Bab 17
Daniel menyapukan ibu jarinya di bibir Claret. "Aku bisa kenyang dengan hanya memakan ini."
Claret tidak menolak sewaktu Daniel kembali menempelkan bibirnya di bibir Claret. Tangan kanan Daniel mengelus lembut pipi Claret sementara tangan lainnya mendorong pelan punggung Claret agar tubuh wanita itu semakin dekat. Ketika Daniel memperdalam ciumannya di bibir Claret, Daniel bersumpah ia tidak pernah merasakan bibir senikmat ini dengan segambreng wanita yang pernah ia kencani. Claret entah kenapa, selalu dapat membuat Daniel ketagihan, dengan bibir wanita itu, dengan tangannya, wajahnya. Daniel sampai-sampai takut kehilangan wanita itu.
Claret melingkarkan tangannya di leher Daniel dan Daniel semakin tidak bisa menahan dirinya. Bibirnya meninggalkan bibir Claret berganti ke ceruk lehernya yang membuat Claret mendesah. Desahan Claret membuat Daniel ingin menyentuh wanita itu di setiap inchi tubuhnya.
"Daniel," panggil Claret dengan nafas yang mulai tidak beraturan.
Bibir Daniel semakin turun ke bagian atas dada Claret dan wanita itu mendesah semakin keras.
"Niel," Claret kesusahan untuk berbicara. "We should stop."
Daniel tidak mempedulikan ucapan Claret, bibirnya kembali mencium bibir Claret.
"Daniel," Claret memanggil namanya lagi saat Daniel melepaskan bibir mereka untuk mengambil nafas. Keduanya terengah-engah.
Daniel baru akan kembali menautkan bibir mereka saat Claret mendorong dadanya. "We should stop," dia mengulangi kalimatnya tadi.
Daniel menjauhkan diri dari wanita itu. Ia berdiri, masih menghadap Claret yang duduk bersandar di sofa.
Claret adalah satu-satunya wanita yang tidak ia tiduri selama mereka berkencan. Daniel tidak pernah harus menahan gejolak nafsu-nya dengan semua teman kencannya. Dalam kurun waktu selambat-lambatnya satu minggu setelah ia mendekati wanita, ia sudah akan mendapatkan pemuasan nafsunya. Bahkan ada yang langsung ia bawa ke tempat tidur begitu mereka bertemu untuk yang pertama kalinya.
Dengan Claret, yang bisa ia lakukan hanya sejauh menciumnya. Daniel menghormati keputusan Claret yang menginginkan sex setelah pernikahan. Daniel berusaha bersabar menahan gairahnya terhadap satu-satunya wanita yang sangat ia cintai itu. Ia akan menjaga Claret sampai Claret merasa siap. Dan selama hampir lima tahun terakhir, Daniel tidak berhubungan dengan wanita manapun, bahkan tertarikpun tidak. Merupakan suatu hal yang aneh sebenarnya mengingat bagaimana bejatnya kelakuan Daniel sebelum ia menyadari cintanya pada Claret.
Daniel berusaha keras untuk mengatur nafasnya dan menahan gairahnya yang tadi memuncak. "Maaf," ucapnya. Ia menundukan kepalanya, tidak berani menatap Claret kembali karena ia tidak akan bisa menahan dirinya untuk tidak menyentuh wanita itu lagi.
Daniel menyadari Claret berdiri dari sofa tempat ia duduk, lalu mengambil satu langkah mendekati Daniel. Hal ini membuat Daniel mngambil satu langkah mundur. Claret segera menutup jarak diantara mereka sebelum Daniel mengambil langkah mundur lebih jauh. Claret mendekatkan diri ke wajah Daniel. Daniel meracau dalam hati. Kalau sampai Claret mencium bibirnya, Daniel tidak akan bisa lagi menahan dirinya.
Tapi kemudian yang ia rasakan adalah sebuah kecupan di keningnya. Claret menciumnya di kening. Ketika Claret selesai melakukannya, wanita itu menatap Daniel sambil tersenyum.
"Terima kasih sudah menghargai komitmen aku," ucap Claret dengan tulus.
Daniel berkacak pinggang dan tertawa kecil. "Kamu harus pulang sekarang, Clar."
"Kamu belum makan."
"Aku bisa mengurusnya sendiri. Sekarang lebih baik kamu pulang. Aku tidak bisa mengantarmu karena aku tidak akan bisa berada di satu ruangan bersama dengan kamu lebih lama lagi."
Daniel saat ini menatap Claret yang dibalas dengan tatapan bingung Claret.
"Apa kamu marah?" tanya Claret tidak mengerti.
"Apa aku terlihat marah?" Daniel balik bertanya.
Claret menggeleng pelan. "Sepertinya tidak."
Daniel menghempaskan nafasnya dengan keras. "Clar, percayalah padaku. Kamu perlu pulang sekarang juga sebelum aku kehilangan kendali atas diriku sendiri."
Claret mengerjap-ngerjapkan matanya. Barulah Claret mengerti apa yang dimaksud oleh Daniel. Claret segera mengambil tasnya dan berjalan ke arah pintu.
"Pesanlah makanan apapun, kamu perlu makan malam," Claret berkata sebelum ia keluar.
"Ya," balas Daniel.
"And by the way, I love you."
Daniel tersenyum lebar dibuatnya. Tiga kata yang terasa berbeda ketika seorang Claret yang mengucapkannya kepadanya. Daniel sangat menyukai setiap kali Claret mengatakan tiga kata itu kepadanya. "I love you too. I really do."
***
Hampir dua minggu berlalu dan acara pertunangan Daniel dan Claret akan dilaksanakan satu minggu kemudian. Acara pertunangan mereka akan dilaksanakan di meeting hall sebuah hotel mewah di Senayan. Seperti yang sudah diminat Claret, mereka hanya akan mengundang kerabat dekat dan media pers tidak diperbolehkan meliput.
Duduk di sofa ruang penerimaan tamu yang berinterior klasik tetapi mewah, Daniel dan Claret memastikan rencana acara pertunangan mereka dengan pihak management hotel. Walaupun acaranya tidak besar, tetapi ada beberapa hal yang ingin mereka berdua pastikan sendiri sehingga acaranya dapat berjalan dengan lancar.
"Ini draft final acaranya. Silahkan dilihat."
Tara, manager banquet hotel, memberikan masing-masing sebuah file dokumen kepada Claret dan Daniel.
"Jumlah undangan sudah final sebanyak tiga puluh orang, ya? Berikut pengaturan tempat duduk. Lalu, dekorasi interior, rundown acara, susunan petugas termasuk MC, dan menu makanan. Semua sudah ada di dokumen ini."
Claret dan Daniel sama-sama mengamati dokumen didepan mereka.
"Menu makanannya kamu yang pilihkan?" Daniel bertanya sambil menggeser tubuhnya semakin dekat dengan Claret yang berada di sebelahnya.
Claret mengangguk. "Kemarin kamu meminta aku yang memilihnya sendiri karena kamu harus ke Bali. Jadi aku, mamaku, dan mama kamu yang datang mencicipi makanan testernya."
"'Wah, justru bahaya kalau aku juga ikut. Mana mungkin aku bisa tahan dikelilingi tiga wanita super? Berhadapan dengan satu saja, aku sudah kalah."
Daniel mengedipkan sebelah matanya dan sengaja menyenggol bahu Claret.
"Ada menu yang ingin kamu ganti?" Claret bertanya, tidak menghiraukan godaan Daniel.
"Nope." Daniel menutup dokumen di tangannya. "Kamu selalu tahu apa yang aku mau. Jadi aku tidak akan merubah apapun."
Dan sekonyong-konyong Daniel mengecup pipi kiri Claret. Ia tersenyum lebar setelahnya. "Terima kasih sudah mau bertunangan denganku."
Pipi Claret memerah. Bukan hanya karena ia memang masih selalu tersipu dengan tindak mesra Daniel, tetapi juga karena Tara dan seorang karyawan hotel lainnya sekarang tersenyum-senyum melihat kemesaraan mereka.
Claret mencubit pelan pinggang Daniel. Tidak ada yang bisa ia cubit sebenarnya karena semuanya tubuh Daniel keras akibat latihan ototnya tiga kali satu minggu. Tetapi Claret tetap ingin melampiaskan kegemasannya.
"Dasar penyuka PDA," desis Claret. Public display of affection.
Daniel berkilah."Aku hanya ingin orang lain tahu betapa aku sangat menyayangi tunanganku." Ia menatap Tara dan wanita lain disebelahnya. "Terima kasih sudah mengatur semuanya. Saya berharap acara minggu depan dapat berjalan dengan lancar."
Claret mengangguk-angguk, lalu berdiri dan menyerahkan dokumen rencana acara pertunangan mereka kembali kepada Tara. "Terima kasih banyak."
Mereka meninggalkan ruangan itu setelah sebelumnya bersalaman dan pamit pergi. Sembari berjalan berdampingan dengan Daniel, Claret menautkan jari-jarinya pada jari-jari Daniel. Daniel menolehkan kepalanya lalu mencium puncak kepala Claret sekilas. Setelah itu, ia menggenggam tangan Claret dan mencium punggung tangannya untuk beberapa saat.
"Let's plan our wedding after this." Daniel terdengar serius saat mengatakannya.
Hal itu membuat Claret tertawa kecil. "Kita bicarakan dulu dengan orang tua kita. Don't rush it."
"Ah, Teddy Diargo sudah keluar dari rumah sakit, bukan?"
Claret mengangguk. "Dia bahkan sudah mulai ke kantor sejak dua hari yang lalu padahal dokter menyuruhnya untuk istirahat dirumah sampai minggu depan."
"Oh ya? Teddy Diargo memang keras kepala." Daniel berdecak.
"Hei, dia ayahku."
"Iya. Sama dengan anaknya, keras kepala juga."
Claret menghentikan langkah mereka dan menatap Daniel dengan tatapan yang dibuat seolah-olah sedang kesal. "Bukankah kamu juga keras kepala?"
Daniel menghela dan menghembuskan nafasnya. "Kamu benar. Akan jadi seperti apa anak kita nantinya ya?"
Seketika Claret tertawa lalu mengacak pelan rambut Daniel.
***
