Lelaki Berhati Iblis
Sudah barang tentu Sintia heran setengah mati melihat seorang wanita terbelenggu di kaki dan tangan dengan rantai besi paten berkarat. Apalagi wanita berpakaian serba putih itu tiba-tiba meminta pertolongan. Seolah-olah dia sedang melihat malaikat penyelamat yang datang dari doa-doa yang sebenarnya telah tanggal sejak amat sangat lelah menghadapi detik-detik kehancuran. Secara refleks Sintia menjauh, menjaga jarak sambil mengernyit menahan rasa takut yang seketika itu menyeruak. Kewaspadaan meningkat. Sementara itu, derap langkah di kejauhan terdengar makin dekat. Bagaimanapun juga, Sintia harus segera pergi meninggalkan gubuk reyot. Akan tetapi, entah mengapa hatinya tidak bisa membiarkan wanita itu membusuk di tempat itu. Sintia tidak ingin menyelamatkan diri sendiri. Setidak-tidaknya dia harus melakukan sesuatu. Perasaan tak enak hati melihat orang lain menderita baru pertama kali merasuki hatinya setelah sekian tahun memupuk ketidakpedulian atas segala urusan orang lain.
Binar mata wanita itu penuh harap. Dapat Sintia pahami sebagai harapan untuk sebuah keselamatan. Dia tahu seperti apa rasanya dibelenggu. Memang tak sakit, tapi lama-lama bikin orang jadi dungu.
"Tolong aku." Parau suara wanita itu meminta pertolongan. Sintia menahan kesedihan yang didorong empati dengan tingkat paling tinggi. Wanita berpakaian putih memelas seolah telah begitu lama terjebak di dalam gubuk.
Sintia berada dalam sebuah kesulitan untuk menentukan pilihan. Dia harus pergi dari gubuk itu.
"Maaf, aku harus pergi—"
Saat Sintia bergegas angkat kaki, wanita berpakaian putih itu kembali menghentikan. "Lelaki itu," katanya sambil menahan tangis yang nyaris meluncur deras.
"L-lelaki? Maksudmu lelaki ...." Sintia menggeleng sambil membelalak. Dia bisa menebak lelaki yang dimaksud wanita berpakaian putih itu adalah orang misterius yang telah menelanjangi hidupnya. Lelaki yang memerkosanya dengan penuh kebiadaban dalam nafsu berahi yang membuncah.
"Aku akan membebaskanmu. Tunggu sebentar."
Segera Sintia meraih rantai besi yang mengikat kaki sang wanita. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana dia bisa membuka rantai besi paten itu sementara tak ada alat apa pun di dalam rumah tua tersebut untuk digunakan? Dia bahkan bukan manusia super yang dapat membengkokkan besi dengan mudah. Sintia mengedarkan pandangan ke sekitar sambil berusaha mencari sesuatu yang dapat digunakan. Di sebelah sebuah kursi lapuk, dia melihat batu sebesar kepalan tangan. Meski merasa tak yakin bisa membantu, dia tak menyia-nyiakan benda keras itu dan langsung beranjak mengambilnya.
Derap langkah itu terdengar makin dekat. Sintia sesekali menoleh ke belakang, memastikan orang itu belum masuk ke gubuk. Wanita yang berusaha dia selamatkan itu pun terlihat sangat cemas. Terlebih, dia tidak bisa melakukan apa pun selain meratapi nasib yang menyedihkan.
Mereka terlihat sama dengan pakaian lusuh. Percayalah, di balik debu dan kotoran yang menempel di wajah mereka, keduanya masihlah wanita cantik tanpa kurang satu apa pun.
"Aku harus cepat. Ayolah!" Semakin keras tangan Sintia mengayun, membenturkan batu ke rantai besi paten berkarat. Sedikit pun tidak membuat belenggu itu membuka. Paling-paling hanya lecet sedikit.
Terdengar suara pintu membuka. Sintia menoleh, lalu melihat pria dengan topeng menyeramkan telah berdiri dengan sebuah kayu dari cabang pohon. Kedua wanita itu menggeming, rasa takut kembali menelusup dalam benak. Dan seketika segala pikiran buruk menghampiri. Sintia memeluk wanita itu, kemudian berangsur-angsur mundur hingga punggungnya mentok pada dinding. Sesungguhnya, tak ada orang yang tahu apa yang akan mereka lakukan sekarang dalam keadaan terpojok. Dan bahkan lelaki misterius itu telah yakin seyakin-yakinnya bahwa kedua wanita itu tak berdaya untuk melawan.
Namun, dia salah besar karena saat itu Sintia punya ide cemerlang. Sintia langsung mengangkat tangan, mengacungkan batu seolah memberi peringatan pada lelaki itu. Sintia berusaha menelan semua rasa takut. Dia memang harus melawan jika ingin bebas dan mendapatkan kembali kehidupan normalnya. Jika tak begitu, maka sia-sia perlawanan yang selama ini dilakukan. Dengan terus-menerus berlari, dia tidak akan bisa mengungkap siapa pria itu sebenarnya.
"Kalau kamu berani maju, aku akan melemparmu dengan batu ini. Tepat ke kepalamu," ancam Sintia dengan wajah bengis yang dibuat-buat hanya untuk menakut-nakuti lelaki di depannya. Matanya membelalak. Napas merasa panas. Dan jantungnya, seketika itu ingin melompat dan menemukan tempat bersinggah yang baru.
Tak lantas takut, lelaki itu tertawa renyah. Mungkin ancaman Sintia adalah lelucon paling lucu yang pernah dia dengar selama hidup. Atau mungkin selera humornya terlalu rendah untuk seorang manusia kejam. Atau mungkin juga dia hanya berpura-pura tertawa untuk memuaskan dirinya sendiri, dan juga menghibur hati yang sebenarnya sudah berbunga-bunga menghadapi dua wanita cantik berambut hitam legam meskipun sekarang penuh debu dan kotoran.
"Siapa kamu?!" jerit Sintia. Matanya makin awas. Dia mendekap wanita di sebelahnya erat-erat.
"Siapa saya? Itu pertanyaan basi. Tidak perlu ditanyakan."
Lelaki itu melangkah maju. Sintia siap melempar batu, tetapi seketika ragu oleh berbagai pikiran pelik yang entah datang dari mana. Tangannya mulai mengingkari kehendak atau mungkin hatinya yang tak setuju melakukan hal itu. Bukannya hal wajar melakukan perlawanan jika dalam keadaan terdesak? Dia sedang terancam, membunuh satu orang jahat bukan sesuatu yang buruk. Apalagi di hadapannya adalah setan berwujud manusia yang sama sekali tak berbelas kasihan sedikit pun.
"Kamu tidak ingin melemparku dengan batu itu? Kenapa? Ayo, lempar saja kalau kamu bisa melakukannya," kata lelaki itu sambil terus maju secara perlahan.
"Ayo, lempar dia!" seru perempuan di sebelah Sintia, tak sabar melihat lelaki itu bercucur cairan kental. Bisa dilihat bahwa dia juga menyimpan dendam yang sangat besar.
Sintia tak tahu harus melakukan apa. Dia merasa gusar, takut, terancam, tetapi akan merasa berdosa bila batu di tangannya menghantam kepala lelaki itu. Dia tak lupa dengan semua hal yang lelaki itu lakukan. Hanya saja, kata hati kecilnya: dia tidak bisa membalas dendam dengan amarah bergejolak. Dia bisa hilang kendali, lalu ditangkap lagi, setelah itu akan kembali dibelenggu, dan bahkan diperkosa lagi dengan lebih keji.
Tangan Sintia perlahan-lahan lemas seiring hati menjadi lunak. Bahkan tatapannya pun melemah. Akibat banyak kemungkinan yang tidak bisa dia kendalikan dalam pikiran, batu terlepas. Dendam tak bisa dia balaskan meskipun punya alasan kuat untuk membunuh seorang manusia ataupun iblis; jika benar lelaki itu iblis.
Mengapa dia menjadi seseorang yang sangat lemah, bahkan sampai memikirkan perasaan penjahat di hadapannya? Seharusnya dia marah karena telah kehilangan kesucian. Lelaki itu yang merampasnya, menjebol gawang pertahanan Sintia, lalu menyisakan luka perih yang tertanam di kedalaman hati. Semua itu tidak dapat Sintia hindari. Dan sekarang, yang ada hanya kenangan pahit. Sintia menelannya begitu saja dalam tangis yang tertahan.
Tanpa Sintia sadari, batu berpindah tangan. Tak lama kemudian, wanita berpakaian putih itu merekahkan senyuman sambil melempar sang lelaki dengan harapan tepat mengenai sasaran. Sayang, harapan itu kandas. Mungkin karena wanita itu tak punya banyak tenaga. Bahkan untuk berdiri pun dia susah payah. Alih-alih mengenai kepala. Batu justru tak mencapai tempat lelaki itu berdiri, lantas tergeletak di depan kakinya.
Suasana menjadi keheningan yang membeku. Sesekali pintu bergerak, berbunyi karena angin bertiup kencang. Raut wajah wanita itu berubah kecewa. Nasibnya begitu menyedihkan. Dan betapa sial, keberuntungan tak berpihak sedikit pun padanya.
Tak ingin buang-buang waktu, lelaki itu mencekik leher mereka dengan kedua tangan besarnya.
"Perempuan bodoh! Tidak tahu terima kasih!" katanya. "Seharusnya kalian bersyukur karena saya masih memberi kalian kesempatan hidup!"
Sintia nyaris tak bisa bernapas karena cengkeraman lelaki itu. Dia berusaha melawan, memukul-mukul pergelangan tangan lelaki itu. Sintia sangat menyesal menggunakan hatinya untuk mengambil keputusan yang salah. Kebaikan hatinya tidak digubris lelaki itu sedikit pun. Sintia betul-betul sadar dengan kebodohannya, tapi ada sesuatu yang menggerakkan hatinya untuk selalu mengutamakan kesabaran. Apakah itu campur tangan Tuhan? pikirnya selama dia dicekik nyaris mati.
"Lepaskan!"
Lelaki itu melepaskan cengkeramannya. "Bau kalian menjijikkan!" katanya sambil membersihkan telapak tangan di celana.
Sekilas itu, mata tertuju pada kayu yang tergeletak di sebelah kakinya. Dia menyeringai selagi kedua wanita itu terbatuk-batuk kehilangan kewaspadaan. Tanpa pikir panjang, dia mengangkat kayu tinggi-tinggi, dan diayunkan satu per satu ke kepala kedua perempuan itu tanpa belas kasihan. Mereka langsung terkapar dengan darah segar yang muncrat. Dia lantas membawa mereka masuk ke sebuah ruangan yang jauh lebih gelap dan berbau busuk.
Sebagaimana tak ada belas kasihan, pria itu memasang pasak yang lebih kuat dan paten pada rantai yang membelenggu perempuan berpakaian putih. Setelah selesai, lelaki itu bergantian memasangnya di kaki Sintia. Direbahkannya Sintia pada dinding. Rantai besi yang dia pasangkan cukup berkarat dan sulit terpasang. Memakan banyak waktu sehingga Sintia lebih dulu sadar. Dia membuka mata, menemukan lelaki itu sedang berusaha membelenggunya sebagaimana perempuan berbaju putih. Karena tidak ingin ketahuan, dia menyetabilkan napas, seolah-olah terdengar seperti orang pingsan. Untung saja tangannya belum sempat dibelenggu besi paten berkarat. Dengan semua kekuatan dan keberanian yang telah terkumpul, Sintia mengangkat tangan, lalu merampas topeng lelaki itu, membuangnya jauh-jauh dari jangkauan.
Dan tentu saja, itu karena Sintia jauh lebih penasaran dengan siapa orang di balik topeng mengerikan itu daripada mengkhawatirkan hidupnya sendiri. Setelah melihat wajah pria misterius, dia seolah tersihir dengan ketampanan yang tiada tara. Tak menyangka seseorang yang berbuat kejam layaknya setan itu adalah pria bermata kuning setajam elang. Juga dengan dagu lancip serta rahang tegas. Jangan lupakan satu lagi: hidung panjang lancip dan sedikit menukik. Sintia jadi tahu kenapa dirinya bisa berakhir di tempat gelap lagi sempit itu.
Sementara itu, si lelaki sangat tenang dengan tatapan membius. Sintia terdiam seribu bahasa. Tak berselang lama, lelaki itu mendorong, lalu menekan kepala Sintia ke dinding. Dia bermaksud agar Sintia tak melihat wajahnya. Terlanjur sudah, memori dalam kepala wanita itu telah menyimpannya dengan baik.
Kini lebih banyak pertanyaan muncul di benak Sintia. Mengapa lelaki setampan dan sekaya itu melakukan kejahatan tak tanggung-tanggung? Apa yang telah dirinya perbuat sehingga lelaki itu memperlakukannya seolah tak berharga? Masih banyak sekali pertanyaan lain yang tentu belum dapat Sintia temukan jawabannya. Mungkin tak hanya Sintia yang menjadi sasaran kejahatan lelaki itu. Bisa jadi masih banyak lagi yang menjadi korban dan berada di tempat yang berbeda-beda belaka. Siapa yang tidak tahu lelaki iblis itu adalah Stevano Erlangga—pebisnis muda paling sukses dan terkenal. Bahkan Sintia pernah menyaksikan wajah itu terpampang di halaman depan sebuah majalah.
"Wanita tolol!" teriak Stevano Erlangga.
-II-
