus melakukan pemeriksaan setiap minggu. Aku ingin melakukan segala pekerjaan, tapi yang kubisa hanya melayani laki-laki. Pernah suatu ketika aku mencoba melamar pekerjaan, sayangnya ditolak karena aku bahkan tidak punya ijazah SD. Sedihnya ketika aku memutuskan jadi wanita panggilan. Kamu bisa menyebutku pelacur."

Setelah itu, tak ada pembicaraan yang terjadi. Sintia bungkam. Satu pemikiran bertengger di kepala. Hal terakhir yang dia ingat sebelum berada di situasi rumit tersebut adalah bahwa dirinya memohon sesuatu pada penunggu pohon. Dia ingat kembali apa yang dikatakan Fira tentang bagaimana dia berakhir di tempat itu. Mereka berdua berakhir di gubuk reyot dengan cara yang sama dari tempat yang sama. Itu artinya, kejadian tersebut tidak terjadi sekali atau dua kali. Setidak-tidaknya, dia punya petunjuk untuk mengetahui kebenaran. Dan setidak-tidaknya pula, ada penjelasan yang masuk akal mengapa lelaki setampan dan sekaya Stevano sangat suka menyiksa perempuan. Adakah laki-laki yang menjadi korbannya juga? Sintia harus tetap menelusuri hal tersebut. Namun, yang menjadi beban pikiran utama adalah: jika dia hamil, siapa yang akan menjadi ayah untuk anaknya? Tentu, sangat berat bagi Sintia. Tak semudah pikiran itu masuk ke kepala, tapi memikirkan solusinya amat sulit. Apakah mungkin dia meminta lelaki berhati iblis itu mempertanggungjawabkan yang telah dia lakukan?

"Oh, ya. Aku heran kenapa lelaki itu memperkosamu? Padahal, dia sama sekali tidak menyentuh kesucianku sejak aku ada di tempat ini."

Sintia terperangah, kontan menatap Fira. Apakah benar hanya Sintia yang menjadi korban pemerkosaan lelaki tersebut?

"Ah, tapi mana mungkin dia mau dengan perempuan sepertiku yang sudah jadi milik umum. Lucu sekali." Fira terkekeh meratapi nasibnya yang begitu menyedihkan. Nasib keparat yang sama sekali tidak ingin dia terima, tetapi tak punya pilihan selain menjalani semuanya.

Sintia kembali tersedu-sedan. "Ya Tuhan, aku butuh kekuatan ...."

-II-

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel