Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 11

Saat masih dalam perjalanan ke rumah sakit, Daniel sudah menelpon Dr.Robby tentang keadaan Keyna. Karena itu, Keyna langsung mendapatkan penanganan langsung dari Dr.Robby sesampainya ia di rumah sakit Deik Sukma.

Deandra sedang berbincang bersama beberapa dokter yang sepertinya bagian dari tim perawatan Keyna, saat Daniel teringat janjinya kepada Claret. Dia langsung mengutuki dirinya sendiri lalu dengan cepat mengambil handphone dari saku celananya dan menelpon Claret.

"Hey, babe. Maaf," Daniel memulai percakapan.

"Apa ada hal darurat?" Claret bertanya dari ujung telepon.

"Kind of." Daniel tidak tahu bagaimana harus menjelaskan kepada Claret. "Aku akan jelaskan besok waktu kita bertemu."

"Baiklah. Jadi aku bisa tidur sekarang?"

"Kamu menunggu ku tadi?"

"Tidak juga."

"Apa aku boleh tidur sekarang?" Claret mengulangi pertanyaannya.

Daniel tidak ingin menjawabnya. "Kamu tidak mau tahu apa yang tadinya ingin aku sampaikan ke kamu?"

Claret terdiam untuk beberapa saat.

"Kamu akan memberi tahu aku besok, kan?"

"Ya," jawab Daniel dengan suara lemah.

"Kalau begitu, sampai besok."

Daniel sedikit kecewa dengan respon Claret. Ia sendiri yang sedari tadi excited untuk melamar Claret. Claret sepertinya tidak menangkap sinyal apa-apa. Claret padahal sudah mengetahui bahwa akhir-akhir ini Daniel selalu membahas mengenai pernikahan.

"Hei," Deandra mendekati Daniel, rupanya ia sudah selesai berbicara dengan para dokter.

"Oh hai," balas Daniel. "Bagaimana Keyna?"

"Kondisinya belum terlalu buruk. Hanya saja dia kelelahan. Jadi, kinerja jantungnya bertambah meningkat. Dia perlu dirawat untuk beberapa hari kedepan. Sekarang sedang menjalani beberapa pemeriksaan."

"Lagi?"

Daniel sepertinya baru minggu lalu bertemu dengan Keyna dirawat di rumah sakit ini, sekarang anak itu sudah harus dirawat lagi?

Deandra tersenyum kecut. "ya, begitulah Key."

"Apa yang dia derita?"

"Gagal jantung. Ia perlu jantung baru, tapi karena ia hanyalah anak kecil, this makes it hard for her."

Raut kesedihan terpancar di mata Deandra. Hal ini membuat Daniel sedikit bingung. Keyna hanyalah keponakan nya, tapi Deandra seperti sangat menyayangi nya bagaikan anak sendirian.

"Kalau boleh tahu, dimana orang tua Keyna? Kamu tidak menelepon mereka?" Daniel tidak bisa menahan rasa penasarannya.

Deandra terlihat terkejut dengan pertanyaan Daniel. Tetapi kemudian wajahnya menampilkan senyuman.

"They died."

"I'm sorry."

Deandra menggeleng. "It's okay. Sudah berlalu. Sekarang Keyna sudah seperti anak aku sendiri."

"That explains kenapa kamu sangat mengkhawatirkannya." Daniel mengangguk-angguk. "Oh ya, bagaimana Volvo bisa tahu tentang Keyna sementara aku baru tahu?"

"Kami tidak sengaja bertemu saat aku kesulitan mencarikan pengobatan untuk Keyna. Volvo langsung memasukan Keyna dalam perawatan VIP di rumah sakit ini dan membantu banyak hal dalam komunikasi dengan pihak rumah sakit, termasuk mencari jalan keluar terbaik untuk Keyna."

"Kenapa aku merasa terkhianati karena dia lebih mengetahui tentang kamu dibanding aku yang adalah teman kamu?"

Deandra tersenyum.

"Thanks by the way sudah mengantarkan kami kesini."

"It's not a big deal."

Deandra kembali tersenyum, kali ini sembari menatap Daniel.

Senyuman Deandra masih sama, batin Daniel bersuara. Dan hal ini membuat Daniel ikut tersenyum juga.

"Kamu tadi sedang dalam perjalanan pulang?" Deandra bertanya setelah melirik jam tangannya yang sudah menunjukan pukul sebelas malam.

Daniel berdecak. Ia kembali teringat pada Claret dan rencana lamarannya yang gagal.

"Aku tadinya ingin ke rumah Claret."

"Oh ya? Maaf, aku malah mengganggu." Deandra merasa bersalah. "Kalau kamu ingin pergi sekarang, you can go."

Daniel menggeleng. "Tidak jadi."

"Kenapa?"

"Dia sudah mau tidur terakhir aku menelepon nya."

"Aku benar-benar minta maaf. Kalau saja kamu tidak bertemu dengan Keyna dan aku di jalan tadi, kamu pasti bisa menemui dia."

Daniel menyenggol lengan Deandra dengan lengannya. "Come on, Ndra. Sejak kapan kamu punya overly guilty feeling begitu? Hanya karena beberapa tahun gak ada kabar, bukan berarti kita jadi stranger, Ndra. Kita masih bersahabat, selalu."

Deandra tertawa kecil.

"Nah, gitu dong. Ketawa." Daniel menggoda Deandra.

"Bertemu dengan kamu lagi rasanya jadi canggung."

"Ya... How long has it been?" Daniel menatap langit-langit rumah sakit. Ia menerawang mencoba mengingat kapan terakhir kali mereka berdua bertemu.

"Ku rasa empat tahun, approximately."

Empat tahun lima bulan dan tiga hari, gumam Deandra dalam hati.

"Kapan kamu kembali ke Indonesia setelah tinggal di New York dengan Claret?"

"Sekitar empat bulan yang lalu. Dad is retired, pamanku sakit-sakitan. Ada banyak hal yang perlu diurus disini."

Deandra mengangguk-anggukan kepalanya. Ia bersandar ke sandaran kursi di lorong rumah sakit itu. "Kamu jadi sibuk."

Deandra berdecak.

"Itu pujian atau ejekan?"

Deandra menatap Daniel yang sedang menatap kearahnya juga. "Both."

Lalu keduanya tertawa.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel