Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4. Kalah

Aroma alkohol yang pekat beradu dengan udara dingin dari pendingin ruangan, menciptakan atmosfer yang mencekam di dalam lorong apartemen mewah itu. Cengkeraman Adrian di kedua bahu Denisa terasa begitu menyiksa, seolah jemari pria itu berniat meremukkan tulang belulangnya. Denisa dapat merasakan detak jantungnya sendiri yang berpacu liar di balik dada, namun matanya menolak untuk terpejam. Dia menatap lurus ke dalam netra Adrian yang memerah, mencari sisa-sisa kemanusiaan di sana, tetapi yang dia temukan hanyalah kegelapan yang pekat.

Adrian tidak memberikan penjelasan atas kemarahannya. Pria itu langsung menarik Denisa dengan kasar, setengah menyeretnya menuju kamar tidur utama. Denisa sempat tersandung ujung karpet bulu di ruang tengah, membuat lututnya membentur sudut meja kaca dengan keras. Rasa nyeri yang tajam seketika menjalar dari lutut hingga ke pangkal paha, meninggalkan goresan luka baru yang mulai mengeluarkan tetesan darah segar. Namun, Adrian bahkan tidak menoleh. Jeritan tertahan Denisa dianggapnya angin lalu. Bagi Adrian malam ini, Denisa bukanlah manusia yang memiliki rasa sakit; perempuan itu hanyalah media tempatnya menumpahkan segala rasa frustrasi dan amarah yang membakar dadanya.

Pintu kamar dibanting menutup dengan keras, gema suaranya memotong sisa-sisa ketenangan malam. Adrian menghempaskan tubuh Denisa ke atas ranjang king size yang empuk, namun empuknya kasur itu sama sekali tidak mengurangi rasa sakit di tubuh Denisa yang baru saja membentur furnitur. Sebelum Denisa sempat memosisikan tubuhnya dengan benar, Adrian sudah berada di atasnya. Cengkeraman tangan pria itu beralih ke rahang Denisa, menekan tulang pipinya begitu kuat hingga Denisa terpaksa membuka mulutnya karena rasa sakit yang mendera.

"Kau pikir kau siapa, Denisa? Kau mengira setelah menguras uangku, kau bisa hidup tenang di sini seperti seorang ratu?" bisik Adrian, suaranya serak dan sarat akan racun. Pria itu menyeringai sinis, tatapannya menyusuri wajah Denisa yang kini tampak pucat pasi di bawah temaram lampu kamar.

Adrian tidak menggunakan kata-kata untuk melunakkan situasi. Dengan gerakan yang penuh dengan agresi, dia merenggut paksa gaun tidur sutra yang dikenakan Denisa. Bunyi kain yang robek terdengar begitu nyaring di dalam keheningan kamar, disusul dengan rasa dingin yang tiba-tiba membungkus kulit Denisa. Adrian sengaja mempergunakan kekuatan fisiknya untuk mengintimidasi, sengaja memberikan rasa sakit fisik terlebih dahulu melalui cengkeraman, tekanan, dan tarikan yang tidak menyisakan ruang untuk bernapas. Pria itu ingin memastikan bahwa Denisa tahu posisinya: seorang budak kontrak yang tidak memiliki hak atas tubuhnya sendiri.

Namun, ada satu hal yang berbeda malam ini.

Tidak ada air mata yang mengalir di pipi Denisa. Kedua matanya tetap kering, menatap lurus ke langit-langit kamar dengan pandangan yang kosong dan redup. Isak tangis pilu yang biasanya memenuhi ruangan kini telah lenyap, digantikan oleh keheningan yang mati. Denisa tidak lagi mencoba meremas bantal, tidak lagi mencoba menahan dada bidang Adrian, dan tidak lagi memohon belas kasihan. Tubuhnya mendadak menjadi seringan kapas, membiarkan dirinya digerakkan dan diperlakukan sekasar apa pun oleh pria di atasnya.

Denisa telah sampai pada satu titik kesadaran yang paling dalam: dia telah kalah.

Sejak awal, sejak jarinya menorehkan tanda tangan di atas meterai map hitam itu, dia sudah kalah. Dia telah menjual jiwanya kepada iblis, dan berharap iblis akan memperlakukannya dengan kelembutan adalah sebuah kebodohan yang hakiki. Menangis hanya akan membuat Adrian merasa semakin berkuasa, dan memohon hanya akan memperpanjang penderitaannya. Maka, pilihan terbaiknya adalah pasrah. Denisa memilih untuk melepaskan jiwanya keluar dari tubuhnya sendiri, membiarkan raganya menjadi wadah kosong yang menerima setiap hantaman kekejaman Adrian tanpa perlu merasakannya lagi.

Adrian merasakan perubahan itu. Sikap pasrah tanpa perlawanan dan tanpa tangisan dari Denisa justru membuat pria itu semakin meningkatkan intensitas gerakannya. Dia menuntut kepatuhan yang mutlak, menuntut reaksi egois yang ego-nya inginkan, namun Denisa tetap bergeming dalam keheningan. Perempuan itu seperti boneka porselen mati yang menerima badai dengan mata terbuka. Setiap kali tubuhnya digerakkan dengan kasar, setiap kali rasa perih yang teramat sangat mendera fisiknya akibat tindakan Adrian yang tanpa ampun, Denisa hanya menghembuskan napas pelan melalui hidung, menolak memberikan kepuasan emosional bagi pria yang sedang menguasainya.

Waktu seolah memuai menjadi keabadian yang menyiksa. Jam dinding terus berputar, merekam setiap detik tindakan kejam yang dilakukan Adrian di bawah pengaruh alkohol dan amarah yang tak terkendali. Kamar tidur mewah yang seharusnya menjadi tempat beristirahat itu kini bertransformasi menjadi ruang eksekusi bagi harga diri Denisa yang sudah compang-camping. Luka gores di lutut Denisa yang sempat berdarah kini bergesekan dengan seprai, meninggalkan noda merah yang kontras di atas kain putih bersih tersebut, menyimbolkan kehancuran yang nyata dari hidup seorang Denisa.

***

Ketika badai itu akhirnya mereda, malam sudah berada di penghujung jalannya. Adrian melepaskan tubuh Denisa dengan kasar, lalu membalikkan badannya ke sisi ranjang yang lain. Napas pria itu masih memburu, namun pengaruh alkohol tampaknya mulai perlahan surut, digantikan oleh kelelahan yang luar biasa. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tanpa menoleh untuk melihat kondisi perempuan yang baru saja dia hancurkan fisiknya, Adrian memejamkan mata dan tertidur, meninggalkan keheningan yang mencekam di dalam kamar.

Denisa tetap berbaring di posisi yang sama selama hampir satu jam. Dia tidak bergerak sedikit pun, takut jika gerakan sekecil apa pun akan membangunkan monster yang sedang tertidur di sampingnya. Tubuhnya terasa begitu dingin, remuk, dan dipenuhi oleh rasa ngilu yang luar biasa di setiap persendian. Rasa sakit dari luka di lututnya kini terasa berdenyut-denyut, berbaur dengan rasa perih di bagian tubuhnya yang lain akibat perlakukan kasar Adrian yang tidak mengenal batas kemanusiaan.

Perlahan, dengan gerakan yang sangat hati-hati dan lambat, Denisa menyeret tubuhnya menuju tepi ranjang. Setiap jengkal pergeseran memberikan rasa sakit yang membuat pandangannya sempat berkunang-kunang, namun dia memaksakan diri. Dia menurunkan kedua kakinya ke lantai yang dingin, lalu mencoba berdiri. Lututnya yang terluka mendadak lemas, membuatnya nyaris terjatuh kembali jika tangannya tidak cepat-cepat mencengkeram tiang lampu tidur di samping ranjang.

Dengan sisa tenaga yang dia miliki, Denisa berjalan gontai menuju kamar mandi di dalam kamar tersebut. Dia tidak menyalakan lampu utama, hanya lampu kecil di dekat cermin yang memberikan pencahayaan temaram. Ketika dia melihat pantulan dirinya di cermin, Denisa tidak mengenali wanita yang ada di sana. Rambutnya berantakan, bibirnya pecah dan sedikit berdarah, sementara di leher dan bahunya terpampang memar kemerahan yang mengerikan akibat cengkeraman Adrian.

Namun, wajah itu tidak memancarkan kesedihan. Wajah itu datar, mati, dan sepenuhnya pasrah.

Denisa menyalakan pancuran air hangat, membiarkan air mengguyur tubuhnya yang dipenuhi memar. Dia tidak mencoba menggosok kulitnya dengan kasar seperti yang dilakukan wanita-wanita di dalam novel saat merasa kotor; dia hanya diam, menikmati rasa hangat yang sedikit mengurangi rasa linu di tubuhnya. Pikirannya melayang pada pil kontrasepsi darurat yang dia minum tiga hari lalu. Dia tahu obat itu mungkin sudah bekerja, namun melihat kekejaman Adrian malam ini, dia berjanji pada dirinya sendiri untuk mulai meminum pil KB reguler yang sudah dia beli tanpa pernah terlewat satu hari pun. Dia harus melindungi rahimnya dari benih pria kejam ini, apa pun taruhannya.

Setelah membersihkan diri, Denisa mengenakan jubah mandi tebal yang menutupi seluruh tubuhnya hingga ke mata kaki. Dia tidak kembali ke ranjang utama di mana Adrian sedang tertidur lelap. Dia memilih berjalan menuju ruang tengah, merebahkan tubuhnya yang remuk di atas sofa panjang, dan menatap langit-langit apartemen yang tinggi dalam kegelapan. Di dalam kesunyian malam yang dingin itu, Denisa tahu bahwa dia tidak akan pernah bisa melarikan diri. Sangkar emas ini telah menguncinya rapat-rapat.

**

Keesokan paginya, sinar matahari yang cerah menembus jendela kaca apartemen, membangunkan Denisa dari tidur ayamnya yang gelisah. Dia membuka mata dan merasakan seluruh otot tubuhnya menegang karena rasa sakit yang belum hilang.

Denisa bangkit berdiri perlahan, berniat menuju dapur untuk mengambil minum. Namun, langkahnya terhenti ketika dia melihat pintu kamar tidur utama terbuka lebar. Adrian keluar dari sana, sudah mengenakan setelan jas hitamnya yang rapi dan sempurna, seolah-olah pria kejam semalam yang mabuk dan merusak tubuh Denisa tidak pernah ada. Wajah tampannya kembali dingin, berwibawa, dan terkendali.

Adrian berjalan melewati ruang tengah tanpa menghentikan langkahnya, menuju pintu keluar apartemen. Namun, tepat sebelum dia membuka pintu, langkah kaki pria itu mendadak berhenti. Tanpa berbalik badan, Adrian merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah ponsel baru yang masih berada di dalam kotak segel, lalu meletakkannya di atas meja konsol di dekat pintu.

"Ponselmu yang lama sudah tidak bisa digunakan. Gunakan itu. Aku sudah menyimpan nomorku di dalamnya," ucap Adrian, suaranya kembali terdengar sangat transaksional, tanpa ada nada penyesalan sedikit pun atas apa yang dia lakukan semalam. "Dan bersiap-siaplah. Malam ini, kau harus ikut denganku ke sebuah acara makan malam privat."

Denisa tertegun di tempatnya. Jantungnya mencelos mendengar perintah itu. Acara makan malam privat? Bukankah di dalam kontrak tertulis bahwa keberadaannya tidak akan pernah diakui oleh dunia dan dia tidak akan pernah diajak ke acara apa pun?

Sebelum Denisa sempat mencerna maksud perkataan tersebut atau memberikan jawaban, Adrian membuka pintu apartemen dan melangkah keluar, meninggalkan Denisa yang terpaku dalam kebingungan dan rasa takut yang baru.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel