Bab 8
Jakarta
Claret mengantarkan dokter yang baru saja memeriksa ayahnya sampai di depan pintu kamar VVIP rumah sakit Sukma Deik. Lalu ia kembali ke sisi ayahnya yang terbaring di ranjang. Ibunya duduk di sisi yang lain dari ranjang itu.
"Maaf, papa merepotkan mu sampai harus pulang ke Indonesia," Teddy Diargo berkata dengan suara pelan.
"Pa... Jangan bilang seperti itu. Anak mana yang tidak akan datang kalau mendengar ayahnya terkena serangan jantung."
"Papa tidak apa-apa. Mama saja yang berlebihan langsung panik dan menelpon kamu."
"Gimana mama gak panik? Papa tiba-tiba pingsan begitu, lalu pihak rumah sakit mengatakan papa terkena serangan jantung." Yuke Diargo membela diri.
Sewaktu ia menemukan suaminya pingsan di ruang kerjanya di rumah mereka, ia langsung panik dan membawa suaminya ke rumah sakit ini. Teddy Diargo jarang sakit, jadi ketika tiba-tiba saja ia pingsan, Yukr Diargo langsung panik seketika.
"Masih ringan, ma. Serangan jantung ringan," Teddy juga membela dirinya.
"Tetap saja, pa. Papa harus menjaga kesehatan papa. Jangan terlalu capek. Om Roy kan sudah membantu di perusahaan, mama juga. Papa harus belajar membagi-bagi tugas. Jangan semuanya papa yang kerjakan."
"Dengarkan anak kesayangan kita ini." Yuke Diargo melirik suaminya. "Papa kamu ini, cuma mau mendengarkan kamu, Clar."
Claret tertawa kecil melihat sikap ibu dan ayahnya.
"Tapi Clar, apa kamu tidak terpikir untuk kembali kesini? Ayolah, bantu mama menjaga papamu yang keras kepala ini."
Claret hanya tersenyum kecil menanggapi permintaan ibunya.
Ia tahu ayah dan ibunya sangat mengharapkannya kembali ke Indonesia. Claret bahkan lupa sudah berapa lama ia meninggalkan Indonesia, empat tahun? Mungkin lebih. Entahlah, Claret tidak menghitungnya. Ia juga tidak menyadari sudah selama itu ia pergi.
Claret menghela nafasnya. Ia tahu tidak selamanya ia bisa melarikan diri terus menerus dari masa lalunya, dari keluarganya, dari Daniel.
Ah, Daniel. Claret baru ingat dia belum sempat menghubungi Daniel.
Claret segera meminta izin untuk keluar dari ruang rawat ayahnya sambil menyalakan handphone yang baru saja selesai dia charge.
Ada 20 missed calls dan beberapa chat yang semuanya dari Daniel. Pria itu pasti marah padanya. Daniel selalu marah-marah bila Claret sulit dihubungi.
Claret segera menekan dial menelpon Daniel. Tapi belum juga terhubung, Claret sudah mematikannya karena matanya melihat pria itu sekitar delapan meter didepannya.
Tetapi Daniel tidak sendiri. Ia sedang berbincang dengan seorang wanita yang masih sangat familiar bagi Claret sekalipun ia sudah cukup lama tidak bertemu dengan wanita itu. Deandra.
Entah kenapa Claret merasa tidak ingin mengganggu mereka. Ia tidak tahu apakah Daniel masih berhubungan dengan Deandra atau tidak semenjak Deandra memutuskan untuk hengkang dari antara mereka.
Claret memutuskan untuk kembali ke ruang rawat ayahnya dan hanya meninggalkan pesan lewat chat aplikasi kepada Daniel.
Aku ada di rumah sakit kamu. Papa sakit.
Saat ia bergegas kembali ke ruangan ayahnya, tiba-tiba saja seorang anak perempuan menabraknya.
"I'm sorry, mam," ucap anak itu dengan manisnya.
Claret tersenyum menanggapinya. Ia memperhatikan anak itu. Cantik dan manis.
"Kenapa kamu lari-lari?" tanya Claret sambil merunduk untuk menyamakan tinggi mereka.
"Aku mau ke mama," jawabnya sambil menunjuk ke orang yang dia sebut sebagai mama.
Claret memperhatikan arah yang anak perempuan itu tunjukan.
"Deandra?" Tanpa sadar Claret mengucapkan namanya pelan.
"Do you know my mom?" Sepertinya anak kecil itu mendengar Claret menyebutkan nama mamanya.
Claret dibuatnya terkejut. Deandra memiliki anak? Apakah dia sudah menikah?
"Where is your dad?" Claret bertanya tanpa terlebih dahulu menjawab pertanyaan anak itu.
Entah kenapa anak itu terlihat bingung untuk menjawab pertanyaan Claret.
"Um, i think i should just go to my mom. Nice to see you."
Anak itu pergi begitu saja, setengah berlari menuju ke arah Deandra dan Daniel yang masih sedang berbincang.
Ditengah kebingungannya, Claret segera melangkahkan kaki menuju ruang rawat ayahnya. Ia tidak ingin Daniel dan Deandra melihatnya.
Kenapa seolah dia merasakan sesuatu yang janggal?
***
Daniel mengucapkan salam sebelum meninggalkan ruangan tempat Teddy Diargo dirawat, setelah selama sepuluh menit mereka berbincang. Daniel meyakinkan Teddy bahwa rumah sakit ini akan memberikan pelayanan terbaik untuknya. Ia juga menasehati Teddy untuk check up secara rutin setiap bulan setelah dia keluar dari rumah sakit.
Teddy tidak lagi bersikap dingin pada Daniel, seperti yang empat tahun lalu ia lakukan. Agaknya Daniel sudah bisa membuktikan keseriusan nya dengan Claret dan Teddy sudah mempercayainya.
Claret mengantarkan Daniel keluar dari ruangan itu dan mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit.
"Maaf aku tidak mengabari kamu bahwa aku pulang. Aku panik dan langsung pulang." Claret memulai pembicaraan.
Daniel menatapnya kemudian tersenyum kecil. "It's okay. Aku bisa mengerti."
Claret sebenarnya ingin bertanya tentang Deandra. Ia ingin tahu apa yang mereka berdua bicarakan dan siapa anak yang memanggil Deandra dengan sebutan 'mama'. Tapi ia tidak tahu harus bertanya bagaimana.
"I met Nathan." Daniel memecah keheningan.
"Kamu ke New York?"
"Ya. Well, aku kebetulan ada urusan disana." Daniel memberi alasan. "Tadinya sekalian mampir menemui kamu, tapi Nathan memberi tahu bahwa kamu pulang ke Indonesia."
"Ya ampun, I'm so sorry. I should have called you."
"It's fine, Clar." Daniel mengamit tangan Claret dan menyatukan jari-jari tangan mereka berdua. "Yang penting kita sudah bertemu."
Claret memberikan senyuman manisnya sambil menatap Daniel. Tetapi sungguh, ada perasaan mengganjal dalam hatinya. Apakah Deandra....
"Aku bertemu dengan Deandra tadi."
Akhirnya Daniel menceritakannya tanpa Claret bertanya terlebih dahulu.
"Dimana?"
"Here. Dia sedang menjenguk temannya."
Claret mengangguk kecil. "Bagaimana kabarnya?"
Daniel berjalan pelan sambil terus menggandeng Claret. "Dia terlihat baik."
Apa kamu sering bertemu dengan dia? Claret tak berani menanyakan hal ini.
"Aku sudah tidak pernah bertemu dengannya sejak dua tahun yang lalu, kalau tidak salah. Atau tiga tahun? Entahlah. Rasanya seperti bertemu teman yang sudah sangat lama menghilang." Daniel seolah bisa membaca isi pikiran Claret. "Dia sedang sibuk membuat agensi model sendiri, katanya."
"Did you two have a good talk?"
"Nah, not much. Dia terburu-buru pergi bersama dengan keponakan nya."
Claret menghentikan langkahnya karena terkejut. "keponakan?"
Daniel mengangguk. "Ya. Namanya Keyna. Aku pernah bertemu dengan anak itu satu kali dan tidak menyangka dia adalah keponakan Andra."
Tapi anak itu tadi menyebut Deandra 'mom'?
"Aku meminta nomor handphone-nya. Just so you know. Jangan cemburu. Aku hanya ingin update dengan teman lama. Tidak ada terpikir untuk macam-macam."
Claret membalasnya dengan senyum. "It's okay. Aku bisa mengerti."
"Good. Ayo makan. Aku sangat lapar."
***
