Bab 19
Dokter Albert memiliki klinik yang berpusat pada psikoanalisis research, education, and counsel dengan bekerja sama dengan beberapa teman psychiatrist, ahli psikoanalisis, psikoneurologician, dan konselor. Klinik ini cukup besar dan sudah berkembang pesat dibandingkan sewaktu Claret pertama kali bertemu dengan Albert sekitar empat belas tahun yang lalu. Orang-orang sering menyalahartikan gangguan kejiwaan dan mental. Tidak semua orang yang mengalami gangguan psikis itu gila, walaupun kalau tidak ditangani dengan benar dan berlarut-larut kemungkinan untuk hal itu tetap ada. Bagi Claret, Albert yang sudah menjadi penyelamat hidupnya. Kalau saja waktu itu orang tuanya tidak membawanya kepada Albert, maka ia tidak akan sebahagia sekarang.
Seorang wanita muda besetelan blazer warna putih mempersilahkan Claret memasuki sebuah ruangan.
"Hey, Claret!" Albert berseru dengan girang lalu langsung memeluk Claret begitu ia melihat Claret memasuki ruangannya. "Aku kaget sewaktu kamu menelpon dan mengatakan bahwa kamu ada di Jakarta."
"Apa kabar?"
Albert mempersilahkan Claret untuk duduk di sofa dan dirinya sendiri duduk berhadapan dengan Claret. "As you can see."
"Kamu sepertinya semakin terkenal dan sukses."
"Ya... keputusan aku untuk berhenti bekerja full time di rumah sakit dan membangun klinik sendiri rupanya adalah keputusan yang bagus."
Claret berdecak lalu, "kamu jadi terlalu sibuk dan melupakan pasien lamamu."
"Hey, siapa yang melupakan siapa? Bukankah kamu yang sudah lama tidak menelponku? Kamu terlalu bahagia dengan hidup barumu di New York dan melupakan aku. I guess everything's going well?"
Claret baru akan menjawab ketika wanita ber-blazer putih tadi memasuki ruangan dengan membawa nampan berisi dua gelas teh.
"Chamomile?" tanya Claret begitu ia mencium aroma teh yang saat ini sudah terhidang di meja di depannya. Claret menyesapnya pelan-pelan.
"Aku tahu kamu menyukainya."
Setelah wanita itu meninggalkan ruangan, Albert kembali pada pertanyaannya untuk Claret. "So everything is fine?"
"Kenapa pertemuan kita jadi seperti sesi konsultasi?"
Albert terkekeh. "Kamu kan memang pasien aku."
"Pasien yang paling berkesan, bukan?"
"Pasien yang paling keras kepala."
Keduanya tertawa.
"Jadi, kenapa kamu kembali ke Jakarta? Is it okay for you to come back here?" Albert bertanya dengan hati-hati karena ia sudah lama tidak mendapatkan kabar tentang perkembangan kondisi Claret. "Maksud aku, kamu waktu itu mengatakan bahwa masih sulit untuk kamu kembali ke Jakarta ataupun Singapore. Kamu ingin menata hidup baru kamu di New York."
Claret mengangguk-angguk, lalu tersenyum. "Aku rasa aku sudah jauh lebih baik. Sudah satu bulan aku berada disini and i'm totally okay with it. Aku tidak boleh terus menerus melarikan diri, bukan? Aku harus menghadapinya. Dan sekarang aku bisa katakan, aku sangat puas dengan diriku sendiri yang bisa menghadapinya."
Albert tersenyum lebar karena ia begitu senang. "Are you staying here for good?"
"Sepertinya iya. Aku tidak mungkin terus menerus berhubungan jarak jauh dengan Daniel. Well, sebenarnya, anywhere is fine for me now."
"Hh... aku benar-benar ingin memelukmu karena terlalu senang."
"Nah, aku punya pacar yang pencemburu."
Dan mereka berdua sama-sama tertawa. Kemudian Claret menatap Albert dengan senyuman yang masih bertengger di wajahnya. "Bagaimana aku bisa membalas semua pertolongan kamu selama ini? Kalau saja waktu itu kamu tidak memutuskan untuk menjadi dokter aku, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku sekarang."
"That is such a compliment, but It's not just me. Diri kamu sendiri yang berperan penting dalam hidup kamu. Aku bangga dengan kegigihan kamu. And honestly, melihat kamu dapat menjalani hidup kamu dengan bahagia membuatku ingin menangis terharu."
Claret kembali menyesap chamomile tea dalam cangkir yang sedari tadi masih ia pegang, lalu meletakannya di meja kembali.
Ia mengambil sebuah undangan berukuran A6 dari dalam tasnya.
"Jadi, aku kesini sebenarnya ingin memberikan ini."
Albert menerimanya lalu sedikit terkejut saat melihat tulisan pada kartu tersebut.
"Aku dan Daniel akan bertunangan minggu depan. Kami memang tidak mengadakan acara pertunangan yang besar. Kami hanya mengundang kerabat dekat. Tetapi aku pikir, aku ingin mengundangmu juga. Sekalipun bukan keluarga, tapi kamu sudah berjasa sangat besar dalam hidup aku."
"Wow! Aku pasti akan datang."
"Tentu saja kamu harus datang."
Claret kemudian berdiri dari tempatnya duduk. "Aku pulang dulu. Aku akan menunggumu minggu depan di acara pertunangan kami."
Albert juga berdiri, lalu melangkah mendekati Claret. "Come here, I'll hug you. Mumpung Daniel tidak dapat melihat kita sekarang."
Claret terkekeh tetapi ia mengizinkan juga Albert memeluknya. Ia dapat merasakan Albert menepuk-nepuk punggung bagian atasnya.
"Aku benar-benar berharap untuk kebahagiaan kamu, Claret."
"Thank you."
Ketika Albert melepaskan pelukannya, ia tiba-tiba teringat sesuatu dan dengan tidak berpikir panjang ia langsung menanyakannya, "apa kamu sudah memberitahu Daniel?"
Kening Claret mengkerut. "Tentang apa?"
Albert terlihat kesulitan untuk memberi jawaban tentang apa yang dimaksudkannya. "You know, tentang kamu.... tentang alasan kenapa selama dua tahun terakhir kamu belum juga mau melangkah ke arah yang lebih serius dengan Daniel."
Seketika wajah Claret langsung menegang. Ia tidak menjawab selama beberapa detik berselang, lalu akhirnya ia menggeleng pelan.
"Bukankah itu alasanmu untuk tidak memberikan kepastian pernikahan kepada Daniel? Dan sekarang, kamu sudah menerima lamaran pernikahan dari dia, aku kira kamu sudah memberitahunya mengenai hal itu."
Albert tidak biasanya mengungkit hal ini didepan Claret, ia tahu Claret cukup tertekan karena hal ini. Tetapi saat ini, saat dia dan Daniel sudah akan bertunangan dan mungkin sebentar lagi menikah, Albert masih tidak mengerti mengapa Claret tidak memberitahukan hal ini kepada Daniel.
"I don't have the courage to tell him." Claret menundukan kepalanya.
Albert menghembuskan nafasnya sedikit keras. "He needs to know, Clar."
"What if..."
"Daniel saat ini adalah calon suami kamu. Kamu tidak bisa menyembunyikan kenyataan ini dari calon suami kamu." Melihat reaksi Claret yang seperti sudah akan menangis, Albert menambahkan, "maaf kalau aku mencampuri urusan hubungan kalian dan maaf kalau aku merusak suasana hati kamu yang sedang bahagia, hanya saja.... Clar, kamu tahu aku hanya ingin yang terbaik untuk kamu."
Claret perlahan mengangguk. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya yang sudah memerah agar air matanya tidak keluar. "Apa yang akan terjadi kalau aku memberitahukan hal itu kepada Daniel?"
"Apa kamu tidak percaya kepadanya? Dia akan mengerti. Percayalah."
Claret menatap Albert. "Apa aku masih bisa bersamanya kalau dia tahu?"
Albert tersenyum lebar, lalu mengelus puncak kepala Claret. "Dengar baik-baik, Claret. Daniel mencintai kamu. Aku bisa jamin. Kalian akan tetap dapat menjalani hidup bersama-sama dengan bahagia, sekalipun kamu pikir hal itu dapat menjadi penghalang kebahagiaan kalian. Daniel juga pasti akan mengerti. Dia mencintai kamu lebih dari pada kenyataan itu. Aku yakin."
***
