Akhirnya Menikah
Wanita muda itu terus memaksa masuk dan Ramon yang mulai tak nyaman dengan teriakan wanita itu kemudian menghampiri Sopiah.
"Ada apa ini?" Teriak Ramon kepada Sopiah yang nampak masih menghalangi wanita itu masuk.
"Sejak kapan aku tak boleh masuk rumahku sendiri?" Seru Nanda, Adik Ramon yang berusaha melepaskan genggaman tangan Sopiah.
"Biarkan dia masuk, kamu ini kenapa sih?" Ujar Ramon sambil menangkis tangan Sopiah.
Sopiah kemudian bercerita sebaiknya Adik Ramon ini menunggu sampai Rika masuk ke kamarnya lebih dulu, dia khawatir Rika akan berpikir bahwa Nanda adalah wanita lain di hidup Ramon dan itu dapat membuat rencana mereka tentang pernikahan Ramon bisa jadi berantakan.
"Rika, kalian ini membicarakan siapa sih?" Tanya Nanda yang tak paham tentang Rika sambil melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah.
"Rika itu calon istriku, kau tau kan orang tua kita memintaku segera menikah!" Ramon mencoba menjelaskan.
Nanda kemudian memandang wajah kakaknya yang nampak serius, dia kemudian meminta Ramon untuk bercerita siapa dan dimana sebenarnya mereka bertemu dengan orang yang sedang mereka bicarakan itu.
Belum sempat Ramon menjelaskan siapa Rika yang di maksud tiba-tiba…
"Ramon, ada siapa?" Teriak Rika yang terdengar berjalan menghampiri Ramon di ruang tengah.
"Oh ini, Nanda, Adikku! Nanda, perkenalkan ini, Rika, Calon Istriku " Ujar Ramon dengan ramah memperkenalkan Nanda yang masih nampak kebingungan melihat sosok Rika.
"Dia, dia pakai bajuku!" Bisik Nanda pada Sopiah yang melihat baju yang sedang di gunakan oleh Rika.
Sopiah kemudian memasang mata melotot meminta Nanda tak mengucapkan kata yang bisa membuat Rika tersinggung.
Nanda kemudian tersenyum kecut dan berjabatangan dengan Rika yang nampak sangat sederhan itu.
"Aku, Nanda! Adik Ramon!"
"Salam kenal!" Jawab Rika dengan sangat santun.
"Rika, kembalilah ke kamarmu! Ada yang harus aku bicarakan dengan Nanda! Sopiah, antar dia!"
Rika kemudian mengangguk dan mengikuti langkah Sopiah yang mengantarkannya menuju kamarnya.
Saat Rika sudah tak nampak, Ramon mulai menceritakan niat jahatnya kepada Rika. Nanda yang mendengar ide itu begitu brilian kemudian menyetujuinya.
Nanda memang merasa aneh dengan persyaratan dari kedua orang tuannya yang mengharuskan Ramon menikah dulu sebelum mendapatkan hak atas warisannya.
"Lagi pula mereka juga yang bikin aturan aneh, jadi ya biarin aja. Toh Rika mau menikahimu kan!" Ujar Nanda yang mencoba membela kakaknya yang pengangguran itu.
Ramon tertawa geli mendengar pembelaan dari Adiknya itu.
"Iya, Masalahnya bagaimana caranya agar aku bisa menikah secepatnya!" Tegas Ramon.
Nanda terdiam sejenak kemudian mencoba mengingat-ingat siapa temannya yang bisa dia mintai tolong. Begitu dia meniggat nama temannya di catatan sipil dia kemudian menceritakan rencananya pada Kakaknya.
"Ku lihat gadis itu sangat lugu, bagaimana kalau kau bawa dia ke kantor catatan sipil lalu menikah di sana!"
"Apa bisa segampang itu?" Tanya Ramon tak yakin dengan rencana Nanda.
"Sudah urusan catatan sipil biar aku yang bereskan, asal kau bisa menunjukkan KTP RIka!" Ujar Nanda dengan wajah jahatnya.
Ramon menarik nafas lega, akhir dia tau cara yang paling tepat agar segera bisa menikahi Rika dan tentu ini berarti masalahnya akan hak warisnya akan segera terselesaikan.
Ramon kemudian menghampiri Rika yang sedang berada di kamarnya untuk meneruskan rencananya mencatatkan pernikahannya melalui Adiknya.
"Rika, kau sedang tidur!" Bisik Ramon saat membuka pintu kamar Rika.
Rika yang sedang duduk di samping jendela kamarnya kemudian menghampiri Ramon dan menanyakan apakah yang membuat Ramon datang ke kamarnya.
"Bisakah aku meminjam KTPmu?" Tanya Ramon begitu sopan.
"Untuk apa?" Rika nampak mulai curiga.
Ramon kemudian menceritakan tentang rencana pernikahan mereka yang butuh untuk segera di legalkan dan untuk mencatatkan pernikahan mereka itu tentu Ramon sangat membutuhkan KTP Rika sebagai syarat administrasi pernikahan mereka di kantor Catatan Sipil.
Mendengar tentang rencana pernikahannya yang akan berlangsung sebentar lagi, Rika kemudian buru-buru mengambil dompetnya yang masih berada di dalam tas ranselnya yang basah kemarin.
"Tasmu masih di situ, itu kan basah?" Tanya Ramon saat melihat Rika mengangkat ranselnya.
"Iya, masih belum ku bereskan!"
"Serahkan saja tas basahmu itu kepada, Sopiah, biar dia yang bereskan semuanya. Nanti jika tak buru-buru di bereskan nanti semua bajumu jadi bau!"
"Iya, Nanti aku berikan kepada Sopiah!" Ujar Rika sambil merogoh saku tas ranselnya dan segera menemukan dompet berisi KTP-nya.
Tanpa banyak bertanya, Rika kemudian menyerahkan KTPnya itu kepada Ramon tanpa sedikitpun rasa curiga.
Tentu Ramon sangat senang sudah dapat membuat Rika begitu menuruti semua yang dia katakannya tanpa sedikipun curiga.
Setelah KTP Rika sudah di tangannya, Ramon kemudian bergegas menuju ruang tamu untuk memberikan syarat pernikahannya itu kepada Adiknya.
Nanda yang melihat Ramon begitu mudah memperdaya Rika kemudian tertawa sinis sambil memberi dua jempolnya sebagai tanda kagum pada kakaknya itu.
"Benar-benar mudah sekali kau memperdaya dia, Ramon!"
Ramon menjawab Adiknya itu dengan tersenyum, dia kemudian meminta agar Adiknya bergegas menjalankan rencananya atau Rika keburu sadar sedang mereka perdaya.
Nanda kemudian menghubungi temannya via ponselnya, tak lama kemudian dia kembali tersenyum dan memberi tau Kakaknya bahwa pernikahan itu akan segera di proses dan ketika sudah siap Ramon tinggal datang saja ke kantor catatan sipil untuk menandatangani berkas.
"Bagus, aku sangat berterima kasih kepadamu, Adikku!" Ujar Ramon lega.
Sopiah kemudian menghampiri Ramon, dia berkata jika Rika baru saja menelepon seorang temannya dan bercerita tentang keberadaannya di rumah Ramon.
Laporan Sopiah ini kemudian membuat Ramon kembali cemas, kemarin ketika Rika menelepon orang tuannya di Garut, gadis itu kemudian mencoba untuk kabur.
"Apa kita simpan saja ponselnya, agar tak ada yang menghubunginya?" Saran Sopiah.
"Jangan, nanti dia jadi lebih curiga kepada kita!" Potong Nanda.
"Begini saja, kita tetap berlaga baik saja dulu kepadanya. Baru setelah aku berhasil menikahinya baru kita habisi dia!" Ujar Ramon sambil tertawa.
Sopiah dan Nanda setuju akan ide Ramon itu, yang mereka butuhkan memang hanya itu saja tidak lebih, pikir Ramon.
Sopiah kemudian mempersiapkan makan siang untuk Ramon, Nanda dan Rika.
Sepiring besar ayam goreng bumbu madu di siapkan Sopiah dan tersaji sangat lezat di meja makan.
Setelah semua siap, Ramon menghampiri Rika di kamar dan mengajaknya untuk makan.
"Sayang, ayo kita makan!" Ujar Ramon sambil membuka pintu kamar Rika.
Betapa kagetnya Ramon saat membuka pintu kamar Rika dan sekali lagi dia tak menemukan calon istrinya itu, Ramon kemudian memeriksa setiap sudut kamar dan Rika tak di sana.
"Rikaaa!" Teriak Ramon yang tak bisa menemukan calon istrinya itu.
