Bab 10
Daniel mengantarkan Claret ke rumah kediaman Diargo. Ia bahkan menemani Claret sampai di depan pintu rumahnya.
"Thanks for the ride," ucap Claret begitu mereka sampai di depan pintu rumahnya.
"Besok kamu akan menemani papa kamu di rumah sakit seharian?"
"Sepertinya begitu. Tapi aku akan mampir ke pet shop aku sebelum pergi ke rumah sakit."
Ah, benar juga. Daniel hampir lupa bahwa Claret masih memiliki bisnis petshop yang sangat dicintainya, selain musik tentunya.
"Do you want me to give you a ride?" Daniel menawarkan.
"Kamu bukannya akan sibuk besok?"
"Well aku bisa atur ulang jadwal aku." Daniel berbicara seolah-olah dia bisa mengatur segalanya.
"It's okay. Aku bisa pergi dengan salah satu supir. Lagi pula, aku tidak mau menyusahkan Diar."
Daniel tertawa kecil mendengar nama Diar disebut. "Dia pasti mengadu ke kamu tentang keburukan aku. Iya kan?"
"Aku sudah tahu keburukan-keburukan kamu sekalipun Diar tidak memberitahu aku, Niel."
"Come on, memang nya keburukan aku ada banyak banget?"
Claret berpura-pura berpikir sebentar sebelum mengatakan, "setidaknya sekarang sudah menunjukan perkembangan yang sangat baik."
Daniel mengacak pelan rambut di puncak kepala Claret sambil tersenyum lebar. "Jadi nilai aku sekarang berapa?"
"Em.... 80?"
"Kamu pelit nilai, ya, Clar? Aku sudah berkembang banyak kan?"
"Oke oke, 85. That's it. Berusaha untuk lebih baik lagi."
"Will you ever give me 100?"
Claret mengerikan bahunya. "I don't know."
Tanpa disangka-sangka Daniel menarik Claret kedalam pelukannya. Tangan kirinya menekan punggung Claret sementara tangan kanannya mengelus pipi kiri Claret.
"Apa yang harus aku lakukan supaya aku bisa mendapatkan 100?"
Claret masih selalu merinding setiap kali Daniel menyentuhnya. Ia juga tidak bisa berpikir dengan jernih saat berada dalam pelukan Daniel.
"Kamu .... jadi lebih baik."
"Lebih baik dalam hal?" Suaranya seperti sedang menggoda Claret.
Claret membuang muka nya, berusaha tidak menatap Daniel yang wajahnya sudah sangat dekat dengan wajah Claret. "Daniel.... Kenapa kamu sangat suka teasing aku?"
Daniel melepaskan Claret dari pelukannya. "Just because i like it. I like to see you getting blushing tersipu malu hanya karena hal-hal kecil yang aku perbuat."
Claret mendengus. "dasar jahat." Daniel kemudian malah tertawa karena dibilang 'jahat'.
"Ya udah, aku masuk dulu. Aku masih butuh banyak tidur karena penerbangan NewYork-Jakarta yang menyita tenaga."
"Aku juga baru saja tiba dari New York."
"Kamu bukannya sudah terbiasa dengan jadwal kamu yang padat dan pergi ke berbagai negara? Aku kan tidak."
"Baiklah, baiklah, nona." Daniel mencium pelan pipi Claret, kanan dan kiri. "Aku pulang ya."
Claret mengangguk. Lalu melambaikan tangannya tanda perpisahan.
***
Daniel menjalankan mobilnya menuju kembali ke apartemen yang ditinggalinya.
Didalam keheningan mobilnya, Daniel memutar kembali perkataan Claret kepadanya tadi.
"... Aku ingin melakukan segalanya dengan benar. Tinggal bersama itu untuk dua orang yang sudah memiliki hubungan yang sah sebagai suami istri. Aku ingin kita sama-sama bisa berkomitmen satu sama lain sebelum memutuskan untuk tinggal bersama."
Hubungan yang sah?
Komitmen?
Apa yang sebenarnya ada dalam pemikiran Claret?
Lalu, Daniel teringat akan cincin dalam kotak kecil yang tersimpan di saku dalam jasnya. Jas itu sekarang tergantung di kursi bagian belakang mobilnya.
Cincin itu... Daniel berencana akan melamar Claret di New York beberapa belas jam yang lalu kalau tidak karena calon ayah mertuanya yang tiba-tiba sakit.
Daniel berkali-kali memikirkan hal ini sepanjang jam-jam yang dilaluinya bersama Claret tadi. Ia ingin memulai sebuah komitmen dalam suatu hubungan yang sah dengan Claret.
Ide untuk menikah sebenarnya sangat membingungkan diri Daniel sendiri. Pertama, tidak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa ia akan menikah dengan seseorang yang dicintainya. Ia dahulu berpikir, pernikahan nya akan hanya tentang bisnis. Sementara ia akan tetap bersenang-senang dengan wanita lainnya setelah menikah. Tapi sekarang, justru ia ingin menghabiskan waktunya, the rest of his life, hanya bersama dengan wanita ini, Claret.
Kedua, Daniel tidak tahu bagaimana caranya akan melamar Claret. Apakah harus secara romantis dengan menyewa restoran untuk makan malam? Secara besar-besaran seperti membuat kejutan bersama dengan teman-teman dan keluarganya?
Daniel tidak tahu. Rasanya kepalanya mau meledak hanya dengan memikirkan mengenai ide untuk menikah dengan Claret.
Lampu merah membuatnya menghentikan mobilnya. Tersisa 30 detik sebelum lampu merah itu berubah warna. Daniel menutup matanya untuk beberapa detik sambil menundukkan kepalanya ke stir mobil.
Selang beberapa detik, suara klakson dari mobil di belakang nya mengagetkannya. Ia tersentak dan tiba-tiba saja ada perasaan memuncak dalam dirinya untuk segera mengutarakan kegelisahan nya kepada Claret.
Entah apa yang akan Claret katakan, Daniel tidak peduli. Ia akan melamar Claret saat ini juga. Bila Claret ingin cara melamar yang berbeda, akan ia tanyakan kepada Claret tentang cara melamar seperti apa yang ia inginkan. Daniel sudah siap, dan sepertinya Claret juga sudah siap. Siap untuk melangkah ke tahap lebih serius, ke dalam suatu komitmen hubungan yang sah.
Daniel segera memutar mobilnya ketika ia menemukan persimpangan, menuju ke arah kediaman Diargo.
"Hey, Clar." Daniel menghubungi Claret lewat handphone yang sudah tersambung dengan mobilnya. Speaker dia nyalakan agar ia tetap dapat menyetir dengan konsentrasi.
"Hey. Ada apa?" Suara Claret terdengar.
"Sudah mau tidur?"
"Sebentar lagi."
"Aku akan kesana sekarang."
"Kesana kemana?" Claret terdengar bingung di ujung sana.
"Ke rumah kamu."
"Untuk apa?'
"It's important. Pokoknya kamu tunggu aku kesana. Tunggu di depan pintu, supaya aku nanti bisa langsung menemui kamu."
"What is this about? Aku penasaran."
"Just wait, okay?"
Daniel tersenyum-senyum sendiri membayangkan bagaimana reaksi Claret nanti.
Tetapi tiba-tiba saja seorang anak melintas di depan mobilnya dan hampir tertabrak olehnya, beserta dengan itu ada teriakan keras. Daniel kemudian keluar dari mobilnya demi melihat kondisi anak perempuan yang sedang berjongkok di depan mobilnya. Anak itu tidak sempat tertabrak oleh Daniel, tapi ia terlihat kaget karena hampir mati tertabrak mobil.
Seseorang menghampiri mereka dan langsung memeluk anak perempuan itu. Daniel dibuatnya mengerjap-ngerjapkan matanya karena ternyata anak perempuan itu adalah Keyna dan orang yang sekarang sedang memeluknya adalah Deandra.
"Andra?"
Deandra menoleh dan bertatapan dengan Daniel.
"Oh hai," ucap Deandra dengan cepat. "Maafkan kami karena Keyna tadi menyeberang sembarangan."
"It's okay. Kids memang seperti itu." Daniel mengelus puncak kepala Keyna.
Tetapi kemudian ia terkejut karena melihat darah keluar dari hidung Keyna.
Deandra dengan sigap memberikan sapu tangan kepada Keyna untuk menyumbat darah keluar dari hidungnya.
"Keyna kenapa, ndra?"
"Boleh aku minta tolong kamu bawa kami ke rumah sakit?" Deandra meminta tanpa menjawab pertanyaan Daniel.
Daniel mengangguk lalu menggendong Keyna masuk ke mobilnya.
***
