Bab 9
"Jadi kamu akan menuruti permintaan mama kamu untuk kembali tinggal di Indonesia?" tanya Daniel ditengah-tengah makan malam mereka.
Chuan Bao adalah restoran favorit Daniel untuk menyantap masakan Chinese. Tetapi bukan hanya karena ia memang menyukai masakan di tempat ini, Daniel ingin Claret mengetahui lebih banyak tentang tempat-tempat favorit yang sering dikunjungi olehnya di Indonesia.
Ia belum pernah bisa mengajak Claret berjalan-jalan keliling kota, bergandengan tangan, tertawa bersama, menyanyi didalam mobil ditengah kemacetan. Semenjak kepergian Claret untuk pemulihan penyakitnya sekitar empat tahun yang lalu, Claret tidak pernah menginjakan kakinya lagi di kota ini.
Semua kenangan yang Claret miliki tentang kota ini hanyalah kenangan buruk akibat perlakuan Daniel yang selalu menyakitinya, entah sadar ataupun tidak. Daniel ingin membangun kenangan indah untuk Claret di kota ini, membangun kenangan bersama.
"Kamu akan menetap di Indonesia?" Daniel mengulangi pertanyaannya.
Claret mengangguk. Dalam hatinya, ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa sudah saatnya dia kembali. Tidak ada gunanya lagi dia menyendiri dan memulai hidupnya yang baru jauh dari semua orang yang dulu dikenalnya bahkan ia juga menjauh dari keluarganya sendiri. Sudah saatnya dia menghadapi hidupnya.
Senyuman Daniel mengembang. Sekalipun dia terlibat sedang mencoba menutupi rasa gembiranya, tetapi wajahnya tak dapat menyembunyikannya.
"Apa kamu sebegitu senangnya dengan kepulangan aku?"
"Aku sudah menantikan momen kamu kembali kesini."
"Kenapa?"
Daniel kembali menampilkan senyuman lebarnya. "Karena aku ingin melihatmu setiap hari."
"Gombal," Claret tersipu.
Daniel seperti biasanya, selalu menikmati pemandangan wajah Claret yang pipinya memerah tersipu-sipu.
"Tinggal di apartemen aku ya?" Daniel tiba-tiba mencetuskan ide.
"Apartemen kamu yang mana?" Claret mulai menghitung di kepalanya berapa banyak apartemen yang Daniel miliki.
"Apartemen yang aku tinggali. Why would i want you to live in the empty apartment of mine? Sedangkan kamu sendiri punya lebih banyak apartemen dibandingkan aku."
Claret mengangguk. Ya, memang dia memiliki lebih banyak apartemen dibandingkan Daniel. Walaupun sebenarnya semua itu bukan benar-benar milik Claret, orang tuanya lah yang memiliki semua apartemen itu.
Tapi tunggu dulu.
"Kamu mau aku pindah tinggal bersama kamu?" Claret baru menyadari arti dibalik ide yang ditawarkan oleh Daniel.
Daniel mengangguk. "Kenapa? Apa itu ide yang buruk?"
"Daniel..."
"Kalau kamu tidak mau, it's okay. You can live in one of your apartment."
Daniel berkata cepat sebelum Claret sempat mengutarakan pendapat nya. Tetapi ekspresi Daniel seperti seolah-olah menunjukkan kesedihan bercampur marah.
"Apa kamu marah?"
"Tidak."
"Aku tidak bermaksud membuatmu tersinggung."
Sekarang Claret merasa bersalah karena seolah-olah dia menolak untuk bersama dengan Daniel.
"I know." Daniel menjawab cepat, kemudian dia memanggil pelayan dan meminta bill mereka.
"Let's go back. Aku akan mengantarmu pulang ke rumah Teddy Diargo."
Tanpa berbicara apapun lagi, Daniel menggiring Claret keluar dari restoran menuju mobilnya.
Daniel menyalakan mesin mobilnya dan mulai melakukan mobil itu tanpa bicara.
Saat tangannya sedang bertengger di persneling, Claret membelai lembut punggung tangan itu dengan jari-jarinya. Daniel melirik Claret sebentar kemudian kembali berfokus pada jalanan didepannya.
"Kamu tau seberapa inginnya aku untuk menghabiskan waktu lebih banyak dengan kamu?" Claret memulai pembicaraan memecah keheningan.
Daniel tidak menjawab.
"Aku merasakannya selama beberapa bulan ini kita berhubungan jarak jauh."
"..."
"Kamu tau sudah berapa lama kita terpisah New York - Jakarta?"
"..."
"Lima bulan empat belas hari. Aku menghitungnya."
Daniel membiarkan Claret menautkan jari-jarinya dengan jari-jari Claret.
"Aku merindukan kamu," ucap Claret. "Tapi tinggal bersama dalam satu apartemen bukanlah sebuah hal yang bisa aku lakukan begitu saja. Aku ingin melakukan segalanya dengan benar. Tinggal bersama itu untuk dua orang yang sudah memiliki hubungan yang sah sebagai suami istri. Aku ingin kita sama-sama bisa berkomitmen satu sama lain sebelum memutuskan untuk tinggal bersama."
Daniel menepikan mobilnya di sisi jalan, kemudian dia menatap Claret dengan senyuman tipis.
"Kenapa kamu selalu memiliki cara untuk membuatku luluh, Clar?"
Claret tersenyum membalasnya. Kemudian dia mencondongkan dirinya untuk mencium pipi kanan Daniel.
"Okay, we're doing it right."
Daniel mengelus pipi Claret dengan punggung jarinya. Kemudian jari-jarinya beralih ke bibir Claret. Ia mengelus pelan bibir Claret.
"Tapi bagaimana dengan ini?" tanya Daniel dengan suara pelan. Matanya menatap lurus kearah bibir Claret dimana jarinya masih bertengger.
Claret sedikit menggigit bibir dalamnya. Dia tidak tahu harus menjawab apa.
Tanpa menunggu jawaban dari Claret, Daniel langsung mencium wanita itu di bibirnya. Tangan kirinya berpegang pada sandaran kursi Claret, sementara tangan kanannya menahan kepala Claret agar tidak menjauh darinya.
Claret sendiri sedikit demi sedikit mulai membuka mulutnya, menikmati ciuman Daniel dan bahkan membalas ciumannya.
"Daniel, ini masih di jalan," Claret berkata di sela ciuman mereka.
"Ya, i know." Daniel tampak tidak peduli dan malah terus mencium kekasihnya itu.
***
