Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3. Kejam

Bunyi denting lift yang halus menandakan Denisa telah sampai di lantai dasar gedung Megantara Group. Beruntung, subuh itu lobi kantor masih sangat sepi. Hanya ada seorang petugas keamanan yang sedang berjaga di balik meja resepsionis jauh di ujung ruangan. Denisa berjalan tergesa-gesa dengan kepala tertunduk dalam. Jari-jarinya mencengkeram erat robekan di bahu gaun hijaunya, berusaha menyembunyikan memar keunguan yang mulai tercetak jelas di atas kulitnya yang putih.

Begitu kakinya melangkah keluar dari pintu kaca gedung dan angin pagi yang dingin menerpa wajahnya, pertahanan yang sejak tadi dia bangun runtuh seketika. Denisa segera berjalan menuju sudut area parkir luar yang gelap dan tersembunyi di balik barisan tanaman hias yang rimbun. Di sana, di balik bayang-bayang beton yang dingin, Denisa meluruh ke lantai.

Kedua lututnya ditekuk erat ke dada, dan tangisnya pecah tanpa bisa ditahan lagi. Dia tidak peduli jika suaranya terdengar oleh petugas kebersihan yang mungkin sedang menyapu di kejauhan. Bahunya berguncang hebat. Isak tangisnya terdengar begitu pilu, penuh dengan rasa sesak dan penghinaan yang teramat dalam. Sentuhan-sentuhan kasar Adrian semalam seolah masih menempel lekat di kulitnya, membuatnya merasa begitu kotor dan hina. Pria itu benar-benar telah merenggut kebebasannya, memperlakukannya seperti properti yang bisa dipergunakan sesuka hati hanya karena selembar kertas kontrak dan uang tiga ratus juta rupiah.

Setelah hampir tiga puluh menit menumpahkan seluruh rasa sesak di dadanya, Denisa perlahan menyeka air matanya dengan ujung jari yang gemetar. Dia tahu dia tidak bisa terus terpuruk di tempat ini. Adrian bisa saja turun kapan saja, dan dia tidak ingin pria kejam itu melihatnya dalam kondisi semenyedihkan ini lagi. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Denisa bangkit berdiri. Dia melangkah keluar dari area gedung dan segera menyetop sebuah taksi yang kebetulan melintas di jalan raya yang mulai ramai.

Di dalam taksi, sepanjang perjalanan menuju alamat apartemen mewah di kawasan A yang diberikan Adrian, Denisa hanya terdiam menatap ke luar jendela. Tatapan matanya kosong, menyusuri jalanan kota Jakarta yang mulai dipadati oleh para pekerja. Pikirannya melayang kembali ke ruang kerja Adrian yang dingin. Kejadian semalam berputar seperti film hitam putih di otaknya, memicu rasa ngilu yang kembali menjalar di sekujur tubuhnya.

Hingga tiba-tiba, sebuah pemikiran mengerikan terlintas di kepalanya. Pikiran itu seketika membuat seluruh tubuh Denisa menegang dan darahnya seolah membeku.

Bagaimana jika dia hamil?

Adrian semalam melakukannya dengan sangat kasar, penuh dominasi, dan tanpa pengaman sama sekali. Pria itu tidak peduli pada risiko apa pun, dia hanya ingin melampiaskan kekuasaannya.

Denisa segera merogoh tas kerjanya dengan panik, mencari ponselnya. Dengan tangan yang gemetar hebat, dia membuka aplikasi kalender. Napasnya memburu saat matanya menyusuri deretan angka digital di layar. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan di dada ketika dia menyadari satu kenyataan pahit: minggu ini adalah masa suburnya.

"Tidak... tolong, jangan," bisik Denisa frustrasi, meremas ponselnya erat-erat.

Ketakutan yang teramat sangat kini menjalar di benaknya, bahkan jauh lebih mengerikan daripada ketakutannya pada para rentenir kemarin. Mengandung benih dari pria sedingin dan sekejam Adrian adalah sebuah mimpi buruk yang tidak akan pernah sanggup dia bayangkan. Adrian sudah menegaskan dengan sangat jelas bahwa hubungan mereka hanyalah transaksional, tanpa status, tanpa masa depan, dan tanpa melibatkan perasaan sedikit pun. Pria itu membenci institusi pernikahan dan komitmen keluarga. Jika Adrian sampai tahu ada janin yang tumbuh di rahimnya, Denisa sangat yakin pria itu tidak akan segan-segan memaksanya untuk menyingkirkannya, atau mungkin akan memperlakukannya jauh lebih kejam lagi.

Lagipula, Denisa memiliki pemikiran yang sangat realistis tentang posisinya saat ini. Dia sadar betul siapa dirinya—hanya seorang wanita simpanan yang dibeli karena situasi terdesak. Hubungan gila ini tidak akan bertahan selamanya. Suatu hari nanti, entah dalam hitungan bulan atau tahun, Adrian pasti akan merasa bosan padanya. Ketika saat itu tiba, Adrian akan membuangnya begitu saja ke jalanan, seperti barang rongsokan yang sudah tidak memiliki nilai guna lagi. Denisa tidak ingin egois. Dia tidak mau melahirkan seorang anak ke dunia ini tanpa kejelasan status, tanpa kasih sayang seorang ayah, dan membiarkan anak itu menanggung aib dari dosa yang diperbuat oleh orang tuanya.

Begitu taksi berhenti di depan lobi gedung apartemen mewah yang dituju, Denisa tidak langsung masuk ke dalam gedung. Dia memilih duduk di salah satu bangku taman yang terletak agak jauh dari pintu masuk utama. Dengan sisa keberanian yang dia miliki, dia membuka aplikasi layanan pesan antar obat di ponselnya. Jari-jarinya mengetikkan nama obat yang sangat dia butuhkan saat ini: pil kontrasepsi darurat.

Setelah melakukan pembayaran digital dengan sisa uang tabungannya, Denisa menunggu dengan cemas. Setiap menit terasa seperti berjam-jam. Dia terus menatap ke arah jalan raya, berharap kurir yang membawa obatnya segera datang sebelum batas waktu efektivitas pil itu berkurang. Setengah jam kemudian, seorang kurir motor berhenti di depan gerbang. Denisa segera bangkit dan menghampirinya, menerima bungkusan plastik putih kecil itu dengan perasaan campur aduk antara lega dan juga miris.

Denisa berjalan masuk ke dalam gedung apartemen dengan langkah yang sedikit lebih mantap. Menggunakan kartu akses hitam yang diberikan Adrian, dia naik menuju lantai paling atas di mana unit griya tawangnya berada. Begitu pintu apartemen terbuka, dia disambut oleh kemewahan yang luar biasa. Ruangan yang sangat luas dengan interior modern, perabotan kelas atas, dan pemandangan kota yang memukau. Namun bagi Denisa, tempat ini tak lebih dari sebuah sangkar emas yang sunyi dan mengintimidasi.

Dia langsung berjalan menuju dapur bersih, mengambil segelas air putih, dan merobek kemasan obat di tangannya dengan terburu-buru. Tanpa berpikir dua kali, Denisa memasukkan pil kb darurat itu ke dalam mulutnya dan meminumnya hingga tandas. Dia bersandar pada meja konter dapur, memejamkan mata erat-erat saat merasakan obat itu mengalir turun ke kerongkongannya.

"Aku tidak boleh hamil. Aku tidak akan pernah membiarkan diriku terikat lebih dalam lagi dengan pria itu," bisik Denisa pada dirinya sendiri, mencoba menguatkan hatinya yang rapuh.

Dia bertekad akan mulai meminum pil KB reguler setiap hari secara diam-diam. Ini adalah satu-satunya bentuk perlindungan diri yang bisa dia lakukan di dalam sangkar emas ini. Dia harus memastikan bahwa ketika hari di mana Adrian bosan dan membuangnya tiba, dia bisa pergi dari hidup pria itu dengan tubuh yang bersih dan tanpa beban apa pun yang tertinggal.

Denisa kemudian berjalan menuju kamar tidur utama untuk membersihkan diri dan mengobati luka-lukanya. Dia membuka lemari pakaian besar yang ada di dalam kamar, dan matanya terbelalak melihat deretan gaun malam, pakaian kasual beremerek, tas, hingga sepatu mewah yang semuanya sudah tertata rapi dalam berbagai ukuran tubuhnya. Adrian benar-benar telah mempersiapkan segalanya dengan sangat detail, seolah-olah sudah tahu bahwa Denisa tidak akan bisa menolak penawarannya.

Setelah mandi dengan air hangat yang sedikit mengurangi rasa linu di tubuhnya, Denisa mengenakan pakaian tidur sutra yang longgar. Dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size yang begitu empuk. Rasa lelah yang luar biasa setelah malam yang panjang akhirnya membuat matanya terasa sangat berat. Perlahan, Denisa mulai terlelap ke dalam tidur yang gelisah.

**

Tiga hari berlalu dalam kesunyian yang monoton. Adrian sama sekali tidak menghubungi atau mendatangi apartemen tersebut, membuat Denisa sedikit bisa bernapas lega dan menyembuhkan luka-luka fisiknya. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Pada malam keempat, saat hujan deras sedang mengguyur kota Jakarta, ketukan keras di pintu depan apartemen mengejutkan Denisa yang sedang membaca buku di ruang tengah. Jantungnya langsung berdegup kencang karena panik.

Denisa berjalan perlahan menuju pintu dan membukanya dengan tangan bergetar. Di ambang pintu, berdirilah Adrian. Pria itu tampak berantakan, jas mewahnya sudah dilepas dan disampirkan di lengan, sementara kemeja putihnya tampak basah oleh tetesan air hujan. Aromanya malam ini berbeda—bukan lagi wangi parfum cendana yang tenang, melainkan bau alkohol yang sangat pekat menyengat indra penciuman Denisa. Sepasang mata gelapnya tampak merah, memancarkan kemarahan dan gairah yang liar yang jauh lebih berbahaya daripada malam pertama mereka.

Sebelum Denisa sempat mengucapkan satu patah kata pun untuk menyapa, Adrian melangkah maju dengan cepat. Pria itu mencengkeram kedua bahu Denisa dengan kasar, mendorong tubuh perempuan itu hingga punggungnya membentur dinding lorong apartemen dengan keras.

Adrian mencondongkan tubuhnya, mengunci gerakan Denisa sepenuhnya, sementara seringai tipis yang mengerikan terukir di wajah tampannya yang tampak mabuk.

"Kau mengira bisa bersembunyi di sini dengan tenang setelah apa yang kau lakukan, Denisa?" bisik Adrian dengan suara rendah yang serak, embusan napasnya yang panas dan berbau alkohol menerpa wajah Denisa yang seketika pucat pasi karena ketakutan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel