Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Mengenang

Brio berhenti menyetir dan Lucy melihat Brio.

"Terima kasih, Pak" kata Lucy dengan tersenyum.

Brio sibuk memandang Lucy. Tanpa sadar berdekatan dan Lucy merasa ingin tahu. Tanpa diduga Brio mencium bibir Lucy lalu Lucy tersentak kaget dan terdiam.

"Astaga. Ini..." pikir Lucy.

Lucy berusaha yakin kalau dirinya tidak mimpi. Semakin lama Brio tersadar dengan yang dilakukannya lalu berhenti mencium bibir Lucy dan menjauh dengan merasa bersalah. Lucy masih terdiam lalu melihat Brio dengan tidak berkedip sekalipun dan merasa tidak menyangka. Brio yang mulai gugup tapi satu sisi terus memikirkan dan tidak perlu merasa bersalah sehingga rasa bahagia mulai ada.

"Mendadak..." pikir Brio.

"Bapak..." pikir Lucy dengan merasa tidak menyangka.

Brio melirik sebentar Lucy untuk mengetahui raut wajahnya.

"Astaga. Kamu bingung atau marah? Sepertinya aku salah merasa bangga...kamu..." pikir Brio.

"Maaf" kata Brio pelan.

Ya. Setelah sekian lama saling diam akhirnya kata itu yang keluar dari bibir Brio.

"Kenapa kata maaf yang keluar dari mulut Bapak? Sebelum itu seharusnya Bapak jelaskan" pikir Lucy dengan merasa tidak mengerti.

"Aku sungguh minta maaf" kata Brio pelan dengan merasa bersalah.

"Apa? Aku?" pikir Lucy dengan merasa bingung.

Lucy bukan justru marah tapi mau tertawa.

"Bapak jadi bicara pakai kata 'aku'? Tidak salah?" pikir Lucy.

Lucy berusaha menahan agar tidak tertawa dengan melihat ke arah lain dan akhirnya berpikir keras.

"...tapi..."

Brio bicara terbata bata dan Lucy melihat Brio dengan pelan.

"...raut wajahnya sungguh menyesal" pikir Lucy pelan.

"Aku...pikiran aku tidak..." kata Brio dengan merasa bingung.

"Dari mana aku harus mulai? Tadi terjadi begitu saja tapi aku tahu kamu pasti minta penjelasan tentang perbuatanku" pikir Brio dengan merasa gelisah.

"Bukan aku yang melakukan hal itu" kata Brio pelan.

Lucy merasa heran.

"Apa? Maksud Bapak?" tanya Lucy dengan merasa tidak menyangka.

"...tapi perasaan aku...maksud aku didorong perasaan aku"

Lucy melihat terus Brio dengan seksama.

"Maaf perasaan aku...itu...terjadi begitu saja" lanjut Brio gugup.

Lucy jadi tertegun dan merasa lucu mendengar perkataan Brio.

"Bapak sangat lucu...lebih tepat perkataan Bapak yang lucu" pikir Lucy dengan berusaha tidak tersenyum.

"Sebenarnya maksud Bapak apa? Bapak tidak mau mengakui perbuatan tadi? Terjadi begitu saja? Hmmm...kalau dipikir lagi. Andai saya menuntut Bapak karena kelakuan..."

"Kamu tega?" tanya Brio segera.

Lucy sengaja ingin menggoda Brio dan di dalam hati terkekeh apalagi melihat sikap paniknya membuat Lucy mengincar untuk semakin menggodanya.

"Gimana ya, Pak? Hmmm..."

Lucy pura pura berpikir dengan melihat Brio yang sangat tegang. Lucy semakin merasa geli dan senang menggoda Brio. Jadi hiburan sendiri setelah penat dengan pekerjaan.

"Tunggu. Tunggu. Kamu mau bersama aku?" tanya Brio segera.

Lucy segera melupakan tentang pikiran usilnya dan merasa tidak menyangka diajak oleh Brio, atasannya sendiri. Diajak sesuatu hal dalam hidupnya yang begitu penting.

"Jadi itu alasannya Bapak..."

"Ya. Sudah kamu jangan mengungkit hal itu. Saya jadi..."

"Saya belum selesai bicara, Pak" potong Lucy menahan rasa geli melihat sikap Brio.

Brio mulai melihat Lucy secara perlahan.

"Alasan itu sehingga Bapak jadi bicara dengan kata..."

Lucy tersenyum usil.

"...aku...kamu...dan bahasa Bapak jadi seperti seorang teman" lanjut Lucy mengeja kata di dekat telinga Brio.

Brio jadi gugup dan melihat terus Lucy yang dalam pandangannya sengaja menggoda. Brio dan Lucy saling melihat agak lama. Akhirnya Lucy menjauh.

"...tapi, Pak. Saya tidak mengerti arti kata bersama. Bapak tahu, bukan? Kata 'bersama' luas. Bisa bersama sebagai sahabat, saudara, pacar, atau justru..."

"Pokoknya lebih dari teman" potong Brio dengan berusaha tidak gugup.

Seketika Lucy merasa senang dan Brio berharap Lucy mau menerima dirinya dengan tatapan lalu Lucy mengangguk dengan tersenyum senang dan Brio melihat Lucy dengan tatapan bertanya.

"Ya saya mau" kata Lucy antusias.

Brio merasa senang dan mulai memegang tangan Lucy meskipun dengan rasa ragu lalu Lucy melihat tangannya yang dipegang dan mereka saling melihat dengan tersenyum bahagia.

***

"Pertama kali menjalani hubungan saling malu tapi lama kelamaan terbiasa apapun berdua" pikir Lucy dengan tersenyum.

Lucy mengenang peristiwa indah itu.

***

"Kamu sudah dapat pekerjaan?"

"Bapak yang terhormat...upps...salah...Bapak yang tersayang"

Brio jadi tersipu malu.

"Dasar kamu"

Lucy hanya tersenyum manis.

"Sekali lagi aku minta maaf tidak bisa menolong kamu bicara ke papa untuk memproses kontrak kerja kamu yang selesai"

Lucy melihat terus Brio dengan tersenyum manis.

"Kenapa kamu minta maaf?" kata Lucy dengan duduk di depan Brio.

"Tentu saja aku kepikiran..."

"Kalaupun mau diperpanjang aku akan menolak" potong Lucy.

"Kenapa?" tanya Brio dengan merasa heran.

"Cepat atau lambat semua orang akan tahu hubungan ini. Aku tidak mau"

"Kenapa?"

Lucy menggeleng pelan dengan tersenyum.

"Kamu tidak senang?"

"Aku senang dengan hubungan kita tapi tidak senang ketika semua jadi tahu tentang kita"

"Baiklah. Hanya waktu yang bisa menunjukkan tentang hubungan kita"

"Hal yang penting papa tahu tentang kita"

"Tentang itu..."

"Aku paham. Aku tidak minta saat ini tapi ketika nantinya papa tahu kamu tidak mengelak"

Brio menggeleng.

"Aku tidak akan seperti itu" lanjut Brio.

"Aku boleh panggil papa kamu dengan papa, bukan?" tanya Lucy pelan.

Brio mengangguk dengan merasa senang.

"Tidak masalah" lanjut Brio.

***

"Itu peristiwa ketika beberapa minggu setelah kami resmi jadian" pikir Lucy mengenang.

***

"Aku sudah dapat pekerjaan" kata Lucy semangat dengan memeluk Brio dari belakang.

Brio merasa heran dan membalikkan badan.

"Bukankah kamu bilang sudah dapat pekerjaan?"

Lucy terdiam.

"Uppss...gue keceplosan. Duh, gimana, nih?" pikir Lucy dengan berusaha tidak panik.

"Masa? Aku tidak pernah bilang begitu. Pasti kamu salah"

Brio melepaskan pelukan Lucy dengan pelan dan Lucy panik.

"Ya aku minta maaf"

"Kenapa kamu bohong?"

"Aku tidak ada maksud. Sungguh. Aku cuma tidak mau kamu membantu aku"

Brio melihat terus Lucy.

"Kalau tahu aku belum dapat pekerjaan pasti kamu membantu dengan menghubungi relasi"

"Kamu tidak mau dibantu aku?"

"Bukan. Bukan begitu. Ada waktu aku mau dibantu dan ada waktu aku mau mengurus sendiri tapi untuk pekerjaan aku mau melakukan dengan sendiri. Jangan tersinggung dan juga jangan marah" kata Lucy memohon.

"Aku lupa kalau pacar aku ini...mandiri"

"Apa? Ya...tidak begitu. Aku cuma..."

"Aku tidak marah tapi lain waktu jangan bohong. Kebohongan kecil bisa berubah jadi kebohongan besar meskipun demi kebaikan. Beri aku penjelasan pasti paham karena menurut aku hal yang aku lakukan belum tentu terbaik untuk kamu"

Lucy memeluk Brio.

"Aku minta maaf bohong sama kamu"

Brio tersenyum.

"Aku tidak apa-apa. Jangan sampai kamu terlalu menyesal begitu. Ini masalah kecil" kata Brio dengan memeluk Lucy.

"Ternyata aku belum memahami kamu"

"Sudah. Sudah. Satu sisi aku juga mau bicara kalau butuh bantuan bicara saja"

Lucy mengangguk dengan merasa senang.

"Terima kasih"

Brio tersenyum dan semakin memeluk Lucy dengan erat.

***

"Dua bulan setelah kita bersama" pikir Lucy dengan merasa senang.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel