Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 2. Resmi Menjadi Simpanan

Ritsleting gaun itu terbuka sepenuhnya, membiarkan udara dingin dari pendingin ruangan lantai paling atas langsung menusuk kulit punggung Denisa. Di dalam ruang kerja yang begitu luas dan sunyi ini, dia merasa seperti seekor domba yang terkepung di hadapan serigala. Adrian sama sekali tidak membuang waktu. Pria itu mencengkeram lengan atas Denisa, menariknya tanpa memedulikan ringisan perih yang lolos dari bibir perempuan itu. Bagi Adrian, malam ini bukanlah tentang romansa, kelembutan, atau prosesi penyatuan dua hati yang saling mendamba. Ini adalah sebuah transaksi bisnis yang murni, hitam di atas putih. Dan Denisa adalah komoditas berharga yang baru saja dia beli dengan harga tiga ratus juta rupiah.

"Pak Adrian... saya mohon, setidaknya jangan begini," bisik Denisa dengan suara yang bergetar hebat. Kedua tangannya yang kecil mencoba menahan dada bidang Adrian saat tubuhnya didorong kasar hingga terhempas ke sofa kulit panjang di sudut ruangan. Sofa yang biasanya digunakan untuk menyambut tamu-tamu naratama itu kini menjadi saksi bisu runtuhnya sisa-sisa kehormatan Denisa.

Adrian tidak menyahut. Ekspresi wajahnya sedingin es, tanpa ada kilat gairah yang hangat atau tatapan penuh pengertian. Yang ada di dalam sepasang mata gelap itu hanyalah keinginan untuk menegaskan dominasi mutlak seorang penguasa kepada bawahannya yang telah menyerah. Pria itu langsung menindih tubuh Denisa, mengunci kedua tangan perempuan itu di atas kepala dengan hanya menggunakan satu tangan besarnya yang kuat. Cengkeraman itu begitu erat dan bertenaga hingga pergelangan tangan Denisa yang putih seketika memerah dan terasa ngilu yang menyengat.

Saat Adrian mulai menuntut hak atas kontrak mereka malam itu, Denisa menyadari dengan sangat telak bahwa pria yang berdiri di puncak tertinggi Megantara Group ini benar-benar tidak memiliki hati nurani. Tidak ada kecupan penenang, tidak ada belaian lembut untuk mengondisikan tubuh Denisa, dan tidak ada satu pun kata-kata manis yang bisa menenteramkan badai ketakutan di kepala perempuan itu. Setiap sentuhan, tarikan, dan pergerakan Adrian terasa begitu menuntut, egois, dan hampa. Pria itu menyalurkan seluruh kendali dan kekuasaannya dengan cara yang sangat kasar, membuat Denisa merasa begitu kecil, tidak berdaya, dan tak lebih dari seonggok daging yang sedang dieksploitasi.

Denisa memalingkan wajahnya ke samping, menolak untuk menatap wajah pria yang sedang menguasai tubuhnya. Matanya menatap lurus ke arah dinding kaca besar yang menampilkan kerlip lampu kota Jakarta yang acuh tak acuh di bawah sana. Dia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, sangat kuat hingga rasa anyir darah mulai tercecap di lidahnya. Tindakan itu dia lakukan demi menahan jeritan dan rasa sakit fisik yang mendera tubuhnya yang belum siap. Denisa menolak untuk meneteskan air mata lagi di depan pria kejam ini. Harga dirinya sudah diinjak-injak hingga hancur berkeping-keping, namun dia bersumpah dalam hati menolak membiarkan Adrian melihat jiwanya ikut takluk dan hancur sepenuhnya.

Malam itu berlalu seperti sebuah siksaan panjang yang seolah tidak akan pernah menemui ujungnya. Setiap detik yang berdetak dari jam dinding mewah di ruangan itu terasa berjalan begitu lambat, seakan sengaja memperpanjang rasa sakit yang mendalam di sekujur tubuh Denisa. Adrian benar-benar menggunakan kekuatan fisiknya yang jauh lebih besar tanpa memedulikan kenyamanan, rasa sakit, atau kesiapan fisik Denisa sedikit pun. Pria itu memperlakukannya tak lebih dari sebuah barang pemuas kebutuhan biologis yang telah dibayar lunas, yang kewajibannya hanyalah diam dan tunduk pada setiap kehendak sang pemilik. Denisa hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat, mencengkeram bantal sofa dengan jari-jarinya yang memutih, dan membiarkan tubuhnya dihantam badai kekejaman Adrian hingga mati.

***

Ketika semburat fajar berwarna jingga keunguan mulai menyingsing di ufuk timur, ruangan kerja yang megah itu telah kembali ke dalam keheningan yang mencekam. Adrian sudah bangkit dari sofa sejak satu jam yang lalu. Pria itu kini berdiri tegak di dekat jendela kaca besar, kembali berpenampilan rapi dengan kemeja putih baru yang bersih, meski kancing teratasnya dibiarkan terbuka santai. Dia menyesap secangkir kopi hitam pekat yang mengepulkan asap tipis, menatap pemandangan pagi kota Jakarta seolah-olah tidak ada hal luar biasa yang terjadi di ruangan itu beberapa jam yang lalu.

Di atas sofa kulit, Denisa perlahan-lahan mencoba mengumpulkan sisa tenaganya untuk bangkit. Tubuhnya terasa remuk redam, seakan setiap persendian dan tulang di tubuhnya telah dipatahkan secara paksa. Rasa perih dan linu yang luar biasa menjalar di setiap jengkal kulitnya. Dengan tangan yang masih gemetar hebat, dia memegang erat-erat gaun hijaunya yang kini telah robek parah di bagian bahu dan ritsleting belakangnya, berusaha keras untuk menutupi tubuhnya yang kedinginan dan dipenuhi memar kemerahan akibat cengkeraman kasar Adrian.

Adrian membalikkan badan setelah mendengar suara pergeseran kain dari arah sofa. Dia menatap Denisa yang sedang berusaha duduk dengan pandangan yang tetap sama seperti kemarin: dingin, tajam, dan sangat berjarak. Tidak ada sedikit pun rasa bersalah atau penyesalan yang terpancar dari wajah tampannya. Pria itu melangkah menuju meja kerjanya, mengambil sebuah kunci kartu elektronik berwarna hitam dan secarik kertas kecil yang berisi sebuah alamat, lalu melempar kedua benda itu ke atas meja marmernya.

"Mulai hari ini, tempat itu adalah rumah barumu. Sebuah unit apartemen griya tawang di kawasan A. Semua kebutuhan pribadi dan pakaianmu sudah dipersiapkan di sana oleh orang-orangku," ucap Adrian. Suaranya terdengar sangat datar, tanpa riak emosi atau kehangatan sedikit pun, seperti seorang bos yang sedang memberikan tugas harian kepada karyawannya. "Uang tiga ratus juta rupiah juga sudah ditransfer langsung ke rekening rentenir yang menagihmu subuh tadi. Masalah utang mendiang orang tuamu sudah bersih. Mereka tidak akan pernah mengganggumu lagi."

Denisa menatap kunci kartu di atas meja itu dengan tatapan mata yang kosong dan redup. Utang ratusan juta yang menjeratnya memang telah lunas dalam semalam, rumah masa kecilnya yang penuh kenangan pun kini aman dari penyitaan. Namun, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Denisa tahu bahwa dia baru saja menukar satu penjara bawah tanah dengan sebuah penjara emas yang jauh lebih mengikat. Dia telah selamat dari kejaran para lintah darat, tetapi dia sekarang harus hidup di bawah kendali penuh seorang monster berwajah malaikat.

"Terima kasih... Adrian," sahut Denisa dengan suara yang sangat parau, nyaris habis akibat menahan semua rasa sakit sejak semalam. Dia sengaja tidak menggunakan kata 'Pak' lagi, mengingat aturan yang telah disepakati di dalam kontrak mereka.

"Bagus. Kau cepat belajar," potong Adrian tajam, merasa puas karena Denisa langsung menuruti perintahnya mengenai panggilan nama. Pria itu berjalan mendekati sofa, berdiri tepat di hadapan Denisa yang masih menunduk dalam, lalu menjatuhkan selembar cek tambahan dengan nominal yang cukup besar di dekat kaki perempuan itu. "Ambil itu dan beli pakaian baru yang layak untuk dirimu sendiri. Aku tidak suka melihat wanita yang bersamaku berpenampilan berantakan seperti gelandangan saat aku mendatanginya nanti. Dan ingat baik-baik aturan main kita yang paling krusial, Denisa. Jangan pernah mencoba mencari tahu tentang kehidupanku di luar apartemen itu, jangan pernah menghubungiku jika tidak mendesak, dan jangan pernah berharap lebih dari hubungan ini."

Denisa tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya bisa mengangguk pasrah, menerima kenyataan bahwa hidupnya kini sepenuhnya telah dibeli. Dengan sisa-sisa tenaga dan harga diri yang dia kumpulkan dari lantai, Denisa memungut kunci kartu, kertas alamat, serta cek tersebut dengan jari-jarinya yang masih gemetar. Dia melangkah gontai, setengah menyeret kakinya yang terasa lemas, meninggalkan ruangan kerja terkutuk yang telah mengubah garis takdir hidupnya selamanya.

Saat pintu lift pribadi di lantai itu tertutup rapat dan membawanya turun, pertahanan Denisa akhirnya runtuh sepenuhnya. Dia bersandar pada dinding lift yang dingin, perlahan-lahan merosot hingga terduduk di lantai lift, dan menyembunyikan wajahnya di balik kedua lutut. Air matanya yang sejak semalam dia tahan mati-matian kini tumpah ruah tanpa bisa dibendung lagi. Tangisnya pecah dalam kesunyian lift yang bergerak turun, meratapi nasibnya yang kini resmi menjadi seorang istri simpanan dari mantan bosnya yang kejam.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel