Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Harus Mengubah

Meli berpikir keras.

"Benar juga. Tante sudah bicara kalau mengurus pekerjaan hingga malam" pikir Meli.

Meli berdiri.

"Jadi sendiri, deh" pikir Meli.

Meli berjalan menuju dapur.

"Semoga Tante sempat masak jadi gue tidak perlu keluar lagi untuk beli makan" pikir Meli.

Meli ada di dapur dan melihat meja makan.

"Nah...ada makanan. Terima kasih, Tante" pikir Meli dengan merasa senang.

Meli sudah sangat lapar jadi segera duduk dan mengambil makanan itu dengan gerakan cepat lalu makan dengan tangan dan mulut penuh.

"Duh...karena enak jadi kelewat makannya" pikir Meli.

Meli segera minum karena dadanya sesak terlalu cepat makan.

"Makanya kalau makan itu jangan tergesa-gesa"

Seketika Meli tersentak kaget dan melihat Tantenya, Nadia.

"Ih...Tante. Membuat kaget saja" kata Meli dengan mengerutkan dahi.

"Meli, kamu tidak bisa berubah"

"Apa lagi, Tante?" tanya Meli protes.

Seketika Nadia mengambil piring.

"Kalau makan pakai sendok lalu pelan saja. Kamu seperti preman kalau makan. Sangat cepat. Kalau tersedak gimana? Kenapa kamu susah berubah? Kamu harus bisa berperan sebagai sosok pelukis yang anggun"

Meli berdiri.

"Gue belum selesai makan, Tan. Kenapa sudah diambil?" kata Meli protes.

"Kamu ini juga masih saja pakai kata 'loe' 'gue'. Kalau sama orang tua yang sopan. Tadi waktu berangkat sikap kamu sangat anggun beda dengan pulang. Apa tidak bisa kamu tetap jadi perempuan anggun? Tidak peduli kamu di luar atau di dalam rumah"

"Bukan gue yang mau tapi Tante yang menuntut begitu. Sebenarnya sikap gue begini"

"Sebagai pelukis kamu memang harus tampil sempurna tapi sebagai keponakan Tante dan adik Lucy kamu juga harus mengubah sikap. Jangan seperti lelaki. Kapan kamu mau berubah? Gimana kalau ternyata orang di luar sana tahu seorang pelukis Meli Oktavian punya sikap begini? Kakak kamu juga akan kepikiran kalau kamu tidak bisa berubah"

"Kenapa Tante selalu protes dengan semua yang dilakukan gue padahal gue tidak pernah nakal dan membuat onar? Gue sudah cukup baik sebagai keponakan Tante tapi masih saja diperlakukan begini. Ah...tahulah. Gue sudah malas mau makan" kata Meli berlalu pergi dengan mengerutkan dahi.

"Meli. Meli" panggil Nadia teriak.

Nadia berkacak pinggang.

"Meli!" panggil Nadia semakin teriak.

Meli masuk ke dalam kamar dan duduk dengan merasa sebal.

"Kenapa gue selalu diatur ini atau itu? Gue memang sejak dulu begini" pikir Meli kesal.

Pukul 22.00. Brio dan Lucy sampai di rumah. Brio berhenti mengemudi.

"Sepertinya Tante sudah pulang"

Lucy melihat ke arah halaman.

"Benar juga. Mobil Tante ada. Baguslah jadi Meli tidak sendiri"

"Kamu mulai lagi. Kamu selalu berpikir aneh tentang Meli. Meli anaknya baik jadi tidak mungkin melakukan..."

"Baiklah. Baiklah, Sayangku" potong Lucy.

"Sebenarnya aku begini bukan karena itu tapi ada alasan lain. Aku cuma pakai alasan itu di hadapan kamu" pikir Lucy.

Lucy memeluk leher Brio dan mencium pipi kirinya.

"Hati hati, Sayang. Aku juga minta maaf"

"Tidak apa-apa" kata Brio dengan tersenyum.

Lucy melepaskan pelukan.

"Salam untuk Tante dan Meli"

Lucy mengangguk dengan tersenyum.

"Bye"

Brio melambaikan sebentar tangannya dengan tersenyum dan Lucy keluar dari mobil lalu berjalan masuk dan Brio mengemudikan mobilnya.

"Tante, di mana Meli?"

"Entahlah" kata Nadia berlalu pergi.

Lucy melihat ke arah kamar Meli dan menghela napas pelan.

"Kalau Tante sudah begitu pasti baru ribut" pikir Lucy.

Lucy berjalan menuju kamar Meli lalu berdiri di depan kamar adiknya itu dan melihat Meli duduk dengan kedua kaki terbuka lebar. Gaya lelaki banget dan Lucy menggelengkan kepalanya melihat tingkah Meli.

"Meli" panggil Lucy pelan.

Meli menoleh dan melihat sebentar Lucy.

"Sudah pulang, Kak?"

Lucy berjalan masuk dan duduk di sebelah Meli.

"Dibiasakan pintu ditutup"

"Gue biasa buka pintu" kata Meli dengan merasa malas.

"Meli" panggil Lucy pelan.

Meli tidak menghiraukan dan Lucy berusaha sabar.

"Kamu sedang apa?"

"Gue berpikir tentang pameran lusa"

"Meli, kamu tidak pernah diajarkan jadi pembangkang"

"Kenapa Kakak jadi menilai aku pembangkang? Aku kurang apa? Ketika Tante dan Kakak menyuruh bersikap anggun di hadapan semua orang aku menurut. Aku melakukan semuanya"

"Jangan pakai bahasa 'gue' 'loe'. Tidak sopan lalu pintu kamar ditutup. Gimana kalau ada tamu? Kelihatan dari luar isi kamar kamu. Kamar ruang pribadi"

"Hal itu terkecuali. Gue selalu menutup pintu kalau ada tamu. Bukankah kakak juga tahu?"

"Kenapa tidak didengarkan dulu?"

Meli berusaha menahan emosi.

"Lihat cara duduk kamu"

"Ketika berhadapan dengan kanvas aku tidak bisa disuruh duduk dengan kaki rapat atau semua yang disuruh Kakak atau Tante. Aku tidak nyaman. Serasa ada yang mengganjal. Aku lebih leluasa begini"

"Bisa. Kamu yang tidak mau berubah sehingga tidak bisa. Jalan juga harus anggun. Pakaian kamu jangan kaos dan kemeja dengan dikeluarkan begitu saja. Tidak rapi dan seperti lelaki. Mulailah merawat kulit dengan riasan atau pergi ke klinik seperti ketika kamu di hadapan orang lain lalu rambut..."

Lucy memegang sebentar rambut Meli.

"...Meli, rambut kamu indah jadi disisir lalu diurai dengan rapi" lanjut Lucy.

"Aturan dari Kakak dan Tante rumit. Gue tidak biasa dengan riasan. Gue ya begini. Apa dengan memakai riasan gue bisa cantik? Tidak, bukan? Kenapa tidak juga disuruh operasi plastik saja?" kata Meli dengan mengerutkan dahi.

"Meli" panggil Lucy pelan.

Meli menghela napas pelan.

"Ya. Ya. Gue tidak bermaksud marah atau membentak Kakak. Mana mungkin gue berani?" kata Meli dengan merasa tidak enak.

"Dengarkan dan percaya aku. Baiklah riasan bukan hal yang utama. Kamu juga sudah cantik tanpa riasan tapi setidaknya cara kamu makan, jalan, duduk, pakaian yang dipakai, dan sebagainya harus sesuai dengan kodrat kamu. Kamu tidak akan merasa rumit atau susah kalau sudah terbiasa"

Meli melihat ke arah lain.

"Ingatlah masa lalu. Bukan sifat kamu yang membuat lelaki pergi tapi tingkah laku kamu. Sekalipun tidak menunjukkan sosok perempuan pada umumnya. Gimana kalau sekarang terjadi lagi?"

"Cukup bersama lelaki yang menyukai gue apa adanya. Sederhana"

"Kita tidak bisa mengatur dengan siapa bisa cinta lelaki"

"Kalau begitu gue tidak perlu menikah apalagi gue obsesi dengan melukis"

"Jangan bicara begitu, Meli" kata Lucy pelan.

Lucy berdekatan dengan Meli dan memegang tangannya.

"Suatu hari kamu butuh teman hidup. Kepintaran, mandiri, sifat baik itu memang dicari sosok teman hidup tapi kamu juga harus memikirkan tingkah laku kamu. Perlu ditata. Jangan terlalu menyimpang dari kodrat. Aku mau kamu berubah. Melihat kamu gagal karena tingkah laku yang begini membuat aku ikut sedih. Gimana kamu mau mulai diajak pacaran kalau tingkah laku kamu masih sama seperti ini?"

"..."

"Kalau kamu mau berubah pasti banyak yang minta pacaran dengan kamu. Bukan cuma pacaran tapi menjadikan kamu istri" lanjut Lucy pelan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel