Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Fakta tentang Calestino

Jovita terjebak dalam kebimbangan, termenung menghadapkan muka ke kiri tanpa fokus terarah. Isi kepalanya berputar di tempat yang sama, seakan tiada menjumpai sebentuk titik terang.

"Kucing manis, kau tidur?"

"Tidak," jawaban singkat jangka dia mendapati pengamatan Ega Calestino tertahan padanya. "Ah, apa sikapku mengganggumu?"

"Bukankah harusnya aku yang menanyakan hal itu? Apa kau memikirkan kemarahan Jidan tadi?"

Seketika kilas balik kejadian pemicu kepergian keduanya melintas di akal Jovita, 'Pulanglah! Aku tidak membutuhkanmu lagi! Kau juga Calestino! Aku tidak suka istirahat siangku terusik oleh kalian.'

"Nenek bilang aku harus tetap datang besok. Jidan tidak berhak memecat aku."

"Lalu, boleh aku tahu apa sebenarnya yang sedang kau renungkan? Jika memang kau tidak tidur seperti tebakanku."

"Itu--ehm--kau keberatan kalau aku tidak menceritakannya? Aku sungguh bingung." Anggukan maklum Calestino sontak menimbulkan penyesalan bagi Jovita. Apalagi setelah pemuda tampan ini tersenyum di depan dia.

"Aku bukan tipe pemaksa. Jadi, kau tidak perlu sungkan. Aku tahu kau pasti mengalami sesuatu yang berat hingga mau menerima pekerjaan yang jelas-jelas tidak akan dapat memberi kenyamanan untukmu." Dituturkan usai pandangnya kembali tertuju ke jalanan sembari menyetir di kecepatan standar. "Jidan memang pemarah. Cuma orang-orang terdekat yang mampu menjumpai sisi hangatnya di situasi berbeda."

"Aku tidak peduli mengenai perilakunya. Sejak awal suasana yang mempertemukan kami pun bisa dikatakan sangat kacau. Antara kami mustahil akan beradu di tempat atau udara sejuk untuk sekadar bicara. Selain upah yang ditawarkan, kesulitan di tempat kerja merupakan bagian dari toleransi di pihakku."

"Kau pintar sekali. Selain cantik, otakmu juga cemerlang. Aku tidak salah mengenalmu."

"Maksudmu?"

"Kurasa kau tidak tahu siapa aku. Ega Calestino, putra bungsu keluarga Calestino yang diakui talenta musiknya sampai dikancah internasional. Itu adalah ibuku, Judy Calestino. Dan aku tidak sembarangan memilih teman, terutama gadis."

"Judy Calestino?!" Alhasil pembicaraan pun melenceng ke topik baru, " Judy si Violinist terbaik di seluruh Indonesia?" Si pemuda Calestino mesem-mesem tipis meski tidak mengalihkan pengawasannya dari jalan raya.

"Dia Ibuku. Dan kakakku adalah pianis muda yang sedang panas-panasnya menjadi pembicaraan netizen, Yasmine Calestino."

"Oh Tuhan--Yasmine?! Yasmine yang selalu tampil elegan di setiap pertunjukannya? Kau tidak berbohong?!"

"Buat apa mengarang cerita? Apa tampangku ini mirip seorang penipu?"

"Wajah tampanmu memang tidak pantas disandingkan dengan kriminal."

Entah berapa kali sudah sudut-sudut bibir si Calestino tertarik akibat interaksi beragam dia dengan Jovita Prune. Faktanya, dia kelewat senang sebab dapat bercengkerama pada kesempatan lenggang demikian bersama gadis yang dia sukai.

"Hati-hati, kau bisa mudah jatuh hati padaku karena ketampanan ini."

"Kau memang tampan. Tapi, aku masih tidak percaya bahwa kau adalah adik dari idolaku Yasmine Calestino. Astaga--coba lihat kemari sebentar!" Kelopak mata Jovita mengerjap-ngerjap selagi dia mengamati garis di paras si pemuda Calestino. "Hidung dan mata kalian ternyata mirip. Kenapa aku tidak menyadarinya dari kemarin."

"Kita jarang ketemu dan di setiap kesempatan pasti kau kena masalah."

"Aku sudah biasa menerima perlakuan tak menyenangkan. Orang-orang bodoh itu gemar menindas yang dianggap lemah. Di mata mereka aku hanya gadis miskin yang tidak sepatutnya berkeliaran di lingkungan mereka."

"Mereka keliru, kau paling bersinar di mataku."

"Ya, ya, terima kasih. Kata-katamu sangat menghibur. Omong-omong, bisakah kau meminta tanda tangan Yasmine untukku? Aku punya album berisi foto-foto ketika dia tampil di panggung. Akan kubawa bila kau bersedia memenuhi permohonanku ini." Sengaja Jovita membungkuk sejenak demi membujuk si pemuda Calestino supaya sudi membantunya. "Ayolah, tolong aku! Kau bilang kita berteman 'kan? Lakukanlah atas nama pertemanan kita." Tawa ringan mengudara, Jovita paham di mana keberhasilan rayuannya tidak berlangsung segampang ekspektasi.

"Ada syaratnya. Aku bersusah payah meyakinkanmu agar mau pulang bersamaku. Anggaplah syaratnya sebagai pembalasan akibat kau hampir menolak kebaikanku tadi."

"Rupanya kau pendendam." Jovita mencebik berikut pundak-pundaknya merosot, "Jangan memanfaatkan kondisi! Tetaplah adil walau aku menyetujui syarat darimu."

"Aku orang yang sportif. Sudah aku katakan jika aku tidak suka menuntut orang."

-----

"Bangun pemalas! Mentang-mentang pengurusan Universitas itu di tangan keluargamu, kau jadi terus-terusan sesuka hati. Datanglah tepat waktu ke kampus dan belajar yang rajin."

"Lebih baik mulut Nenek itu digunakan untuk sembahyang, berdoa di kuil sana! Bukannya Nenek hamba yang taat?! Pagi-pagi sudah bikin telinga orang gatal, dasar Nenek tua!" Makin Jidan tarik selimut untuk membungkus penuh badannya, tidak akan bisa melihat bagaimana frustrasinya Nenek Moni. Wanita baya ini sampai mendengkus sembari menggeleng-geleng.

"Jovita akan tetap bekerja seperti kemarin. Dia selalu datang setelah jam kuliahnya tuntas. Kalau kau tidak menyukainya--"

"Pecat saja dia! Dia membuat hari-hariku jadi bertambah sulit."

"Reputasinya bagus. Aku juga sudah mengamati cara dia berbicara dan sikapnya, cukup menunjukkan jika gadis kecil itu dapat dipercaya. Kalian seumuran, barangkali nanti kau menemukan kesamaan dengan dia. Kau tidak punya teman 'kan?"

"Tidak perlu, ada Calestino!"

"Memang, aku tahu. Kurasa dia juga mau menyiapkan pakaian, mengambil makanan, singkatnya melayanimu yang manja dan pemarah ini."

"Tamatlah kupingku! Tolong ingat usia Nenek! Apa pantas setua itu dihabiskan hanya untuk mengomel?!" Mendadak dia bangkit, menghardik dengan nada tinggi. Decak kekesalannya sama lantang dengan suaranya.

"Jangan terlalu keras padanya! Aku sangat yakin Jovita bisa menjadi temanmu. Kau membutuhkan seseorang yang bersedia mendengar tanpa melihat kedudukanmu 'kan?" Nihil respons oleh si Javier. Namun, dia tak juga membantah ucapan ini.

"Nenek sudah bisa keluar? Aku perlu bersiap-siap dan bergegas ke kampus agar menjadi mahasiswa teladan seperti khayalan Nenek." Lagi, tingkah Jidan menyebabkan Nenek Moni puas mendesah panjang sebelum senyum tipis mengawali langkahnya menuju pintu.

-----

Kunci motor ditarik kala Samuel kehabisan cara untuk membujuk adik kesayangan dia satu-satunya, "Berikan alamatnya, Vit! Kau tidak mau lagi mendengar Kakakmu ini?"

"Aku tidak mau! Jangan mengkaitkan keras kepalamu dengan hubungan persaudaraan kita, Bang! Memangnya kapan aku membantah dalam hal-hal yang menurutku masih sesuai pikiranku?"

"Tugasmu cuma kuliah. Fokus belajar agar kau memperoleh nilai tertinggi di jurusan."

"Perkuliahanku belum aktif. Beberapa hari lagi aku wajib mengikuti kegiatan di luar kampus untuk penyambutan mahasiswa baru. Apa pernyataan ini bisa menenangkan Abang? Aku tidak ingin terlambat, terus kehilangan informasi yang semestinya aku dapatkan di pagi ini."

"Informasi apa? Itu alibimu supaya bisa lari dariku, iya 'kan?"

"Terserah! Abang yang aku salahkan jika nanti kehilangan kabar penting itu."

"Tidak bisa begitu, Jovita!"

"Bang, Abang ingin aku benaran marah di sini? Apa Abang tidak mau membukakan pintunya untukku?"

"Ada ribuan cara untuk membujuk dirimu dan kau kalah cuma dengan satu jurus rayuanku."

Kenyataannya, Jovita tidak betul-betul gigih terhadap penolakan atau sisi kontras antara dia dan Samuel. "Aku benci mengatakannya, tetapi--tunggulah dalam minggu ini. Kalau aku berhasil beradaptasi dengan pekerjaan itu, aku berjanji akan menceritakan semuanya ke Abang."

"Ayo, cepat! Katamu takut telat, Abang yang akan mengantarmu ke kampus."

"Ya Tuhan, apa maksud Abang?"

"Kurang jelas rupanya? Bergegaslah, Vit! Bisa jadi kabar yang kau sebut tadi sedang diumumkan sekarang."

"Abang gila! Kita bisa celaka kalau Abang nekat naik motor dengan kondisi kaki seperti itu. Jalanmu masih--tidak pincang lagi?! Bagaimana caranya?"

"Mudah sekali, aku sekadar menaikkan kecepatannya."

"Menyebalkan! Aku benci Abang."

"Mulut tidak akan mengantarmu ke kampus, Vit. Jangan buang-buang waktu!"

"Kenapa Abang jadi sangat menjengkelkan?!" Jovita berdecak, mengentak lantai menuju posisi motor. Semarah apapun dia, Samuel akan selalu mampu memenangkan perhatiannya.

Continue...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel