Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 7

Diar baru saja menyelesaikan pembicaraannya di telepon dengan direktur hotel Deik yang merupakan anak perusahaan Deik Coorporation, saat Daniel sibuk memperhatikan kotak beludru berwarna merah di genggamannya.

"Pak, semua rapat hari ini dan besok akan diundur ke minggu depan. Saya baru saja selesai mengurus reschedule-nya. Tapi akibatnya minggu depan anda akan sangat sibuk. Ini jadwal terbaru yang sudah saya buat."

Diar menunjukan layar iPad nya kepada Daniel yang sedang duduk menunggu pesawat pribadinya dipersiapkan. Daniel hanya melihat sekilas jadwalnya yang penuh dengan tulisan dengan shade warna warni sebagai penanda tingkat urgensi jadwal itu.

"Thank you. Kirim saja ke email seperti biasa," balas Daniel dengan senyum yang tak henti-hentinya bertengger di wajahnya.

Diar memutar bola matanya. Bos memang bebas melakukan apa saja. Termasuk pergi ke New York untuk menemui pacarnya dan membuat Diar harus mengatur ulang jadwal bosnya itu.

Tapi bagi Diar, Daniel adalah bos yang baik. Dia bisa saja meninggalkan semua urusan bisnis di Jakarta dan menetap di New York bersama dengan pacar tercintanya seperti yang dia lakukan waktu lalu, tetapi ia tetap kembali ke Jakarta dan mengurus hal-hal berantakan yang perlu diaturnya.

Dan sekarang, sudah sewajarnya ia menetapkan keputusan untuk melamar kekasihnya dan membawanya ke Jakarta.

"Apakah anda sudah memikirkan bagaimana anda akan melamar Bu Claret?" tanya Diar, membuat Daniel berhenti menatap kotak berisi cincin yang sudah ia siapkan untuk Claret, dan mengalihkan tatapannya ke arah Diar.

Daniel bukanlah orang yang romantis. Ia tidak pernah terpikir melakukan hal-hal manis ataupun membuat kejutan-kejutan untuk Claret.

"How do you think i should propose?"

tanya Daniel, meminta pendapat Diar.

"Apa aku perlu menyewa penari-penari? Atau orchestra? Atau menyewa restoran?"

"Well, tidak perlu repot-repot pakai parade atau flashmob segala sih pak. Menyewa restoran? Itu bukan ide yang buruk. Tapi mungkin Bu Claret akan lebih menyukai hal yang sederhana tapi berkesan."

"Sederhana tapi berkesan?"

Diar mengangguk. Tetapi kemudian dia memberikan gelengan kepala saat Daniel menatapnya seolah bertanya: yang seperti apa?

"Anda yang seharusnya lebih tahu, pak. Bukan saya yang menjadi kekasihnya."

Daniel berdecak. Tak berapa lama kemudian, dia menaiki jet pribadinya.

***

Selama ini, sudah 2 tahun ini, Daniel berpikir mengenai melamar Claret. Tetapi permintaan Claret untuk 'take things slowly' membuatnya berhati-hati. Daniel mengerti Claret perlu waktu untuk memulihkan dirinya, terlebih mengendalikan dirinya untuk menghadapi Daniel. Daniel tidak ingin mengulang kembali masa-masa dimana ia menyakiti Claret ataupun masa-masa dimana Claret menyakiti dirinya sendiri.

Kali ini, Daniel ingin mencobanya. Ia akan melamar Claret begitu ia sampai di New York. Lalu, mengajaknya untuk kembali ke Indonesia dan tinggal bersama Daniel.

Daniel tidak yakin apakah Claret akan langsung menyetujuinya. Bukannya Daniel meragukan cinta Claret padanya, hanya saja ia tidak begitu yakin bahwa Claret sudah siap menuju ke arah yang lebih serius dengan Daniel, juga apakah Claret sudah siap pulang ke Indonesia dan meninggalkan New York.

Begitu sampai di bandara internasional John F. Kennedy di Queens, Daniel disambut oleh Mr.Wallo, asistennya di New York.

"You didn't give me notification that you would come," Mr.Wallo bertanya saat ia memanuver mobilnya keluar dari area bandara.

"It's so sudden, Wallo," Daniel menjawab sekenanya. "To Harstone, please. Claret must still be at work."

Sesampainya di Harstone, Daniel dikejutkan dengan jawaban resepsionis Harstone, studio tempat Claret bekerja, saat ia bertanya tentang keberadaan Claret.

"She went to her home in Indonesia. Didn't she tell you?"

Claret pulang ke Indonesia? Kenapa dia tidak memberitahu Daniel?

Daniel segera menelpon Claret, tetapi nomor nya tidak dapat dihubungi.

"Hey, Daniel." Seseorang menyapa Daniel. "Daniel, right?"

Daniel menoleh ke arah suara itu. Nathan. Daniel mengenali pria itu, satu-satunya teman dekat pria yang dimiliki oleh Claret, yang sempat membuat Daniel merasa kesal karena hubungannya yang terlalu dekat dengan Claret.

"Hey," Daniel berusaha bersikap ramah.

"What're you doing in here? Aren't you supposed to welcome Claret in Indonesia?"

Bahkan Nathan mengetahui tentang kepulangan Claret ke Indonesia, tetapi Claret tidak memberitahu Daniel?

"Well, she didn't tell me."

Nathan mengerutkan keningnya untuk sesaat, kemudian dia tersenyum tipis. "She's probably in panic so she forgot to tell you."

"What happened?"

"Her dad is hospitalized. Im not sure, but i think it's heart attack, she was with me this morning and ... "

Tanpa mendengar penjelasan Nathan lebih lanjut, Daniel segera meninggalkan tempat itu.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel