Bab 18
Akhir-akhir ini Daniel sering berkunjung ke rumah sakit untuk mengurus rumah sakit Deik Sukma. Hartara Deksa, pamannya, belum juga pulih dan masih mendekam di salah satu ruang vvip di rumah sakit itu. Daniel sebenarnya sudah sibuk mengurusi Deik Coorporation secara global, ditambah dengan Deik Sukma health and rasearch center membuatnya kewalahan. Untunglah ayahnya, Brata Deksa, masih mau mengurusi beberapa anak perusahaan mereka walaupun beliau sudah menegaskan kepada dewan direksi bahwa dirinya akan pensiun guna menjaga kesehatannya. Tentu saja, kedua kakak dari Brata Deksa menderita penyakit jantung, bahkan kakak tertuanya sudah meninggal. Hal ini membuat Brata Deksa benar-benar waspada dengan kesehatannya.
Daniel baru saja menyelesaikan meeting-nya dengan Dokter Robby dan beberapa dewan rumah sakit ketika ia melihat Deandra sedang berbicara dengan Volvo di kejauhan. Mereka berdiri di depan sebuah ruang rawat vip.
Dokter Robby mengucapkan salam sampai jumpa kepada rekan direksinya yang lain, lalu menghampiri Daniel untuk menemukan pria itu sedang menatap ke suatu arah. "Apa yang sedang kau lihat, Daniel?"
"Apakah Volvo sering datang ke rumah sakit ini?" tanya Daniel tanpa mengalihkan pandangannya dari Volvo dan Deandra.
"Lumayan sering. Keyna sering membicarakan dia sewaktu saya kebetulan memeriksa anak itu. Anda sudah mengenal Keyna, bukan?"
"Ya." Daniel mengangguk. "Saya kira Volvo kesini untuk bernegosiasi dengan anda tentang dewan direksi rumah sakit ini."
Dokter Robby tertawa. "Kamu berpikir dia akan menggunakan sahamnya di rumah sakit ini dan menguasai dewan direksi? Kamu takut akan adikmu sendiri?"
Daniel menatap Dokter Robby. Tidak, dia tidak meragukan ataupun takut pada Volvo. Kalaupun Volvo ingin berbagi kekuasaan bisnis dengannya, itu bukan menjadi suatu masalah untuk Daniel. Tapi bukankah Volvo selalu mengatakan bahwa dia tidak tertarik sama sekali dengan dunia bisnis dan malah menyerahkan semua pengaturan perputaran bisnis keluarga mereka kepada Daniel? Lalu, kalau Volvo sering ke rumah sakit ini bukan untuk berbicara dengan Dokter Robby, lalu untuk apa? Apakah ia benar-benar hanya menjenguk Keyna? Apa Keyna sepenting itu?
"Saya tidak takut, Dokter Robby," Daniel menjawab. "Saya hanya tidak mengerti kenapa Volvo sering datang kesini. Apakah dia hanya datang kesini untuk Keyna?"
Dokter Robby menganggukan kepalanya. "Ya."
Daniel semakin memperhatikan adiknya itu yang masih terlihat mengobrol dengan Deandra di kejauhan. Volvo dengan Deandra? Apa mereka memang sedekat itu?
"Keyna beruntung memiliki Deandra, juga Volvo yang selalu menjenguknya tiap kali ada waktu."
Daniel memiringkan kepalanya sedikit sambil terus menatap interaksi diantara Deandra dan Volvo. Ia sedang memikirkan kemungkinan apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka.
"Orang tua Keyna sudah meninggal, bukan?"
Dokter Robby mengernyit. "Orang tua Keyna tidak meninggal. Awalnya saya kira Volvo adalah ayah dari Keyna. Karena di daftar rumah sakit, hanya tertera nama ibunya."
Daniel mengalihkan pandangannya dan menatap Dokter Robby. "Hanya tertera nama ibunya?"
"Iya. Sepertinya dia single parent."
Daniel memiliki firasat tidak enak. "Siapa ibu dari Keyna?"
"Deandra."
Demi mendengar jawaban Dokter Robby itu, Daniel terbelalak terkejut. "Deandra adalah ibunya?"
"Ya."
"Bukankah Deandra adalah tante dari Keyna?"
Daniel mengerutkan keningnya, bingung. Deandra jelas-jelas mengatakan kepadanya bahwa Keyna adalah keponakannya dan bahwa kedua orang tua Keyna sudah meninggal.
"Saya yang menangani langsung proses pengobatan Keyna atas permintaan dari Volvo. Saya juga mengetahui data administrasinya. Keyna adalah anak Deandra. Tapi saya tidak pernah tahu siapa ayah Keyna."
Penjelasan Dokter Robby membuatnya semakin kebingungan. Apakah benar Keyna adalah anak Deandra? Siapa ayahnya? Apakah Volvo?
"Saya harus pergi, Niel. Kita bicara lagi lain waktu."
Daniel mengangguk. "Diar, sekretaris saya akan menghubungi dokter jika ada hal yang berubah sewaktu-waktu."
Setelah Dokter Robby pergi, Daniel memutuskan untuk menghampiri Volvo dan Deandra. Keduanya tampak terkejut dengan kehadiran Daniel.
"Hai, Niel. Baru selesai meeting dengan Dokter Robby?" Volvo menyapa duluan. Ia terlihat menutupi keterkejutannya.
Daniel hanya mengangguk sebagai jawaban. "Apa kamu disini karena menjenguk Keyna?"
Volvo terlihat sedikit ragu sebelum menjawab, "Ya. Tapi sayang, dia baru saja tidur. Aku tidak bisa mengajaknya bermain kali ini."
"Kamu menyempatkan diri untuk datang kesini ditengah kesibukan kamu konser dan syuting? Aku tidak tahu bahwa mengunjungi keponakan Deandra menjadi prioritas lebih dari pada pulang ke rumah dan menyapa mama yang sudah merindukan kamu sejak dua minggu terakhir."
Daniel memberi tatapan menyelidik dan sepertinya Volvo menyadari hal itu.
"Aku yang sering meminta bantuan Volvo, Niel," Deandra menengahi. "Aku juga merasa bersalah selalu merepotkannya."
Tatapan Daniel kini beralih kepada Deandra. "Hanya kamu sendiri yang merawat Keyna? Tidak ada kerabat kamu yang lain?"
Deandra kelihatan sulit untuk menjawab. "Hanya aku yang mau mengurusnya."
Entah kenapa Daniel merasa ada yang mengganjal dalam dirinya untuk mempercayai apa yang dikatakan Deandra.
"Aku hanya merasa kasihan pada Deandra. Biar bagaimanapun, Deandra adalah temanku dan aku sudah secara tidak langsung terlibat dalam proses pengobatan Keyna karena aku yang bertanggung jawab pada Dokter Robby."
Volvo memberi penjelasan yang cukup meyakinkan. Tetapi tetap saja perasaan Daniel mengatakan ada yang tidak beres disini.Daniel menggeleng-gelengkan kepalanya, ingin mengenyahkan spekulasi dalam pikirannya.
"Baiklah, aku harus pergi." Daniel memutuskan untuk mengakhiri saja pembicaraan mereka. "Salam untuk Keyna, Andra." Daniel menatap Deandra, lalu kepada Volvo, "you should visit mom this week. She misses you."
Volvo memberikannya cengiran, lalu menepuk bahu kakaknya itu. "Tentu saja."
***
Daniel melajukan mobilnya keluar dari area rumah sakit. Diar tidak menemaninya di meetingnya tadi karena sekretarisnya itu harus mengurus konferensi stock exchange Asia Tenggara di Singapura yang akan meminta Daniel untuk menjadi salah satu pembicara utamanya. Daniel menjalankan mobilnya menembus kemacetan dengan kepala penuh dengan berbagai hal. Daniel perlu menyortir satu per satu isi kepalanya. Deik Group Coorporation dengan banyak anak perusahaannya yang masih berkembang, konferensi di Singapore, pertemuan dengan dewan US, Hartara Deksa yang tak kunjung pulih, pertunangannya dengan Claret, juga masalah Keyna, Deandra, dan Volvo.
Daniel menelpon Aldy, nama samaran, seorang freelancer yang bisa melacak dan mencari tahu banyak hal. Ia sudah sering meminta Aldy untuk menyelediki beberapa rekan bisnis ataupun pesaing bisnis Daniel dan pria itu tidak pernah mengecewakan Daniel sekalipun. Dia seorang freelancer, tetapi dengan kemampuannya itu, ia mendapatkan gaji yang setara dengan seorang manager di anak perusahaannya.
"Ya bos?"
"Ada tugas."
"Apa lagi kali ini?"
"Deandra Nandisa. Kamu sudah mengenalnya. Selidiki hubungan Deandra dan Keyna. Anak perempuan itu berusia empat tahun dan sedang dirawat di rumah sakit Sukma Deik karena gagal jantung."
"Okay."
"Dan satu lagi, selidiki hubungan Volvo dengan mereka."
"Volvo Deksa? Adik anda?"
"Ya. Selidiki semuanya. Saya mau dalam waktu kurang dari 24 jam, saya sudah mendapat email atau phone call dari kamu."
"Beres."
Begitu Daniel menutup teleponnya dengan Aldy, panggilan lain masuk. Wajah Daniel seketika berubah cerah melihat caller id yang tertera di layar.
"Hai, calon istri."
"Sudah ku bilang, jangan memanggilku dengan sebutan itu."
"It's cute tho'."
Daniel tersenyum-senyum sendiri sambil menatap jalanan didepannya.
"Apa kita jadi dinner malam ini?"
"Ya, tentu saja!" seru Daniel dengan antusias.
"Kenapa kamu terdengar sangat senang?"
"Siapa yang tidak senang memiliki calon istri seperti kamu?"
Claret berdecak. Daniel yakin Claret sedang tersipu dan hal itu membuatnya terkekeh.
"Tidak heran kamu dulu playboy. Kamu memang pintar merayu."
"Cuma kamu yang paling suka aku rayu."
"Tuh kan, merayu lagi. Sudahlah, aku akan mematikan telepon ini sekarang."
"Tunggu dulu, calon istri. Kamu sedang dimana?"
"Aku baru sampai di klinik Dokter Albert. Aku ada janji bertemu dengannya. Aku belum bertemu dengannya semenjak aku datang ke Indonesia beberapa minggu lalu."
Daniel mengangguk-anggukan kepalanya walaupun ia tahu Claret tidak melihatnya.
"Okay. Aku jemput kamu dimana? Di klinik Albert? Atau dirumah?"
"I'll text you later. Aku tidak tahu seberapa lama aku akan mengobrol dengan Dokter Albert."
Jawaban Claret membuat Daniel mengernyitkan keningnya. "Jangan macam-macam dengan Albert, Clar. Aku mengizinkanmu mengobrol dengannya berduaan hanya karena dia dokter kamu. Aku akan membunuh Albert kalau dia sampai berani mendekati kamu."
Daniel mendengar Claret tertawa di ujung sana.
"Dasar pencemburu. Sudah deh, sampai ketemu."
"Ingat, ya, calon istri."
"Iya."
"Sampai ketemu."
***
