BAB 1. Simpanan CEO
"Kau tahu apa yang paling menjijikkan dari seorang pengemis, Denisa?"
Suara bariton itu mengalun tenang, namun sanggup menghentikan detak jantung Denisa seketika. Pria di hadapannya tidak berteriak. Dia bahkan tidak mengalihkan pandangan dari dokumen di atas meja kerja marmernya yang berkilau. Adrian, CEO dari Megantara Group sekaligus mantan bos yang baru dua hari lalu menandatangani surat pemecatannya, duduk dengan keanggunan seorang penguasa.
Denisa meremas ujung rok kerjanya yang mulai kusut. Kedua lututnya terasa gemetar. "Saya... saya tidak punya pilihan lain, Pak Adrian. Saya mohon. Hanya Anda yang bisa membantu saya."
"Pilihan itu selalu ada," Adrian akhirnya mendongak. Sepasang mata tajamnya mengunci netra Denisa yang berkaca-kaca. "Kau hanya terlalu malas untuk mencari jalan yang elegan, lalu memilih datang ke mari, menjual air mata, dan berharap aku menjadi pahlawanmu."
"Ini bukan sekadar air mata!" Suara Denisa naik satu oktav, sebelum dia buru-buru menekannya kembali karena sadar posisi. "Rekan kerja saya memfitnah saya menggelapkan dana proyek. Anda tahu saya tidak melakukannya! Dan sekarang, rentenir mendatangi rumah saya. Utang almarhum ayah saya... tiga ratus juta, Pak. Jika besok saya tidak membayar bunganya, mereka akan menyita satu-satunya rumah peninggalan orang tua saya."
Adrian menyandarkan punggungnya ke kursi kulit mewah. Dia menatap Denisa dari ujung kepala hingga ujung kaki. Perempuan di depannya tampak menyedihkan. Kantung mata yang menghitam, rambut yang biasanya disanggul rapi kini agak berantakan, dan kemeja putih yang tampak longgar karena berat badannya turun drastis dalam dua hari.
"Lalu apa hubungannya utang orang tuamu denganku?" tanya Adrian dingin. "Aku adalah mantan bosmu, Denisa. Bukan lembaga amalan. Lagipula, catatanmu di perusahaan ini sudah cacat. Kau dipecat atas dugaan pelanggaran kode etik."
"Tapi Anda tahu itu fitnah! Anda bahkan tidak memeriksa bukti yang saya bawa hari itu!" Denisa melangkah maju, memangkas jarak dengan meja besar yang memisahkan mereka. "Saya sudah mencoba meminjam ke semua teman saya. Tidak ada yang peduli. Saya bahkan datang ke bank, tapi tanpa pekerjaan tetap, mereka menolak saya mentah-mentah. Pak Adrian, saya bersedia mencicilnya seumur hidup saya. Potong dari gaji saya jika Anda mau mempekerjakan saya kembali. Tolong..."
Adrian terkekeh rendah. Suara tawa yang terdengar sangat meremehkan. "Mempekerjakanmu kembali? Untuk memicu gosip baru di kantor? Jangan konyol."
Pria itu bangkit dari kursinya. Tubuhnya yang tinggi tegap dibalut setelan jas pesanan khusus bernilai ratusan juta. Setiap langkah sepatunya yang mengetuk lantai parket terdengar seperti vonis mati bagi Denisa. Adrian berjalan memutari meja, lalu berhenti tepat di hadapan Denisa. Aroma parfum kayu cendana yang mahal langsung mengintimidasi indra penciuman Denisa.
"Kau bilang kau sudah mengemis ke semua temanmu?" Adrian melipat kedua tangan di dada.
"Iya," lirih Denisa, menunduk dalam.
"Dan mereka semua menolakmu?"
"Iya."
"Termasuk kekasih lamamu itu? Siapa namanya... Bram?"
Denisa menggigit bibir bawahnya hingga menyisakan rasa perih. "Dia... dia bahkan tidak mau mengangkat telepon saya. Setelah tahu saya dipecat dan punya utang, dia menghilang."
Adrian tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kemenangan yang sinis. "Dunia ini sangat realistis, Denisa. Saat kau berada di atas, semua orang mengaku saudara. Saat kau jatuh ke lumpur, mereka bahkan tidak sudi melihat tapak sepatumu."
Adrian berjalan menuju dinding kaca besar yang menampilkan gemerlap lampu kota Jakarta dari lantai tiga puluh. Pria berusia tiga puluh dua tahun itu memiliki segalanya: ketampanan, kekayaan yang tak habis tujuh turunan, dan kekuasaan mutlak. Namun, semua orang di kalangan bisnis tahu satu hal tentang Adrian. Dia adalah pria sinis yang tidak mempercayai komitmen. Baginya, pernikahan adalah rantai kebodohan yang mengikat kebebasan manusia.
"Tiga ratus juta bukan angka yang besar bagiku," ucap Adrian tiba-tiba, memecah keheningan yang mencekam. "Itu bahkan tidak cukup untuk membeli jam tangan baru yang sedang kuincar."
Secercah harapan mendadak terbit di dada Denisa. Dia mendongak cepat. "Pak Adrian... Anda mau meminjamkannya pada saya?"
Adrian berbalik, menatap Denisa dengan pandangan yang sulit diartikan. "Aku tidak pernah meminjamkan uang kepada orang yang tidak memiliki jaminan. Apa yang bisa kau jaminkan kepadaku, Denisa? Rumah tuamu yang reyot itu? Nilai jualnya bahkan tidak sampai seratus juta di pasar sekarang."
Denisa tertegun. Jantungnya berdegup kencang. "Saya... saya tidak punya apa-apa lagi. Tapi saya berjanji akan bekerja keras. Apa saja. Saya bisa menjadi asisten pribadi Anda lagi, atau—"
"Aku tidak butuh asisten baru. Sekretarisku yang sekarang jauh lebih kompeten dan tidak punya drama keluarga," potong Adrian cepat.
"Lalu... lalu apa yang Anda inginkan dari saya?" Denisa mulai merasa putus asa. Air matanya yang sejak tadi ditahan kini luruh membasahi pipi.
Adrian melangkah mendekati Denisa lagi. Jarak mereka kini sangat dekat, hingga Denisa bisa merasakan kehangatan tubuh pria itu. Adrian mengulurkan tangan, jemarinya yang dingin menyentuh dagu Denisa, memaksa perempuan itu untuk menatap langsung ke dalam matanya yang sehitam malam.
"Kau memiliki wajah yang cukup menjual, Denisa. Kulitmu bersih, tubuhmu proporsional, dan kau... penurut. Setidaknya, kau tipe wanita yang tidak akan banyak protes jika diberi perintah," bisik Adrian dengan suara rendah yang berbahaya.
Denisa menahan napas. Sentuhan Adrian di dagunya terasa seperti sengatan listrik, namun kalimat pria itu membuat perasaannya tidak enak. "Maksud Anda?"
Adrian melepaskan cengkeramannya pada dagu Denisa, lalu berjalan kembali ke mejanya. Dia mengambil sebuah map hitam yang tampaknya sudah dia siapkan sejak awal, lalu melemparnya ke hadapan Denisa.
"Aku butuh seorang wanita. Tapi aku tidak butuh seorang istri. Pernikahan adalah hal paling tidak logis yang diciptakan manusia. Aku tidak ingin membagi asetku, aku tidak ingin ada drama mertua, dan aku tidak ingin dikekang oleh komitmen hukum," kata Adrian lugas.
Denisa menatap map hitam itu dengan tangan gemetar. "Saya... saya tetap tidak mengerti."
"Tiga ratus juta rupiah akan masuk ke rekeningmu dalam waktu lima menit setelah kau menandatangani surat itu," ujar Adrian, nadanya berubah menjadi sangat transaksional. "Sebagai imbalannya, kau harus menjadi istri simpananku."
Kata 'simpanan' menghantam pendengaran Denisa seperti godam besar. Kepalanya mendadak pening. "Simpanan? Tapi Anda bilang... Anda belum punya istri."
"Memang belum. Dan tidak akan pernah," sahut Adrian dingin. "Statusmu adalah simpanan karena keberadaanmu tidak akan pernah diakui oleh dunia. Kau tidak akan pernah menghadiri pesta bersamaku sebagai pasangan resmi. Kau tidak akan pernah menemui keluargaku. Kau akan tinggal di apartemen yang kusediakan, dan kau harus selalu ada setiap kali aku membutuhkanmu. Tanpa protes, tanpa tuntutan, dan yang paling penting..."
Adrian mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Denisa dengan mata menghunus.
"...tanpa melibatkan perasaan. Jika kau jatuh cinta kepadaku, kontrak ini batal dan kau harus mengembalikan uang itu dua kali lipat."
Denisa merasa harga dirinya yang tersisa kini diinjak-injak hingga hancur berkeping-keping. Menjadi wanita simpanan? Menjual dirinya pada pria yang pernah menjadi atasannya? Pikiran itu membuat seluruh tubuhnya menolak.
"Tidak," bisik Denisa gelisah. Dia menggelengkan kepala. "Saya tidak bisa. Saya bukan wanita seperti itu, Pak Adrian. Lebih baik saya pergi."
Denisa berbalik, berniat melangkah menuju pintu keluar. Namun, sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, suara Adrian kembali terdengar, menghentikan langkahnya dengan telak.
"Silakan pergi, Denisa. Keluar dari pintu itu, dan besok pagi kau akan melihat barang-barang peninggalan orang tuamu dilempar ke jalanan oleh para penagih utang. Kau akan tidur di emperan toko, tanpa pekerjaan, tanpa uang, dan tanpa masa depan. Oh, dan jangan lupa, para rentenir itu tidak akan segan-segan menjualmu ke klub malam di daerah kota untuk melunasi utangmu. Menurutmu, mana yang lebih terhormat? Menjadi milikku, atau menjadi konsumsi puluhan pria hidung belang di luar sana setiap malam?"
Langkah Denisa membeku. Setiap kata yang diucapkan Adrian adalah kebenaran yang mengerikan. Dunia di luar sana sangat kejam, dan dia berada di titik paling bawah.
Denisa perlahan berbalik kembali. Air matanya mengalir deras, membasahi bibirnya yang bergetar. Dia menatap map hitam di atas meja, lalu menatap pria yang duduk dengan tenang di baliknya—pria yang memegang kendali penuh atas hidup dan matinya saat ini.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Denisa melangkah kembali mendekati meja. Dia meraih pulpen mewah yang terletak di dekat map tersebut.
"Saya... saya akan menandatanganinya," ucap Denisa dengan suara parau, hampir habis.
Adrian tersenyum puas. Dia menyodorkan halaman terakhir dokumen tersebut. "Pilihan yang cerdas."
Denisa menarik napas panjang, menahan sesak di dadanya, lalu menorehkan tanda tangannya di atas materai. Dengan satu coretan itu, dia tahu hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Dia baru saja menjual kebebasannya.
Adrian mengambil kembali dokumen tersebut, memeriksanya sekilas, lalu memasukkannya ke dalam laci. Dia bangkit dari kursi, berjalan mendekati Denisa, dan tiba-tiba menarik pinggang perempuan itu hingga tubuh mereka merapat tanpa jarak.
Denisa terkesiap, kedua tangannya tertahan di dada bidang Adrian.
"Kontrak sudah sah, Denisa. Dan pemilikmu sekarang adalah aku," bisik Adrian di dekat telinga Denisa, embusan napasnya membuat bulu kuduk Denisa meremang. "Kita tidak perlu menunda waktu. Tugas pertamamu dimulai malam ini."
Tangan Adrian mulai bergerak turun ke ritsleting belakang gaun Denisa, terdengar suara tarikan tajam yang membuat punggung Denisa mendadak dingin. Denisa memejamkan mata erat-erat, membiarkan air mata terakhirnya jatuh, menyadari bahwa malam ini adalah awal dari neraka dunia yang dia pilih sendiri.
