Bab 15
Saat Claret dan Vaya sampai di coffeshop yang dikatakan oleh Nathan, pria itu sedang duduk menyesap kopinya dengan koper besar disampingnya.
"Hai, Nath." Claret lebih dahulu menyapanya dan mencondongkan pipinya untuk ditempelkan ke pipi Nathan. Kanan, lalu kiri.
"It's more than ten minutes," gerutu Nathan sambil melirik jam tangannya.
"I know, I know. Traffic. As usual."
Vaya menyikut pelan pinggang Claret agar wanita itu menyadari kehadirannya dan mengenalkannya kepada Nathan.
"Oh, Nath, this is Vaya. The only Vaya that I've told you several times."
Vaya mengernyit. Ia menatap Claret dengan mata membesar sambil menggerakan dagunya, seolah bertanya: apa saja yang sudah kamu ceritakan ke Nathan tentang aku?
"Oh, Vaya. Ya, I remember." Nathan mengulurkan tangannya kedepan Vaya. "Nathan."
Vaya langsung menyambar tangan itu dan menjabatnya dengan antusias. "Vaya."
"Dinner?" Claret menawarkan. Kebetulan tadi dirinya dan Vaya belum sempat makan malam karena telepon dari Nathan meminta untuk dijemput.
"Sure. Aku lapar." Nathan terdengar antusias.
Karena Nathan mulai menggunakan Bahasa Indonesia, Vaya-pun mengikutinya. "Bukankah kamu dapat makanan di pesawat? Apalagi, kamu terbang dengan business class."
"Ya, itu benar." Nathan mengangguk.
"Nathan selalu lapar, Vay." Claret yang menimpali sambil tertawa kecil.
Nathan ikut terkekeh. Tangan kanannya ia letakan dipuncak kepala claret dan mengacak pelan rambut wanita itu.
Melihat gelagat Nathan yang mulai mendekati sahabatnya itu, Vaya langsung menangkap tangan Nathan dan menurunkannya dari rambut Claret. "Keep your hands to yourself, young man. Claret is not available anymore. Officially official.Kalau calon suaminya sampai melihat kedekatan kalian, I'm sure dia akan menendangmu. He's full of jealousy, you know?"
"Calon suami?" Nathan memicingkan matanya. "Has he proposed?"
Claret mengembangkan senyumannya. "Ya. This morning."
"Really? That's fast."
"I know, right? Dua hari yang lalu aku masih menganggap Daniel sedang bercanda."
"So, are you going to throw a party?" tanya Nathan lagi.
Claret menggeleng. "Just a simple celebration. Close relatives only."
"Apa aku termasuk?"
"Yes."
Nathan menatap mata Claret yang terlihat benar-benar gembira. Nathan tersenyum simpul. "Okay, sepertinya keputusanku untuk datang ke Jakarta memang tepat."
"Guys, how about dinner first? Kita bisa mengobrol sambil makan." Vaya menggeret mereka berdua menuju mobil. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak tahan melihat interaksi mereka berdua. Yang satu tidak bisa menyembunyikan kegirangannya dan yang satu lagi sedang berusaha menyembunyikan kekecewaannya.
Vaya menghela dan menghembuskan nafasnya ketika mereka akhirnya memasuki mobil.
Kalau saja Daniel masih bertingkah layaknya the craziest jerk, Vaya akan dengan senang hati merestui Nathan dan Claret. Tetapi permasalahannya, Daniel saat ini sudah berubah. Dia dan Claret akan hidup happily ever after. Lalu Nathan? Kasihan dia. Lebih baik Nathan berpaling pada Vaya. Vaya akan menerima dengan senang hati.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" Claret bertanya melihat sahabatnya menampilkan senyuman sambil menyetir.
"I'm just in a good mood," jawab Vaya datar. Kemudian ia bertanya kepada Nathan yang duduk di kursi belakang, "kenapa ke Indonesia? Ada pekerjaan? Atau mungkin urusan keluarga?"
"Hanya ingin bertemu keponakan. I've been planning to go here since the last five years." Nathan berusaha menjawab pertanyaan itu dengan sediplomatis mungkin.
Tetapi Claret menyela,"bukankah mereka datang ke New York summer yang lalu?"
"Hah?" Nathan terdengar sedikit terkejut. "Oh, iya. Mereka memang datang kesana. But they want me to visit them here."
Claret mengangguk-anggukan kepalanya dan tidak mempermasalahkan hal itu lagi. Sementara Vaya memutar bola matanya, jengah dengan jawaban palsu dari Nathan dan ketidakpekaan Claret.
"Apa yang akan kita makan?" Nathan bertanya, mengalihkan pembicaraan sepertinya.
"Sushi," jawab Vaya dengan cepat. "Aku berencana makan sushi waktu kamu telepon Claret tadi."
"Oh... aku membuat jadwal makan kalian tertunda, bukan? Aku minta maaf."
"Tidak masalah," Vaya merespon. "Is it okay with sushi?"
Nathan mengangguk. "Aku selalu bisa memakan apapun."
"Tentu saja. Kamu pemakan segalanya," celoteh Claret.
"Tidak juga," sanggah Nathan, yang membuat Claret menoleh ke belakang, kepada pria itu, dengan mata dibuat menyipit.
"Kamu bahkan selalu memakan sarapanku kalau kita bertemu," Claret menimpali. Ia selalu menyempatkan membuat sarapan di pagi hari sebelum ia berangkat ke academy tetapi tidak memiliki cukup waktu untuk memakannya. Jadi, ia selalu membawanya dalam kotak makan dan memakannya di jalan ataupun ketika ia sudah sampai di academy. Nathan, yang tinggal di satu gedung apartment yang sama dengan Claret, akan selalu meminta setengah sarapan Claret apabila ia kebetulan berangkat bersama Claret ke academy.
Vaya sudah mengetahui fakta ini karena Claret sering menceritakan perihal Nathan kepadanya ketika mereka video call. Jadi Vaya hanya mengangguk-angguk saja ketika mereka berdua saling menimpali.
Nathan berdecak. "Aku kan selalu lapar. Salahmu juga karena membawa makanan ketika bertemu denganku. Tentu saja aku akan memakan apapun yang kamu bawa."
Claret ingin menimpali lagi, tetapi handphone-nya berdering.
"Hai," sapanya begitu dia menekan tombol jawab di layar handphonenya.
Tanpa perlu bertanya, Vaya sudah mengetahui siapa orang yang sedang menelpon Claret. Sangat terlihat dari cara Claret tersenyum dan nada sapaan Claret yang hanya akan dia berikan kepada satu orang itu.
Diam-diam Vaya memperhatikan ekspresi wajah Nathan dari cermin depan. Pria itu menggertakan giginya dengan ekspresi kesal tapi juga kehilangan harapan.
***
Daniel sedang menghadiri sebuah pesta peresmian hotel yang dikelola oleh sub-company Deik Group dan ia merasa bosan. Seharusnya dia merayakan momen membahagiakannya dan Claret malam ini, berdua, makan malam romantis. Tetapi apalah daya, sebagai CEO Deik Group Coorporation, dia tidak bisa tidak hadir di pesta ini.
Daniel memutuskan untuk berjalan keluar dari ruangan itu, lalu menelpon Claret dalam satu gerakan.
"Hai." Terdengar suara Claret di ujung sana. Hanya mendengar suaranya saja, Daniel sudah merasa moodnya membaik.
"Hai calon istri," Daniel membalas sapaan Claret.
"Jangan memanggilku begitu. Aku canggung mendengarnya."
"Aku hanya mengatakan sebuah fakta, benar kan?"
"Iya, tapi aku malu."
"Kamu malu menjadi calon istri aku?"
"Bukan itu, Daniel. Ah, sudahlah. Kamu tahu maksud aku. You just want to tease me, don't you?"
"Aku ingin melihat pipimu sekarang, pasti memerah." Daniel tertawa. Menggoda Claret adalah hal yang paling menyenangkan baginya.
"Apakah pestanya sudah selesai?" Claret mengalihkan topik pembicaraan.
"Belum. Pasti mereka akan disini sampai tengah malam. Atau setidak-tidaknya jam sebelas malam. Dan aku sudah bosan berada disini."
"Kamu akan pulang setelah pestanya selesai?"
"Tidak. Aku takut kereta kencanaku berubah jadi labu kalau aku menunggu pesta selesai jam dua belas malam."
Daniel berhasil membuat Claret tertawa dan level mood-nya bertambah berkali-kali lipat.
"Kamu sedang makan dengan Vaya?" tanya Daniel yang memang sudah mengetahui jadwal Claret malam itu.
"Ini masih dijalan menuju restorannya."
"Kamu menyetir? Aku akan mematikan teleponku sekarang kalau kamu sedang menyetir. Aku tidak mau konsentrasi menyetirmu terganggu karena hatimu terlalu berbunga-bunga berbicara denganku di telepon."
"Tidak, Daniel. Vaya yang menyetir. Dan aku tidak berbunga-bunga hanya dengan berbicara denganmu di telepon."
"Tapi bukankah kamu sudah pergi dengan Vaya dari dua jam yang lalu? Kenapa sekarang baru dalam perjalanan ke restoran?"
"Tadi kami menjemput Nathan di bandara."
Claret menyebutkannya seolah hal itu bukan sesuatu yang dapat mengagetkan Daniel. Sementara Daniel langsung mengerurkan keningnya mendengar hal itu.
"Menjemput siapa?"
"Nathan," tegas Claret. "Dia datang ke Jakarta. Ini dia berada dalam satu mobil dengan aku dan Vaya. Kami akan makan sushi setelah ini."
Masa bodoh dengan sushi. Tidak penting mereka akan makan apa. Bagi Daniel, keberadaan Nathan bersama dengan mereka menjadi suatu masalah penting.
"Setelah kalian makan, kamu datang ke apartment aku. Jangan datang diatas jam sebelas." Daniel memberikan perintah dengan tegas. Entah Claret menjadi kebingungan atas nada bicara dan kalimat perintah dari Daniel ataupun tidak, Daniel hanya berkata 'sampai jumpa' setelahnya. Telepon ditutup.
Daniel melirik arlojinya. Jam sembilan. Daniel tidak ingin Claret menghabiskan waktu terlalu lama dengan Nathan.
***
