Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Sisi Lain Ramon

"Hey! Mengapa kau kasar sekali pada wanita ini!" Ujar Seorang Pria yang kebetulan berpapasan dengan Ramon.

"Hey, dia istriku mengapa kau jadi mengatur hidup kami!" Jawab Ramon dengan sangat ketus.

Rika kemudian menghampiri pria itu dan berterima kasih akan perhatian yang diberikannya.

Pria itu kemudian memperkenalkan diri pada Rika, dia bernama Komang dan kebetulan adalah seorang pengacara. Dia mengaku tak senang melihat pria yang seharusnya santun kepada Istrinya justru bisa segalak itu di depan umum.

Komang yang khawatir akan keadaan Rika kemudian memberikan kartu namanya dan meminta Rika menghubunginya jika kelak dia membutuhkan bantuan.

Kartu nama itu kemudian di selipkan Rika kedalam sakunya tanpa sepengetahuan Ramon.

Setelah berbincang singkat dan tak ingin membuat Ramon semakin marah, Rika kemudian bergegas mengejar Ramon yang nampak sudah meninggalkannya menuju mobil yang akan membawanya nemuju vila.

Sikap Komang tadi ternyata membuat Ramon sadar bahwa selama ini dia terlalu kasar kepada istri lugunya, dia juga sadah harus merubah sikap kepada Rika jika dia masih ingin bersama istrinya itu.

Selain itu jika sampai Rika pergi dari sisinya sebelum warisan Ayahnya di dapatnya itu berarti perjuangannya menikahi Istrinya ini akan menjadi sia-sia.

Sekarang saja kedua orang tuannya belum benar-benar menerima pernikahannya ini dan itu berarti dia belum benar-benar lepas dari masalahnya.

Akhirnya Ramon dan Rika tiba di parkiran dan menuju mobil yang akan membawa mereka, dua tas koper dan beberapa tas kecil yang di bawa pasangan baru ini kemudian di masukkan supir ke dalam bagasi mobil.

Setelah semua siap merekapun memulai perjalanan menuju Vila.

Dalam perjanan menuju vila yang berjarak sekitar 20 kilo meter dari Bandara Denpasar, Ramon menjadi kembali bermanis-manis kepada Rika.

"Maafkan aku ya, jika belakangan aku jadi sering marah kepadamu!" Ujar Ramon sambil mengelus lembut wajah Rika.

Rika yang senang melihat Ramon sudah kembali baik kepadanya kemudian menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu. Dia sadar terkadang suaminya akan sangat galak saat sedang lelah atau kesal.

Akhirnya mobil yang membawa Ramon dan Rika tiba di villa tempat mereka honey moon, vila ini begitu indah dengan pemandangan laut Bali yang begitu tenang dan biru.

Tak lupa Ramon meminta Istrinya menggunakan lotion sebelum keluar karena hari ini matahari bersinar begitu terang.

Perhatian Ramon ini membuat Rika sangat terpesona, meski memang suaminya sangat kasar tapi saat lembut dia kembali menjadi pria yang sangat manis baginya.

Siang segera menjelang, makan siang mereka kemudian di antarkan beberapa orang pegawai menuju villa.

Seekor ayam bakar, sebakul nasi dan acar serta jus nanas segar di menjadi menu yang sangat segar di hari yang panas ini.

Rika yang sudah kelaparan karena tak sempat sarapan kemudian segera menyantap makan siang porsi besarnya itu, Ramon yang memandangi Rika dari jauh hanya dapat terheran-heran melihat nafsu makan Rika yang besar itu.

"Maklumlah, dia tak pernah liat makanan enak!" Cibir Ramon sambil terus mengamati Istrinya.

"Kau tak makan?" Tanya Rika sambil terus sibuk dengan piring makannya.

Ramon tak menjawab dia malah membuang muka dan kembali sibuk dengan ponselnya.

Tak mendapatkan jawaban dari Suaminya, Rika kemudian melanjutkan makan siangnya, ayam bakar ini terasa sangat enak baginya.

Rika yang memandang nasi dalam bakul kemudian kembali mengingat kedua orang tuannya yang hidup sulit di desa, entah apa yang akan di katakan kedua orang tuannya jika sampai tau dia kini sedang liburan bersama suaminya yang kadang galak kadang baik ini.

Sesekali Rika menyeka air matanya mengingat semua kejadian buruk yang terjadi selama hidupnya, dia hanya gadis desa polos yang bermimpi bisa kuliah di Bandung dan pulang membawa gelar untuk kebanggaan orang tuannya.

Namun mimpi itu tak semudah yang dia bayangkan, sesekali saat orang tuannya tak mampu mengirim uang, Rika terpaksa tak makan hingga beberapa hari. Sedih baginya namun sungguh dia tak ingin jadi beban bagi orang tuannya.

Kini dia bisa menikah dengan Ramon yang walaupun galak tetap bersedia membelikannya makanan seenak ini.

Ramon yang sadar Rika sedang menangis kemudian menghampiri Istrinya itu, dia kemudian bertanya apa yang kali ini membuatnya menangis, Rika tak menjawab hanya bisa menyandarkan kepalanya di bahu Ramon dan menangis sebisanya.

"Sudahlah, cerita saja. Aku tak suka kau menangis begini!" Ujar Ramon sambil mengelus lembut rambut Rika.

"Jangan marah-marah lagi, aku takut." Bisik Rika sambil menyeka air matanya.

Ramon menarik nafas panjang, dia memang tak pernah bisa lembut pada wanita. Sudah wataknya seperti itu tapi ya demi mendapatkan warisan dari Ayahnya mau tidak mau dia harus berubah sementara waktu ini.

"Maaf ya, aku tadi sedang capek saja!" Ujar Ramon sambil tersenyum palsu.

Tentu ini keajaiban bagi Ramon bisa mengucapkan kata maaf pada wanita yang di buatnya menangis. Dulu saat masih dengan mantan Istrinya tak pernah sekali pun Pria kaya ini bisa mengucapkan kata itu di lima tahun pernikahannya.

Terlalu mahal baginya bisa sampai meminta maaf kepada siapapun termasuk kedua orang tuannya, tapi demi Rika tetap mau hidup dalam pernikahan palsu ini dia rela mengucapkannya dan tentu saja dia harap ini terakhir kalinya.

Setelah selesi makan siang di dalam vila, Ramon kemudian mengajak Istri barunya itu untuk menuju pantai yang nampak begitu menggoda matanya, dia segera menggunakan sun block agar kulitnya tak terbakar matahari.

RIka kemudian membuka pintu kaca vila yang berhadapan langsung dengan pantai. Mereka kemudian bermain pasir dan air laut di siang hari itu.

Deburan ombak membuat hari mereka terasa sangat indah dan tak terasa sore menjelang dan merekapun bergegas masuk ke dalam vila.

Ramon meminta Istrinya mandi terlebih dahulu karena dia ingin menghubungi dahulu Nanda, Adiknya untuk mengabarkan acara honey moonnya bersama Rika.

[Halo, Nanda] Sapa Ramon kepada Nanda lewat sambungan telepon.

[Hai, bagaimana honey moon mu?] Tanya Nanda yang sangat senanga akhirnya Ramon menghubunginya.

Ramon kemudian menceritakan semua kejadian yang terjadi mulai dia berangkat ke bandara hingga tiba di vila ini. Nand sangat bersyukur semua rencana kakaknya itu bisa menjalankan rencananya dengan baik.

Nanda juga menceritakan jika Ayahnya sudah mempersiapkan pengacara untuk mencatatkan nama Ramon pada daftar penerima harta wariasannya.

[Baguslah, begitu warisan itu aku dapatkan aku bisa segera membuang Rika dari hidupku!] Bisik Ramon pada Nanda.

"Apa kau bilang tadi, kau mau aku apa?" Tanya Rika yang ternyata sudah berada di dekat Ramon.

Ramon kaget dan baru menyadari jika Rika sejak tadi mendengarkan perbincangannya dengan Nanda.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel