Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 13

Daniel sendiri tidak yakin apa yang sedang ia lakukan. Ia hanya berpikir bahwa ia perlu melakukan hal ini. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Ia tidak mau menunggu lagi. Ia tidak mau kehilangan lagi.

Daniel duduk dibelakang piano, memainkannya sambil bernyanyi, setelah sebelumnya memaksa Teddy Diargo dan Yuke Diargo untuk mendengarkan nya.

Yuke duduk di sebuah kursi yang hanya berjarak satu meter dari piano, sedangkan Teddy duduk di kursi roda di sebelah Yuke.

Daniel juga menelpon Claret lalu menaruh handphone nya diatas piano agar Claret bisa mendengar suaranya dan dentingan pianonya.

Daniel tidak memiliki suara yang sangat bagus. Suaranya hanya pas-pasan. Tetapi, dia bisa memainkan setidaknya empat alat musik: gitar, bass, drum, dan piano. Saat high school dulu di Singapura, Daniel tergabung dalam suatu band kecil-kecilan di sekolah dan sering tampil di acara sekolah.

Daniel kali ini saja ingin menggunakan keahlian yang sudah lama tidak digunakannya. Ia ingin memperbaiki kesalahan yang dibuatnya dahulu sewaktu dia masih berada di high school. Musik adalah simbolnya. Daniel juga ingin mengingat kembali waktu-waktu saat ia menyadari bahwa dalam hidupnya, ia tidak ingin kehilangan wanita ini.

Daniel menatap Teddy Diargo.

"Sir, I'm a bit nervous

'Bout being here today

Still not really sure what I'm going to say..."

Claret tiba di lobby rumah sakit itu. Letak piano yang sedang dimainkan oleh Daniel berada di sudut, tetapi karena suara pianonya dapat didengar oleh seluruh penjuru lobby, Daniel mulai menjadi pusat perhatian beberapa orang yang sedang berlalu lalang disitu.

Daniel menyadari kehadiran Claret. Ia kemudian menatap Claret dan menampilkan senyuman paling manisnya.

"See in this box is a ring for your oldest

She's my everything and all that I know is..."

Daniel bergantian menatap Teddy, Yuke, dan Claret.

"It would be such a relief if I knew that we were on the same side

'Cause very soon I'm hoping that I..."

Daniel memberikan jeda pada lagunya dengan memainkan tuts piano menciptakan melodi. Dia memejamkan matanya hanya untuk dua detik. Lalu,

"Can marry your daughter

And make her my wife

I want her to be the only girl that I'll love for the rest of my life

And give her the best of me 'til the day that I die..."

"I'm gonna marry your princess

And make her my queen

She'll be the most beautiful bride that I've ever seen..."

Daniel kemudian melihat mata Claret yang sudah berkaca-kaca menatapnya.

"I can't wait to smile

When she walks down the aisle

On the arm of her father

On the day that I marry your daughter..."

Ketika Daniel mengakhiri lagunya, suara tepuk tangan dari beberapa orang yang berkerumun di sekitar mereka terdengar.

Daniel menatap Teddy dan Yuke yang memberikan senyuman lebar kearahnya dan anggukan sebagai tanda persetujuan. Mereka menatap bergantian Daniel dan Claret, putri semata wayang mereka. Mata Yuke sudah berkaca-kaca.

Lalu Daniel menatap Claret yang sudah meneteskan air matanya.

"Aku sudah mendapatkan restu dari orangtua kamu, Clar. Now, it's your turn," Daniel berkata kepada Claret lalu dengan matanya ia menunjuk kepada kotak kecil hitam beludru diatas piano disebelah handphone-nya.

Claret tersenyum sambil menghapus air matanya yang terjatuh tadi sewaktu mendengar lagu Daniel.

"Sing me a song, then," pinta Claret.

Daniel terkekeh. Ia kemudian memainkan jari-jarinya di atas tuts piano.

"Tell me...

Tell me that you want me

And I’ll be yours completely

For better or for worse..."

"I know

We’ll have our disagreements

Be fighting for no reason

I wouldn’t change it for the world ..."

Claret tertawa mendengar lirik lagu yang sedang dinyanyikan oleh Daniel.

"‘Cause you make my heart feel like it’s summer

When the rain is pouring down

You make my whole world feel so right when it’s wrong

That’s why I know you are the one

That’s how I know you are the one..."

Daniel menghentikan nyanyiannya, ia mengambil kotak kecil berwarna hitam diatas piano itu. Lalu, ia menghampiri Claret yang kembali berkaca-kaca.

"Aku tahu dan sangat sadar akan apa yang telah kita alami selama hampir tiga belas tahun ini. Aku sadar kesalahanku yang menyakiti kamu. Tapi aku ingin kamu melihat aku sebagai Daniel yang mencintai kamu, bukan Daniel yang menyakiti kamu.

You make me feel like no one ever did before, Clar. It feels right when I am with you. That's why I know you are the one..."

Daniel mengambil nafas di jeda kalimatnya.

"I want you for now and forever. Do you want the same thing?"

Claret menggigit sedikit bibir bawahnya. Mulutnya terasa kelu untuk menjawab.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel