Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

4. Buah Simalakama

"Monika Alexandra!" teriak Rio dengan suara menggema. Wajahnya merah padam, menatap lurus pada wanita yang bersimpuh di depan jasad ayahnya.

Monika menolehkan kepalanya sekilas, sebelum kembali sibuk membersihkan darah yang mulai mengering di wajah Jonathan. Ini adalah hal terakhir yang bisa dia lakukan untuk ayahnya. Persetan dengan pria yang kini tampak murka.

Tanpa Monika sadari, Rio kini ada di sebelahnya, menarik tangannya dengan paksa untuk berdiri. Dia tidak mengizinkan orang lain mengabaikannya. Harga dirinya terlalu tinggi untuk direndahkan.

"Wanita tidak tahu diri!" ketusnya tajam.

Dengan sekuat tenaga, Monika melayangkan tangan kanannya di pipi Rio. CEO Dirgantara Artha Graha yang begitu berkuasa, kini merasakan panas dan perih di wajahnya.

"Jaga mulut Anda!" Monika menatap wajah Rio dengan penuh emosi. "Dasar CEO liar!" Umpatan itu kembali terdengar. Monika benci pria yang pikirannya tak jauh dari hal-hal dewasa. Dan itu jadi julukan yang pantas untuk pria yang masih berdiri di hadapannya.

Kemarahan Rio semakin menjadi-jadi mendengar sebutan Monika padanya, terlihat dari kilatan matanya yang semakin tajam. Tidak ada seorang pun yang berani mengatainya. Meski itu adalah fakta.

"Liar katamu?" Rio menatap tajam penuh dekatidasi membuat mata sipit gadis di hadapannya membola.

Monika menelan ludah dengan paksa. Ini pertama kalinya dia berada di jarak yang sangat dekat dengan seorang pria. Deru napas yang hangat menerpa, membuat rasa gugup dan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

"Kita buktikan seberapa liarnya seorang pria sepertiku!"

Rio menarik tangan Monika dengan paksa, membawanya ke ruang istirahat yang ada belakang sana. Tentu saja hal itu membuat Monika panik. Dia berusaha melepaskan cekalan tangan Rio, namun usahanya gagal.

"Tuan?!" Leo menghadang langkah atasannya. Dia menggeleng kuat, meminta tuannya untuk menghentikan apa pun rencana busuknya.

"Kamu ingin melindunginya?!" geram Rio tak suka. Aura gelap menguar di sekitar tubuhnya. Dia sungguh murka, tidak terima rencananya untuk menyiksa wanita ini harus ditahan oleh asistennya sendiri.

Leo kembali menggeleng tegas. Dia bukan berpihak pada Monika, hanya tidak ingin tuannya salah mengambil keputusan.

"Saya akan mengurusnya!" Leo melirik tubuh Jonathan Wu yang terbujur kaku di lantai. Dia mengingatkan tuannya untuk kembali menggunakan akal sehat dan mengekang kemarahannya.

"Mari, Nona." Leo melepaskan cengkeraman Rio pada pergelangan tangan Monika dan membawanya menjauh dari pria yang berniat menunjukkan tajinya barusan.

Sebuah guci antik di depan Rio menjadi sasaran kaki kanannya. Pecahan keramik itu tersebar ke berbagai arah, membuat nyali Monika semakin menciut. Dia bersembunyi di balik tubuh Leo, berharap bisa melindunginya dari pria yang hampir saja menyerangnya.

Langkah kaki Rio terus berlanjut, sebelum suara debaman pintu terdengar. Berikutnya, suara gaduh segera mewarnai ruangan tertutup itu. Dia tidak segan menghancurkan benda apa saja yang ada dalam jangkauannya.

"Nona, silakan duduk." Leo menyerahkan segelas air putih pada wanita di hadapannya. Wajahnya terlihat pucat. Dia ketakutan akan apa yang baru saja didengar dan dilihatnya. Emosi pria itu tak terkendali. Bagaimana nasibnya jika Leo tidak berhasil menahannya tadi? Entahlah.

"Tuan Muda memiliki temperamen yang cukup buruk." Leo menjelaskan. "Jadi, sebaiknya Anda tidak membuatnya murka."

"Apa Papa, beliau juga ...." Monika tidak bisa melanjutkan pertanyaannya. Hatinya mencelos membayangkan betapa mengerikannya Rio saat menyiksa ayah kandungnya. Lika lebam di wajahnya mengartikan segalanya.

"Maaf, Nona. Kami tidak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan ayah Anda. Jika saja tuan Jonathan menyerah lebih awal, mungkin beliau masih bisa diselamatkan. Hingga akhir, beliau tidak ingin melibatkan Anda. Bahkan memohon agar jangan mengusik putrinya."

Monika menggeleng. Dia tidak ingin mendengar penjelasan itu. Perasaan bersalah segera merasuk ke dalam hatinya. Pria yang begitu dibencinya, ternyata bersikukuh melindunginya. Bulir-bulir tanpa warna itu terus membasahi pipi tirusnya.

"Nona, tidak ada yang bisa Anda sesali. Yang bisa Anda lakukan adalah menandatangani perjanjian ini. Anda harus menikah dengan tuan Rio Dirgantara. Itu satu-satunya cara agar ayah Anda bisa dimakamkan dengan layak."

Monika tetap menggeleng. Dia tidak mungkin menyetujuinya. Melihat perangai pria itu barusan, entah hal buruk apa yang akan dijumpainya nanti. Dia tidak begitu bodoh untuk menerima semuanya. Lagipula, ayahnya sudah tiada. Tidak bisakah Rio memaafkannya?

"Tidak. Aku tidak akan menandatanganinya. Aku tidak akan menikah dengan iblis itu." Kepalan tangan Monika tertahan di sisi badan. Matanya berkilat marah.

"Nona, hati-hati dengan ucapan Anda." Leo memperingatkan. Suara gaduh di dalam sana tak lagi terdengar, menandakan bahwa Rio tengah menenangkan diri sambil mendengarkan asisten pribadinya yang berusaha membujuk Monika.

"Jika tuan mendengar ucapan Anda, dia bisa saja marah pada Anda saat ini juga."

Monika berdiri dari duduknya. Dia tidak ingin ada di tempat terkutuk ini lebih lama lagi. Berbagai kata-kata kasar keluar dari mulutnyaa. Dia menggertakkan giginya, marah pada Rio dan seluruh orang yang ada di pihaknya, termasuk Leo. Tepat saat itu Rio keluar dari dalam ruangannya. Dia mendekat ke arah mayat Jonathan, ingin melampiaskan kemarahannya.

"PAPA!" pekik Monika detik itu juga. Dia berlari menghambur ke arah ayahnya yang terbujur kaku di lantai. Air matanya tak lagi terbendung, tumpah ruah membasahi wajah. Kekejaman Rio kembali dilihatnya. Pria itu melayangkan kakinya sekuat tenaga.

"PA ...." Monika menggunakan tubuhnya sebagai tameng, menjadi penghalang antara ayahnya dengan Rio.

"Aargghh!" Monika mengaduh kesakitan. Rasa nyeri luar biasa segera dia rasakan, membuat tubuhnya limbung seketika.

"Tuan?!" Leo menahan pria 31 tahun ini, mencegah perbuatan kasar yang mungkin bisa membuat tulang punggung Monika patah. Tanpa melihatnya sekalipun, Leo tahu Monika pasti menitikkan air mata. Gadis itu terduduk tanpa suara dan tetap berusaha melindungi ayahnya.

"Nyonya Besar akan pulang minggu depan!" Bisikan Leo membuat kesadaran Rio kembali. "Jika Anda belum menikah, maka beliau akan menjodohkan Anda dengan wanita pilihannya."

Rio terlihat frustrasi. Dia tidak ingin terikat dengan wanita-wanita yang ibunya pilihkan. Bersama gadis sosialita itu seharian saja membuatnya mual, bagaimana bisa menyandingnya setiap hari? Yang benar saja!

"Nona Monika satu-satunya jalan keluar untuk Anda."

Meskipun bungkam, Rio menyadari apa yang disampaikan asistennya benar.

"Hey, wanita. Dengar. Tanda tangai kontraknya!"

Monika tak merespon, menahan kesakitan di punggungnya.

“Leo, jika dia menolak, buang mayat busuk ini ke hutan. Harimau dan serigala liar akan menerimanya dengan senang hati!"

Detak jantung Monika terhenti sepersekian detik. Dia semakin erat memeluk tubuh Jonathan, mengabaikan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya sendiri.

Monika tidak rela jika jasad ayahnya harus menjadi santapan hewan liar di hutan. Tapi, menikah dengan pria arogan ini juga tidak bisa disetujui begitu saja. Ada Devan, kekasihnya yang siap mempersuntingnya akhir tahun nanti.

Monika kembali berpikir. Pilihan yang sulit, bagaikan memakan buah simalakama. Semuanya merugikan untuknya. Dia tidak ingin memutuskan hubungannya dengan Devan, tapi tak bisa mengabaikan keselamatan jasad ayah kandungnya sendiri. Hanya itu saja baktinya sebagai seorang anak.

Apa yang harus dia lakukan? Haruskah dia menikahi CEO arogan ini? Tidak adakah jalan lain untuk menyelamatkan diri?

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel