BAB 5 : Kissing Addiction
Di sana, di depan pintu kelas seorang Marcello Albert Pradipta berdiri dengan gagahnya menunggu sang kekasih. Rara menyengir tak enak ke arah Viona. Dia benar-benar tidak tahu jika Marcel akan menghampirinya untuk mengajak ke kantin bersama.
"Aduh, maaf ya, Vi. Gue nggak tau kalau Marcel ke sini," sesal Rara.
Viona mengangguk maklum. "Nggak apa-apa kali, Ra."
Melihat begitu lamanya kedua gadis itu berbincang-bincang, membuat Marcello bergerak menghampiri.
"Ayo!" ajak Marcel setelah berdiri di samping Rara.
Rara menoleh ke arah Marcel dengan tatapan memelas. Marcel mengerti dengan tatapan itu.
"Ya udah, kita ke kantinnya barengan aja."
"Gak usah deh, mendingan gue sendirian aja," tolak Viona, dia merasa tidak enak bergabung dengan dua sejoli tersebut.
"Gak usah sungkan gitulah sama kita. Ayo!" Rara hendak menarik sebelah tangan Viona. Namun, terhenti seketika melihat kenzo menghampiri mereka.
"Nggak bisa! Dia ikut bareng gue!" suara datar nan dingin tersebut terdengar menyeramkan.
Kenzo dengan angkuhnya berdiri disamping Viona, lalu menarik tangan Viona tanpa mempedulikan keberadaan Marcel dan Rara.
***
"Lepasin gue, Brengsek!" Viona memaki dan terus meronta.
Sepertinya kehidupan tenang di sekolah hanya di dapat sewaktu jam pelajaran. Lihat saja! Jam istirahat sekarang ini Kenzo kembali mengusiknya.
"Diam!" desis Kenzo pelan.
Tangannya terus menarik Viona mengikuti langkah menuju base camp tempatnya berdiam diri di sekolah.
"Lo apa-apaan sih?" tanya Viona geram ketika Kenzo mengunci pintu base camp dan mengantongi kuncinya.
Tanpa menjawab pertanyaan Viona, Kenzo berlalu menuju matras yang terdapat di sana dan membaringkan diri seraya memainkan ponsel.
"Di atas meja ada nasi goreng, lo bisa makan di sini!" ujar Kenzo tanpa mengalihkan pandangan.
"Ck! Lo pikir gue mau makan itu,” dengus Viona.
Sungguh!
Viona adalah cewek yang suka bikin Kenzo naik darah, sulit sekali memerintah dia meski dengan wajah sangar Kenzo sekalipun. Tidak mempan dengar gertakan akhirnya taka da jalan selain kekerasan.
"Duduk!" Kenzo menarik paksa tangan Viona dan memaksanya duduk.
"Lo kira gue ngeracunin makanan ini? Kurang kerjaan banget gue," dengusnya sinis.
"Kalau pun gue mau matiin lo, udah dari kemarin gue cekek sampai mampus, sambung Kenzo masih dengan nada yang sama.
Akhirnya tanpa banyak protes lagi Viona meraih sendok dan mulai menyuapkan nasi goreng tersebut ke mulutnya.
"Anjir! Nancep banget omongan nih cowok," ucap Viona membatin, sesekali cewek itu melirik Kenzo yang tengah asyik dengan ponsel di tangannya.
Entah memang nasi gorengnya enak atau Viona yang tengah kelaparan, nasi goreng tersebut tandas dalam waktu singkat. Di raihnya botol minuman yang berada di atas meja.
Satu kata dari Viona.
Kenyang!
Menyadari Viona telah selesai makan, Kenzo mendengus kesal mengingat seberapa keras cewek itu menolak makanan darinya.
"Gak mati 'kan lo?" sindir Kenzo yang sedari tadi memperhatikan Viona.
"Alhamdulillah gue masih hidup, dan sekarang gue mau balik ke kelas. Jadi, buka pintunya sekarang." Viona menepuk pelan roknya seraya bangun dari posisi duduk.
"Ck!" kenzo berdecak kesal. Dia bangun dari tempatnya dan mendekati Viona.
"Lo pikir semua ini gratis, heuh?" Senyum licik itu terukir di bibirnya.
"Oke, gue bakal bayar nasi goreng tadi. Tapi, setelah gue balik ke kelas, soalnya duit gue ketinggalan di dalam tas."
"Huft! Kali ini gue ngalah, itung-itung balas budi karena dia udah kasih gue makan. Ingat Vi! Hanya kali ini," batin Viona menyemangati diri sendiri.
"Gue nggak mau uang, nggak peduli gue kalau soal uang yang lo maksud. Hari ini mood gue sedikit lebih baik, jadi lo di sini aja nemenin gue," putus Kenzo final.
Baru saja Viona mau mengeluarkan protes, tatapan tajam langsung dilayangkan Kenzo untuk gadis di depannya.
***
Bosan!
Itulah kata yang menggambarkan perasaan Viona saat ini. Sudah 15 menit ia menemani Kenzo. Sudah berapa kali Viona mengubah posisi duduknya karena bosan pun ia tak ingat, yang jelas dirinya seperti barang yang tak berguna saat ini.
"Lima menit lagi bel masuk bunyi, gue mau balik ke kelas sekarang," pinta Viona.
Kenzo yang tengah menikmati rokok menoleh ke arah Viona. "Berisik lo," ketus Kenzo
"Lo kalau mau ngerokok jauh-jauh sana. Engap nih gue," protes Viona seraya mengibaskan asap rokok Kenzo yang mengarah kepadanya, dia berusaha agar tidak terlalu banyak menghisap asapnya. Karena menurut sepengetahuannya, perokok pasif itu lebih berbahaya daripada perokok aktif.
"Dari pada nggak ada yang gue isep."
"Yang lain kek, asalkan jangan rokok. Nggak baik buat kesehatan.” Nasehat Viona.
Mendengar perkataan Viona barusan, Kenzo langsung saja mematikan dan membuang rokoknya. Dia beringsut mendekat ke arah Viona. "Karena nggak ada yang gue isep lagi, gue mau ngisep bibir lo aja," ucap Kenzo tepat di telinga Viona.
Viona lantas menoleh ke arah Kenzo. Ia melayangkan tatapan peringatan. "Lo nggak usah macam-macam," ingat Viona.
"Tanggung jawab! Karena lo, gue jadi ngebuang rokok gue," tuntut Kenzo.
Ditariknya kedua bahu Viona agar berhadapan dengannya. Kedua tangan bergerak meraih kedua tangan Viona, lalu menguncinya ke belakang tubuh Viona.
Wajahnya semakin maju mendekati Viona. Dan—
Cup
Bibirnya mendarat di pipi kanan Viona.
Yah, Viona menggerakkan kepala ke kiri tatkala tadi bibir Kenzo hampir menyentuh bibirnya. Geram dengan tindakan Viona. Kenzo mendorong tubuh Viona hingga mentok ke dinding. Dengan posisi Viona yang tengah duduk dan tersandar di dinding membuat cewek itu tak mempunyai ruang gerak, apalagi keinginan untuk menendang Kenzo.
Cup!
Kali ini bukan di pipi.
Viona membatu ketika Kenzo menempelkan bibir keduanya. Viona memanglah bukan anak yang lugu dan polos. Jika soal ciuman, dia hanya melihat di drama korea dan couple goals di youtube. Namun, saat ini dia benar-benar merasakannya. Dua kali dengan orang yang sama.
Tak ada tanda-tanda Kenzo menghentikan ciumannya membuat Viona berdoa jika dirinya tak kehabisan napas. Deru napas keduanya terdengar jelas tak beraturan. Viona dengan rakus menghirup oksigen sebanyak mungkin.
Hah!
Dengan tangan yang gemetar Viona mendorong pelan bahu Kenzo. Rambutnya terlihat kusut sedangkan bibirnya bengkak dan terasa kebas. Kenzo juga terlihat tengah mengatur napasnya kembali.
"Sial! Gue kecanduan," umpat Kenzo dalam hati.
***
Suasana apartement milik Kenzo terdengar ramai oleh canda tawa kedua sahabatnya. Siapa lagi kalau bukan Aiden dan Galang.
"Astaga! Gila gue senang banget," teriak Aiden dengan riang.
"Akhirnya, oh Tuhan! Gue jatuh cinta lagi!" Aiden melanjutkan aksinya dengan melakukan sujud syukur.
Galang terkekeh melihat kelakuan sahabatnya yang satu ini.
"Udahan lo teriaknya. Gue tau lo senang, muka lo aja udah girang banget. Dasar manusia gagal move on," omel Galang yang sudah merasa terganggu dengan tingkah Aiden.
"Buset. Lo kalau ngomong asal nyablak aja kayak seblak. Gue tuh bukannya gagal mupon, tapi gue ini tipe cowok yang setia dan tulus menyayangi seseorang. Gak kayak lo, liat yang bening dikit mulut kebuka lebar. Hati-hati sob, ntar gigi lo lepas semua. Ha-ha-ha." Derai tawa yang keluar dari mulut Aiden tak terbendung lagi.
Dengan segera Galang membekap mulut Aiden yang sedang terbuka lebar. "Hustt! Ini mulut apa toa? Pelanin dikit tawa lo. Bisa-bisa lo ngebangunin macan tidur. Noh!"
Galang menunjuk ke arah Kenzo melalui lirikan mata. "Sorry Bray, gue tuh kalau nge-bully lo bawaannya excited banget."
"Kenapa dah tuh anak?" bisik Aiden pelan.
"Biarin aja lah, kita tau kalau mood tuh anak gampang berubah. Ntar yang ada kita dijadiin perkedel," balas Galang dengan bisikan juga.
Kenzo yang sejak pulang ke apartement-nya duduk termenung tanpa sepatah kata pun.
Pikiran cowok itu tidak jelas mengarah ke mana, semuanya bercabang. Mulai dari masalah di masa lalunya, hubungan yang berantakan dengan sang papa, hingga kejadian di mana dia mencium bibir cewek bernama Viona yang diklaim sebagai pacar.
Diraihnya kotak rokok yang tergeletak di atas meja. Mengambil sebatang kemudian menyulutnya. Hembusan asap rokok keluar dari mulut.
Ia teringat akan perkataan Viona bahwa merokok itu tidak baik. Bodo amat! yang penting otak gue fresh, pikir Kenzo. Tidak mungkin kan dia menemui cewek itu hanya untuk kembali menyecap bibirnya sebagai ganti hisapan rokok, bisa habis bibir cewek itu.
Kecuali jika Viona sekarang berada di dekatnya, lain lagi ceritanya.
***
Melihat adegan ciuman di drama korea yang tengah di tontonnya saat ini, Viona jadi teringat insiden dengan Kenzo tadi siang.
"Argh! Mama!" teriaknya frustrasi.
Niat menonton drama korea semata-mata untuk mengalihkan pikiran dari kejadian tadi, tak tahunya malah makin teringat jelas kala adegan ciuman tokoh utama muncul. Perasaannya campur aduk antara marah, kesal, benci dan berdebar. Menyandang status sebagai pacar paksaan dari seorang Kenzo yang notabenya anak pemilik sekolah, membuatnya semakin yakin ada paksaan dan pelakuan lain yang akan diterima.
Seandainya pindah sekolah tidak serumit yang pernah dilaluinya, maka ia akan kembali pindah ke sekolah yang lain. Kalau bisa Viona akan memilih sekolah Negeri.
Dering nada ponsel menyadarkan Viona dari lamunan.
Mama
| Dek, mama pulangnya nanti bareng sama kakak kamu, jam delapan malam. Kamu nanti makan duluan aja ya.
Huft! Viona menghela napas ketika melihat jam yang masih menunjukkan jam empat sore. Berarti masih lama mama dan kakaknya pulang ke rumah.
Viona
Iya Ma. Mama hati-hati pulangnya, ingetin kakak bawa mobil nggak usah ngebut-ngebut.
Bunyi notification dari hp Viona menandakan balasan dari sang mama.
Mama
| Iya Dek. Kamu kalau mau makan dan jalan-jalan keluar minta anter sama Mang Parjo aja, ya.
Setelah membaca balasan tersebut, Viona memilih tak membalasnya karena ia masih bingung mau pergi keluar apa enggak.
Dari pada bingung, akhirnya Viona memilih pergi mandi. Siapa tahu aja sehabis mandi dia punya tujuan.
***
Oh Tuhan.
Kucinta Marcel.
Sayang Marcel.
Rindu Marcel.
Inginkan Marcel.
Lantunan bait lagu terus terdengar di dalam kamar seorang cewek yang masih memakai seragam SMA. Walaupun kadang liriknya suka terbalik ketika dinyanyikan, dia tak peduli. Yang penting dia bisa mengungkapkan rasanya dengan bebas.
Oh Rara.
Cinta Marcel.
Nyanyiannya terputus ketika mendengar notifikasi masuk dari WhatsApp. Dia meraih ponsel miliknya dan membuka kunci layar terlebih dahulu.
Viona
| Ra, jadi nggak lo ke rumah gue? Kebetulan gue nggak ada teman di rumah.
Ternyata dari Viona. Tadi siang dia sempat berjanji akan bertamu ke rumah Viona.
Rara
Iya jadi kok, Vi. Btw tumbenan lo nggak chat lewat Line? |
Viona
| Terserah gue dong!
| Lo udah tau alamat rumah gue, 'kan?
Rara
Nggak usah ngegas kali. |
Iye gue tau kok, gue mandi dulu yaw! |
Tunggu kedatangan gue ye. Bhay! |
Viona
| Iye!
***
