Pameran Pertama
Secara perlahan Meli melihat Lucy dan Lucy mengelus pelan tangan Meli lalu akhirnya berdiri dengan melepaskan tangannya dan berjalan keluar dengan menutup pintu kamar. Dalam kamar Lucy melihat handphone ada pesan dari Brio.
"Baguslah kamu sudah sampai rumah" pikir Lucy dengan tersenyum.
Lucy melihat terus pesan dari Brio.
"Kamu sedang apa?" pikir Lucy dengan tersipu malu.
"Kalau di hadapan kamu aku tidak boleh malu" pikir Lucy.
Lucy telepon Brio dan tidak butuh waktu lama terdengar suara Brio.
"Sayang, kamu sedang apa?"
***
Meli berpikir keras dan berbaring.
"Memang benar masa lalu gue banyak gagal tentang cowok. Jangankan pacaran sebelum ditembak lelaki sudah hilang perasaan dulu" pikir Meli.
Mengingat hal itu membuat Meli sedih.
"...tapi prinsip gue..." pikir Meli.
Meli mengerutkan dahi.
"Gue tetap mau seperti apa adanya. Biarlah cowok yang menerima gue apa adanya. Gue baik dan sudah mulai terkenal. Gue akan berusaha sampai akhirnya jadi pelukis terkenal agar banyak yang tertarik dengan gue meskipun nantinya tahu kalau ternyata gue bukan sosok anggun" pikir Meli dengan percaya diri.
"Ya, Sayang. Selamat tidur. Ingat. Jangan terlalu keras terhadap Meli"
"Selamat malam, Sayang. Bye"
"Bye"
Lucy meletakkan handphone di atas nakas dan berbaring.
"Meli, kamu harus berubah" pikir Lucy.
Keesokan harinya. Pukul 05.30. Lucy datang menghampiri Brio dengan merasa senang.
"Sayang, ayo masuk"
Brio tersenyum dan berjalan masuk. Brio sengaja diundang sarapan oleh Nadia. Ketika di meja makan Nadia mulai bicara. Meli tidak ikut bergabung karena masih tidur. Semalam Meli sibuk dengan kanvasnya hingga hampir jam 02.00.
"Jadi kamu masih ingat tentang pingitan, bukan?"
"Ingat, Tante"
"Meskipun Tante tidak akan melakukan seperti zaman dulu tapi setidaknya yang kalian tidak boleh bertemu hingga hari pernikahan harus dilakukan"
Brio mengangguk tanda mengerti dan Lucy merasa sedih.
"Harus dilakukan dengan sepenuh hati, Lucy"
Nadia melihat Lucy.
"Lucy"
"Ya, Tante?"
"Kamu dengar, bukan?"
Lucy mengangguk pelan dan Brio melihat sebentar Lucy.
"Jangan sampai Tante tahu di belakang kamu bertemu dengan Brio"
"Baiklah" kata Lucy dengan berusaha bisa melaksanakan.
***
"Tidak boleh bertemu bukan berarti tidak boleh komunikasi"
"Apa benar? Seperti itu juga tidak boleh" kata Lucy pelan.
Brio tersenyum.
"Kamu selalu menertawakan aku" kata Lucy pelan.
"Sekalipun tidak"
Brio memegang tangan Lucy.
"Semuanya demi pernikahan kita. Kata kamu bahagia menikah dengan aku dan sejak awal tentang pingitan sudah dibicarakan, bukan?"
"Ya...memang benar" kata Lucy pelan.
"Kenapa masih di sini? Bukankah kalian harus segera berangkat? Brio, nanti kamu terlambat kalau sekarang belum berangkat. Kamu masih mengantar Lucy terlebih dahulu"
"Brio tidak masalah kalau terlambat, Tante" kata Lucy pelan.
Nadia melihat terus Lucy.
"Tante, kami berangkat dulu" kata Brio.
"Ingat. Mulai besok kamu tidak boleh bertemu Lucy"
"Ya, Tante"
Brio dan Lucy berjalan pergi.
"Lucy, Tante tahu kamu sedih menjalani pingitan tapi Tante harus melakukan tradisi keluarga kita" pikir Nadia.
Pukul 10.00. Nadia masuk ke dalam kamar Meli.
"Meli"
Meli berhenti menatap lukisannya dan melihat sebentar Nadia.
"Tante pergi dulu. Hati hati. Kamu cuma sendiri"
Meli mengangguk dan kembali menatap lukisannya. Pukul 11.00. Nadia keluar dari mobil dan bicara kepada seseorang.
"Pak, saya yang tadi telepon atas nama Nadia"
"Ibu Nadia?"
Nadia mengangguk.
"Mau beli apartemen, bukan? Sayang sekali. Baru saja sudah dibeli orang lain"
"Jadi saya terlambat?"
"Baru saja"
Nadia merasa kecewa.
"Andai tadi tidak macet pasti aku sudah dapat apartemennya" pikir Nadia pelan.
"Pak, nanti kalau ada apartemen lagi saya minta tolong Bapak menghubungi karena saya butuh"
"Baiklah, Bu"
Nadia berjalan pergi lalu masuk dan menyetir mobil.
"Sangat sayang aku tidak bisa dapat apartemen itu padahal rencana untuk menyewakan jadi penghasilan aku tidak cuma dari kost tapi juga apartemen" pikir Nadia.
Hari terus berlanjut. Tiba waktunya Meli menghadapi pameran pertamanya. Meli sangat gugup.
"Sukses. Sukses. Pasti" kata Dona.
Dona sebagai resepsionis pameran dan juga teman kuliah Meli. Meli sengaja minta tolong temannya untuk membantu sebagai resepsionis.
"Semoga"
"Gue juga berharap. Gue tahu sejak dulu loe menantikan waktu dimana bisa mengadakan pameran"
"Terima kasih. Gue ke sana dulu. Sepertinya sudah ada orang yang melihat"
"Gue juga di depan"
Meli mengangguk dengan tersenyum dan berjalan dengan melihat sebentar arlojinya. Handphone Meli berbunyi dan Meli mengambil handphone dengan menerima.
"Meli"
"Kakak"
"Sukses ya? Semoga dengan adanya pameran ini lukisan kamu banyak yang melirik"
"Belum ada hasil"
"Kuncinya sabar. Dalam hal apapun. Pekerjaan apapun kunci utama sabar"
"Ya"
"Aku mau kerja dulu"
"Ya. Kakak kerja saja dulu"
Lucy dan Meli mengakhiri telepon. Pukul 10.00. Dona berdiri di samping Meli dan memegang lengannya.
"Meli" panggil Dona berbisik.
Meli yang saling bicara dengan seseorang harus menghentikan sebentar.
"Sebentar ya, Mbak" kata Meli ramah.
Perempuan itu mengangguk dan melihat lukisan lain.
"Ada orang cari loe"
"Siapa?"
"Seorang lelaki. Dia bicara mau pergi ke pameran lukisan loe. Namanya Dio. Loe kenal?"
"Dio?" kata Meli dengan berpikir.
"Loe tidak kenal? Kalau begitu gue menyuruh pergi saja"
"Jangan. Jangan. Gue akan menemui sebentar lagi. Bicara saja untuk menunggu"
"Loe yakin?"
Meli mengangguk dan Dona membentuk angka O dengan jarinya lalu berjalan pergi dan Meli melanjutkan bicara dengan perempuan tadi.
***
Meli berjalan menuju ruang tunggu dan mencari lelaki itu dengan matanya lalu seketika melihat lelaki yang pernah menolongnya dan Meli menyapa.
"Hai. Loe jadi datang?" kata Meli semangat.
Dia menoleh dan melihat Meli.
"Gue Dio"
"Dio?"
Meli berpikir keras.
"Oh...apa yang dimaksud resepsionis tadi? Loe Dio?"
Dio mengangguk.
"Tadi gue bicara kepada resepsionis dan disuruh tunggu karena loe masih saling bicara dengan orang. Calon pembeli ya?"
"Ehm...cuma tanya"
"Sabar"
"Sudah jam segini masih saja belum ada yang beli"
"Kalau begitu gue pembeli pertama"
"Maksud loe?"
"Kamu lupa kapan hari saya bicara kalau mau beli?"
"Oh...yang kata loe majikan ya?"
Dia mengangguk dengan tersenyum.
"Ayo lihat dulu"
"Jadi gue diizinkan masuk"
"Tanpa loe beli sebenarnya gue akan mengajak loe melihat semua lukisan gue"
"Astaga. Gue jadi segan. Gue diperbolehkan melihat lukisan terkenal punya loe"
"Loe berlebihan lagi" kata Meli dengan tersenyum heran.
Dio menggeleng lalu Meli mengajak Dio dengan berjalan pergi dan Dio berjalan mengikuti Meli.
"Mulai dari sini hingga sana lukisan tentang orang lalu ruang sana pemandangan alam, pegunungan..."
Meli menjelaskan dengan sesekali berkeliling bersama Dio dan Dio melihat lukisan Meli hingga akhirnya berhenti berjalan.
"Lukisan itu..."
Meli berhenti berjalan.
"Kenapa? Apa kata loe?"
Meli kurang jelas dengar karena Dio cuma bergumam. Dio melihat terus lukisan itu lalu Meli melihat arah matanya dan tertuju kepada lukisan tentang pentingnya sebuah keluarga. Meli melihat Dio menatap dalam seolah merindukan sesuatu.
"Tatapan loe seperti menyimpan sesuatu" pikir Meli.
Meli jadi menatap Dio dengan keingintahuannya.
"Apa benar pikiran gue atau gue yang sok tahu?" pikir Meli.
"Meli"
Meli menoleh dan melihat Dona.
"Ada yang cari loe"
"Ha? Siapa lagi?"
