Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 6 : Telat Bareng

"WAH! Koleksi drakor lo banyak banget, Vi," puji Rara dengan semangat.

Setibanya Rara di rumah Viona, mereka berdua langsung naik ke lantai atas menuju kamar Viona. Namanya juga Rara. Cewek hiperaktif yang tidak bisa diam. Begitu memasuki kamar Viona, mata Rara langsung tertuju ke arah laptop yang berada di atas kasur. Dengan suka cita dan tanpa rasa sungkan, mulailah dia mengutak-atik laptop temannya itu.

"Gak usah norak deh, Ra," tukas Viona.

"Norak-norak gini gue tetap cantik. Eh, bukan cuman drakor aja nih? Wuihh daebak! Jepang, Thailand dan China juga adaa!" Rara kembali heboh sendiri.

"Udah kayak kolektor drama aja lo, Vi."

"Cuma buat ngisi waktu luang aja sih. Makanya gue koleksi banyak," jawab Viona sembari membaringkan badan di atas kasur memainkan ponsel.

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu.

"Nyokap sama kakak lo masih lama pulangnya, Vi? Udah jam tujuh lho ini," tanya Rara melihat jam di ponsel.

"He'eum. Palingan nyampe rumah sekitar jam setengah sembilan, itu pun kalau nggak macet," jawab Viona seraya memainkan ponsel.

"Oh, gitu toh," gumam Rara menganggukkan kepala.

"Kalau lo mau, tinggal copy aja, Ra!"

Seakan menang lotre, Rara berteriak kegirangan. Inilah saat yang ditunggu-tunggu.

"Waw! Thanks temanku, Viona sayangku. Tanpa lo suruh gue pasti bakal minta kok. Kalau pun lo nggak ngizinin bakal gue ambil diam-diam," ujar Rara dengan cekikikan.

"Kenyang liatin cogan gue beberapa hari ke depan nih. Oppa-oppa tamvan i'm coming!"

"Berarti si Marcel nggak bikin lo kenyang dong?" usil Viona.

Rara memajukan bibir, berpikir. Mungkin itulah yang dilakukannya saat ini.

"Marcel mah emang nggak bikin kenyang, Vi. Gak cukup aja gitu kalau ketemunya sekolah doang. Bawaannya pengin gue karungin, terus gue taruh di kamar dan gue peluk-peluk deh di waktu tidur."

"Iya deh, yang pacaran mah beda." Ujar Viona memutar kedua bola matanya dengan malas.

Rara memalingkan wajah dari laptop kemudian memandang Viona dengan tatapan memicing.

"Lo kenapa natap gue?" tanya Viona yang sadar mendapatkan tatapan aneh dari Rara.

Bukannya malah berhenti, Rara semakin memicingkan mata ke arah Viona. Yang akhirnya membuat Viona kesal dan menimpuknya dengan bantal.

"Kayak lo enggak pacaran aja," tukas Rara dengan nada menggoda setelah melempar kembali bantal itu kepada Viona.

"Gue kan emang nggak punya pacar Rara cantik."

Seketika tatapan Rara kembali memicing seakan menggoda Viona.

"Terus hubungan lo sama si Kenzo apa dong? Malah udah kiss manjah lagi." Rara semakin mengeluarkan godaannya.

"RARA! Nggak usah diingetin. Lagian ya, gue nggak pacaran. Titik!" Final Viona dengan kesal, matanya melotot ke arah Rara dengan kedua tangan terkepal.

Rara memilih mengalah dan mengangkat kedua tangan ke atas, pertanda dia tidak akan menyinggung perihal Kenzo untuk saat ini.

Ingat ya! Untuk saat ini.

***

Di pagi hari yang cerah, Viona tergesa-gesa turun dari mobil sang kakak.

Tak secerah cuaca hari ini, Viona merasakan akan ada badai yang menimpanya. Bagaimana tidak, dia telat 15 menit.

Gerbang sekolah sudah ditutup, satpam yang berjaga tidak terlihat keberadaannya. Padahal Viona sudah berniat akan membujuk si satpam sekolah agar diizinkan masuk.

Memang ya realita tak seindah ekspektasi. Sudah hampir tujuh menit Viona berdiri dengan gelisah di depan gerbang hingga akhirnya suara deheman menyentak pendengarannya.

"Lo ngapain di sini?" Suara bariton itu membuat Viona langsung mengubah ekspresi, Viona mendengus malas dan memalingkan wajah.

"Lo nggak lagi ditempelin setan budeg, 'kan?" sinis Kenzo yang menerima perlakuan Viona.

"Lo juga nggak lagi di tempelin setan buta, "kan? Bisa liat sendiri gue ngapain sekarang?" Tak kalah sinis Viona membalas perkataan cowok biadab di depannya ini.

"Dasar, bisanya cuma ngelawan mulu," cibir Kenzo.

"Bodo amat. Sana pergi! Gue malas cari masalah sama lo," usir Viona.

Kenzo berdecak malas.

"Lo kalau mau masuk ikut gue!" ajak Kenzo memberikan penawaran.

"Nggak usah. Makasih."

Penolakan pertama berlangsung.

"Ya udah, selamat menunggu gerbang dibuka sampai jam sekolah selesai." Kenzo beranjak meninggalkan Viona.

Viona masih keukeuh untuk tidak mengikuti Kenzo. Penolakan kedua juga tengah berlangsung. Benar-benar keras kepala. Gemas dengan sifat keras kepala Viona. Kenzo menarik paksa tangan Viona agar mengikutinya. Cara kekerasan andalannya.

"Kebiasaan banget sih main tarik-tarik orang aja," protes Viona tak terima.

"Lo diam dan ikutin gue. Udah dibantuin masih aja jual mahal. Sama orang lain nggak masalah jual mahal, tapi kalau sama gue nggak perlu. Karena lo itu pacar gue."

"Siapa juga yang mau jadi pacar lo?"

"Ya elo lah, siapa lagi. Dan gue berhak atas lo, tapi sorry lo gak berhak atas gue."

Viona mendengus kesal mendengar pernyataan seenak jidat cowok ini.

"Yang berhak atas gue itu ya keluarga gue." Viona menyentak tangannya agar terlepas dari cengkeraman Kenzo.

"Diem deh. Tunggu bentar gue bukain dulu nih gerbang," ucap Kenzo mengabaikan perkataan Viona barusan.

Viona tak menyangka bahwa ada sebuah gerbang kecil di area belakang sekolah. Mungkin karena selalu mengeluarkan protes sepanjang perjalanan sehingga tidak memperhatikan sekelilingnya. Kenzo mengeluarkan sebuah kunci dari saku jaketnya.

"Kesambet setan apa nih cowok jadi baik kek gini," batin Viona seraya memperhatikan Kenzo dari samping.

"Gak nyangka yaa nih iblis bisa baik. Kalau sifat aslinya baik gini gak apa-apa deh gue jadi pacarnya." Viona kembali membatin.

"Kok lo bisa punya kunci gerbang ini?” tanya Viona penasaran.

"Gue harap lo nggak lupa siapa yang punya sekolah ini."

"Masih aja songong. Gak apa-apa deh yang penting dia udah baik sama gue," sungut Viona dalam hati.

"Yang punya bokap lo lah."

"Dan akan jadi punya gue," tambah Kenzo.

Viona memilih tak menanggapi Kenzo, hingga cowok itu kembali menarik tangannya setelah mengunci kembali gerbang tersebut. Mereka berjalan meninggalkan area belakang sekolah, melewati taman yang ada di belakang sekolah hingga tiba di samping perpustakaan.

