Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 4 : Kenzo PMS

Kenzo mengendarai motor dengan kecepatan sedang, ia dalam perjalanan menuju rumah Marcel. Pikiran Kenzo teringat akan kejadian tadi, di mana dia dengan mudahnya mencium siswi pindahan.

Kenzo berdecak kesal. Bagaimana bisa dia mengklaim paksa cewek yang tak dikenalnya? Bahkan namanya saja ia tahu dari name tag seragam cewek tadi. Dan kenapa tiap kali cewek itu membangkang, rasa kesal muncul secara tak terduga dan berlebihan. Seorang Kenzo memang tak suka dibantah! Biasanya, tak ada yang berani melawan. Semua siswa di sekolah saja tak ada yang mau mencari perkara dengan dirinya.

Kenzo membelokkan motor ke arah kanan memasuki kompleks tempat tinggal Marcel. Gerbang bercat hitam dengan campuran warna emas itu adalah kediaman keluarga Marcel. Deru suara motor Kenzo yang terdengar keras, membuat wanita yang berumur kepala tiga tersebut berdiri di depan pintu menyambut kedatangan keponakannya.

Kenzo berjalan menuju ke arah wanita tersebut seraya mengacak-ngacak rambut hitamnya. Dipeluknya wanita yang menjadi sosok ibu selama hampir 3 tahun terakhir. Wanita ini adalah Evania Mahera. Beliau adalah adik kandung satu-satunya dari sang papa. Beliau adalah bundanya Marcel.

"Ken! Bunda kangen sekali," ujar Evania dengan mengeratkan pelukannya untuk keponakannya ini.

"Iya, Bun. Ken juga," balasnya singkat.

Evania melepaskan pelukan dan menuntun Kenzo ke arah ruang makan. Di sana Marcel nampak anteng dengan makanannya.

"Eh, Ken! Makan yuk! Lama banget sih lo, jadinya gue duluan deh," sapa Marcel setelah meneguk minumannya.

"Ayo! Ken. Bunda udah masakin sop ayam kesukaan kamu." Evania meletakkan piring di depan Kenzo yang sudah duduk di kursinya.

Kenzo hanya mengangguk singkat menyahuti. Diambilnya nasi dan sop yang sudah dihidangkan di atas meja makan. Selama mereka makan tak ada satu pun yang bersuara. Memang sudah menjadi tradisi keluarga ini agar tidak berbicara ketika makan. Tradisi ini juga dianut oleh keluarga Kenzo dulunya.

Iya, dulu. Sewaktu keluarganya masih harmonis dan utuh. Di saat Kenzo masih bersekolah di Sekolah Menengah Pertama.

Selesai makan, Evania mengajak Marcel dan Kenzo berbincang-bincang di ruang keluarga.

"Sekolah kamu gimana, Ken?" tanya Evania kepada Kenzo.

Beliau bukannya tidak tahu atas kelakuan keponakannya selama ini. Dia tahu, bahkan melebihi Kakaknya, yaitu papa Kenzo.

Evania lah yang sering menghadiri pengambilan raport, pertemuan orang tua serta panggilan dari guru BK.

"Biasa aja, Bun," jawab Kenzo terlihat cuek saat menyinggung perihal sekolah.

Evania mengela napas, lalu dielusnya bahu Kenzo. Hampir tiga tahun belakangan ini dialah yang mencurahkan perhatian dan kasih sayang kepada Kenzo. Terus mengajak keponakannya berbincang-bincang walau hanya dibalas dengan singkat tanpa ekspresi yang berarti.

Sempat terlintas kecemasan terhadap pergaulan Kenzo. Pergaulan yang akan terus menghancurkannya. Maka dari itu dengan semampu mungkin Evania memberi segala yang dibutuhkan Kenzo, yang pastinya bukan hanya materi. Dia bersama sang suami memperlakukan Kenzo sama halnya memperlakukan Marcel—anak mereka sendiri.

"Biasa apaan, ricuh mulu lo di sekolah," tambah Marcel.

"Ck!" Kenzo berdecak kesal. Ditatapnya secara tajam sepupunya itu.

"Gue bukan mereka yang bakal kicep saat lo tatap kayak gitu," kekeh Marcel yang kembali fokus ke arah acara tv yang sedang tayang.

"Kamu udah pulang ke rumah dan bertemu papa belum, Ken?" tanya Evania hati-hati. Pasalnya saat ini dia sedang menyinggung perihal papa Kenzo.

"Belum, Bun. Belum waktu dekat ini. Ken ke atas dulu mau istirahat," pamit Kenzo seraya bangun dari duduknya.

Kenzo menaiki tangga. Kamarnya berada di lantai dua bersebelahan dengan kamar Marcel. Evania menatap sayang ke arah Kenzo. Selalu begini, setiap membicarakan papanya, ataupun tentang keluarga. Kenzo selalu menyingkir dengan alasan yang dibuatnya.

***

Semilir angin sore berhembus lembut membelai wajah Kenzo. Saat ini dia sedang berada di balkon kamar di rumah Marcel. Kepulan asap rokok dihembuskannya dengan kasar melalui mulut. Berbagai pemikiran berkecamuk di benaknya, di kala seperti ini rokoklah pelarian yang ampuh bagi Kenzo. Terhitung sudah rokok ketiga yang dihisapnya.

Saking asyik menikmati rokok, Kenzo tidak menyadari bahwa Marcel sudah berada di belakangnya. "Besok-besok bakal gue pajang peringatan no smoking area di setiap ruangan di rumah ini. Biar rumah gue nggak tercemar," cetus Marcel saat melihat Kenzo asyik merokok.

Kenzo hanya melirik malas ke arah Marcel yang sekarang sudah berada di sampingnya.

Dikacangin? Sudah biasa! Bagi Marcel memang sudah biasa dikacangin oleh sepupu urakannya ini.

"Kalau Bunda mergokin lo lagi ngerokok sekarang ini gimana? Bisa sedih nyokap gue, Ken." Marcel kembali bersuara mengingatkan Kenzo.

"Lo kalau mau ceramah nggak usah di depan gue. Nggak guna!" Saking jengahnya dengan ocehan Marcel, Kenzo akhirnya berbicara dengan nada emosi. Dia tidak suka ketenangannya diganggu.

Marcel mendengus kesal. "Dinasehatin sama yang lebih tua itu nurut! Bukannya malah balik marah ke gue," omel Marcel.

"Lo itu cuma tua tiga bulan, Cel. Jadi nggak usah sok berlagak jadi Abang."

"Nah itu! Aku kan abang," celetuk Marcel menirukan suara Upin di serial Upin-Ipin yang ditontonya di Mnctv.

"Keluar lo dari kamar gue!" usir Kenzo.

"Lah, gue kena usir di rumah sendiri."

"Bacot! Keluar nggak!"

"Nggak!" ucap Marcel yang masih setia membalas perkataan Kenzo.

"Cel! Lo tau sendiri kalau gue itu nggak penyabar. Ke-lu-ar!" tekan Kenzo diakhir kalimat.

Marcel memutar matanya jengah. Kenzo memang akan selalu mengancam. Kalau sudah seperti ini dia akan memilih mengalah.

Menunggu Kenzo yang akan mengalah? Mus-ta-hil!

Seperti, jika kakek dan nenek moyang dari zaman purbakala kembali hidup di zaman micin selayaknya anak jaman now sekarang ini.

"Iya! Iya gue keluar. Karena gue itu abang, jadi gue ngalah demi saudara lucknut macam lo," putus Marcel seraya melangkahkan kaki meninggalkan Kenzo.

"Dasar manusia kelewat istimewa, PMS setiap hari! Jadinya emosi juga tiap hari. Singa beranak aja kalah sangar ama dia." Marcel terus saja misuh-misuh tidak jelas di depan pintu kamar Kenzo yang baru ditutupnya.

Brak!

"ALLAHUAKBAR!" pekik Marcel kaget.

Kenzo tersenyum senang kala mendengar pekikan kaget sepupunya. Pasalnya dia mendengar jelas semua ocehan Marcel tadi, maka dari itu Kenzo mengambil bola baseball yang tak jauh darinya dan melemparkan ke pintu kamar.

Alhasil dia sukses besar mendiamkan mulut mercon milik Marcel. Berbeda dengan Kenzo yang memenangkan perdebatan dengan Marcel.

Viona saat ini tengah berguling-guling tak jelas di atas kasur. Bayangan tentang sosok Kenzo yang seenak jidat mengklaim dirinya hingga bayangan tentang ciuman yang dia lakukan bersama Kenzo tadi.

Ralat. Hanya Kenzo. Ciuman paksa yang dilakukan Kenzo masih membayang di ingatannya

"Argh! Cowok brengsek!" umpatan demi umpatan keluar dari mulut Viona.

"Iihh" Dengan gemas Viona menggosok-gosok bibirnya menggunakan tangan kanan.

"Songong banget tuh cowok, dia pikir gue bakalan tunduk apa, hah! Nggak ada yang namanya tunduk sama orang songong di kamus hidup gue. Fyiuh!" Viona meniup poninya, dengan kesal bangun dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

***

Line!

Line!

Line!

Bunyi notifikasi chat Line dari hp miliknya membuat aktivitas mengeringkan rambut terhenti. Dia bergerak mengambil ponsel yang terletak di atas kasur.

Rara.Zpradipta

| P

| Vi!

| Viona! Woy!

Viona_Vee

Iya |

Ada apa, Ra? |

Rara.Zpradipta

| Gue mau hang out nih sama Marcel. Lo mau ikut?

| Sekalian mau keliling-keliling kota.

| Viona mendengus malas membaca balasan chat dari Rara.

Viona_Vee

Gue jadi obat nyamuk, gitu? |

Gak ah! Gue lagi mager. Kapan-kapan aja. |

Ya kali Viona ikut pergi bareng Rara dan Marcel. Ujung-ujungnya pasti bakal jadi obat nyamuk. |

Rara.Zpradipta

| Beneran nih nggak mau ikut?

| Kapan lagi coba, lo ikut sama Mrs. Pradipta dan Mr. Pradipta.

Viona_Vee

Enggak! Makasih |

Halah! Sok-sokan pakai marga Pradipta segala. |

Hati-hati ntar cuma jagain jodoh orang doang. |

Rara.Zpradipta

| VIONA!

| MINTA DIGIBENG LO YA!

Viona terkekeh geli mendapat balasan seperti itu dari Rara.

***

KRING!

Jam pelajaran pertama telah usai. Hari ini adalah hari kedua Viona menjadi siswi. Setelah melewati mata pelajaran Matematika yang ampuh bikin kepalanya puyeng, sekarang tinggal menunggu guru mata pelajaran seni budaya. Lumayanlah setelah pembakaran otak langsung dihibur dengan mapel seni budaya yang kebetulan hari ini adalah tentang Musik.

Seluruh peserta didik kelas XII IPA 2 begitu terhanyut ketika teman sekelasnya yang bernama Edo, Zelvin dan Randa disuruh menampilkan bakat mereka di depan kelas. Dan mereka memilih membawakan lagu 8 Letter ~ Why Don't We. Edo memainkan gitar di awali dengan intro.

You know me the best

You know my worst, see me hurt, but you don't judge

That, right there, is the scariest feeling

Opening and closing up again

I've been hurt so I don't trust

Now here we are, staring at the ceiling

I've said those words before but it was a lie

And you deserve to hear them a thousand times

If all it is is eight letters

Why is it so hard to say?

If all it is is eight letters

Why am I in my own way?

Why do I pull you close

And then ask you for space

If all it is is eight letters

Why is it so hard to say?

Prok-prok-prok!

Bunyi gemuruh tepuk tangan terdengar meriah ketika Edo dan kawan-kawan mengakhiri penampilannya.

"Keren ya, Vi," ungkap Viona seolah meminta persetujuan.

Viona mengangguk "Banget!" seru Viona terlihat antusias.

Sebenarnya Edo, Zelvin dan Randa termasuk dalam jajaran anak nakal alias badboy. Teman sekelasnya menyebut tiga sekawan ini dengan Trio Lucknut. Ternyata selain jago bikin heboh dan ngusilin teman-teman serta juga guru. Trio Lucknut ini juga memiliki bakat di bidang seni tarik suara dan alat musik.

"Baiklah anak-anak Ibu sekalian! Kita tutup pembelajaran Seni Budaya kali ini dengan mengucap syukur, dan setelahnya kalian diperbolehkan istirahat!" titah Bu Andin sekalian menutup perjumpaannya dalam mata pelajaran Seni Budaya pada minggu ini.

Setelah Bu Andin meninggalkan kelas XII IPA 2, satu per satu para siswa mulai meninggalkan kelas mereka menuju kantin sekolah guna mengisi perut dan tenaga untuk menghadapi pelajaran selanjutnya.

"Ra, lo ke kantin?" tanya Viona saat beranjak dari tempat duduknya.

"Iya. Ayo kita bareee—" ucapan Rara terhenti ketika pandangannya beralih ke arah pintu kelas.

Viona yang tak kunjung mendapat jawaban dari Rara ikut mengalihkan pandangan mengikuti Rara.

Dan—yeah! You know lah…

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel