Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5. Makan Malam Private

Pintu apartemen tertutup dengan bunyi klik yang pelan namun bergema tegas, meninggalkan keheningan yang kembali mencekam di dalam ruangan. Denisa masih terpaku di posisinya, menatap nanar ke arah meja konsol tempat sebuah ponsel baru berselimut segel plastik itu tergeletak. Otaknya berputar keras, mencoba mencerna kalimat terakhir yang diucapkan Adrian sebelum pria itu melangkah pergi.

Makan malam privat.

Kata-kata itu terus terngiang, memicu rasa bingung dan cemas yang luar biasa di dalam dadanya. Denisa berjalan perlahan, menyeret kakinya yang masih terasa lemas dan nyeri menuju sofa. Dia duduk bersandar, memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. Di dalam dokumen hitam yang dia tanda tangani dengan tangan gemetar beberapa hari lalu, Adrian dengan sangat jelas dan gamblang menekankan satu aturan mutlak: keberadaan Denisa tidak akan pernah diakui oleh dunia. Dia tidak akan pernah dibawa ke hadapan publik, tidak akan pernah diperkenalkan kepada siapa pun, dan tugasnya hanyalah menjadi pemuas yang tersembunyi di balik dinding apartemen ini.

Lalu, mengapa sekarang Adrian melanggar aturan yang dia buat sendiri? Apakah pria itu sedang merencanakan sesuatu yang jauh lebih kejam? Ataukah makan malam privat itu adalah bentuk penghinaan lain yang sengaja disiapkan Adrian untuk menguji sampai di mana batas kepasrahan Denisa? Pikiran-pikiran buruk itu berdesakan di kepala Denisa, membuatnya merasa seolah sedang berjalan di atas selembar tali tipis di atas jurang yang dalam. Dia tidak tahu apa yang menantinya nanti malam, dan ketidaktahuan itu jauh lebih menyiksa daripada rasa sakit fisik yang masih mendera tubuhnya.

Denisa mengembuskan napas panjang, mencoba mengusir kabut kepanikan yang mulai menguasai dirinya. Dia tahu, jika dia hanya duduk diam dan membiarkan pikirannya berkelana, dia akan menjadi gila. Dia harus melakukan sesuatu. Dia harus menyibukkan diri agar tidak tenggelam dalam ketakutan yang tidak berujung.

Perempuan itu bangkit berdiri, menahan ringisan kecil saat lututnya yang terluka bergesekan dengan kain jubah mandinya. Dia melangkah menuju dapur bersih yang bernuansa marmer hitam dan krom. Dapur itu sangat mewah, dilengkapi dengan peralatan memasak mutakhir yang bahkan belum pernah Denisa lihat sebelumnya. Dia membuka lemari pendingin besar dua pintu yang ada di sudut ruangan. Di dalamnya, berderet rapi berbagai macam bahan makanan segar—mulai dari sayuran organik, daging sapi premium, hingga berbagai macam bumbu dapur impor yang tampaknya baru saja diisi oleh pelayan apartemen kemarin sore.

Denisa memutuskan untuk memasak. Baginya, memasak bukan sekadar aktivitas untuk mengisi perut, melainkan sebuah terapi. Suara pisau yang beradu dengan talenan, aroma bawang yang ditumis, dan uap hangat yang mengepul dari wajan selalu berhasil memberikan sedikit ketenangan di hatinya yang porak-poranda.

Dia mengambil beberapa butir bawang merah, bawang putih, cabai, seikat sayuran, dan sepotong daging ayam. Dengan gerakan yang telaten, meski jemarinya kadang masih sedikit gemetar akibat sisa trauma semalam, Denisa mulai mengiris bahan-bahan tersebut. Dia memilih untuk membuat hidangan sederhana yang biasa dia masak bersama ibunya dulu: ayam tumis kecap pedas dan sup sayur bening. Hidangan rumahan yang sangat kontras dengan kemewahan apartemen griya tawang ini, namun hanya makanan seperti inilah yang bisa memberikan rasa hangat dan nyaman di tengah dinginnya sangkar emas yang menjebaknya.

Saat aroma harum tumisan bawang mulai memenuhi ruangan, Denisa merasakan beban di pundaknya sedikit terangkat. Dia fokus pada setiap detail masakannya, memastikan takaran bumbu pas, dan membiarkan pikirannya teralih sejenak dari sosok Adrian. Setelah hampir satu jam berkutat di dapur, makanan itu selesai. Denisa menata hidangan tersebut di atas piring porselen putih, lalu duduk sendirian di meja makan yang kapasitasnya bisa menampung delapan orang. Ruangan itu terlalu luas untuk dirinya yang sekecil ini, dan keheningan yang menyertai setiap suapan makanannya terasa begitu menyengat. Namun, Denisa memaksakan dirinya untuk makan hingga habis. Dia butuh energi. Dia tidak boleh membiarkan tubuhnya melemah, karena dia tahu perjuangannya untuk bertahan hidup baru saja dimulai.

***

Setelah membersihkan seluruh peralatan dapur hingga berkilau kembali, Denisa berjalan menuju ruang tengah. Pandangannya kembali jatuh pada ponsel baru pemberian Adrian. Dia mengambil kotak ponsel tersebut, merobek plastiknya, dan menyalakannya. Di dalam daftar kontak, hanya ada satu nama yang tertera: Adrian.

Denisa menatap nama itu dengan senyuman miris di bibirnya. Ponsel ini bukan sebuah hadiah, melainkan alat kendali jarak jauh yang digunakan Adrian untuk memanggilnya kapan saja pria itu mau. Denisa meletakkan ponsel tersebut di atas meja kopi, lalu dia beralih mengambil laptop miliknya yang sempat dia bawa dari rumah lamanya sebelum tempat itu dikosongkan.

Laptop itu adalah satu-satunya harta benda berharga yang tersisa bagi Denisa, sebuah alat yang menjadi penyambung lidah dan harapannya yang paling realistis saat ini. Denisa duduk di sofa, memangku laptopnya, dan mulai menyalakannya. Layar digital itu menyala, menampilkan halaman utama sebuah situs web platform menulis lepas tempat dia sering mencari penghasilan tambahan sebelum dia dipecat dari Megantara Group.

Denisa menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata sejenak untuk mengumpulkan fokus, lalu mulai mengetik. Jari-jarinya bergerak dengan lincah di atas papan ketik, menghasilkan bunyi ketukan yang ritmis dan konstan di dalam ruangan yang sunyi. Hari ini, dia memutuskan untuk menyibukkan diri dengan menulis artikel. Dia memiliki keahlian dalam menulis artikel tentang analisis bisnis, strategi pemasaran digital, dan tren ekonomi makro—hal-hal yang dia pelajari selama bertahun-tahun saat kuliah dan bekerja sebagai asisten pribadi.

Ada sebuah dorongan kuat yang mendasari kesibukannya malam ini. Dorongan yang lahir dari rasa realistis yang sangat tajam. Denisa sadar betul bahwa hubungan transaksionalnya dengan Adrian tidak akan pernah berlangsung selamanya. Suatu hari nanti—entah bulan depan, tahun depan, atau ketika Adrian menemukan wanita lain yang lebih menarik—pria itu pasti akan merasa bosan. Dan ketika hari itu tiba, Adrian yang kejam tidak akan ragu untuk melemparkannya kembali ke jalanan, membuangnya seperti barang rongsokan yang sudah tidak berharga.

Denisa menolak untuk hancur kedua kalinya tanpa persiapan. Jika hari pembuangan itu tiba, dia harus memiliki modal untuk berdiri kembali di atas kakinya sendiri. Dia tidak boleh hanya berpangku tangan, menikmati fasilitas mewah, dan menjadi malas di dalam sangkar emas ini. Dia harus mengumpulkan uang sepeser demi sepeser. Uang dari cek tambahan yang diberikan Adrian untuk membeli pakaian tidak akan pernah dia sentuh kecuali untuk kebutuhan yang mendesak; dia ingin memiliki tabungan dari hasil keringatnya sendiri, sebuah dana darurat rahasia yang tidak diketahui oleh Adrian.

Jam terus berputar, dan Denisa seolah tenggelam di dalam dunianya sendiri. Dia menulis satu artikel, menyuntingnya, lalu mengirimkannya ke editor platform. Belum puas, dia membuka draf baru dan mulai menulis artikel kedua tentang tips manajemen keuangan untuk usaha kecil menengah. Pikirannya bekerja dengan sangat tajam, menuangkan seluruh pengetahuan dan analisisnya ke dalam barisan kata. Rasa lelah dan ngilu di tubuhnya seolah terlupakan saat dia fokus membangun benteng pertahanannya sendiri untuk masa depan.

Baginya, setiap kata yang dia ketik adalah sebuah batu bata yang sedang dia susun untuk membangun jembatan kebebasannya kelak. Setiap rupiah yang akan dia hasilkan dari tulisan ini adalah jaminan bahwa dia tidak akan mati kelaparan saat Adrian melepaskan cengkeramannya nanti. Di tengah statusnya yang kini hina sebagai seorang wanita simpanan, menulis adalah satu-satunya cara bagi Denisa untuk mempertahankan sisa-sisa kewarasan dan martabatnya sebagai seorang manusia yang berfikir.

Dia menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar laptop, mengabaikan rasa pegal yang mulai menjalar di punggung dan pundaknya. Dia baru berhenti mengetik ketika jam di sudut layar laptop menunjukkan pukul empat sore. Dua artikel panjang telah berhasil dia selesaikan dan lolos verifikasi untuk diterbitkan. Denisa menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap layar dengan helaan napas lega yang tipis. Dia melihat saldo akun dompet digitalnya yang perlahan mulai terisi, meski jumlahnya masih sangat kecil jika dibandingkan dengan kemewahan di sekelilingnya, namun itu adalah miliknya yang sah. Milik Denisa yang merdeka, bukan Denisa yang dibeli.

***

Ketegangan kembali merayap di dada Denisa saat dia menyadari bahwa waktu terus berjalan mendekati malam. Makan malam privat yang dijanjikan Adrian sudah di depan mata. Denisa menutup laptopnya dan menyimpannya kembali ke dalam tas dengan hati-hati, menyembunyikannya di tempat yang aman agar tidak memicu kecurigaan Adrian jika pria itu sewaktu-waktu memeriksa apartemen.

Dia melangkah menuju kamar tidur utama untuk mulai bersiap-siap. Saat dia membuka lemari pakaian besar, matanya menyusuri deretan gaun malam mewah yang tergantung rapi. Sebagian besar gaun itu memiliki potongan yang sangat indah namun terbuka di bagian bahu atau punggung. Denisa menggelengkan kepala pelan; dia tidak bisa memakai gaun-gaun itu. Dia harus mencari pakaian yang bisa menyembunyikan memar keunguan di leher dan lengannya akibat perbuatan kasar Adrian semalam.

Setelah mencari selama beberapa menit, pilihan Denisa jatuh pada sebuah gaun beludru panjang berwarna biru dongker tua dengan kerah model turtleneck tinggi dan lengan panjang. Gaun itu sangat elegan, melekat pas di tubuhnya, dan yang paling penting, potongannya menutupi setiap jengkal kulitnya yang terluka dari pandangan luar.

Denisa merias wajahnya dengan tipis, menggunakan perona pipi dan bedak yang sedikit lebih tebal untuk menyamarkan rona pucat di wajahnya. Dia mengikat rambut panjangnya ke atas dengan rapi, menyisakan beberapa helai di samping wajah untuk memberikan kesan anggun namun formal. Ketika dia menatap pantulan dirinya di cermin, dia melihat seorang wanita yang tampak tenang dan tegar di luar, meski di dalamnya ada sebuah badai ketakutan yang siap meledak kapan saja.

Tepat pukul tujuh malam, ponsel baru di atas meja ruang tengah bergetar keras, menampilkan sebuah pesan singkat dari nomor Adrian.

“Turun sekarang. Mobil sudah menunggu di depan lobi.”

Denisa menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan untuk menenangkan debaran jantungnya yang kembali menggila. Dia mengambil tas tangan kecilnya, memastikan kartu akses apartemen ada di dalam, lalu melangkah menuju pintu keluar. Setiap langkahnya menuju lift terasa begitu berat, seolah dia sedang berjalan menuju panggung eksekusi.

Lift membawanya turun menuju lantai dasar dengan cepat. Ketika pintu lift terbuka, Denisa melangkah keluar menuju lobi utama apartemen. Di sana, di depan pintu kaca, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik sudah terparkir dengan mesin yang menyala halus. Seorang pria paruh baya mengenakan seragam pengemudi rapi segera turun dan membukakan pintu belakang untuk Denisa dengan sikap yang sangat hormat.

Denisa melangkah masuk dan duduk di kursi belakang yang empuk. Namun, detak jantungnya mendadak berhenti ketika dia menyadari bahwa dia tidak sendirian di dalam mobil tersebut.

Di sudut kursi yang lain, duduklah Adrian. Pria itu sudah berganti pakaian dengan setelan tuksedo formal yang sangat tampan dan rapi, memancarkan aura karisma yang luar biasa kuat namun mengintimidasi. Adrian tidak menoleh saat Denisa masuk, dia hanya menatap lurus ke depan dengan rahang yang mengeras.

Suasana di dalam mobil begitu hening dan mencekam selama perjalanan membelah kemacetan kota Jakarta yang diguyur sisa air hujan. Tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulut Adrian, dan Denisa pun memilih untuk bungkam, menatap ke luar jendela dengan perasaan waswas yang semakin memuncak.

Dua puluh menit kemudian, mobil mewah itu berbelok memasuki area pelataran sebuah restoran mewah bergaya klasik Eropa di kawasan elit Jakarta Pusat. Restoran itu tampak sangat privat, dengan penjagaan yang ketat di pintu masuk utamanya.

Supir membukakan pintu, dan Adrian turun terlebih dahulu. Pria itu kemudian berbalik, mengulurkan tangan kanannya ke arah Denisa dengan sikap yang tampak sangat jantan dan penuh perhatian—sebuah gestur kepura-puraan yang sempurna untuk konsumsi publik. Denisa menyambut uluran tangan itu dengan jemari yang dingin, membiarkan Adrian menuntunnya melangkah memasuki restoran mewah tersebut.

Seorang pelayan dengan setelan jas rapi menyambut mereka di pintu dalam dan langsung mengantarkan mereka menuju sebuah ruangan VIP yang terletak di lantai dua. Ketika pintu ruangan VIP yang terbuat dari kayu jati kokoh itu dibuka oleh pelayan, pandangan Denisa langsung tertuju pada sebuah meja makan panjang yang berada di tengah ruangan.

Di balik meja makan tersebut, sudah duduk dua orang yang tampaknya telah menunggu kedatangan mereka sejak tadi. Dan ketika kedua orang itu menoleh ke arah pintu untuk menyambut kedatangan Adrian, langkah kaki Denisa seketika membeku di tempat.

Wajah Denisa mendadak pucat pasi, seluruh pasokan udara di paru-parunya seolah lenyap seketika, dan tangannya yang berada di dalam genggaman Adrian bergetar hebat karena rasa terkejut yang luar biasa.

Di hadapannya, duduklah sepasang pria dan wanita paruh baya dengan pakaian yang sangat elegan. Wanita paruh baya itu menatap Adrian dengan senyuman hangat, lalu pandangannya beralih ke arah Denisa dengan tatapan mata yang penuh selidik namun tajam.

"Adrian, akhirnya kau datang juga," ucap wanita paruh baya itu dengan suara yang anggun namun tegas, sebelum dia beralih menatap Denisa dengan alis yang bertaut. "Dan... siapa wanita muda yang kau bawa ini? Mengapa wajahnya tampak tidak asing bagi Ibu?"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel