Makin Sayang Makin Manja
"Kau bilang apa tadi, mau membuangku?" Tanya Rika dengan wajah sangat marah.
Ramon yang menyadari Rika mendengar perbincangannya dengan Nanda kemudian bergegas menutup telepon.
Rika sangat marah kemudian berlari masuk ke kamar dan membanting pintu.
Braaak...
Rika kemudian terdiam dan dia tak menyangka suaminya akan membuangnya secepat ini, pernikahan mereka saja baru berlangsung bahkan belum sebulan, pikir Rika.
Ramon tentu tak mau kehilangan Rika secepat ini, dia terus menggedor pintu dan meminta Istrinya itu mendengarkan penjelasan palsunya dulu.
"Rika, kau salah dengar, biarkan aku masuk!" Pinta Ramon begitu memelas.
Tentu awalnya Rika tak ingin membuka pintu kamarnya, rasanya sudah sering sekali Ramon berbuat seperti ini kepadanya. Belum lagi kasus Ramon yang tak menceritakan padanya tentang mantan Isrinya yang jelas-jelas fotonya masih terpampang nyata di rumah kedua orang tuanya.
Namun karena perutnya mulai kelaparan dan dia tak mau sampai melewatkan makan malamnya, akhirnya dia bersedia membuka pintu untuk Ramon.
Ramon yang tak habis akal kemudian mengatakan pada Rika yang dia bicarakan dengan Nanda tadi bukan membuang Rika melainkan membuang baju-baju lama RIka yang masih terdapat di Rumahnya.
"Bukankah lebih bagus kalau kita ganti semua baju lamamu dengan baju yang baru dan lebih mahal!" Ujar Ramon dengan begitu cerdik.
Rika yang tadinya nampak kesal kemudian kembali tersenyum ke arah Ramon, melihat Istrinya sudah kembali tersenyum Ramon nampak sangat lega dan mulai berjanji kepada dirinya sendiri untuk lebih hati-hati jika akan berbincang dengan siapapun.
Rika yang kelaparan mulai cemas karena setelah lama berbincang dengan Ramon, makan malam yang dia nantikan belum juga datang, ketika kecemasannya semakin memuncak tiba-tiba…
Tok... tok... tok...
Seorang pelayan vila mengetuk pintu dan ini adalah yang sangat di tunggu-tunggu oleh Rika.
"Permisi, Tuan dan Nyonya. Saya Pelayan Vila yang mengantarkan makan malam!" Sapa Pelayan vila yang terdengar sudah berada di depan pintu.
Rika nampak girang, kebetulan sekali dia sekarang memang sudah mulai lapar. Dia kemudian bergegas membuka pintu vilanya agar makan malam bisa segera tersaji.
Setelah semua makan di sajikan Pelayan Vila Rika bergegas mengambil piring dan tak lama kemudian diapun sibuk mengunyah semua sajian itu.
Saat Rika nampak sudah mulai sibuk dengan makan malamnya, Ramon kemudian mengirim pesan kepada Nanda yang meminta Nanda tak menghubunginya dulu karena khawatir Rika kembali mendengar pembicaraan mereka.
"Ramon, ayo makan!" Ajak Rika sambil mulai menyantap makan malam mereka yang berupa nasi soto ayam hangat lengkap dengan keripik kentan dan teh hangat yang segar.
"Sepertinya wanita ini akan mudah di taklukan dengan makanan!" Bisik Ramon sambil menghampiri Rika.
Kenyang bersantap dengan Rika, Ramon mencoba mengecek ponselnya. Nampak Rika mengirimkan pesan singat yang membuatnya sangat kaget.
[Ayah, bilang kau hanya bisa masuk daftar waris jika kau sudah memiliki keturunan dari Rika!]
"What!!" Teriak Ramon begitu kesal.
"Kamu kenapa lagi Ramon?" Tanya Rika dengan mulut penuh makanan.
Ramon kemudian melihat Rika dengan sangat tajam. dia tak pernah berpikir harus melakukan hubungan ini dengan Rika. Tapi ya karena terpaksa dia akhirnya harus melakukannya juga.
Malam semakin larut dan dengan buayan Ramon yang begitu manis akhirnya ritual honey moon itupun akhirnya terjadi.
Keesokan harinya.
Rika terbangun dengan wajah sumringah, dia kini benar-benar merasa sebagai wanita yang sangat beruntung. Sedang Ramon yang kesal dengan persyaratan dari Ayahnya hanya bisa terdiam seperti tak iklas dengan apa yang terjadi semalam.
"Ramon, kenapa sarapannya belum datang?" Tanya Rika yang membuat Suaminya itu semakin kesal.
"Kenapa tak kau tanyakan saja kepada petugas vila, aku tak tau!" Jawab Ramon dengan kesal.
Rika kemudian mencoba membuka pintu Vila dan dan mencoba melihat ke arah kantor vila untuk memastikan makanannya benar-benar akan datang.
"Ah itu, mereka sedang menuju kemari!" Ujar RIka sambil bergegas menghampiri Ramon dengan setengah berlari.
"Jangan lari-lari, kau harus menjaga kondisimu!" Seru Ramon yang nampak khawatir akan kondisi Rika.
Rika kemudian tersenyum dan nampak senang melihat Ramon yang semakin memperhatikannnya.
"Benar ternyata, cinta sejati itu bisa datang di pandangan pertama! Bukan begitu Suamiku!" Ujar Rika yang membuat Ramon tersenyum sinis.
Makan pagi mereka akhirnya datang, kali ini menunya adalah sepiring nasi goreng dengan nanas serta topping telur dadar dan susu rasa leci yang segar.
Ramon kemudian meminta Rika makan yang banyak agar dia segera memiliki keturunan, sontak Rika tersenyum mendengarkan perkataan suaminya itu.
"Sudah makan saja, tak perlu tersenyum seperti itu!" Bentak Ramon yang membuat Rika kembali murung.
Sadar sikap kasarnya kembali membuat Istrinya murung sekali lagi Ramon meminta maaf kepada Rika dan mulai menyuapi Istrinaya itu dengan nasi goreng yang masih tersisa di piringnya.
Karena sangat kekenyangan Rika kemudian memilih untuk merebahkan badannya di kamar, Ramon yang melihat Rika tak sedang mengawasinya segera menghubungi Nanda via pesan singkat.
[Aku tak menyangka harus melakukan ini dengan gadis itu, iih kau jijik!] Geram Ramon.
Nanda yang membaca percakapan dari kakaknya sontak tertawa terbahak-bahak. Padahal Ayahnya tak pernah berkata kepadanya soal keturunan Ramon dari Rika tapi dia tetap tak memberi tau Ramon soal kebohonganya itu.
Setelah 7 hari masa honey moon di Bali akhirnya Ramon dan Rika harus kembali ke Bandung.
Ramon mempersiapkan kepulangannya dengan pesawat seperti saat dia berangkat, semua koper sudah masuk ke bagasi dan Rika nampak sangat senang bisa berlibut ke Pulau yang indah ini.
Perjalanan pulang merekapun sangat lancar tanpa sedikitpun halangan, Ramon dan Rika akhirnya tiba di Bandung dengan di jemput oleh kedua orang tua Ramon dan seorang supir.
Selama di bandara sikap Ramon sangat manis kepada Rika membuat Ayah dan Ibu Ramon semakin yakin Rika perlahan dapat merubah karakter Putra mereka yang pemalas dan kasar itu.
Mereka kemudian di minta untuk pulang ke rumah orang tua Ramon karena ada hal penting yang ingin sekali di tunjukkan oleh Ayah.
Pikiran Ramon saat itu hanyalah soal warisan sehingga dia berpikir jika tujuan dia di minta pulang ke rumah Ayah adalah untuk menanda tangani surat warisan untuknya.
Ramon yang sangat girang kemudian menurut saja, saat tiba di rumah Ayahnya, nampak beberapa orang sudah menunggu mereka seperti akan ada acara penyambutan yang sangat penting.
Ramon kemudian turun dari mobil sambil menggandeng tangan Rika yang di harapkannya akan segera mengandung buah cintanya.
"Ada apa ini, kok banyak orang?" Tanya Ramon kepada supir yang mengantarnya.
Ibu dan Ayah hanya terseyum dan meminta Ramon untuk masuk kedalam rumah.
Baru saja beberapa langkah menginjakkan kaki tiba-tiba.
"Ibu!" Seru Rika memanggil Ibunya yang nampak sedang menunggu kedatangannya.
"Apa? Ibu?" Ujar Ramon dengan wajah sangat kaget.
