Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Keluarga Ramon Sebenarnya

"Rika di mana kau?" Teriak Ramon yang semakin keras membuat Nanda dan Sopiah sangat khawatir.

Nanda kemudian menghampiri Ramon yang masih terlihat kebingungan di kamar Rika.

"Dia hilang lagi?" Tanya Nanda saat melihat wajah Ramon yang masih sangat kebingungan.

"AAAH! Kemana dia?" Teriak Ramon semakin kesal.

Mendengar Ramon yang berteriak begitu kencang Rika yang sedang menjemur bajunya di halaman belakang rumah Ramon kemudian berjalan menghampiri.

"Ada apa, Ramon?" Tanya Rika dengan wajah tanpa dosa.

"Oh, Rika. Kau hampir saja membuatku gila! Dari mana saja kau?"

"Aku sejak tadi sedang menjemur baju-baju basahku di halaman belakang."

Ramon menghela nafas Panjang dan berpikir dia benar-benar bisa gila jika tak segera menikahi gadis ini.

Terkadang Rika nampak begitu penurut, tapi kadang dia juga bisa marah dengan sangat menakutkan. Kadang dia bisa diam di kamarnya berjam-jam dan tak jarang juga Rika menghilang tanpa kabar.

"Aku kan bilang suruh, Sopiah!" Tegas Ramon sambil mencoba menghilangkan semua kekhawatirannya.

Melihat Ramon yang begitu marah, Rika jadi ketakutan. Dia kemudian menunduk dan berusaha tak memandang ke arah Ramon.

Mengetahui sikapnya membuat Rika nampak ketakutan, Nanda kemudian menyenggol bahu kakaknya itu sambil berbisik.

"Jangan galak-galak!"

Nanda memberi kode agar Ramon menurunkan nada bicaranya mengingat Rika bisa saja marah kemudian kembali minta pulang seperti apa yang terjadi kemarin.

Ramon yang menyadari perkataannya membuat Rika ketakutan kemudian meminta maaf dengan sangat lembut dan mengajak Rika menuju ruang makan karena makanan mereka sudah siap di sana.

Mendengar kata makan dari Ramon ini, Rika kembali tersenyum, dia memang sudah sangat kelaparan dan tak sabar untuk segera makan. Rika kemudian mengikuti langkah Ramon yang sudah berjalan menuju ruang makan untuk segera makan siangnya.

Merekapun kemudian melangkah bersama dan saat akan tiba di ruang makan Nanda mendapat pesan dari temannya di catatan sipil tentang persiapan pernikahan Ramon yang tinggal menunggu tanda tangan dari calon pengantin.

Nanda yang sangat bahagia kemudian memberi tahu Ramon.

"Ramon, sip tinggal tanda tangan!" Ujar Nanda setibanya mereka di ruang makan.

Ramon yang mengerti apa yang di maksud oleh Adiknya langsung mengembangkan senyumnya sedang Rika yang sebentar lagi menjadi istri dari Ramon hanya tersenyum tak mengerti.

"Kapan aku bisa pergi ke sana?" Tanya Ramon lagi kepada Nanda.

"Siang ini bisa!" Jawab Nanda singkat.

"Wah siang ini, baguslah. Berarti Rika bisa lebih cepat aku kuasai!" Bisik Ramon pada Nanda.

Sambil menikmati makan siangnya, Ramon mulai memberi tahu calon Istrinya itu tentang rencana Pernikahan mereka yang di percepat dan akan di laksananan siang ini juga.

"Rika, sepertinya sangat baik jika kita menikah siang ini juga ya!" Ujar Ramon yang membuat Rika tak percaya.

Hayalannya tentang pernikahan impian itu kembali mengembang di hayalannya, menikah dengan Ramon yang kaya raya. Wah semua yang ada di pikiran Rika hanyalah kebahagiaan semu.

RIka kemudian menangguk dan menyetujuinya.

"Tapi kita makan dulukan?" Ujar Rika yang nampak sudah sangat kelaparan.

Ramon menjawab dengan senyum dan memulai makan siang mereka hari ini.

Setelah makan siang mereka, Nanda kemudian mendandani Rika dengan beberapa make up miliknya, tentu agar Rika tak sadar sedang di perdaya mereka harus menyiapkan pernikahan ini dengan baik kan.

Pengantin pria dan wanitapun nampak sudah siap untuk menuju prosesi penanda tanganan surat nikah, tiba di kantor catatan sipil Ramon lansung meminta untuk segera disahkan sebagai suami istri.

Rika yang tak sedikitpun curiga dengan gelagat Ramon hanya menurut dan beberapa saat kemudian mereka disahkan sebagai suami istri.

"Kalian sudah resmi menikah menurut catatan sipil!" Ujar petugas catatan sipil sambil memberi selamat kepada kedua mempelali.

Ramon akhirnya dapat bernafas lega, tentu setelah kejadian-kejadian Rika yang mencoba kabur belakangan ini dia sangat cemas akan keberhasilan pernikahannya, namun sekarang mereka sudah resmi menikah dan tinggal meminta salinan surat nikahnya yang baru untuk di tunjukkan kepada kedua orang tuanya.

"Ini salinan surat nikah kalian, sekali lagi selamat ya!" Petugas catatan sipil kemudian menyerahkan selembar surat kepada Ramon.

"Baiklah, karena aku dan Rika sudah resmi menikah, ini saatnya kita bertemu kedua orang tuaku!" Seru Ramon bahagia.

Rika kemudian mengikuti langkah Ramon dan Nanda menuju mobil, gadis malang itu masih saja menganggap pernikahannya ini benar-benar pernikahan impiannya, Bahkan Nanda yang sejak tadi melempar senyum sinispun tak sedikipun membuatnya curiga.

Rumah orang tua Ramon ternyata tak jauh dari kediaman Ramon, rumah luar dengan halaman rumah cukup untuk parkir sekitar dua puluh mobil itu nampak begitu asri, tanaman tertata begitu cantik dari gerbang masuk hingga pintu masuk rumah.

Rika nampak sangat terpesona, dengan lugu dia kemudian di perkenalkan Ramon kepada kedua orang tuanya.

"Kalian ketemu di mana?" Tanya Anita, Mama Ramon.

"Saya..."

"Ah, kami bertemu di Bandung, Ma! Dia mahasiswi!" Potong Ramon yang tak ingin Mamanya tau asal usul Rika.

"Lalu orang tuamu tau kan kalau kalian menikah hari ini?" Tanya Mama Ramon mulai curiga dengan gelagat Putranya itu.

Rika terdiam dan tak mampu berkata-kata, dia teringat pesan orang tuannya tentang Ramon yang masih baru sekali dia kenal namun saat pikiran buruknya kembali Nanda dan Ramon kembali meyakinkannya jika mereka adalah orang baik dan tak mungkin menjahati Rika.

Mama Ramon semakin curiga, setiap dia bertanya kepada Rika pasti Ramon atau Nanda yang menjawab pertanyaannya. Tak sekalipun Ramon mengijinkan Rika yang menjawab.

"Baiklah, kalau kalian sudah menikah, aku akan berikan kalian berdua tiket honey moon ke Bali! Selamat ya!" Ujar Mama Ramon sambil berlalu menuju kamarnya.

"Sip, berhasil!" Bisik Ramon kepada Nanda.

RIka masih saja terdiam, dia merasa bersalah tak memberi tahu terlebih dahulu kedua orang tuannya di Garut tentang pernikahannya ini. Nanda kemudian menghampiri dan bertanya apa lagi yang membuat Rika risau.

"Bisakah, Ramon, bertemu orang tuaku. Paling tidak untuk memberi tau pernikahan ini saja." Pinta Rika dengan wajah sangat menyesal.

Ramon kemudian berjanji akan menemui kedua orang tua Rika di Garut, tapi setelah mereka melangsungkan honey moon yang di hadiahkan Mamanya.

Rika mengangguk setuju, dia kemudian memeluk Ramon yang kini sudah menjadi suaminya.

"Eh, itu foto Ramon dengan siapa?" Tanya Rika yang masih di pelukan Ramon saat melihat foto Ramon berdiri dengan seorang wanita lain.

"Itu foto Ramon dengan mantan istrinya, memangnya Ramon tidak cerita jika dia pernah menikah?" Ujar Papa Ramon yang masih duduk di kursi tepat di depan Ramon.

"Haah, kok kamu ngak cerita kalau kamu punya mantan istri?" Tanya Rika dengan wajah sangat marah.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel