Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Pertempuran Benji dan Lupi

"Haah--syukurlah! Kupikir akan terlambat." Helm diletakkan di atas spion usai Jovita mengembuskan kelegaan dari segala suntuk di pagi ini.

Masalah dimulai dari abangnya yang kemarin tertimpa motor vespa, "Kalau abang enggak bebal, dia enggak mungkin jatuh. Itu memang salahnya dia, selalu terburu-buru." Masih mengoceh tanpa tahu bahwa dia keliru memilih area untuk memarkirkan kendaraannya.

Alih-alih mengatur posisi vespa

di parkiran motor, Jovita malah merapatkannya pada barisan mobil dan menempatkan skuter miliknya tersebut di tengah-tengah.

"Bodoh! Dia pikir lahan ini milik kakeknya?! Kau pikir bisa mencuri tempat Benji? Awas kau, ya!"

"Ji--Jidan! Biar aku--"

Mereka adalah dua mahasiswa yang barusan tiba di arena parkir. Tampak satunya tidak punya kesabaran. Dia bergegas keluar mobil untuk menghampiri si gadis pengandara vespa, disusul temannya berjalan lambat di belakang dia. Jovita sungguh tidak mengira jika pagi di hari ini bisa menjadi lebih buruk dari kepanikan singkat tadi.

"Hei, kau! Siapa yang mengizinkanmu menaruh vespa butut itu di sini? Ini zona parkir khusus mobil, sesuaikan tempat untuk kendaraanmu!" Langsung menyerukan protesnya ke punggung Jovita. Begitu si gadis berbalik, keduanya serempak terbelalak.

"Kau 'kan--"

"Wah ... kau lagi, kau lagi! Suasana jadi buruk setiap kali bertemu kau dan saudaramu. Heh, cepat geser vespamu! Kau mengambil tempat Benji, mobilku."

"Kau ini memang tidak tahu santun, ya? Seenaknya memerintah orang."

"Cukup lakukan yang aku bilang. Pinggirkan vespa jelek itu atau aku sendiri yang memindahkannya?!" Jovita memberengut tak senang, menatap berang pada pemuda sok di depan dia.

"Aku tidak peduli siapa kau dan sekaya apa dirimu." Sembari sekejap melirik ke mobil keren di seberangnya, "Kau tetap tidak bisa mengaturku sesuka hatimu." Geram hatinya menular kepada Jidan, tak kalah memandang sengit bercampur kesombongan yang kepalang mendarah daging sejak balita.

"Berani sekali kau, kampungan!" Detik berikutnya Jidan menarik kasar lengan si gadis, menyeretnya paksa agar dia bisa leluasa menggeret vespa kuno pemancing amarahnya. "Aku kasih tahu ya, aku tidak suka mengalah! Seharusnya kau bisa memahami kata-kataku dari awal." Saking dongkolnya, kemarahan itu meningkatkan kekesalan Jovita Prune hingga imbasnya menimpa vespa ketika ternyata dia tidak pandai menegakkan dengan benar motor tua tersebut, lalu kontan terjatuh ke samping.

"Astaga, Lupi!" Dahi Jidan berkerut heran sembari dia tertawa remeh.

"Lupi?! Apa kau juga memberi nama untuk skuter rongsokan begitu? Pantasnya ia dipungut oleh pemikul besi karatan."

Satu presensi lain di sana betah bergeming, agak puas dengan cuma mengamati perdebatan aneh nan panjang di antara manusia yang sebetulnya sama-sama asing. Sejemang afeksinya pun berpindah kepada Jovita. Kelopak mata si gadis perlahan menggenang, walau yakin tidak akan berurai. Namun, tanpa sadar Ega mendekati lokasi perdebatan itu.

Nihil aba-aba, tangannya sudah mengambil alih setang vespa. "Maaf ya, Jidan tidak bermaksud kasar padamu. Apa yang dia katakan memang benar. Kau tidak seharusnya menaruh motormu di sini. Tempat parkirnya ada di situ, terhalang pohon besar."  Ajaibnya, Jovita menjadi pasif. Melainkan dia mengekori petunjuk pemuda yang menurutnya memiliki akhlak jauh lebih baik dari si tukang perintah.

"Ga! Kenapa kau membantu gadis kampung ini? Biarkan dia yang bertanggung jawab untuk kesalahannya sendiri."

"Aku hanya mendorongnya, Jidan. Gara-gara adu mulut yang enggak penting ini, motor dia oleng. Kalau motornya rusak, kau mau perbaiki?"

Ucapan Ega mengingatkan Jovita pada hujan di pagi kemarin di mana abangnya juga mengatakan hal serupa mengenai tanggung jawab dan amarahnya terpancing, "Kau terlalu bijak untuk orang yang semberono dan jahat. Jangan menggurui siapapun selama kelakuanmu belum benar. Kau mengerti, Tuan sok perintah?!"

Diam-diam Ega tersenyum tipis selagi menggiring lamban skuter Jovita Prune. Dia kagum akan keberanian si gadis dalam melawan argumen sahabatnya. Usai pertikaian mulut antara si cantik galak dan Tuan sok perintah dimulai, Jidan sudah mengumpulkan taktik-taktik pembalasan yang pantas  demi meredakan amarah. Dia mengembangkan seringai jahatnya.

-----

Sekaleng minuman soda dingin mendarat di hadapan Jidan. Dia mengambil, membuka pengaitnya untuk lalu meneguk singkat. "Kenapa kau membelanya?"

"Siapa maksudmu?"

"Kau ini makin bodoh ya sekarang?! Memangnya ada berapa orang yang kau lindungi pagi ini?!" Jidan mendesah jemu, emosinya itu tidak akan pernah rendah dalam pergantian situasi.

"Oh, gadis di parkiran dan juga gadis yang kecipratan air karena dirimu."  Sindiran demikian membuat Jidan melirik tak suka, kentara dia kesal.

"Salah mereka, bukan aku! Harusnya dia tidak berkendara selambat itu!"

"Satu-satunya kesalahan mereka adalah bertemu denganmu."  Dia katakan dengan raut datar seraya menyeruput jus buah kotak di tangan. Selagi menikmati minuman kesukaannya itu, pandangan Ega menangkap sosok gadis yang tengah dibincangkan. Jovita Prune berada puluhan meter dari posisi mereka duduk. Tampak lengannya ditarik oleh Naura dan kawan-kawan. Tidak seperti terlalu memaksa juga, meski tanda-tanda hendak protes bisa terlihat di wajah si gadis cantik.

"Apa yang mereka lakukan?!" Lirihnya kata-kata Ega tersebut tiada pula dicerna Jidan. Atensinya justru tertuju pada beberapa gadis di halaman kampus, gadis serupa yang juga tengah diawasi Ega. "Bukannya mereka tidak pernah mau berurusan sama mahasiswi lain? Aku memperhatikannya sejak hari pertama mereka menginjakkan kaki di Universitas ini."

"Yang kau lihat bukanlah momen ajakan bergabung ke dalam geng mereka. Sepertinya mereka berniat melakukan sesuatu yang buruk."

"Buruk?!"

"Iya, mungkin para gadis nakal itu iri karena ada yang lebih menarik dari mereka."

"Astaga ... dia kuno dan tidak bergaya. Sisi mana yang membuatmu tertarik? Dari luarnya saja aku bisa memastikan seberapa membosankannya dia." Jidan terkekeh dengan raut meremehkan sebelum menenggak buru-buru minumannya. Di sebelahnya, Ega tak jua mengalihkan perhatian dari interaksi mencurigakan di sana. Sampai-sampai fokusnya tersebut memancing Jidan untuk berkomentar lagi, "Hampiri saja kalau penasaran. Cuma mahasisiwi biasa dan bisa-bisanya kau dengan gampang ikut--" Tak siap kata-kata ini terucap, temannya buru-buru beranjak untuk memastikan keadaan Jovita. "Mau ke mana kau?! Ga! Dasar, pecundang!" Teriakan tiada digubris saat si empu yang dipanggil mempercepat langkah panjangnya." Gadis itu benar-benar ..." Jidan hanya dapat mengerang jengkel di tempatnya.

-----

"Apa aku bilang mengenai kau yang sangat memuakkan?!" Jovita disudutkan, punggungnya ditekan ke tembok dan ini ulah kelompok Naura.

"Aku tidak pernah merasa punya masalah denganmu! Bukannya kau yang mencari gara-gara duluan? Kau selalu menggangguku di depan mahasiswa lain."  Perlawanan demikian mendapat tamparan keras di pipinya. Kontan si cantik Jovita meringis pelan, namun tetap menatap garang pada kesombongan di depan dia.

"Hati-hati dalam menggunakan mulutmu! Kau tidak tahu 'kan apa akibatnya jika kau berani menantang Naura Indira?! Kau keliru jika mengira aku adalah orang yang mau mengalah." Sembari bersedekap, dia menerangkan dengan amat percaya diri kedudukannya.

"Pengecut! Kau terlalu naif kalau berpikir aku bakal takut padamu. Kau begitu sombong, apa karena dua temanmu yang mirip tikus jinak ini selalu menurutimu?!" Satu lagi pukulan serupa kuat mendarat di sisi pipi Jovita yang satunya.

"Jangan memancing kesabaranku! Aku tidak selembut perkiraanmu, bodoh!"

"Oh! Ternyata begini perilaku anak-anak baru." Ega muncul, meski sedikit terlambat akibat dia perlu menaiki banyak anak tangga.

"Kak Ega!"

"Jangan berlagak akrab! Aku tidak mengenalmu, tapi aku tahu siapa yang kalian tahan di situ. Lepaskan dia!" Kontan dua teman Naura melerai kunciannya pada lengan-lengan si gadis cantik.

"Di-dia?! Mustahil Kak Ega kenal dia, dia ini--"

"Temanku. Jika ada dari kalian yang kedapatan mengganggunya lagi, akan langsung berhadapan denganku!" Ekspresinya masih kaku semula seraya Ega mendekati Jovita untuk kemudian membantunya berdiri. Sejenak dia mengamati rona merah di wajah putih si gadis cantik. "Sedikit saja kalian berani menyentuhnya, siap-siap untuk hukuman dariku. Minggir!" Naura terperanjat, mengerjap bingung atas apa yang dia dengar. "Kalian tuli?! Minggir kataku!"  Yasa yang pertama kali bergerak, menyeret pergelangan Naura, menggiringnya segera kabur dari sana.

Continue ...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel