Seorang Pelukis
Seketika Lucy merasa tangannya dipegang dan pinggangnya dipeluk dari belakang. Lucy berhenti mengenang lalu menoleh ke belakang dan tersenyum senang.
"Sayang" panggil Lucy semangat.
Lucy melepaskan tangan Brio dan memegang pipi kirinya lalu mengelus pelan hanya sebentar dan Brio merasa senang.
"Terlambat" kata Brio pelan.
Lucy membalikkan badannya dan melihat terus Brio lalu memegang kedua pipinya dan tersenyum.
"Untuk kamu...aku selalu toleransi" kata Lucy.
Lucy menatap Brio dengan intens.
"Kamu terlihat lelah" lanjut Lucy.
"Kata siapa?"
"Aku. Lihat wajah kamu. Mau aku kasih sesuatu?"
"Apa?" tanya Brio penasaran.
Lucy mengecup bibir Brio dan seketika Brio mengeratkan pelukannya dengan merasa senang. Mereka saling melihat agak lama dan Lucy mengelus pelan pipi kiri Brio dengan punggung tangannya.
"Lelahku selalu hilang kalau merasakan sikap kamu ini" kata Brio dengan merasa bahagia.
Lucy berpikir keras dan berusaha tersenyum.
"Jadi kamu tidak akan menyesal bersama aku, bukan?"
"Sebenarnya yang romantis kamu. Kamu pintar membahagiakan aku"
Lucy tersipu malu.
"Aku harus bisa membahagiakan kamu. Itu tugas aku" pikir Lucy dengan tersenyum.
"Ayo kita pergi"
"Jadi bukan di sini?"
Brio menggeleng.
"Di mana? Aku pikir di sini. Taman ini sudah cukup indah untuk kita"
"Kamu tidak mau makan dulu? Atau kamu sudah makan?"
"Melihat kamu aku sudah kenyang" kata Lucy dengan mengedipkan matanya.
Brio tertawa pelan hingga akhirnya mereka berjalan dengan bergandengan tangan. Sesekali Lucy melihat Brio dengan merasa senang lalu akhirnya mencium pipi kiri Brio dan Brio tertawa pelan. Brio tidak heran kalau secara mendadak Lucy menciumnya seperti sekarang karena sudah sering mendapatkan. Pokoknya kalau mau cukup mendekat kepada Brio dan mencium.
"Sebentar lagi kita menikah" kata Lucy.
Brio tersenyum senang dan melihat wajah Lucy sumringah.
"Apa kamu bahagia atau cuma aku yang bahagia?"
"Aku sangat bahagia. Kamu jangan bicara begitu"
Lucy tersenyum senang lalu sekali lagi mencium pipi kiri Brio dan Brio merasa senang. Pukul 20.00.
"Aduh. Awww..."
Dia melihat pria yang menabraknya sehingga sampai terjatuh.
"Mas, kalau jalan lihat-lihat. Saya jadi jatuh"
"Mbak yang jalannya lama"
"Memangnya jalan ini punya nenek moyang loe atau orang tua loe? Sudah salah nyolot lagi" kata dia dengan mengerutkan dahi.
Pria itu menepis udara dengan tidak merasa bersalah dan berjalan pergi.
"Eh, mas. Mas. Tanggung jawab, donk. Bantu lah. Apa lah. Justru pergi"
"Sini biar saya saja yang bantu"
Seorang pria...ehmmm...lebih tepat lelaki mengulurkan tangannya untuk membantu berdiri dan dia melihat terus lelaki itu. Lelaki itu menawarkan bantuan dengan tulus yang tercetak di wajahnya. Dia menyambut tangannya dengan merasa segan dan lelaki itu menarik pelan tangannya agar bisa berdiri lalu dia berdiri dan merasa ragu.
"Ehmm..."
"Kamu Meli, bukan? Meli Oktavian. Pelukis terkenal itu"
Cewek yang bernama Meli itu cuma tersenyum tipis dan merasa bingung.
"Memangnya gue seterkenal itu?"
"Buktinya saya tahu kamu"
Akhirnya Meli tersenyum senang.
"Gue belum terkenal. Bagaimanapun juga gue masih dini di dunia seni lukis"
"Apa bisa dikatakan dini kalau kamu sudah sejak remaja jadi pelukis?"
"Ehm...gimana ya?" kata Meli dengan menggeleng.
"Saya pernah melihat beberapa hasil lukisan kamu dan rencana memang saya mau bertemu kamu untuk membeli sebuah lukisan tapi kamu selalu susah dicari"
"Loe mencari gue? Tidak. Loe salah. Gue tidak seterkenal itu"
"Lukisan kamu bagus. Buktinya majikan saya tertarik makanya saya disuruh membeli lukisan kamu"
"Kamu tidak salah?"
"Baru sekarang saya bertemu dengan pelukis yang pesimis"
"Gue bukan pesimis tapi memang belum bisa dikatakan terkenal"
"Suatu hari kamu akan bisa terkenal seperti pelukis lain karena sekarang pun nama kamu sudah cukup terkenal"
Meli tersenyum senang.
"Itu memang keinginan gue. Terima kasih. Termasuk membantu gue yang tadi"
"Tidak masalah" kata dia dengan tersenyum.
"Kalau cari lukisan gue loe bisa datang ke pameran. Kebetulan lusa saya ada pameran di hotel Y" kata Meli bersemangat.
"Gimana saya bisa datang? Tidak mudah datang ke pameran lukisan terkenal"
"Bisa"
"Gimana kalau saya dikira penyusup karena penampilan saya tidak menunjukkan..."
"Baiklah. Tunggu. Tunggu"
Meli mencari kartu nama di dalam tasnya.
"Di mana ya? Kenapa tidak ada kartu nama gue? Gimana gue bisa kasih? Aduh..dimana sih?" pikir Meli.
Meli melirik sekilas dia.
"Gue ditunggu. Jadi tidak enak. Apa tertinggal di rumah?" pikir Meli.
Meli berhenti mencari.
"Kamu cari apa?"
Meli melihat dia.
"Loe datang ke resepsionis saja. Nanti bicara mau datang ke pameran lukisan Meli Oktavian"
"Oh...begitu ya?"
Meli mengangguk dengan tersenyum.
"Loe jangan khawatir. Nanti loe akan diarahkan kepada gue"
"Baiklah terima kasih"
"Gue yang seharusnya terima kasih"
"Kamu pantas jadi pelukis. Terlihat dari wajah kamu menunjukkan jiwa seni"
Meli tersenyum senang.
"Loe terlalu memuji gue tapi terima kasih. Gue mau pulang. Gue berharap loe memang datang"
"Saya antar? Pelukis seperti kamu tidak boleh jalan sendiri. Saya tidak akan memberitahu alamat kamu kepada siapapun atau kamu cukup di antar di gang rumah"
"Sekali lagi loe terlalu berlebihan. Gue masih bisa pulang sendiri" kata Meli dengan tersenyum.
Dia menggeleng dengan tersenyum.
"Saya tidak berlebihan" lanjut dia.
Meli tersenyum dan berjalan pergi. Meli menemukan taksi dan memanggil dengan tangannya lalu akhirnya masuk dan mendengar handphone berbunyi. Meli mengambil handphone dari dalam tas dan melihat layar handphone.
"Kak Brio? Kenapa telepon? Tidak seperti biasanya" pikir Meli dengan merasa ingin tahu.
Meli menerima telepon.
"Kak Brio? Kenapa?"
"Ini aku"
"Oh...kakak?"
"Meli, di mana kamu?"
"Di jalan. Mau pulang"
"Hati hati. Nanti kalau sudah sampai beritahu aku"
"Di handphone kakak atau Kak Brio?"
"Handphone Kak Brio saja. Handphone aku mati"
"Ya"
Lucy dan Meli mengakhiri telepon.
"Masih belum lega?"
Lucy menoleh dan melihat Brio.
"Belum. Aku sudah lega kalau Meli ada di dalam rumah"
"Aku paham Meli adik perempuan kamu lalu pelukis terkenal tapi aku percaya dia bisa menjaga diri. Kalau terjadi sesuatu Meli sudah besar jadi bisa menghubungi kita. Apa kamu tidak khawatir kalau terlalu berlebihan seperti itu Meli bisa merasa terkekang?"
"Buktinya Meli tidak protes seperti kata kamu"
"Baiklah aku memang salah bicara begitu" kata Brio dengan tersenyum.
"Kamu menertawakan aku?"
"Kata siapa?"
"Akulah. Tercetak jelas di wajah kamu. Kamu selalu kalau tentang Meli menertawakan aku"
"Kamu jangan salah paham. Aku tidak pernah menertawakan kamu"
Pukul 20.30. Meli masuk ke dalam rumah dan merasa kesulitan membuka sepatu hak tingginya.
"Duh...susah sekali buka sepatu. Gue tersiksa setiap pakai sepatu hak tinggi lalu pakai blouse seperti ini. Bukan gue banget" pikir Meli dengan merasa sebal.
Akhirnya Meli berhasil membuka sepatunya dan meletakkan di sembarang tempat lalu duduk di sofa dan kaki ditumpangkan di atas meja.
"Tante. Tante" panggil Meli setengah teriak.
"Sepi ya? Apa Tante pergi lagi?" pikir Meli.
