Bab 6
Claret memutuskan untuk berjalan kaki saja menuju cafe penjual signature Chocolate drink favoritnya. Setelah tadi Daniel meneleponnya dan menanyakan pertanyaan absurd, Claret tiba-tiba mengalami pusing dan tidak enak badan. Dia butuh cokelat panas.
"Kalau aku melamar kamu langsung di depan mata kamu, apakah jawabannya akan iya?"
Kenapa Daniel mengacaukan harinya dengan bertanya seperti itu?
Demi Tuhan, Claret sangat ingin mengatakan 'ya' saat itu juga, tapi yang ia katakan justru jawaban mengambang.
Ada apa dengan dirinya? Claret merenungkan dirinya sendiri.
Cafe itu cukup ramai di pagi hari begini dengan lusinan orang mengantri untuk take away kopi atau sekedar minuman hangat di pagi hari. Para barista di cafe ini memang sepertinya sudah dilatih membuat racikan kopi yang unik dan enak. Claret memang bukan pecinta kopi, Nathan yang sehari bisa menghabiskan tiga cup kopi, Nathan juga yang memberitahu Claret tentang kafe kopi ini.
Tapi tetap saja Claret tidak akan mencoba kopi dan membuat perutnya melilit, dadanya sesak, dan jantungnya berdegup cepat. Claret selalu memilih signature Chocolate-nya kafe ini, yang panas. Setiap pagi semenjak ia diajak kesini oleh Nathan.
Ia melirik jam tangannya ketika langkahnya belum juga maju karena antrian ke-enam didepannya yang saat ini sedang berbicara dengan kasir mengambil waktu terlalu lama untuk memilih minuman.
"So, your choice, mam?" Terdengar suara kasir itu sedikit tergesa. Tentu saja dia menyadari bahwa jika antrian tidak juga maju dalam dua menit kedepan, maka sepuluh orang dalam antrian didepannya akan mengamuk.
"Uh... Em...." Si wanita paruh baya dengan atasan blouse kuning dan rok hitam masih terlihat bingung.
"How about hazelnut moccha with creamy whipcream and sprinkled nuts?" Pilihan minuman kelima yang ditawarkan oleh sang kasir.
Seketika muka si wanita berubah cerah, "okay, i'll take that."
Sang kasir dan orang-orang yang mengantre didepan Claret menghembuskan nafas lega dengan suara cukup keras.
Masih ada empat orang lagi di depan Claret. Dia tidak sedang terburu-buru pergi ke suatu tempat atau melakukan sesuatu. Akan tetapi tetap saja dia tidak terlalu suka menunggu. Rekor menunggunya memang sampai hampir lima jam, tapi itu ia lakukan karena menunggu Daniel.
Huft, balik lagi ke Daniel.
Kenapa dia selalu menempati pikiran Claret setiap saat bahkan ketika dia ada beribu kilometer dari sini?
"Claret!" Seseorang memanggil dan ia langsung mengedarkan pandangannya ke arah suara itu.
Di pojok kafe, tepat di sebelah kaca besar yang menghadap ke jalan, Claret melihat sumber suara itu. Claret pun tersenyum ke arahnya.
Nathan melambaikan tangannya dan memberikan isyarat menyuruh Claret duduk didepannya nanti. Claret mengangguk seiring dengan langkahnya yang maju yang menjadikannya giliran memesan.
"Signature Chocolate, hot?" Tanya sang kasir sudah mengetahui apa yang akan dipesan Claret.
Claret mengangguk sambil tersenyum. Lalu setelah membayarnya, Claret berjalan kearah Nathan sementara menunggu pesanannya dibuat.
"You're here," Claret mencondongkan tubuhnya kearah Nathan dan Nathan mengecup sekilas pipi kanan Claret.
"Bukannya kamu ada latihan di Highsteps pagi ini?"
Highsteps, tempat semacam sanggar seni dimana Claret dan Nathan bekerja.
"Postponed. They cancel the meeting in Saturday morning. I always know that would happen."
"Saturday is a lazy day."
"And you look lazy," Nathan tersenyum jahil meledek Claret.
"Claret?!" Salah satu barista favorit Claret meneriakkan namanya.
Claret bergegas mengambil pesanannya dan mengucapkan terima kasih diiringi senyuman hangat sehangat cokelat pesanannya.
Lalu ia kembali ke tempat duduknya di depan Nathan.
Nathan sedang mengetik sesuatu yang entah apa di macbooknya. Alisnya berkerut sebentar, lalu mulutnya tersenyum setelahnya. Sementara Claret hanya memperhatikan gerak-geriknya selama lima menit.
"Nat, kamu pernah melamar seseorang?" Claret akhirnya tak tahan untuk tidak bercerita kepada Nathan mengenai pembicaraannya dengan Daniel pagi ini.
"Melamar? Like applying for a job?"
"No, melamar like proposing someone to marry you."
Susah juga ngomong sama keturunan Indonesia yang hanya mengerti Bahasa Indonesia 20 persen.
"Did Daniel propose?" Nathan bersuara dengan volume agak kencang.
"Don't be over reacting," tegur Claret. Ingin rasanya dia membungkam mulut Nathan dengan serbet lantai.
"Jadi Daniel melamar kamu?" Nathan mengecilkan volume suaranya.
"Tidak pasti juga."
Nathan mengerutkan keningnya. "What are you trying to say?"
"Daniel hanya bilang 'kalau aku melamar kamu didepan kamu langsung, gimana?' hanya itu."
"Itu sudah tanda, my lovely Claret. Dia mau menikah dengan kamu. Lalu, apa yang kamu khawatirkan?"
Claret menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Khawatir? Aku tidak khawatir."
"Tapi kamu terlihat khawatir."
"No!" Claret menyangkal dengan cepat. Terlalu cepat.
Nathan menggeleng sekali. "Kamu pikir aku akan percaya? Sudahlah. Spill it."
Claret terlihat tidak berminat menjawab. Dia malah menyeruput cokelat hangatnya sambil mengarahkan pandangannya keluar cafe lewat jendela besar disebelahnya.
"Is it because of me?"
Claret sontak menatapnya dengan mata disipitkan. "You?"
"Karena aku pernah jujur tentang perasaanku padamu?" Nathan menjelaskan. "Ayolah, Clar. Aku hanya bermaksud mengatakannya.
Tidak ada niat lebih. You can go ahead with your prince charming Daniel."
Penjelasan Nathan membuat Claret hampir tertawa. Nathan memang menyatakan perasaan sukanya pada Claret beberapa hari yang lalu. Katanya, Claret membuatnya nyaman. Tapi hanya sampai disitu. Nathan tidak berniat untuk memiliki Claret dengan merebutnya dari Daniel. Nathan tahu, katanya, kemungkinan dia menggantikan posisi Daniel di hati Claret sangat sangat kecil. Dia juga tidak berniat melakukannya. Dan Claret sangat menghargai kejujuran Nathan.
"Maaf kalau aku mengecewakan kamu, tapi bukan itu yang membuatku khawatir."
"Nah, you just spilled it out. Kamu memang khawatir." Nathan berdecak. "Kalau bukan tentang aku, lalu tentang apa?"
Claret hanya mengedikan bahu tanpa menjawab.
"Kamu belum bisa percaya Daniel? Karena apa yang dia lakukan ke kamu di masa lalu?"
Claret kembali menyipitkan matanya dengan sengaja. "Aku sudah menganggap lewat masa lalu yang kelam itu."
"Lalu apa?"
Claret menggelengkan kepalanya. "Ada sesuatu."
Jawaban Claret sepertinya semakin membuat Nathan penasaran.
"Aku benar-benar ingin mengatakan 'iya' kepadanya. Sungguh." Claret seperti bergumam pada dirinya sendiri, tapi Nathan dapat mendengarnya.
"Kalau dia melamar kamu lagi, jawaban apa yang akan kamu berikan?"
Claret tidak menjawab.
"Aku bisa membayangkan, Daniel mungkin menyewa satu cafe ini beserta orang-orangnya untuk flashmob lalu dia tiba-tiba datang dengan buket bunga besar ditangannya dan sebuah cincin. Lalu dia akan berlutut dan ...... "
"Nathan, cukup." Claret menghentikan ocehan Nathan sebelum dia melantur.
"Bisa saja kan?"
"Itu kan ide lamaran kamu. Daniel tidak mungkin melakukan hal seperti itu."
Nathan cengengesan melihat reaksi Claret yang walaupun mengatakan tidak percaya pada skenario lamaran seperti itu tapi akhirnya mengedarkan pandangannya ke semua arah didalam toko itu. Takut-takut Daniel benar-benar melakukan lamaran disini dan Nathan membantunya.
"Tidak. Tidak. Aku hanya bercanda." Nathan masih tertawa-tawa.
Claret tidak menggubris ocehan Nathan lagi karena sekarang ia terfokus pada sebuah keluarga kecil terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anak perempuan yang mungkin usianya masih empat tahun. Mereka sedang duduk di meja terdekat dengan kasir, hanya berjarak tiga meja dari Claret.
Mereka tampak bahagia. Claret memperhatikan bagaimana ibunya membelai puncak kepala anaknya lalu membujuknya untuk mau makan sendiri. Claret tersenyum melihatnya
"Eh, handphone kamu itu bergetar-getar. Ada telepon." Nathan membuat Claret beralih pandangan dan mengecek handphone nya yang memang diletakan diatas meja.
Ketika melihat caller id yang tertera di layar handphone, Claret segera mengangkatnya.
"Halo, mama. Ada apa?" Claret menyapanya begitu menjawab teleponnya.
Lima detik kemudian, Claret terperanjat kaget. Kecemasan terpampang diwajahnya.
"Ada apa?" tanya Nathan yang melihat perubahan raut wajah Claret.
"Nat, aku harus ke Jakarta sekarang juga."
***
