Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Pembeli Royal

"Banyak yang mencari loe ya? Sudahlah ambil kesempatan ini. Mumpung banyak yang cari" kata Dio.

"Masalahnya gue tidak janji dengan siapapun"

"Lelaki lagi" kata Dona.

"Lelaki?"

"Kalau Dio wajar karena sebelumnya gue memang mengundang secara pribadi" pikir Meli dengan merasa heran.

"Dia memperkenalkan diri sebagai Grow"

"Grow?"

Dona melihat terus Meli.

"Sudah loe menemui saja"

"Disuruh tunggu saja"

"Baiklah"

Dona berjalan pergi dan Meli berpikir keras.

"Siapa Grow?" pikir Meli.

"Sepertinya lukisan ini cocok dengan majikan saya. Yakin"

"Benar begitu?"

Dio menoleh dan melihat Meli.

"Berapa harga lukisan ini?"

"Budget majikan loe berapa?"

"Kenapa? Kamu bicara saja harganya. Berapapun majikan saya bisa beli. Majikan saya sangat kaya"

Meli tertawa pelan.

"Yakin?"

Dio tersenyum lalu Meli menyebutkan nominal dan seketika Dio melotot. Meli jadi tersenyum geli.

"Kenapa? Kaget?"

"Wah...mahal sekali tapi wajar. Lukisan kamu hidup"

"Jadi gimana?"

"Bisa. Bisa. Bukankah yang beli bukan saya?" kata Dio dengan tertawa pelan hanya sebentar.

"Sepertinya majikan loe sangat percaya dengan loe sehingga urusan begini diserahkan kepada loe"

"Tidak juga. Baiklah saya beli"

"Yakin?" tanya Meli dengan merasa tidak percaya.

"Uang punya majikan saya jadi tentu saja yakin"

Meli tertawa pelan.

"Kenapa tertawa?" tanya Dio dengan merasa heran.

"Baru sekarang ada pembeli royal. Sebenarnya bukan segitu harganya"

"Maksud kamu? Tentu saja pembeli ada yang royal"

"Loe lucu, sih. Sangat serius"

Dio melihat terus Meli.

"Meli ini..." pikir Dio.

Akhirnya Dio tersenyum.

"Ternyata kamu ramah ya?"

Seketika Meli berhenti tertawa dan merasa segan dikatakan begitu apalagi dipandang intens.

"Jadi harga lukisan gue bukan segitu tapi..."

Meli menyebutkan nominal sebenarnya dan Dio tersenyum.

"Kenapa jadi begini ya?" pikir Meli dengan berusaha tidak gugup.

"Baiklah. Terima kasih"

"Justru gue yang terima kasih" kata Meli dengan tersenyum.

***

"Sampaikan rasa terima kasih gue ke majikan loe"

"Gimana kalau majikan gue tertarik dengan loe?"

"Loe berlebihan. Bertemu saja belum pernah" kata Meli dengan tersenyum heran.

"Suatu hari gue akan mengenalkan"

"Loe ada saja. Bisa bawa?"

"Bisa. Lukisan tidak terlalu besar jadi muat di mobil. Majikan gue memang menyuruh bawa mobil"

"Hati hati"

"Sampai bertemu kembali"

Meli tersenyum lalu berjalan menuju ruang tunggu dan masuk. Meli melihat lelaki itu memang masih muda tapi satu sisi dirinya merasa heran.

"Siapa ya?" pikir Meli.

Grow merasakan kedatangan Meli dan melihatnya lalu berdiri dan Meli berusaha tersenyum dengan berdiri di hadapan Grow.

"Maaf membuat Anda menunggu lama"

"Sepertinya kamu terlalu memakai kata resmi kepada saya"

Meli merasa heran. Sikapnya begitu santai dan hangat hingga akhirnya mereka saling melihat agak lama. Grow yang menyadari kedekatan batin segera memulai pembicaraan lagi.

"Sebelum disuruh ke sini saya sempat melihat beberapa lukisan kamu dan..."

Meli merasa ingin tahu.

"...saya tertarik...tertarik mengajak kamu untuk bergabung"

"Bergabung?"

"Bergabung dengan perusahaan aku"

Meli merasa tidak percaya dan Grow tersenyum senang.

"Jangan terlalu resmi dengan aku"

Meli sungguh merasa tidak percaya dengan perkataan dan sikap Grow seolah seperti terhadap teman lama.

"Kamu kenal saya?" tanya Meli ragu.

"Kenal? Kamu akan segera kenal dengan saya ketika bergabung"

Meli melihat sebentar ke arah lain.

"Jadi sebenarnya tidak kenal" pikir Meli.

"Sebelumnya...silahkan duduk dulu" kata Meli duduk.

Grow duduk.

"Ehm...maksud kamu apa? Perusahaan apa? Tidak. Maksud saya nama perusahaan kamu"

"PT. Tiga Seni"

Meli melongo.

"PT. Tiga Seni? Tunggu sebentar"

Meli berpikir sebentar dan Grow masih bersikap santai dengan senyumannya.

"PT. Tiga Seni ya? Oh...saya paham. Ya saya tahu tentang PT. Tiga Seni. Gimana tidak tahu? PT. Tiga Seni perusahaan terbesar nomor tiga"

Grow tertawa pelan.

"Ternyata kamu mengikuti perkembangan"

"Apapun yang menyangkut seni lukis saya paham termasuk menyangkut perusahaan seni tapi maksud saya artinya kamu disuruh pemilik PT. Tiga Seni untuk datang kepada saya?"

"Itulah aku"

Meli merasa tidak mengerti.

"Maksud kamu?"

"Aku pemilik PT. Tiga Seni"

Meli bingung.

"Kamu mau membuat lelucon? Astaga. Maaf saya tidak bermaksud tapi...bukankah pemilik PT. Tiga Seni adalah Pak Bayu?"

"Itulah penyamaran saya"

"Kamu bicara apa?" tanya Meli semakin tidak mengerti.

"Semua orang tahunya Pak Bayu pemilik PT. Tiga Seni karena memang di media pun tertulis begitu. Sebenarnya aku pemiliknya sedangkan Pak Bayu tangan kanan aku"

Meli melongo.

"Kenapa bisa jadi begitu?"

Grow menatap Meli dengan tersenyum geli.

"Aku sengaja melakukan hal itu. Cara aku agar bisa merekrut pelukis secara langsung. Pada akhirnya pelukis yang aku rekrut akan tahu kalau Pak Bayu bukan pemilik sebenarnya"

Meli jadi bingung.

"Kenapa gue berhadapan dengan lelaki yang misterius? Kalau dia tidak mau muncul di media artinya pintar berakal" pikir Meli.

Meli berusaha melupakan tentang pikiran negatifnya dan berpikir keras hingga akhirnya konsentrasi terpecah oleh wajah Grow.

"Astaga. Kenapa sangat tampan? Dia memang sempurna. Sudah tampan, sukses, masih muda, ramah, hangat. Perempuan yang jadi istrinya pasti beruntung. Gimana kalau gue gagal fokus seperti sekarang? Gue juga mau punya suami seperti dia" pikir Meli.

Meli jadi berusaha tidak gugup dan Grow melihat terus Meli dengan merasa heran karena seketika diam.

"Astaga, Meli. Kenapa gue jadi berpikir begitu? Tidak boleh. Gue terlalu mimpi punya suami seperti dia. Dia sudah punya perempuan lain apalagi gue selalu gagal dalam urusan lelaki karena sosok yang sebenarnya tingkah seperti lelaki. Gue yakin kriteria dia perempuan yang anggun seperti istrinya" pikir Meli.

Seketika Meli merasakan tangannya dipegang sehingga membuat terkejut tapi ternyata dirinya salah paham. Telapak tangannya sudah ada sebuah kartu nama. Meli melihat sekilas. Ternyata kartu nama perusahaan PT. Tiga Seni.

"Kartu nama. Tidak masalah kalau kamu mau berpikir dulu. Kalau sudah mau bergabung hubungi nomor yang ada di kartu nama itu. Pasti langsung terhubung dengan aku" kata Grow dengan tersenyum.

Grow melepaskan tangan Meli dengan pelan.

"...tapi saya belum tertarik. Tidak. Maksud saya pelukis seperti saya ilmu seni masih sedikit. Tidak ada apanya dengan pelukis lain bahkan pelukis yang kamu rekrut"

"Kamu pernah tahu lukisan 3D?"

"Aku tahu"

Grow melihat terus Meli lalu akhirnya tersenyum dan Meli terkejut.

"Apa? Maksudnya? Jadi maksud kamu mau seperti..."

"Tepat sekali" potong Grow dengan menjentikkan jarinya.

"Kamu tidak salah? Aku tidak pernah berpikir bisa melukis..."

"Bertumbuhlah bersama perusahaan aku" kata Grow meyakinkan Meli.

Grow berdiri.

"Nantinya aku sendiri yang melatih kamu" lanjut Grow.

Grow tersenyum.

"Selamat siang" kata Grow dan berlalu pergi.

Meli melihat kepergian Grow dengan merasa tidak percaya. Pukul 22.00. Meli merasa dibangunkan oleh seseorang. Semakin lama Meli bangun dan melihat di sekitarnya. Ternyata dibangunkan Lucy dan sudah sampai di rumah.

"Kamu pasti sangat lelah" kata Lucy.

Meli menggeliat dan melihat Brio.

"Kak Brio, terima kasih"

Brio menoleh ke belakang dan tersenyum.

"Istirahatlah"

Meli tersenyum tipis dan keluar dari mobil lalu berjalan masuk dan Brio melihat sebentar Lucy. Brio mengambil sesuatu dari dalam dompetnya.

"Sayang"

Lucy menoleh dan melihat Brio dengan berhenti merapikan rambutnya lalu melihat sebuah kartu yang diberikan Brio dan Lucy merasa tidak mengerti.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel