Bab 12
Pagi harinya, Daniel sudah menunggu Claret di depan rumahnya.
Claret tersenyum kepadanya dan langsung memberikan ciuman di pipi Daniel. "Morning."
Ciuman Claret membuat Daniel sumringah. "Wow ... Kalau setiap pagi aku menjemput kamu dan aku bisa mendapat ciuman, aku akan menjemputmu setiap hari setiap pagi."
"Tidak perlu. Aku tidak ingin mengganggu pekerjaan big bos." Claret mendengus. "Kamu tidak ada meeting di pagi ini?"
"Ada."
"Kenapa kamu disini dan bukannya meeting?"
"Sekarang aku sedang berada ditengah-tengah meeting itu. Meeting dengan orang paling penting di hidup aku."
Claret tidak bisa menahan tawanya mendengar gombalan yang dikatakan Daniel. "Ada berapa banyak wanita yang kamu berhasil taklukan dengan gombalan kamu?"
Daniel mengangkat kedua bahunya. "Aku bahkan tidak perlu mengatakan gombalan apapun untuk menaklukkan mereka. They were throwing themselves to me tanpa ada rayuan apapun."
"Wahh.... The almighty Daniel, the most wanted jerk di Indonesia." Claret mencibir.
"That jerk sets his eyes only to you." Daniel menarik pinggang Claret kearahnya hingga tubuh mereka hampir bersentuhan.
"Aku tidak ingin kamu tetap memandang aku sebagai jerk, aku benar-benar ingin berubah untuk kamu."
Wajah Daniel hanya berjarak lima sentimeter dari wajah Claret. Hidung mereka hampir bersentuhan, dan Daniel menatap Claret lekat-lekat.
"Aku percaya, Niel." Claret tersenyum kepada Daniel.
Daniel tidak bisa menahan dirinya untuk mengecup ujung hidung Claret, dan kemudian kening Claret.
"That's good." Daniel tersenyum menatap Claret. "Baiklah, sekarang aku antarkan kamu ke rumah sakit."
Claret mengernyit. "Bukannya aku sudah bilang bahwa aku akan pergi ke petshop sebelum ke rumah sakit."
"I know. Tapi aku perlu bertemu dengan Teddy Diargo pagi ini. Jadi sekalian aku mengantarkan kamu kesana. Ke pet shop kan bisa nanti setelah jam makan siang."
"Oh... Jadi kamu menjemput aku pagi-pagi karena ada maunya dengan papa aku?"
"Kamu cemburu dengan papa kamu sendiri?" Daniel menggoda Claret, yang kemudian berakhir dengan Claret yang mencubit perut berotot nya.
***
Teddy Diargo sedang memakan sarapannya disuapi oleh isterinya sewaktu Daniel dan Claret masuk ke ruang rawat VVIP itu.
"Selamat pagi, Om, Tante." Daniel yang menyapa duluan.
"Hey, Daniel. Selamat pagi," Yuke Diargo membalas sapaannya.
Claret langsung menghampiri ayahnya dan mengecup pipi kiri ayahnya. Lalu beringsut kesebelah ibunya untuk merangkul pundaknya dari belakang dan mencium pipinya juga. Yuke yang sedang duduk memegang mangkuk, menggunakan tangan kirinya untuk mengusap-usap punggung tangan anaknya yang melingkari pundak nya.
"Bagaimana kabar Om pagi ini?" tanya Daniel sembari menghampiri ranjang Teddy. Dia berdiri di sisi yang berlawanan dari Yuke dan Claret berada.
"Much better. Tadi pagi sudah ada suster yang mengecek, dan kalau semua hasil pemeriksaan hari ini baik, besok atau besok lusa om sudah boleh pulang."
"Really?" Claret yang terlihat sangat excited mendengarkan kabar itu.
Yuke mengangguk.
"Lagipula, aku sudah tidak tahan dengan masakan rumah sakit. Kamu harus meningkatkan rasa masakan disini. Coba evaluasi." Teddy menggerutu.
"No, Daniel. Tidak perlu. Memang om yang banyak maunya. Namanya juga rumah sakit. Memang disangkanya restoran berbintang?"
Celotehan Yuke membuat Claret dan Daniel sama-sama tertawa.
"Anyway, aku tetap tidak suka." Teddy tetap bersikukuh, tidak mau disalahkan.
Masih saja keras kepala, gumam Daniel dalam hati sambil geleng-geleng kepala sendiri.
"Baiklah, om. Nanti saya akan lakukan evaluasi terhadap makanan-makanan yang kami sajikan kepada setiap pasien. Walaupun kami tidak bisa menyajikan makanan yang setara restoran berbintang, kami akan pastikan makanan kami bisa membuat pasien nyaman dan tidak kekurangan nutrisi."
"Ini dia. Daniel Reksa, sangat ahli dalam berkata-kata manis. Pantas saja dia bisa membangun bisnis ayahnya semakin maju." Teddy menepuk-nepuk lengan Daniel dengan tangannya yang tidak terpasang infus.
"Saya masih belum sehebat anda, om." Daniel merendah. Bagaimanapun juga, ia tahu bahwa sampai saat ini ia masih tidak bisa menandingi bisnis keluarga Diargo.
"Keep that attitude, young man. Om semakin menyukai kamu."
Claret berdecak. Ia mengerutkan keningnya menyaksikan momen lempar melempar pujian antara ayahnya dan pacarnya. "Apa yang sedang kami lihat ini? Bromance?"
"Hey hey hey... Dari tadi, sewaktu saya mengatakan bahwa saya ingin menjenguk Om, Claret cemburu pada anda." Daniel terkekeh. Dia merasa menang melihat Claret mengerucutkan bibirnya karena sebal.
Yuke yang gantian menggoda Claret. "Apa kamu juga akan cemburu kalau Daniel pergi berdua dengan mama?"
"Mama." Claret semakin merengut.
"Sudah-sudah," Yuke menyudahi. "Claret, kamu boleh tolong ambilkan pakaian mama di mobil mama? Ada di area parkir VVIP. Mama ingin berganti pakaian."
"Okay." Claret segera mengambil kunci mobil dari tangan mamanya dan beranjak dari ruangan itu agar tidak lagi digoda oleh kedua orang tuanya dan Daniel.
Daniel sekarang menjadi semakin akrab dengan orang tuanya, Claret jadi bertanya-tanya bagaimana cara Daniel merubah kekeraskepalaan Teddy Diargo yang empat tahun lalu sangat membencinya sampai-sampai mencabut semua kerjasama dan investasi Diargo di Deik Coorporation.
Setelah berhasil menemukan mobil mamanya di parkiran VVIP yang untungnya tidak sulit, Claret mengambil sebuah paper bag yang kelihatannya berisi pakaian mamanya. Setelah itu, dia langsung berjalan kembali memasuki gedung rumah sakit.
Tiba-tiba saja handphone nya berdering.
Daniel.
Claret baru saja akan bertanya 'hey, ada apa?' ketika suara denting piano terdengar dari ujung telepon.
"Daniel?" panggil Claret pada Daniel di seberang sana. "Are you there?"
Daniel tidak menjawab.
Lalu, Claret mendengar suara Daniel. Daniel bukan menjawab pertanyaan Claret, tetapi ia bernyanyi.
Claret mengerutkan keningnya.
Ada apa ini?
Lalu Claret teringat hanya ada satu ruangan di rumah sakit ini yang memiliki piano, lobby. Rumah sakit ini memiliki piano di lobby depan-nya.
Claret segera berjalan kearah lobby depan tanpa mematikan sambungan teleponnya dengan Daniel.
Ia berusaha berjalan lebih cepat sambil mendengarkan setiap kata demi kata dari lirik lagu yang dinyanyikan Daniel.
***
