Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5

Makan malam bukan hanya sekadar menyantap makanan. Bagi Daniel, beberapa keputusan penting terkadang diambil pada saat makan malam. Seperti saat ini, dia sedang makan bersama dengan Dokter Robby dan beberapa dewan direksi rumah sakit Sukma Deik. Sukma Deik adalah rumah sakit yang beroperasi dibawah naungan Deik Group, perusahaan keluarga Deksa. Selama ini yang mengurus rumah sakit ini adalah Hartara Deksa, kakak Brata Deksa. Akan tetapi karena kondisi kesehatan Hartara semakin menurun dan anak Hartara masih menuntaskan studi S2 nya di Jerman, terpaksa Daniel mengurus terlebih dahulu beberapa persoalan rumah sakit.

"Pak, saya sudah harus pulang lima menit lagi," bisik Diar yang duduk tepat di sebelah Daniel.

"Baiklah, mari kita pulang," Daniel balik berbisik.

"Pak, saya saja yang pulang. Tidak perlu ...."

Daniel tidak menggubris Diar lagi karena ia langsung memberitahukan kepada para dewan direksi untuk mengerjakan apa yang sudah disepakati dan mengirimkan proposal anggaran dana tahun depan ke kantor Daniel.

Daniel dan Diar sudah akan pamit undur diri saat Dokter Robby menahannya dengan sebuah pertanyaan, "kami sudah menemukan kardiolog anak dari Washington yang adik anda cari. Saya sudah berusaha menghubungi Volvo seharian ini tetapi sepertinya dia sedang sangat sibuk. Jadi, bisa anda sampaikan pesan ini kepadanya?"

"kardiolog?" Daniel mengerutkan dahinya. "kenapa Volvo mencari kardiolog anak? Apakah untuk ayah saya? Tapi kenapa kardiolog anak?"

Dokter Robby menggeleng. "Untuk Keyna."

Melihat gelagat Daniel yang sepertinya tidak mengingat siapa itu Keyna, Dokter Robby lantas menjelaskan, "anak perempuan yang tadi anda temui di ruang vip rumah sakit, pak."

"Ah....anak itu."

Anak yang seenaknya berbicara kurang sopan padanya. Begitu yang ada di ingatan Daniel.

"Apakah Keyna mempunyai hubungan dengan Volvo?" Daniel kembali bertanya.

Dokter Robby berpikir sejenak sebelum menjawab, "saya tidak tahu pasti, pak. Kalau tidak salah, Keyna adalah anak dari teman Pak Volvo."

"Teman?"

"Apakah beliau tidak memberitahu anda apapun tentang hal ini?"

Daniel menggeleng.

Ada rasa penasaran dalam diri Daniel yang membuatnya ingin bertanya lebih detail mengenai anak perempuan itu. Akan tetapi Diar menatapnya dengan tatapan yang seolah berkata 'saya pulang duluan sendirian saja' yang mana ide itu jelas-jelas sangat tidak disukai Daniel. Diar datang bersama dengan Daniel ke tempat ini tadi dna meninggalkan mobil pribadinya di parkiran kantor. Lalu dengan apa Diar pikir dia akan pulang? Taksi?

"Baiklah, Dokter Robby. Akan saya sampaikan pesan anda kepada adik saya. Kalau begitu, saya permisi."

"Oh, baiklah, pak Daniel. Terima kasih untuk bantuannya. Saya tahu betapa sibuknya bapak mengurusi semua anak perusahaan Deik grup sendirian."

Daniel menampilkan senyuman secukupnya.

Ya, terkadang menjadi anak dari seorang pengusaha bukanlah suatu hal yang menyenangkan, sekalipun kau akan mendapatkan kenyamanan hidup karena keluargamu kaya.

***

"Kamu akan mengambil mobilmu di kantor atau mau langsung ku antarkan pulang?" Daniel bertanya kepada Diar begitu mereka masuk ke dalam mobil dan supir pribadi Daniel, Yamaki, memanuver mobil itu.

"Langsung ke rumah saja kalau tidak merepotkan. Haru akan jengkel jika saya terlambat pulang ke rumah malam ini."

Haru, anak Diar satu-satunya, baru menginjak umur enam tahun bulan lalu. Daniel benar-benar tidak habis pikir bagaimana Diar bisa membagi dirinya untuk tetap bekerja menjadi sekretarisnya dan melakukan tanggung jawabnya sebagai single parent.

"Ada apa lagi hari ini?"

"Anda pasti sudah tahu bahwa Haru tidak menyukai saya lembur karena ia sangat merindukan mamanya dan hari ini saya sudah berjanji tidak akan pulang lebih telat dari jam delapan."

Daniel mengangguk-angguk.

Apa jadinya kalau ia menjadi seorang ayah di waktu-waktu sibuknya perusahaan? Daniel jadi berpikir sendiri.

"Apakah sulit menjadi orang tua, Diar?"

Diar menatap Daniel dengan kening berkerut. "Ada angin apa anda menanyakan hal itu, pak?"

Daniel mengedikan bahu. "I just .... well, saya tiba-tiba terpikir bagaimana nanti kalau saya sudah memilki anak seperti kamu memiliki Haru."

"Apakah jika jawaban saya adalah 'ya sulit sekali menjadi orang tua', maka anda tidak akan mau memiliki anak?"

Daniel tertawa kecil. Diar selalu saja menjawab dengan menjengkelkan tetapi sangat tepat sasaran. "Tidak juga. I've been thinking of having a baby with Claret right after we're married. Tapi dengan kesibukan saya dan juga Claret .... Well, saya hanya tidak ingin anak kami nantinya tidak mendapatkan perhatian kami."

"Anda terdengar sangat yakin bahwa anda akan menjalin bahtera rumah tangga dengan bu Claret."

"Apakah kami terlihat tidak serius menjalani hubungan kami?"

Diar menggeleng sambil tersenyum. "Tidak, pak. Dengan segala hormat, saya sudah melihat keseriusan anda. Akan tetapi, saya belum juga mendapatkan kabar bahwa kalian akan melangkah lebih jauh."

Daniel menatap Diar lekat untuk beberapa saat. "Saya rasa memang saya harus melamar Claret sesegera mungkin. Don't you think so?"

"Bisa saja. Siapa tahu semakin lama anda menunda, semakin dekat Bu Claret dengan pria bernama Nathan itu."

Ingin rasanya Daniel mencekik Diar saat itu juga. "Don't you have something nicer to say?"

Diar sontak tertawa melihat reaksi Daniel.

***

"Claret, kalau kita punya anak nanti, kamu akan berhenti bekerja dan fokus pada mengurus anak kita?" Daniel langsung bertanya to the point begitu Claret mengangkat teleponnya malam itu, atau bisa dibilang pagi untuk Claret.

"Seriously, Daniel? Kamu menanyakan hal itu di awal percakapan di pagi hari? You didn't even say good morning to me."

"Baiklah, baiklah. Good morning, my sweetheart. Kamu sudah berangkat?"

"Kamu tidak mau mengucapkan kata 'maaf'?"

Daniel terdiam. Lalu, "I just feel insecured, you know?"

"I love you" Claret mengucapkannya tiba-tiba. "Kalau kamu pernah meragukan aku atau sedang meragukan aku, aku perjelas sekali lagi: i love you."

Claret tahu Daniel sedang tersenyum sumringah di ujung sana.

"I love you too. Really really love you."

Claret tersenyum lebar sebelum ia mengunyah satu gigitan sandwich yang sudah dipegangnya.

"Okay, jadi, apakah kamu akan berhenti bekerja dan fokus pada anak kita kalau kita punya anak nanti?"

Claret hampir tersedak mendengar pertanyaan Daniel yang diulang lagi.

"Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu?"

"Sudah, jawab saja." Daniel terdengar mendesak.

"Memangnya kita akan menikah dan punya anak?"

Daniel terdiam di ujung sana, membuat Claret memanggil namanya untuk memancingnya berbicara kembali.

"Kamu tidak ingin menikah dan mempunyai anak denganku?" Daniel bertanya, kali ini dengan nada suara yang terdengar benar-benar serius.

"Is this some kind of proposal?" Claret tertawa kecil, masih membawa pembicaraan mereka kearah bercandaan.

"Iya."

Claret terperangah dengan jawaban Daniel.

Apa-apaan ini? Yang benar saja, lamaran lewat telepon?

"Aku anggap kamu sedang bercanda, Daniel," ucap Claret setelah berhasil menenangkan hati untuk beberapa saat.

"Aku serius, Claret."

Ya memang nada bicara Daniel terdengar sangat serius.

"Laki-laki mana yang melamar pacarnya lewat telepon?"

"Kalau aku melamar kamu langsung di depan mata kamu, apakah jawabannya akan iya?"

"Just try it."

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel