Flash Back Akhir Rumah Tangga Yier
Kakak Yier: (duduk di samping tempat tidur anak-anaknya, menangis pelan) Xuyi, Fui, kalian harus kuat. Kalian harus melawan penyakit ini.
Xuyi: (dengan suara lemah) Ibu, aku akan berusaha. Tapi aku sangat lelah.
Fui: Aku juga. Kenapa kita harus sakit seperti ini, Ibu?
Kakak Yier: Aku tidak tahu, anak-anakku. Ini adalah salah satu ujian hidup yang kita hadapi, dan kita harus berjuang sekuat tenaga untuk melaluinya. Percaya bahwa Ibu dan Ayah akan selalu berada di samping kalian.
Selama beberapa hari berikutnya, Kakak Yier dan Tingyin bergantian merawat Xuyi dan Fui. Namun, penyakit itu semakin parah dan nyaris tak ada harapan.
Tingyin: (dalam keputusasaan) Apa yang harus kita lakukan, Yier? Apakah kita kehilangan mereka?
Kakak Yier: Aku akan berkonsultasi dengan dokter-dokter terbaik dan mencari obat yang bisa menyembuhkan mereka, Tingyin. Aku tidak bersedia untuk kehilangan anak-anakku, begitu pula kamu.
Mereka berusaha dengan segenap tenaga dan mencari bantuan dari ahli pengobatan, namun tak satupun yang dapat membantu anak kembar ini melawan penyakit yang mematikan tersebut.
Dalam detik-detik menjelang Xuyi dan Fui menghembuskan nafas terakhir, Kakak Yier dan Tingyin berkumpul di sisi mereka, merangkul satu sama lain dengan sedih.
Xuyi: (lemah) Ibu, Ayah... aku... cinta... kalian...
Fui: (hampir tak bisa bicara) Aku juga... cinta... kalian...
Setelah itu, Xuyi dan Fui menutup matanya untuk selamanya, meninggalkan Kakak Yier dan Tingyin dalam kondisi terpukul dan berduka. Kematian anak-anak kembar mereka menjadi pukulan berat yang mengubah hidup mereka dan menyebabkan banyak perubahan, termasuk pengkhianatan Tingyin terhadap Kakak Yier.
Flashback ini memperlihatkan betapa perjuangan Kakak Yier melawan kesedihan dan kehilangan dalam hidupnya. Adanya peristiwa tragis ini meninggalkan luka yang dalam di hati Kakak Yier dan menjadi salah satu alasan utama dia berada di markas Akatsuki untuk mencari perlindungan.
Setelah kematian tragis Xuyi dan Fui, suasana hati dalam rumah Yier menjadi kelabu. Akan tetapi, selama Kakak Yier sibuk mencari cara untuk mengatasi kesedihannya, Tingyin mulai berubah dan, tanpa sepengetahuannya, mulai menjalin hubungan dengan seorang wanita cantik bernama Choi.
Suatu hari, Kakak Yier melihat Tingyin dan Choi sedang berbicara dalam gelap di sudut lorong istana. Mereka berdua tampak sangat akrab, dan Kakak Yier merasa curiga.
Kakak Yier: (dalam hati) Apa yang sedang terjadi di sini? Mengapa Tingyin begitu dekat dengan wanita itu?
Di hari-hari berikutnya, Kakak Yier diam-diam mengawasi Tingyin dan menyadari bahwa suaminya mulai sering menghabiskan waktu dengan Choi, bahkan mengabaikan keberadaan Kakak Yier dan tanggung jawabnya di istana.
Puncaknya, suatu malam Kakak Yier mengikuti Tingyin dan Choi dan menemukan mereka sedang berciuman di taman istana. Hatinya hancur melihat pengkhianatan suaminya.
Kakak Yier: (menangis) Tingyin! Bagaimana kamu bisa berbuat seperti ini padaku? Apakah kematian anak-anak kita tidak cukup membuat kita menderita?
Tingyin: (terkejut dan terdiam) Yier... Aku... aku minta maaf. Tapi aku tidak bisa menjelaskan rasa hampa yang aku rasakan, dan Choi... dia mengisi kekosongan itu.
Choi: (dengan senyum sinis) Maaf, Yier, tapi aku tak bisa menyangkal perasaan kami satu sama lain.
Dalam keadaan syok, marah, dan sedih, Kakak Yier melarikan diri dari tempat itu, menangis dan meratapi pengkhianatan yang dilakukan oleh Tingyin. Flashback ini menunjukkan betapa rumit dan penuh penderitaan hidup Kakak Yier sebelum akhirnya ia ditolong oleh Akatsuki.
Beberapa bulan setelah kematian anak kembarnya dan perselingkuhan Tingyin dengan Choi, situasi menjadi semakin tegang di rumah Yier. Tingyin mencoba menjaga jarak dari Kakak Yier dan semakin dekat dengan Choi. Suatu hari, Tingyin mengambil keputusan yang mengguncang kehidupan mereka.
Tingyin: (dengan ekspresi dingin) Yier, aku sudah memikirkan ini sejak lama, dan aku ingin menggugat cerai kamu. Aku tak merasa kita bisa lagi menjadi pasangan yang bahagia setelah semua yang telah terjadi.
Kakak Yier: (dalam keadaan terkejut) Tingyin, ini... ini sangat mendalam. Aku tahu kita telah mengalami banyak kesulitan, tetapi kita pernah saling mencintai. Apakah kita tidak bisa mencoba untuk memperbaiki hubungan kita demi kenangan anak-anak kita?
Tingyin: Sudah terlambat, Yier. Keputusanku sudah bulat. Selain itu, ada sesuatu yang harus kamu ketahui. Choi mengandung anakku.
Kakak Yier: (hancur) Apakah kamu membuat Choi hamil? Tingyin, bagaimana kamu bisa jatuh sejauh ini?
Namun, pernyataan Tingyin tak bisa diubah, dan Kakak Yier pun akhirnya merelakan perceraian itu. Jawaban Tingyin membuat Kakak Yier sadar bahwa suaminya telah benar-benar berubah dan tak lagi menjadi pria yang pernah ia cintai.
Setelah perceraian itu, Kakak Yier meninggalkan istana dengan penuh dukacita. Kehidupannya yang dulu penuh cinta dan kebahagiaan telah hilang, digantikan oleh penderitaan dan pengkhianatan.
Flashback ini menciptakan latar belakang yang lebih dalam tentang perjuangan Kakak Yier sebelum ia bergabung dengan Akatsuki. Dari sini, kita bisa melihat bagaimana karakter Kakak Yier menjadi semakin kuat dan pantang menyerah meskipun menghadapi banyak cobaan dalam hidupnya.
