Bulan Madu Ke Bali
"Haah, kamu ngak ngomong kalau kamu punya mantan Istri!" Ujar Rika dengan wajah sangat marah.
Ramon yang ketakutan, kemudian berusaha menenangkan Rika yang baru saja di nikahinya dan berkata bahwa pernikahan itu adalah masa lalunya dan dia berjanji akan terus menunjukkan kepada Rika jika dia akan menjadi suami yang baik untuknya.
Awalnya Rika terus memasang wajah marah namun setelah di bujuk oleh Ramon akhirnya Rika yang polos itu percaya jika apa yang dia permasalahkan ini tak penting lagi.
Yang terpenting saat ini adalah menjalankan hubungannya dengan Ramon tanpa melihat masa lalu masing-masing.
"Baiklah, kapan kalian akan berangkat untuk honey moon?" Tanya Ayah Ramon.
"Kami berangkat besok pagi dengan penerbangan pertama!" Jawab Ramon dengan sangat bersemangat.
Ramon kemudian menceritakan rencana kepada Ayahnya bahwa mereka akan pergi ke sebuah vila yang terletak di daerah terpencil di Pulau Bali, tempat yang sangat indah dan pasti sangat berkesan bagi dia dan Rika.
Rika setuju dan nampak sudah tak sabar untuk berangkat ke Bali, maklum seumur hidup dia belum pernah menginjakan kakinya di Pulau Dewata yang katanya sangat indah dan selalu menjadi tujuan wisata bagi banyak orang.
Mendengar Rika yang begitu antusias, Ramon kemudian mengajak Rika untuk pulang, maklum mereka belum berkemas dan jika mereka tak segera berkemas bisa saja mereka terlambat.
"Berkemas? Memangnya Rika punya baju yang akan di kemasi!" Cibir Rika sambil terus memandang Rika yang belum sadar sedang di jebak oleh Ramon.
Ramon yang duduk di samping Nanda hanya tersenyum kecut, dia kemudian mengajak Rika pulang karena jika mereka tinggal terlalu lama di rumah itu dia khawatir Orang Tuanya akan membuka semua aib masa lalunya.
Setelah berpamitan, Rika dan Ramon bergegas pulang, selama perjalanan pulang Ramon terus memandang ke arah Rika yang masih saja belum sadar akan jebakannya.
Tiba di rumah Ramon, Rika kemudian mulai nampak kebingungan baju mana yang akan dia kemasi.
Ramon yang sudah menduga akan kejadian ini kemudian meminta Rika tak perlu khawatir dan cukup membawa beberapa baju yang dia miliki saja walau memang Rika sebenarnya tak punya baju yang layak untuk di bawa.
"Sungguh hanya beberapa baju saja?" Tanya Rika tak yakin dengan perintah Ramon ini.
Ramon menghela nafas panjang, sadar memang tak ada baju yang layak di bawa Ramon kemudian mengajak Istri barunya itu untuk berbelanja beberapa baju di mall yang tak jauh dari rumahnya.
Dia bersedia mengajak Rika pergi berbelanja namun tetap saja Ramon yang pengangguran dan pelit memberi syarat kepada Istrinya itu.
"Tak usah beli baju terlalu banyak, beli yang penting saja. Ingat itu!" Perintah Ramon sambil membuka pintu mobil untuk Rika.
Perlahan Rika mulai tau karakter suaminya ini, Ramon ternyata pria yang sangat pelit dan sangat kasar.
Tak sedikitpun dia berusaha membantu Rika dalam memilih barang yang akan di beli dan Ramon tak mau membantunya membawakan tas belanjanya.
Tak mau ribut, Rika memutuskan membeli hanya dua set baju dan sebuah tas koper kecil berwarna pink yang segera di bayar oleh Ramon.
Sepulang berbelanja Rika bergegas untuk berkemas dan sebelum makan siang semua persiapannya sudah tertata dengan rapi di kamarnya.
Sopiah kemudian menghampiri Rika di kamar dan memberitahu jika makan siangnya sudah tersedia, Ramon memintannya untuk bergegas karena dia sudah sangat lapar.
Mendengar perkataan Sopiah itu Rika kemudian bergegas menuju ruang makan dan memulai makan siangnya hari itu.
Sopiah nampak mempersiapkan menu istimewa di hari pernikahan Ramon ini, dia memasak sepiring daging panggang dengan kentang goreng dan potongan sayur kesukaan Ramon.
Setelah menyampaikan ucapan selamat kepada Tuan dan Nyonya Baru di rumah itu, Sopiah kemudian meninggalkan Ramon dan RIka untuk mulai menikmati semua sajian hari itu.
Selama makan siang Ramon nampak tak sekalipun memandang ke arah Rika, hal ini membuat Rika menyadari ada yang berubah dengan Suaminya itu.
Rika kemudian mencoba bertanya karena dia khawatir telah membuat suaminya marah kepadanya.
"Kau kenapa? Sejak tadi kau diam saja?" Tanya Rika sambil melanjutkan makan siangnya.
"Tak apa! Makan saja. aku tak suka makan sambil berbincang!" Ujar Ramon tanpa sedikitpun memandang wajah Rika.
Rika mengangguk paham dan kemudian tak melanjutkan pertanyaannya.
Setelah daging panggangnya telah habis Ramon kemudian beranjak dari tempatnya duduk tanpa berbicara sepatah katapun kepada Rika.
Rika yang tinggal sendirian di ruang makan hanya terdiam dan melanjutkan makan siangnya, dia terus berbaik sangka akan apa yang di lakukan Ramon dan menyangka suaminya hanya sedang sibuk mempersiapkan honey moon mereka esok hari.
***
Keesokan harinya.
Tadi malam Rika sudah tidur satu kamar dengan Ramon, tapi semalaman tak sekalipun Ramon menyentuhnya. Pria bertubuh tegap itu hanya berkata dia sedang cape dan tentu Rika tak berani mempermasalahkan.
Rika bangun tepat jam 4 subuh kemudian bergegas mandi dan bersiap untuk berangkat. Pesawat mereka hari ini akan terbang jam 6 pagi dari Bandara Bandung.
Ramon yang melihat Rika sudah bersiap kemudian bergegas mandi dan meminta Sopiah memasukkan kopernya ke bagasi mobil.
Tepat jam 5 pagi Ramon dan Rika berangkat ke Bandara dengan di antar Supir, selama perjalanan menuju bandara seperti kemarin Ramon tak sekalipun memandang wajah Rika.
Rika yang mulai khawatir kemudian kembali bertanya mengapa Ramon jadi berubah begini kepadanya.
"Kenapa kau selalu bertanya seperti itu, Apa kalau kita menikah aku harus selalu memandangi wajahmu!" Ujar Ramon dengan sangat ketus.
RIka yang tak menyangka mendapatkan respon seketus itu dari suaminya kemudian hanya bisa terdiam sambil meneteskan air matanya.
"Kenapa kau menangis? Cengeng!" Ejek Ramon yang membuat Rika semakin sedih.
Setiba di bandara, mereka bergegas check in dan tak lama kemudian pesawat yang mereka tumpangi lepas landas dan meninggalkan Bandara Bandung.
Selama perjalanan menuju Bali, Rika hanya bisa tertunduk dan menyesal tak mendengar perkataan orang tuanya kemarin agar dia tak terburu-buru menikahi pria kasar ini, kini perjalanan yang seharusnya menjadi perjalanan pertama dan menyenangkan buat Rika hanya membuahkan rasa marah dan penyesalan baginya.
"Cepat sedikit kalau jalan, kita sudah di tunggu pihak travel!" Teriak Ramon saat Rika masih saja berjalan dengan wajah sedih.
Rika kemudian mempercepat langkahnya dengan sebuah koper dorong yang terus di genggamnya
"Rika, jangan buat aku kesal, jalanmu sangat lambat! Teriak Ramon yang membuat semua orang di sekitarnya melempar pandang ke arah Rika.
"Hey, kenapa kau kasar sekali pada wanita ini!" Seru seorang pria yang nampak tak tega melihat sikap Ramon pada Rika.