Ketika mereka melewati koridor, tiba-tiba saja Kenzo memanggil Marcel yang kebetulan lagi berpatroli. "Cel, Woy!" teriak Kenzo melambaikan tangannya ke arah Marcel.

Merasa dipanggil Marcel akhirnya berjalan medekati mereka. Marcel mengamati keduanya yang masih menyandang tas. Bisa ditebak jika keduanya terlambat.

"Woah! Nggak nyangka gue kalau lo nyerahin diri," sindiran halus keluar dari mulut Marcel.

"Gue bukannya mau nyerahin diri. Tapi, mau nyerahin nih anak karena dia telat," jawab Kenzo dengan entengnya menunjuk Viona yang berada di samping.

Viona langsung kaget di saat Kenzo menunjuknya.

"Sialan nih cowok. Gue tarik kata-kata gue yang tadi nyebut dia baik. Baik? Cuih!" Viona mendumel di dalam hati. Rupanya kebaikan Kenzo barusan tidak ada tulus-tulusnya, melainkan menyerahkannya kepada ketua osis untuk dihukum.

"Lo nyerahin dia? Sedangkan lo sendiri juga telat. Maaf ya Ken, kali ini lo tetap gue hukum. Apa pun alasan lo nggak bakal gue terima," tegas Marcel.

"Bacotan lo nggak guna, Cel," ucap Kenzo seraya berlalu meninggalkan Marcel dan Viona yang masih diam di tempat.

"Kenzo Stevano Andrew! Mau ke mana kamu?" teriak suara yang sudah dihapalnya baik di dalam maupun di luar kepala.

Kenzo menghentikan langkah dan berbalik. Tidak salah lagi, yang memanggilnya adalah Bu Mira. Guru BK yang selalu merecoki dirinya.

"Mau ke mana kamu Tuan Kenzo yang terhormat?" tanya Bu Mira seraya berjalan menghampiri Kenzo.

"Kamu harus menjalani hukuman terlebih dahulu jika ingin pergi, sekarang kamu ke lapangan dan hormat bendera sampai jam pertama selesai. Marcel, kamu giring mereka berdua ke lapangan," titah Bu Mira dengan tegas.

Dengan sangat terpaksa seorang Kenzo digiring ke lapangan basket oleh Ketua Osis yang notabenya adalah sepupu sendiri. Bu Mira mengikuti dari belakang guna mengantisipasi jika Kenzo kembali kabur seperti biasa.

Setibanya di lapangan Kenzo dan Viona bergabung dengan beberapa siswa yang tentunya golongan terlambat.

"Wah! Lo bener-bener keterlaluan ya, Ken. Gue kirain beneran mau nolongin gue, eh taunya mau ngumpan gue aja," Dengan kesalnya Viona memukul punggung Kenzo yang berdiri di depannya.

Kenzo tak mengubris pukulan dan perkataan Viona. Dia lebih memilih terus melakukan penghormatan kepada sang saka merah putih.

"Lo kenapa diem si hah!"

Dug!

"Aww!"

Dengan kesal Viona menendang betis Kenzo.

"Sakit, Bego!" ucap Kenzo berbalik dengan menahan amarah.

Tak mau kalah Viona kembali menantang cowok iblis ini.

"Lo yang bego!" desis Viona

"Awas lo ya! Habis ini lo berurusan sama gue," ancam Kenzo.

"Gue nggak takut."

"Abis lo ntar sama gu—"

"Yang di belakang ada apa ribut-ribut?" tegur Bu Mira dari depan.

Bu Mira langsung menghampiri Kenzo dan Viona di tempat.

"Kenzo! Kamu lagi, kamu lagi. Selalu bikin rusuh. Sekarang apa lagi? Urusan pacaran? Selesaikan habis ini."

"Bu, nggak ada yang pacaran kok," sergah Viona.

"Tidak ada pembelaan. Sekarang kalian berdua ikut saya!" titah Bu Mira secara final tanpa mau diganggu gugat.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel