
Ringkasan
Jovita Prune tidak pernah mengira bahwa hidupnya yang telah rumit sejak lama ini masih akan menerima kejutan lain dari seseorang yang tidak disangka-sangka. Dia hanya gadis muda dengan kehidupan pas-pasan, tinggal di hunian sederhana bersama saudara laki-lakinya. Mereka berjuang demi dapat memenuhi kebutuhan hidup juga menyambung pendidikan hingga jenjang teratas. Apa yang rumit tidaklah terbatas pada perekonomian dan dengan fakta bahwa mereka kehilangan orang tua sedari bertahun-tahun dahulu. Jovita Prune menyimpan sedikit trauma masa lalu, trust issue membentengi dirinya dari sekeliling. Dia bahkan tak peduli walau tiada seorangpun dapat disebut sebagai teman. Satu-satunya keinginan ialah dia dan abangnya mampu membawa kehidupan mereka ke tingkat lebih baik. Seiring berjalannya waktu, kehadirian sosok Jidan Javier seolah membentangkan banyak warna dari berbagai problematika manusia. Mereka tidak dilingkupi udara sejuk untuk beradaptasi, keduanya berada pada refleks emosional yang sebenarnya tidak cukup beralasan. Saling memaki, menuduh, melontarkan kata-kata kebencian, sampai seperti mustahil akan timbul ketenangan di sekitar mereka. Lalu, Jovita Prune terperangkap ke dalam dunia Javier sebagai pengasuh pribadi si pemuda. Di sanalah dia menyadari cara pandangnya mulai berubah. Kaya dan berkuasa tak selalu menjanjikan hidup menyerahkan kebahagiaan, faktanya Javier pun sama mengalami beragam pukulan polemik nan keras. Pemuda itu menyimpan segala yang ingin dilihat orang-orang pada dirinya. Dia tidak bisa ditebak secara gamblang, tidak juga untuk dibaca dari mata ke mata. Dia si Tuan Muda penyendiri, tetapi tidak benar-benar menyukai kesendirian. Apakah Jovita Prune berhasil mengungkap rahasia Tuan Mudanya?
Hari yang buruk ...
"Ya ampun, Jovita! Ada apa dengan mantelmu?!"
"Pemuda gila berulah di jalan. Dia mengemudi kencang-kencang di tengah aspal yang becek. Ya begini hasilnya! Orang kaya selalu seenaknya saja, makanya aku kesal." Malah Samuel yang menyambar seruan itu dengan emosi masih diubun-ubun. Sudah jelas sekali masalahnya, dia tidak akan bisa dengan mudah memaafkan si pemuda pengendara ugal-ugalan.
"Bang ... percuma mengumpati dia. Orangnya juga tidak ada di sini. Lebih baik Abang cepat pergi, nanti terlambat." Abangnya mendengkus pasrah, sejenak memejamkan mata sembari menarik perlahan-lahan pernapasan panjang demi membuang semua pengaruh negatif yang ditimbulkan amarahnya pagi ini.
"Irene, titip Vita, ya. Kalau ada yang macam-macam ke dia, tolong hubungi aku. Aku tidak akan melepaskan siapapun jika berani mengganggu adikku."
"Pergilah, Abang! Harinya masih mendung, takutnya hujan lagi."
"Baik, baik! Kenapa kamu selalu mengusir Abang sih, Vit?!"
"Itu karena Abang tidak mau berhenti bicara." Gadis lain di antara mereka hanya bisa terkekeh menyaksikan tingkah dua manusia yang sangat dikenalnya ini.
"Jangan ke mana-mana kalau sudah pulang, ya! Tunggu sampai Abang datang."
"Ai ai, kapten!"
"Kamu selalu bilang begitu cuma untuk bikin Abang senang, tidak benar-benar melakukannya. Berapa kali Abang datang menjemputmu dan kamu sudah tidak ada di halte."
"Itu karena buru-buru, tahu. Lagi pula, Vita mahasiswa baru di sini. Ini hari ke empat Vita masuk. Dan hanya dua kali Vita terpaksa meninggalkan Abang, bukan berkali-kali banyak seperti pengakuan Abang, ya."
"Dengarkan Abangmu ini, Vita ..."
"Ok! Vita sudah mengatakannya. Ayo, Kak! Dia akan tetap di sini sampai sore kalau kita tidak segera menyingkir."
"Astaga, jahat sekali kamu, Vi!" Samuel menggerutu ketika adiknya benar-benar tidak mengizinkan dia untuk bicara lebih lanjut. Jovita menarik tangan Irene, beriringan ke pintu masuk Universitas. Sejemang Samuel menekan pedal gas, menggiring vespanya menjauh dari kampus sang adik ke tempat tujuan selanjutnya.
-----
"Jika kelasmu selesai lebih dulu, turun saja ke kantin. Aku akan menyusulmu ke situ."
"Kakak tidak perlu memikirkan Vita. Vita harus terbiasa sama suasana kampus 'kan? Jadi beban orang lain bukanlah Jovita Prune, Kak."
"Dasar!" Irene mencubit lengannya main-main seraya serentak dua gadis cantik ini tertawa. "Padahal aku senang melakukannya. Dengar, Vit! Aku memang cuma orang lain, tapi kamu dan Samuel sudah aku anggap sebagai keluargaku sendiri. Jadi, jangan menahan perhatian yang aku berikan untuk kalian, terutama dirimu. Bagiku kamu adalah adik kecilku yang manis, pantas untuk dijaga."
Jovita hela napasnya lumayan panjang, menatap intens selagi dia cengengesan di situ. "Karena Abang 'kan? Kakak begitu peduli kepada kami, itu semua demi Abang Vita yang paling tampan. Benar 'kan?" Kontan Irene tersipu, lekas-lekas memalingkan mukanya.
"Ah, tidak begitu--" Kentara dia grogi setelah digoda terang-terangan oleh adik dari gebetannya ini, diam-diam merutuki tebakan Jovita yang sekarang menyerang mentalnya. Irene malu setengah mati. "Ya sudah, nanti aku hubungi lagi. Belajarlah yang tekun, Vita." Bahkan dia enggan melirik ke belakang saat suara jahil masih terus merundung telinganya.
"Kak Irene tertangkap basah." Jovita cekikikan sebelum melangkah ke dalam kelas. Lalu, Ekspresi Jovita berubah minim sebab merasakan ruangan asing itu sungguh membuat dia risi. Entah kapan dia akan memiliki teman yang bisa menyediakan sedikit letak kenyamanan, sekadar bertukar hal-hal sederhana seputar perkuliahan dan Universitas. Tidak meminta lebih untuk seseorang yang barangkali dapat diajak berbagi masalah pribadi.
"Ada apa dengan penampilanmu?! Apa kau melompat ke air dengan pakaian seperti itu?!" Jovita mendesah berat, sengaja abai terhadap cibiran yang mulai dia tuai sejak hari pertama pertemuan kelas.
-----
Kelas berakhir lebih awal dikarenakan perkuliahan belum sepenuhnya aktif. Apalagi Badan Eksekutif Mahasiswa sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan Acara Penerimaan Mahasiswa Baru yang segera dilangsungkan minggu depan. Jovita tampak terburu-buru, tiada menyadari gerak-geriknya diperhatikan oleh sekumpulan teman di kelasnya. Mereka adalah gadis-gadis yang sejak di hari pertama seakan telah mengangkat bendera peperangan untuknya. Seperti saat ini, ketika mereka dengan sengaja mendorong punggung Jovita agar si gadis manis kehilangan keseimbangan pada langkahnya.
"Ups, maaf! Aku enggak sengaja," ucap salah satu gadis itu sambil menatap sepele. Akibat ulahnya tadi, Jovita nyaris terjungkal ke depan. Beruntung tangannya sigap meraih sudut meja, walau puas berujung tas sandangnya terlepas dan jatuh ke bawah.
"Tidak apa-apa." Bukannya dia tidak tahu niat jahat ketiga gadis tersebut, sekadar mengalah untuk menjaga label baiknya di depan teman-teman yang lain. Sialnya, perundungan belumlah usai. Dengan tumit sepatu, seseorang dari mereka kembali mendorong panggul Jovita. Semuanya serentak menertawai kondisi si gadis manis yang kini terduduk di lantai. Sukses pula menepis kesabarannya hingga lenyap entah ke mana. Dia menyukai kedamaian, tidak berarti dirinya menyerah untuk melawan.
Bangkit perlahan-lahan sembari memungut tas selempang miliknya, Jovita menyilangkan dada di hadapan tiga gadis pelaku perisakan. Mukanya yang datar tidak memberi kesempatan apa-apa bagi mereka untuk menerka, hingga terjadi begitu saja di mana gadis yang menendangnya tadi dia tolak dengan sekuat daya.
"Jika sampai dua kali, itu berarti kalian sengaja melakukannya." Jovita menukas dengan dagu turut naik, memperhatikan gadis yang kini pantatnya menempel di permukaan ubin. "Aku tidak bodoh untuk mencerna tujuan dari kelakuan kalian, jangan berpikir aku akan diam!" Nihil ekspresi berlebihan, melainkan penonton di sana terkesima oleh gaya pembalasannya. Tiga lawan satu jelas sekali tidak seimbang, pengecualian terhadap Jovita Prune jika dalam mode mengamuk.
"Kurang ajar! Lihat saja, nanti! Gadis kampung itu berani melawanku rupanya. Dia belum tahu berurusan dengan siapa."
"Nau, kelihatannya dia tidak selemah dugaan kita. Sebaiknya jangan terlalu meremehkan dia." Tutur gadis lainnya seraya menarik pergelangan si empu guna membantunya berdiri.
"Diam, Yas! Dia belum tahu siapa Naura Indira, tunggu saja nanti apa dia masih bisa berlagak angkuh di depan kita?! Akan kuberi dia pelajaran yang tidak pernah bisa dia lupakan. Pasti menarik ketika rencanaku berhasil mempermalukannya di depan para senior." Sudut bibirnya naik selaras pandang memicing sinis, Naura tampak sangat percaya diri mengenai perkataannya ini.
-----
"Ya ampun, kenapa lokernya bisa sejauh ini dari kelas?!" Jovita sedikit berlari menelusuri anak tangga dan koridor. Rambut panjangnya terempas-empas, mengikuti entakan kakinya. Barangkali ada yang tengah dikejar, dia pun tak lagi mengawasi jalannya. Serupa langkah pemuda sejajar garis dengan dia sedang menuju ke arahnya.
Kurang dari seperenam menit, keduanya bertabrakan dan Jovita kontan mengaduh untuk benturan keras di dahinya. "Akh! Ini sakit--"
"Kau pikir aku tidak?!"
Suara kencang itu memaksa si gadis manis untuk menengadah. Keningnya di usap-usap jangka dia menunggu pemuda yang masih mengalihkan mukanya ke samping. Lalu, "Kau/kau!" Teriakan mereka beriringan serta telunjuk yang sama-sama menuding. Sejemang kompak pula membungkam mulut, merunduk seperti berniat menutupi rasa sungkan atau malu.
"Maaf, aku sedang terburu-buru. Sekali lagi maaf, ya." Jovita membungkuk, dua kali dia mengulang sebagai bentuk penyesalannya. Pijakan berayun lagi mendahului si pemuda. Daripada rongga dadanya mendadak kekurangan pasukan oksigen, gara-gara reaksi alami sarafnya yang seolah menyukai kehadiran pemuda itu. "Haah--" Embusan napasnya terdengar berat, "Jadi, dia juga mahasiswa di sini?!"
"Apa dia mahasiswi baru?!" Bibir si pemuda spontan melengkung usai menoleh ke balik pundak dan mengawasi sejenak gelagat Jovita yang kian renggang dari tempatnya berdiri.
Continue...
