Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Jadi pengasuh Tuan muda?

"Pipimu memerah, mau kuantar ke unit kesehatan? Mungkin di sana ada yang bisa ditemukan untuk mengompresnya." Jovita cuma menggeleng-geleng sebelum kembali menduduki permukaan keramik, menyandarkan punggungnya ke tembok. Dia membuka tas selempang yang dibawa, meraih selembar sapu tangan biru guna menutupi memarnya.

"Aku tidak apa-apa," katanya pula, meskipun pernyataan ini merupakan kebohongan. Tamparan itu lumayan kuat, hingga dia dapat merasakan kebas pada kedua sisi rahangnya.

"Tapi, orang-orang akan melihat kondisimu karena bekas tamparan itu dan mempertanyakannya."

"Aku tidak peduli mengenai opini siapapun." Ega mengerang pasrah, mengedarkan pandangnya ke sekitar lantai dua. Semilir angin bertiup lembut, menggiring helai rambut Jovita berayun hingga membelai muka. Adegan dramatis tak ayal menarik si pemuda menjauh dari kesadaran. Dia terpukau di tempat. Pemandangan Jovita dalam kondisi saat ini sungguh memesona di mata. "Pergilah, mereka sudah tidak di sini."

Alih-alih menuruti, dia justru duduk di samping Jovita sambil menekuk satu kakinya sebagai tumpuan lengan. "Aku masih ragu mengenai asumsi ini, tetapi tidak masuk akal kalau mereka menyerang tanpa sebab."

"Tidak perlu mengasihani diriku. Aku juga tidak meminta perhatian apalagi simpati orang. Ini akan tetap menjadi urusanku sendiri." Pemuda di sebelahnya terdiam dan ketika dia melirik yang ditemui adalah ketenangan di paras tampan. Jovita memanfaatkan sedikit lipatan detik untuk mengagumi keindahan itu. Tentu tidak berlangsung lama, berakhir saat netra si empu terbuka lagi, menatap dirinya bak maling kedapatan mencuri.

"Memangnya aku bilang kasihan padamu?!"

Buru-buru Jovita menggulir fokusnya ke depan, bertepatan si pemuda menguak penglihatannya.

"Ada kesimpulan lain? Kau tidak mengenalku, lalu mau merepotkan diri untuk naik ke sini dan menghardik gadis-gadis manja tadi--apa sebutan yang pantas selain rasa iba?!" Sudut-sudut bibir si pemuda tertarik sekadar menyebarkan daya pikatnya.

"Jangan heran begitulah! Aku tahu kau sedang menikmati wajah tampanku ini."  Hendaknya merutuki bibir tak senonoh tersebut, namun Jovita kehilangan nyali oleh getaran di rongga dadanya. "Ega Calestino. Dan kau, siapa namamu?"

"Jovita," jawabnya singkat sembari mengerling ke arah lain.

"Jovita--"

"Prune."

"Ehm, namamu bagus juga--kupikir akan sulit mengetahuinya. Ternyata kau orang yang cukup mudah didekati." Jovita yang detik itu beranjak, kalah cepat dari tarikan pemuda ini. "Pemarah sekali. Kau berbeda, tidak seperti saat di tengah jalan tempo hari." Si gadis menoleh dengan dahi mengernyit tajam, risi pun kentara di rautnya jangka dia mengamati genggaman erat melingkar di pergelangannya. "Apa begini caramu memperlakukan orang yang telah menolongmu?"

"Apa maumu, katakan?! Hentikan saja jika kau berniat memerasku dengan uang, hadiah maupun hal-hal berbau material lainnya. Aku tidak bisa memberikan semua itu." Ringkas sekali si pemuda tertawa main-main. Batinnya tergelitik lantaran bait sarkasme dari gadis yang dia yakini telah mencuri perhatiannya justru sejak di pagi hujan waktu itu.

"Jovita--" Begitu berdiri, keduanya langsung bersirobok, "Kurasa ini bukan kebetulan dan juga bukan simpati seperti sangkaan dirimu. Aku membenci orang-orang yang memancing masalah, terlebih di sekelilingku. Jadi, tidak usah kaget bila nanti aku muncul dadakan lagi. Kita pasti ketemu, aku senang setelah tahu kau pun berkuliah di sini." Jemari panjangnya diangkat untuk menepuk-nepuk pelan puncak kepala gadis itu. "Sampai ketemu lagi, kucing manis." Dini dia membelakangi, senyum lepas terukir di bibirnya. Sedikit heran pada diri sendiri saat memahami bahwa gadis bernama Jovita Prune mampu mendorongnya berbicara banyak jauh dari apa kebiasaan semula, Ega Calestino pemuda minim kata-kata.

-----

"Oh, kusangka kau tidak kemari lagi. Siapa tahu gadis kampung itu jauh lebih menarik dan kau mengajaknya mengobrol, membawa dia ke tempat sepi untuk bisa menatap wajahnya yang terlalu biasa."

"Tidak perlu sewot. Sikapmu memang selalu aneh, aku tidak kaget seharusnya. Tetapi, reaksimu yang berlebihan begini tetap bikin orang salah paham." Ega mengambil posisinya, mendesah jemu mengamati teman karibnya bermuka datar. "Setahuku dia mahasiswi baru, kau tidak mengenalnya. Satu fakta lagi, kau menerjang genangan air di atas aspal sampai mengotori pakaiannya. Permohonan maafmu juga belum benar, Jidan. Sudah kucari-cari, tidak juga ada kesalahan dia lakukan. Apa alasan yang mendorongmu terus-menerus mencibirnya?!"  Justru si tertuduh menatap dia bingung sekarang.

"Kau kenapa? Apa yang dia berikan padamu? Bisa-bisanya kau jadi sangat cerewet begini. Jangan menakut-nakuti diriku, Tuan Calestino! Aku tidak akan pernah sudi menghadapi sikapmu dalam bentuk lain." Siap mengembuskan lumayan panjang napasnya, Jidan menggulir ulang perhatian pada layar laptop di depan mata.

Kedua pemuda priayi tersebut sedang berada di ruang khusus berlabel kelas privat. "Dia gadis baik-baik. Aku yakin tidak ada yang salah dengan dia. Sebaiknya kau tidak usah berpikir keras mencari nilai minusnya. Jauhi saja, beres 'kan?!"  Lalu, Ega menyambar lewat sepenggal peringatan ringan, mengabaikan seberapa tinggi nalarnya dalam mengenal si teman karib.

"Memangnya kau siapa?!" Begitu cepat rautnya berubah, nada suara pun naik satu oktaf. Jidan paling anti terhadap kata-kata bernada perintah atau seumpama nasihat. "Kau kira pembelaanmu itu bisa berlaku terhadapku? Aku tidak mau berdebat, Ga. Kau dapatkan akibatnya jika mencoba membela dia di hadapanku, apalagi berusaha membantunya!"

"Kau mau apa?! Sudah kuperingatkan--"

"Diam, tingkahmu itu tidak pantas! Kau bukan orang yang gemar adu argumen. Perhatikan tugasnya! Pak Darmaji tiba tiga puluh menit lagi. Dia tidak menunggu untuk waktu penyelesaian dari soal yang diberikan. Terserah bila kau siap gelarmu sebagai mahasiswa teladan ikut lenyap!"  Ega tercekat, bukan sebab tak sanggup melawan. Sekadar memahami situasi di mana dia sungguh enggan menciptakan perpecahan dengan satu-satunya sahabat.

-----

Jovita muncul sembari membawa dua kaleng minuman dingin. Dia berikan satu kepada Irene. "Untukku mana?!" 

"Kita bisa berbagi," sahut Jovita sembari menarik pengait untuk kemudian menyerahkannya ke tangan Samuel, "Jangan dihabiskan, Abang! Itu persediaan terakhir. Kita belum belanja kebutuhan harian. Kulkasmu meratap merasakan hampa di dalamnya."

"Aish, Vit--sesekali 'kan tidak apa-apa untuk menyembunyikan kemiskinan kita. Ada Irene di sini. Enteng sekali kamu mengumumkan keburukan seperti itu."

"Namanya kejujuran! Abang sangat mengerti bahwa aku benci pura-pura. Lagi pula, Irene bukan orang lain. Dia di sini sejak di tahun-tahun kurang beruntung menginjak-injak kesabaran kita. Ada hal lain tentangmu yang sulit dimaafkan, Abang ingin tahu?"  Sementara gadis lain di sisi mereka terlampau mewajarkan suasana demikian. Dia sekadar senyum-senyum dan tertawa kecil di situ. "Biarkan Kak Irene tahu kelakuanmu, Abang keras kepala. Luka-luka ini tidak mungkin menempel di kakimu kalau Abang menuruti ucapanku."  Sambil dia menunjuk-nunjuk memar yang menghiasi tungkai Samuel.

"Jangan begitu kepadaku! Aku juga tidak ingin mengalami ini semua. Tidak bisa berjalan bikin kepalaku pusing setengah mati. Aku memikirkanmu, siapa yang mengantar atau menjemputmu kuliah?! Bagaimana jika ada yang mengganggumu?" Kontan hati kecil Jovita tersentak, teringat peristiwa perundungan yang dialaminya pagi tadi.

Perkara itu memaksanya menghabiskan banyak menit untuk mengurung diri di unit kesehatan, demi menghilangkan jejak kejahatan yang tersisa di wajahnya. Dia puas mendesah bosan berulang gara-gara terpaksa mengompres pipinya selama hampir satu jam penuh.

"Abang enggak perlu khawatir. Aku cukup dewasa untuk melindungi diriku sendiri. Pikirkan dulu lecet-lecet di kakimu itu, kau jadi kesusahan berjalan 'kan?"

"Vita--" Tahu-tahu Irene memotong percakapan, "Kau ingat pekerjaan yang kutawarkan padamu bulan lalu?"

"Ya, kamu bilang sudah ada yang mengisinya."

"Anggaplah ini keberuntungan kita, kamu boleh mengunjungi alamatnya langsung jika berminat. Gajinya sangat besar untuk pekerjaan seorang pengasuh. Dan mereka tidak akan memberatkan dirimu soal penetapan waktu kerja. Apa kamu masih menginginkannya?!" Samuel tercengang, kentara tidak begitu senang atas kabar ini. Kontras dengan Jovita yang terlihat penasaran.

"Serius? Aku benar-benar bisa mendapatkannya, Kak? Aku pasti membutuhkan tambahan dana setelah masa perkenalan mahasiswa usai."

"Biar aku saja yang bekerja, fokuslah belajar. Kuliah sambil bekerja tidak mudah. Kamu juga belum tahu orang seperti apa yang kamu temui nanti, Vit."

"Bang, tolong jangan melarang lagi! Kita akan menghadapi kesulitan ini bersama-sama. Aku juga pernah mengasuh anak Bibi Lorena 'kan? Lumayan mudah menurutku."

"Yang ini berbeda dan spesial. Karena itu mereka membayar upah besar." Entah pernyataan Irene ini merupakan penengah perbedaan pendapat antara Jovita dna Samuel, atau justru memantik obrolan agar kian memanas.

"Tidak masalah, Kak. Aku menyukai anak-anak. Sikap mereka yang lucu bisa menjadi hiburan tersendiri saat kita dipusingkan juga oleh kenakalan mereka."

"Vit, dengarkan aku dulu! Kamu akan mengasuh sosok Tuan muda kaya sepantaran kita, bukan anak kecil atau balita seperti bayanganmu."

"Apa?!" Kerasnya seruan Samuel Prune kontan merebut atensi dua gadis di sana. Berujung mereka saling melempar tanya di sorot mata masing-masing.

Continue...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel