Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 14

"I want you for now and forever. Do you want the same thing?"

Pertanyaan Daniel mengiang di telinga Claret. Pria itu berlutut didepan Claret dengan tangan menyodorkan kotak kecil berisikan sebuah cincin.

Claret mengulum senyumnya. Terdengar beberapa orang menyoraki mereka berdua, mendesak agar Claret menerima lamaran Daniel.

Melihat Claret tidak juga menjawab, Daniel menjadi khawatir. Apakah mungkin Claret akan menolaknya? Apakah ini terlalu cepat untuknya?

Tetapi kemudian Claret mengambil satu langkah maju, lebih mendekat dengan Daniel yang masih berlutut didepannya. Claret melarikan tangan kanannya ke pipi Daniel, membelainya lembut.

"Aku mau kamu, kita, selamanya." Claret berkata dengan senyuman di bibirnya.

"Marry me?" tanya Daniel kemudian.

Claret mengangguk dengan pasti.

Daniel hampir meloncat kegirangan dan melupakan cincin dalam kotak di tangannya. Ia menyematkan cincin itu di jari manis tangan kiri Claret. Lalu mengecup punggung tangan itu. Suara tepuk tangan dari orang-orang yang mengelilingi mereka terdengar.

"Thank you untuk mau percaya padaku dan memberi kesempatan sekali lagi." Daniel memeluk calon isterinya dihadapan calon ayah dan ibu mertuanya juga beberapa orang yang mengerumuni mereka.

"Don't hurt me ever again. Let us work this out together," Claret berbisik di telinga Daniel sembari membalas pelukan Daniel dengan erat.

Daniel mengangguk di ceruk leher Claret. "I promise I'll never hurt you nor let you go."

Claret berdehem.

"By the way, permainan piano kamu tadi jelek."

Daniel langsung melepaskan Claret dari pelukannya. "Really? Padahal aku sudah berusaha sebaik mungkin."

Claret tertawa kecil dan mendengar tawanya saja sudah membuat Daniel senang bukan kepalang.

Teddy dan Yuke Diargo menghampiri mereka, lalu bergantian memeluk Claret dan calon menantu mereka.

"Kita atur pesta pertunangan kalian setelah ini." Yuke Diargo terdengar sangat kegirangan dan tidak sabar ingin memberitahu semua orang bahwa anak semata wayangnya akhirnya benar-benar akan bersatu dengan pujaan hatinya.

Claret menggeleng pelan. "No, mom. Aku hanya ingin perayaan sederhana untuk keluarga dekat kita saja. Tidak perlu repot-repot seperti waktu itu."

Daniel meringis mendengar kalimat terakhir Claret. Waktu itu, ia dan Claret mempersiapkan pesta pertunangan yang cukup besar dan malah berakhir dengan dirinya yang menghancurkan hubungan pertunangan itu.

"We'll do it right this time," Daniel berkata sambil melingkarkan tangan kirinya di pinggang Claret. "Jangan khawatir."

Daniel berusaha membujuk Claret untuk tetap mengadakan pesta dengan mengundang setidaknya beberapa kolega bisnis dan orang-orang yang dekat dengan mereka. Setidaknya, seperti pesta pertunangan mereka waktu itu, beberapa tahun silam.

Claret tetap menggeleng. "Aku mau sederhana saja. Biar kita bagi sukacita ini hanya dengan keluarga kita saja."

Daniel tidak bisa memaksa Claret. Kedua orang tuanya pun akhirnya mengangguk menyetujui.

Claret berbisik di telinga Daniel. "Tidak usah ribut mengurusi pesta pertunangan. Bukankah kita masih harus mengurus pesta pernikahan? Atau, kamu ingin menunda pernikahan kita untuk beberapa tahun kedepan?"

"We'll do it this year. Okay, pertunangan cukup dengan makan malam keluarga saja."

Claret mengulum senyumnya karena memenangkan adu argumen ini.

***

Malam itu, Nathan tiba-tiba mengatakan bahwa dirinya sudah berada di bandara Soekarno-Hatta dan meminta Claret untuk segera menjemputnya di terminal kedatangan internasional.

Claret sedang bersama dengan Vaya, sahabat karib satu-satunya yang ia miliki di Indonesia, ketika Nathan menelpon.

"Biar aku yang nyetir," ujar Vaya. "kita akan menjemput pangeran tampanku, kan?"

"Jangan bertindak aneh padanya. Awas kamu, Vay."

"Chill, girl." Vaya duduk di kursi pengemudi dalam mobil Claret. "Lagipula, he's single and I'm single. Bukankah kami perfect untuk satu sama lain?"

Claret duduk di sebelah Vaya, lalu mengenakan sabuk pengamannya. "Aku cuma tidak ingin kamu dan dia bermasalah pada akhirnya. He's a good friend of mine."

"Justru karena dia sahabat kamu. Kan kami cocok."

Vaya tersenyum-senyum sambil menjalankan mobil itu menembus jalanan kota Jakarta yang macet menuju kearah bandara.

"Kalau kalian berdua pacaran, lalu kalian bertengkar, menurut kamu, aku akan memihak siapa? Kamu pasti akan cerita ke aku, Nathan juga for sure akan cerita ke aku. Aku tidak akan mendengarkan kalian berdua kalau hal itu sampai terjadi."

"Come on, Clar. Kamu tentu saja jadi jembatan antara kami."

"Baiklah, baiklah." Claret mengalah. "Just don't play him."

"Memangnya aku Daniel? Player." Vaya mencibir. Tetapi satu detik kemudian dia menyesali perkataannya, cepat-cepat dia mencari kata-kata penyelamat. "Daniel zaman dulu maksudnya. Daniel yang sebelum dia pontang-panting mencari kamu lalu menangis takut kehilangan kamu waktu dia tahu kamu koma."

Claret tersenyum kecil.

"Now, he's damn falling in love with you," tambah Vaya, mencoba meyakinkan Claret.

"Ya, I guess."

Claret berdehem. Dia mengalihkan tatapannya keluar jendela mobil.

"Kamu belum yakin pada Daniel?" Vaya bertanya dengan hati-hati. "I mean ... Apa kamu masih meragukan cinta Daniel ke kamu? Kamu ragu bahwa dia serius sama kamu?"

Claret menggeleng pelan.

"Clar, dia sudah menunjukan keseriusannya dengan melamar kamu."

"Ya."

"Dia menunggu kamu selama empat... lima tahun sampai kamu pulih sekarang ini. Aku memang sempat meragukan dia awalnya. Tapi melihat kegigihannya mempertahankan kamu selama beberapa tahun terakhir, aku merasa mungkin Daniel sudah berubah untuk kamu."

Claret menatap sahabatnya itu, lalu tersenyum. "Aku tahu, Vay. Dan aku sangat bersyukur untuk itu."

"So, what else?"

Claret memicingkan matanya. "Aku tidak tahu. Hanya saja .... "

Vaya menunggu kelanjutan dari kalimat Claret, tetapi yang ditunggu malah menjawab telepon di handphonenya yang berdering sedetik yang lalu.

"I'm on my way, Nath."

....

"Ya. Probably around ten minutes. Hampir sampai."

....

"You already have your luggage?"

....

"Where? Coffeeshop?"

.....

"Oh, okay. I know that place. Wait there. I'll be there soon."

....

"Ya. Hang up now."

"Nathan menunggu dimana?" tanya Vaya begitu telepon ditutup. Sama sekali lupa dengan pembicaraan mereka sebelumnya.

"Kedai kopi di dekat pintu keluar. Dia cranky. Pengen cepet-cepet dijemput."

"Bukannya dia memiliki saudara di Jakarta? Kenapa harus menyuruh kamu untuk menjemput dia?"

Claret mengedikkan bahunya. "Aku tidak tahu."

"Karena ia ingin bertemu dengan kamu? Damn it, dia menyukai kamu sepertinya."

Claret memicingkan matanya kepada Vaya yang memang suka seenaknya ketika berbicara.

"He's a friend."

"Ya memang. Lagipula kamu sudah punya Daniel. Oke, aku akan memenangkan hatinya sekalipun dia menyukai kamu."

"Vaya!"

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel