Bab 16
Jam sebelas kurang lima menit, Claret sampai di depan pintu apartment Daniel. Ia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan sebelum ia membuka pintu itu dengan kunci yang ia miliki. Sepanjang perjalanan kesini, bahkan semenjak Daniel menutup teleponnya sekitar dua jam yang lalu, Claret kebingungan memikirkan kalimat apa yang akan ia katakan kepada Daniel untuk menghadapi kemarahan pria itu.
"Cemburu tuh dia!" Vaya berkomentar ketika Claret menceritakan hal ini sembari memakan sushi dan ramen kesukaannya.
"Dia masih saja cemburu kepadaku?" Nathan menatap Claret seolah hal ini adalah hal yang tidak bisa ia percaya karena sangking terlalu kekanak-kanakannya sifat Daniel ini.
"Let him be. Itu tandanya dia takut kehilangan kamu," Vaya berkomentar lagi.
"Ya, aku tahu." Claret berdecak sambil memainkan ramen-nya. "Tapi bagaimana lagi aku harus menghadapi si Daniel pencemburu itu? Aku yakin, nanti dia akan langsung memarahiku begitu aku datang ke apartment-nya."
"Just say you love him."
Saran singkat, padat, dan sangat jelas dari Vaya berhasil membuat Nathan terbatuk. Pria itu buru-buru meminum ocha panasnya, tapi kemudian tersedak lagi karena ocha-nya terlalu panas.
"Duh, makanya hati-hati," Claret mengomel pelan sambil menepuk-nepuk punggung bagian atas Nathan yang duduk disebelahnya itu.
"Just say you love him?" Claret berbicara pelan pada dirinya sendiri. Ia mengulang kalimat Vaya tadi. Ya, Daniel selalu melunak kalau ia sudah menyinggung perihal cintanya pada Daniel yang tidak berubah semenjak sepuluhtahunan yang lalu.
Claret masih berdiri didepan pintu. Dia sengaja berlama memasukan kuncinya kedalam lubang kunci di pintu itu, dan memutarnya, lalu membukanya perlahan.
Claret melangkah masuk dan menemukan Daniel sedang menelpon seseorang dengan posisi menghadap jendela besar di sudut ruangan.
Ketika Claret mendekat, Daniel menoleh dan menatapnya.
"Hold on a sec," ucapnya pada lawan bicaranya di telepon.
Ia mematikan sambungan teleponnya dan mengambil dua langkah mendekati Claret.
Claret sudah siap menyapanya dengan senyuman lebar saat pria itu bertanya, "apa yang bisa kamu masak dengan bahan telur, keju, daging ham, tomat dan pisang?"
Claret mengernyitkan keningnya. "Omelet?" hanya itu yang terpikirkan olehnya.
"Well enough. Kamu bisa mulai memasaknya sekarang."
Daniel berbicara dengan ekspresi datar. Claret bahkan tidak mengerti apa yang Daniel maksudkan untuk dia lakukan.
"Aku harus apa?"
"Memasak."
"Kenapa?"
"Karena aku lapar."
"Bukankah kamu baru pulang dari pesta?"
"Lalu?" giliran Daniel yang mengernyit.
Claret tidak mau kalah dalam adu argumen ini. "Kamu pasti sudah makan disana."
"Tidak. Aku tidak makan di pesta itu."
"Kenapa?"
Daniel memicingkan matanya. "Apakah kamu akan bertanya terus?"
Claret tidak ingin mengalah. Terkadang, sikap mengesalkannya muncul disaat yang tidak tepat. "Apakah kamu akan bersikap menjengkelkan terus menerus?"
"Aku tidak ...."
Kalimat Daniel terpotong karena handphone dalam genggamannya sudah berbunyi untuk yang kedua kalinya dan Daniel sepertinya harus mengangkatnya.
"Yes?!" Daniel menjawab teleponnya dengan nada uring-uringan. "Can you just kill all of them dan biarkan saham mereka merosot sampai bangkrut?!"
Claret sedikit terkesiap dengan nada bicara Daniel yang lebih tinggi dari biasanya. Dia sepertinya memang sedang marah.
Daniel membalikan badannya lalu kembali ke spot dimana ia tadi menelpon sebelum berbicara dengan Claret. Ia membiarkan Claret yang termangu dengan ketidakjelasan emosi dirinya.
Claret menggeleng-gelengkan kepalanya. Dari pada menunggu Daniel dengan berdiam diri saja, ia memutuskan untuk pergi ke dapur dan memasak sesuatu.
Ini memang bukan pertama kalinya Daniel menyuruhnya memasakan sesuatu untuk pria itu. Pria itu menyukai masakan Claret. Semenjak Daniel mencicipi masakan buatan Claret di kali pertama ia berkunjung ke rumah Diargo, Daniel sudah menyukai rasa masakan Claret. Daniel memberitahu Claret akan hal itu baru-baru ini.
Akan tetapi, kali ini, Daniel memintanya dengan suasana hati yang tidak baik. Caranya menyuruh Claret tadi seperti caranya menyuruh Bu Retno, pembantu yang setiap hari biasa datang ke apartment ini untuk membersihkannya. Diar mungkin sudah sering menghadapi Daniel dengan mood yang buruk seperti ini dan Claret heran dengan kenyataan bahwa Diar masih saja bertahan sebagai sekretaris Daniel.
Claret membuka kulkas besar dua pintu begitu sampai di dapur Daniel. Ternyata benar, yang ada didalam kulkas itu hanyalah telur, keju, daging ham, tomat dan pisang, juga beberapa botol air mineral dan susu. Ia mengeluarkan telur, keju, daging ham dan tomat dari dalamnya. Kemudian ia mencari alat-alat yang ia perlukan untuk membuat omelet. Untung Daniel mempunyai garam, lada, dan bubuk jamur yang bisa digunakan Claret untuk membumbui omelet nya.
Setelah mengocok telur di mangkuk, Claret memasukan parutan keju dan daging ham yang sudah dipotong kecil-kecil kedalamnya. Kemudian ia memotong tomat menjadi kecil-kecil. Dan saat itulah, tidak sengaja ia mengiris jarinya. Tidak dalam sepertinya, tetapi darah mengalir dari luka irisan itu.
Rupanya Claret mengeluarkan suara mengaduh. Walaupun pelan, tapi Daniel bisa mendengarnya. Daniel segera menghampirinya dan langsung membawa jari Claret menuju ke wastafel agar darahnya terbilas. Ia mengambil serbet kecil yang menggantung disebelah wastafel dan membalut luka Claret dengannya.
"Duduklah. Aku akan mengambil first aid," Daniel memerintahnya lagi. Tapi kali ini Claret menurutinya dan duduk di kursi bar tinggi di kitchen island itu.
Daniel kembali tidak sampai setengah menit kemudian dengan membawa kotak kecil. Ia kemudian dengan hati-hati menaruh antibiotik, lalu menutup luka Claret yang tidak seberapa besar itu dengan plester.
Daniel tetap memegang tangan Claret bahkan setelah ia selesai mengenakan plester ke luka Claret. Ia menatap Claret sebentar, lalu ia menatap luka di jari Claret yang sekarang sudah tertutup plester. Ia membawa tangan Claret dekat ke bibirnya lalu mencium jari Claret yang terbalut plester.
Claret menjadi salah tingkah dengan sikap manis Daniel yang tiba-tiba.
"Aku.... aku perlu melanjutkan omelet kamu," ucapnya untuk mengatasi kecanggungannya.
"Forget it," Daniel menyela. "Tidak usah dilanjutkan. Nanti biar aku yang bereskan."
"Katamu tadi kamu lapar."
"Bisa pesan sesuatu nanti."
Keheningan melanda mereka berdua. Claret tidak tahu lagi harus berbicara apa dan tidak berani juga untuk menarik tangannya dari genggaman Daniel.
"Don't hurt yourself again. Aku tidak ingin kamu terluka," Daniel tiba-tiba mengakhiri keheningan mereka.
"Ini hanya luka kecil," Claret berkata sambil tersenyum.
"Maaf." Daniel mengucapkannya sambil menunduk, masih menatap luka Claret.
"Untuk apa?"
Daniel tidak menjawab, ia malah berkata, "aku tidak menyukai kedekatanmu dengan Nathan. Atau dengan pria manapun. Tapi aku tahu bahwa aku bersikap seolah-olah tidak mempercayai kamu."
Claret menyentuh dagu Daniel dan mengangkatnya hingga mata mereka bertemu.
"I love you," Claret mengucapkannya.
Daniel tersenyum lebar. "I know. And I love you more."
"Let's order pizza untuk merayakan hari ini."
Claret melepaskan tangannya dari genggaman Daniel dan berniat untuk mengambil handphone-nya di dapur. Akan tetapi, Daniel justru malah menarik tangannya sehingga tubuh Claret condong kearahanya. Dalam sekejap, Daniel menempelkan bibirnya di bibir Claret. Hanya sebuah kecupan singkat. Dan setelahnya, Daniel tersenyum lebar sambil mengedipkan dengan genit sebelah matanya.
Claret ikut tersenyum, walaupun wajahnnya masih selalu memerah setiap kali Daniel menciumnya ataupun menggodanya dengan kata-kata romantis.
Daniel menyapukan ibu jarinya di bibir Claret. "Aku bisa kenyang dengan hanya memakan ini."
***
