Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Perdebatan Jidan dan Ega

Jovita tiada menyadari sudah berapa lama dia melongo karena menyaksikan penampilan Jidan yang amat-amat berlainan dengan karakter dia sebagai pemuda menyebalkan. Niat hati hendak mengerjai dengan sengaja mengambil setelan kuning bergambar kepala anak ayam dari lemari. Berpikir mungkin pemuda itu akan menghardiknya lantang, dan gagal saat jelas sekali dia bersikap biasa saja seperti tidak merasa kesal maupun risi. Malahan wajahnya tampak semringah sebelum memutuskan untuk berpindah ke taman yang tersedia di balkon kamarnya.

"Aku terlalu sering mendapatkan perhatian semacam itu. Terserah, asal kau tidak menjatuhkan bola matamu." Kata-katanya sudah jelas mengandung cibiran, tepat pada posisi Jovita yang terang-terangan melongo mengamati dia.

"Piyama itu cocok dipakai olehmu." Dalam hati cekikikan. Jovita hendak sekali melantangkan tawa andai melupakan kedudukannya selaku pengasuh di sini.

"Syukurlah! Penilaianmu benar. Gambar anak ayam ini cocok untukku 'kan?!" Sedikit punggung Jovita bergetar akibat menekan serangan humor dadakan. Dia benar-benar bisa kehilangan kontrol jika si menyebalkan ini masih juga mengucapkan kalimat menggelikan dari mulutnya yang terkenal songong.

"Seleramu cukup bagus. Biasanya orang sepertimu lebih menyukai hal-hal yang abstrak atau monoton. Ternyata kau berbeda, punya sisi unik juga." 'Maksudku aneh ya, aneh! Kau tidak sebaik itu untuk disebut unik.'

"Aku tidak akan terkesan oleh pujianmu--bawakan aku susu kotak dan biskuit. Sulit berkonsentrasi ke permainan tanpa itu semua."

"Kau menyuruhku membelinya?"

"Apa kau memang sebodoh ini? Kalau belum siap bekerja, maka jangan coba datang kemari! Kau kira aku mau menerima pengasuh yang tidak memahami ketentuan? Atau nenek tua itu tidak mengajarimu caranya?!" Mendadak nada suara Jidan naik satu oktaf dibarengi mukanya yang angkuh. Seakan dia tidak dapat menyingkirkan barang sekejap kesombongannya. Sedangkan, Jovita telanjur mengumpat diam-diam seraya menahan emosi yang nyaris sampai ke ubun-ubun. Namun, dia tetap memilih keluar guna menemui nenek Moni dan meminta informasi yang mungkin sempat terlewatkan, dia benar-benar tidak tahu menahu mengenai Jidan menyukai susu kotak dan biskuit.

-----

Jimin merasa pergerakannya terlampau lama. Bermenit-menit mencari keberadaan kepala pengurus rumah ini dan dia baru berhasil menjumpainya di putaran menit ke sepuluh. Kini dia menggerutu sebal seraya mengutip tiga susu kotak dari lemari pendingin, memikirkan pula bagaimana kemarahan si rubah albino kepadanya setelah dia terlambat memenuhi perintah pertama.

"Astaga ... aku pernah mengasuh balita berusia empat hingga anak sembilan tahun. Mereka memang sulit dikendalikan, tapi mereka jauh lebih menghibur daripada si bayi besar Jidan bin aneh." Jovita memuaskan kejengkelan melalui cibiran demikian sebelum tungkai jenjangnya menapaki tergesa-gesa anak tangga ke lantai dua. "Pesananmu--"

"Kukira kau sudah pulang sambil menangis atau kepayahan mencari dapur di mansion ini."

"Aku habis menanyakannya pada Nenek Moni." Mending dijawab seadanya tanpa sedikitpun mengundang perdebatan, Jovita akan belajar mengalah demi kelancaran pekerjaan ini.

"Oh, pantas saja! Si tua bangka itu memang tidak menjelaskan secara rinci rupanya."

"Maaf, salahku karena tidak memahaminya dulu sedari awal."

"Lucu sekali, kau merasa menyesal sebab sesuatu yang sebetulnya bukan merupakan kesalahanmu sepenuhnya." Lalu, dia menusukkan sedotan ke kotak untuk menyeruput kemudian. Matanya tak lekang dari layar tablet Ipad canggih yang menayangkan games yang sering diakses para pemuda kekinian.

"Sepatutnya begitu. Aku tidak bisa melimpahkan kesilapan di tangannya, mungkin juga Nenek Moji sedang mengujiku. Dia sempat mengatakan apakah ada yang perlu kupertanyakan atau tidak."

"Bukan hal yang mengherankan. Kau itu 'kan memang bodoh, persis yang kupikirkan ketika pertama kali melihatmu di tengah jalan." Berubah kontan raut Jovita di situ, kebingungan harus menyuplai bibit sabar dari mana untuk menghadapi sikap kurang ajar si rubah albino ini.

-----

Sepertinya Ega Calestino kesulitan untuk mengalihkan perhatian dari sosok gadis yang kini berdiri siaga di dekat dia, tepatnya di antara dia dan Jidan. Semua pertanyaan tertahan di lidahnya, ragu kepada siapa dia mesti mendapatkan penjelasan atas keadaan canggung yang terjadi saat ini.

"Mending kau pulang jika matamu itu cuma digunakan untuk melihat gadis bodoh itu. Aku mengundangmu ke sini agar bisa bersenang-senang, bukan menjadi patung pengawas. Memangnya dia artis yang perlu dipelototi segitu gigihnya olehmu?! Apa sih daya tariknya?! Tidak ada padahal." Sepintas Ega terpancing hingga sekadar menengok muka menyebalkan di sampingnya. "Heh, kau! Tolong ambilkan lagi susu kotaknya--katakan bila kau menginginkan sesuatu, dia akan mengambilkannya juga."

"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri."

"Dia dibayar memang buat disuruh-suruh, bukan jadi pajangan yang terus menerus kau pandangi!"

"Sebentar, Tuan. Saya ambilkan susu kotaknya." Jovita beranjak dari sana tanpa perlawanan seperti harapan si Calestino. Jovita yang dia temui pertama kali berbeda dari yang kemarin dalam perundungan geng Naura dan berbeda juga dengan Jovita yang ini, dia penasaran mengenai alasan di baliknya. Sungguh!

"Adakah yang ingin kau jelaskan mengenai situasi di sini?!"

"Persis dirimu, tadinya aku juga terkejut. Kenapa dia tiba-tiba saja berada di rumahku. Si tua bangka itu tidak memberitahu soal apapun tentang siapa yang akan bekerja--"

"Pengasuh maksudmu?!

"Biarkan aku yang bicara atau kau lebih mengetahui setiap detail pengurusan di rumahku?!" Kontan Ega merunduk malas, pernapasannya pun mengudara rendah.

"Dia datang atas kemauan sendiri, bukan karena paksaan. Aku tidak berwenang menyingkirkan dia. Kalau tetap dilakukan, konsekuensi yang aku terima cukup berat. Jadi, aku dengan terpaksa menerima kehadirannya walau kau sangat tahu aku tidak terlalu menyukai dia."

"Sebaiknya begitu."

"Kau bilang apa?"

"Mustahil kau menyukai gadis sederhana seperti Jovita. Aku sempat mengira kau memiliki tujuan lain dengan mempekerjakannya."

"Aku masih waras untuk tidak menyukai perempuan aneh. Tolong jangan mengulangi pernyataan gila semacam itu, aku dapat dengan mudah memukulmu bila kau sengaja mempermainkan--"

"Aku menyukai dia." Detik berikutnya hening menyapa kedua pemuda tampan ini. "Jovita Prune, gadis yang bekerja sebagai pengasuhmu--aku menyukainya. Pernyataanku sudah jelas 'kan?!"

"Kau betul-betul gila rupanya. Ega Calestino--kau sakit? Kau tidak salah minum obat 'kan?!"

"Jidan Javier, kau masih ingat insiden di pagi hujan waktu itu?"

"Tentu saja! Wajah sombong saudara laki-lakinya masih menempel di memoriku."

"Aku tidak peduli tanggapanmu. Yang terpenting aku sudah jujur terhadap perasaanku. Kita tidak mungkin bersitegang gara-gara seorang gadis 'kan?"

"Hahaha--" Tawa lantang Jidan mengubah ekspresi yang terbaca di wajah sahabatnya. "Maaf, ya tapi dia bukan tipeku dan dia tidak berkelas. Terserah kau tertarik pada gadis manapun, meski kali ini seleramu rendahan. Semoga kau puas dengan pilihanmu."

"Tidak usah cemas, aku memahami keputusan yang aku buat. Hanya saja Ji, ada satu hal yang perlu aku luruskan. Aku harap kau bersedia menganggapnya seumpama penghargaan antar teman. Di kampus, tolong jangan mengganggu Jovita! Berhentilah menghina dan bertindak kasar. Di rumah, dia seutuhnya di bawah kendalimu. Aku kira tidaklah susah memenuhi permohonan kecil ini." Bergantian raut Javier tak lagi ramah semula, agaknya terusik penuturan tersebut.

"Dengar, Calestino! Aku tidak sudi meluangkan waktu senggangpun untuk sengaja menggodanya. Dia yang selalu muncul dan membawa masalah ke hadapanku. Persetan mengenai emosionalmu atau si kampungan itu! Daripada kau memperingati aku lebih baik katakan padanya agar menjaga jarak aman dariku. Sepuluh meter saja, lihat nanti hal apa yang bakal menimpa dia kalau menembus batas itu." Kening Javier mengernyit tajam seiring garis kusut di muka. Kentara suasana hatinya sedang buruk, sampai-sampai dia beranjak pergi dari sana.

"Tuan Muda, ini susu kotak--astaga, jantungku! Ada apa dengannya?" Sementara, berlalunya si Javier berbarengan Jovita yang pula datang menenteng baki berisi beberapa susu kotak. Debam kuat dari pintu yang sahaja dibanting pun turut mengagetkannya.

"Abaikan saja. Dia memang sering begitu saat kalah bermain games." Anggukan Jovita juga tiada lekang dari pengamatan Ega, "Vita--boleh aku bertanya?"

Continue...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel